Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
Arus kendaraan di sepanjang jalanan kota siang itu terasa cukup padat. Deru mesin mobil bak terbuka yang kukemudikan menderum konstan, membawa kami menuju warung makan langganan yang selalu menjadi penolong perut-perut lapar di kala dompet sedang menipis. Tak berapa lama, mobil bak itu berhasil kuparkirkan dengan mulus di pelataran luas Warung Bu Tanti—sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan dengan aroma masakan rumahan yang selalu menggugah selera.
Aku dan Egi segera melangkah masuk, menyapa hembusan angin sepoi-sepoi dari kipas angin gantung di langit-langit warung. Kami langsung mengambil posisi duduk di bangku kayu panjang yang terletak di sudut ruangan, tempat favorit kami setiap kali mampir ke sini.
"Bu! Biasa, ya!" ujar Egi setengah berteriak pada Bu Tanti yang sedang sibuk memotong sayuran di balik etalase kaca.
"Siap, Dek Egi! Nasi double, lauk ayam goreng sama tahu tempe, kan?" jawab Bu Tanti cepat dengan senyum ramahnya yang khas.
"Iya, Bu! Minumnya es teh manis dua!" tambahku menimpali seraya menyandarkan punggung yang terasa pegal setelah mengangkut belasan galon sejak pagi tadi.
Sambil menunggu pesanan kami disiapkan, aku mengambil selembar tisu untuk menyapu keringat di dahi. Tiba-tiba, dari dalam saku celana kerja Egi, ponsel jadul milik sahabatku itu berdering nyaring dengan suara khasnya.
Tet... tet... tet...
Egi merogoh sakunya, melihat nama yang tertera di layar kecil ponselnya, lalu segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Pak?" sapa Egi sopan.
"Halo, Gi. Kamu sama Arkan lagi di mana sekarang?" suara bos pemilik depot air minum isi ulang terdengar cukup terburu-buru dari seberang telepon.
"Lagi di warung makan Bu Tanti, Pak, baru aja mau istirahat makan siang. Kenapa, Pak?"
"Nanti kalau sudah selesai, kalian langsung balik dulu ke depot, ya. Ambil 20 galon air terisi, langsung hantar ke rumah Pak Frans Sanjaya. Mereka baru aja telepon depot dan minta diantarkan secepatnya."
Egi agak terkejut mendengar jumlah pesanan yang cukup banyak itu. "Sekarang, Pak? Nggak bisa nunggu sejam lagi?"
"Iya, Egi, sekarang banget. Soalnya mereka bilang mau ada acara keluarga nanti sore, jadi butuh cepat airnya. Nanti biaya jalannya Bapak tambah deh."
Mendengar janji tambahan uang jalan, mata Egi yang tadinya kuyu langsung berbinar. "Oke deh, Pak! Ini kami langsung meluncur balik ke depot!"
Panggilan telepon pun terputus. Tepat di saat yang sama, Bu Tanti berjalan menghampiri meja kami sambil membawa dua piring nasi hangat yang aromanya sangat menggoda selera.
"Ini, Dek, pesanannya. Selamat makan, ya!" kata Bu Tanti ramah sambil meletakkan piring-piring itu di atas meja kayu.
Egi menatap makanan lezat di hadapannya dengan rasa penyesalan yang amat sangat. Dia meringis pelan, lalu menatap Bu Tanti dengan wajah memelas. "Duh... Bu Tanti, maaf banget ya, Bu... Nasinya dibungkus aja bisa nggak, Bu?"
Bu Tanti mengerutkan dahinya, tampak heran dengan perubahan rencana yang mendadak ini. "Loh, kenapa begitu, Egi? Nasinya kan paling enak dimakan pas masih hangat begini. Nanti kalau dingin rasanya udah beda loh."
"Ada panggilan darurat dari bos, Bu. Harus hantar 20 galon air sekarang juga ke rumah pelanggan," jelas Egi seraya menyerahkan uang pas untuk pembayaran makanan kami.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nanti kami makan di mobil aja pas jalan. Ayo, Arkan!"
Aku yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu langsung berdiri dari kursi. "Ayo, Bro!"
Setelah Bu Tanti membungkus makanan kami dengan kertas cokelat, kami bergegas kembali ke mobil. Dengan cekatan, kami melaju menuju depot air, menaikkan 20 galon air terisi penuh ke atas bak belakang, lalu meluncur cepat membelah jalanan menuju kawasan perumahan paling mewah di kota ini.
Pikiranku sempat menerawang saat mendengar nama "Pak Frans Sanjaya". Nama itu terasa tidak asing di telingaku, namun aku belum sempat mencocokkan ingatan itu karena sibuk membantu Egi meng navigasikan jalan.
Tak butuh waktu lama, mobil bak terbuka kami berhenti di depan sebuah pilar gerbang yang sangat megah. Pagar besi berukir emas berdiri menjulang, memagari sebuah rumah bertingkat tiga yang sangat luas dan indah. Ini jelas merupakan rumah orang terpandang.
Aku dan Egi memencet bel di samping gerbang.
Ting tong... ting tong...
"Permisi! Galon airrr!" sahutku dengan nada sedikit berteriak agar terdengar sampai ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara gerendel pintu besar yang dibuka. Langkah kaki terdengar mendekati gerbang.
Pintu kecil di samping gerbang utama perlahan terbuka, menampilkan sosok seorang wanita paruh baya berseragam pelayan, didampingi oleh seorang gadis muda berparas cantik dengan pakaian santai kelas atas.
Mata gadis itu memelotot sempurna saat melihat sosok yang
berdiri di depan gerbangnya.
"Ehhh! Kak Ketos jahat?!" pekik gadis itu dengan suara melengking penuh nada ejekan. "Ternyata benar toh kata Diana, Kamu sudah alih profesi jadi tukang galon?!"
Ya, benar sekali. Gadis cantik yang berdiri di hadapanku dengan senyum mengejek yang sangat lebar itu tak lain dan tak bukan adalah Clara Adelin.