Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas waktu
Bab 6
Karin melangkah keluar dari gudang olahraga dengan langkah gontai.
Penolakan Kai sebenarnya sudah ia duga. Namun, mendengarnya secara langsung tetap membuat harapan yang sempat tumbuh perlahan kembali runtuh.
Ia mengangkat wajah menatap langit yang mulai diselimuti awan.
"Harus bagaimana lagi?" gumamnya lirih.
Waktu yang ia miliki tinggal tiga hari. Tiga hari sebelum makan malam yang direncanakan sang Papa. Tiga hari sebelum kebohongannya terbongkar.
"Karin!"
Suara Nia terdengar dari kejauhan.
Karin segera menghapus raut murung di wajahnya sebelum sahabatnya itu mendekat.
"Kamu dari mana? Aku cari-cari dari tadi."
"Tadi ada urusan."
"Urusan apa?"
Karin tersenyum kecil.
"Cuma urusan pribadi."
Nia mendengus pelan.
"Kamu akhir-akhir ini banyak rahasia."
"Bukannya rahasia."
"Lalu?"
Karin menggeleng.
"Nanti juga kamu tahu."
Nia memutar bola matanya.
"Ya sudah. Ayo ke kantin. Aku lapar."
Mereka berjalan berdampingan menuju kantin.
Di sepanjang perjalanan, Nia terus bercerita tentang tugas kelompok dan dosen yang terkenal pelit nilai. Biasanya Karin akan ikut menanggapi dengan antusias. Namun kali ini pikirannya terus dipenuhi oleh Kai.
Tatapan pria itu saat mendengar permintaannya terasa begitu aneh.
Kai memang menolak. Tetapi ada sesuatu di matanya. Seolah ia ingin bertanya lebih banyak, namun memilih menahannya.
"Semoga saja dia tidak menganggapku orang gila," batin Karin.
-
-
-
Sore harinya...
Begitu tiba di rumah, Karin langsung merasakan suasana yang berbeda.
Di ruang tamu terdengar suara tawa Pak Wirawan. Disusul suara laki-laki yang sudah sangat dikenalnya.
Dadanya langsung berdebar.
Jangan bilang...
Karin mempercepat langkah.
Benar saja.
Gio sedang duduk santai di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Di atas meja, terdapat beberapa kotak buah dan sebuah bingkisan besar.
"Karin!"
Hesti tersenyum saat melihat putrinya datang.
"Tuh, yang ditunggu akhirnya pulang."
Karin memaksa dirinya tersenyum.
"Kak Gio datang lagi?" tanyanya datar.
"Iya," jawab Gio lebih dulu.
"Kebetulan lewat."
Karin hampir tertawa sinis.
Lewat?
Rumahnya berada hampir satu jam dari kampus. Mana mungkin pria itu hanya "kebetulan lewat".
"Ngapain bawa banyak sekali?" tanya Karin sambil melirik bingkisan di meja.
"Oh, ini?" Gio tersenyum. "Cuma sedikit buah dan kue untuk Om sama Tante."
"Kamu ini repot-repot saja," ujar Hesti.
"Ah, tidak seberapa, Tante."
Pak Wirawan ikut mengangguk puas.
"Gio memang anak yang perhatian."
Ucapan itu membuat hati Karin terasa sesak. Persis seperti dulu. Sedikit demi sedikit Gio mulai mengambil hati kedua orang tuanya.
Dan mereka sama sekali tidak menyadari bahwa semua perhatian itu hanyalah langkah awal.
"Karin."
Suara Gio kembali terdengar.
"Aku dengar kamu suka membaca novel."
"Iya."
"Aku kebetulan membelikan beberapa buku."
Gio mengeluarkan sebuah kantong belanja berisi tiga novel baru.
"Semoga kamu suka."
Karin tidak langsung menerimanya.
"Terima kasih. Tapi aku tidak bisa menerima hadiah."
Ekspresi Gio berubah sedikit.
"Kenapa?"
"Aku tidak enak."
"Anggap saja hadiah pertemanan."
Karin menggeleng.
"Maaf. Pacarku tidak suka kalau aku menerima hadiah dari laki-laki lain."
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak sunyi. Pak Wirawan sampai berdehem kecil. Hesti menatap Karin dengan ekspresi canggung.
Sementara Gio...Masih mempertahankan senyumnya. Meski kali ini senyum itu terlihat dipaksakan.
"Pacarmu cukup posesif rupanya."
"Bukan. Kami hanya saling menghargai."
Jawaban Karin terdengar tenang. Namun setiap katanya sebenarnya sengaja ia arahkan untuk memberi batas yang jelas kepada Gio.
Pria itu akhirnya menarik kembali kantong belanja tersebut.
"Baiklah. Mungkin lain kali."
Karin mengangguk pelan.
-
-
-
Malam harinya, setelah Gio pulang, Pak Wirawan memanggil Karin ke ruang kerja.
"Kamu duduk dulu."
Nada bicara ayahnya terdengar serius.
Karin menurut.
"Ada apa, Pa?"
Pak Wirawan menghela napas.
"Papa mau tanya sesuatu."
"Iya."
"Pacarmu itu...benar-benar ada, kan?"
Pertanyaan itu membuat Karin membeku. Ia sudah menduga pertanyaan seperti ini akan muncul. Tetapi tidak secepat ini.
"Ada, Pa."
"Lalu kenapa Papa belum pernah melihatnya?"
"Soalnya kami sama-sama sibuk kuliah."
Pak Wirawan mengangguk pelan.
"Sebenarnya Papa tidak melarang kamu berpacaran. Tapi Papa ingin mengenalnya. Papa hanya ingin memastikan kalau orang yang kamu pilih memang baik."
Hati Karin terasa perih.
Ia tahu. Semua yang dilakukan ayahnya hanyalah bentuk kasih sayang. Justru karena itulah ia merasa bersalah telah berbohong.
"Papa...Karin janji akan mengenalkannya."
"Kapan?"
Karin menelan ludah.
"Akhir pekan."
Pak Wirawan tersenyum lega.
"Baik. Papa tunggu."
Ucapan itu membuat beban di dada Karin terasa semakin berat.
-
-
-
Malam semakin larut. Bintang semakin tampak menunjukkan cahayanya.
Karin berdiri menatap langit dari balkon kamarnya. Tak berkedip meski angin malam meniup lembut rambut panjangnya. Ia menatap sambil memikirkan jalan keluar.
Tidak ada lagi waktu.
Besok, ia harus kembali menemui Kai. Apa pun risikonya. Kalau perlu, ia akan menceritakan sebagian alasan yang sebenarnya. Asalkan pria itu mau membantunya.
Di tempat lain...
Kai baru saja selesai bekerja paruh waktu di sebuah bengkel motor. Tangannya masih dipenuhi noda oli.
"Besok datang lagi ya, Kai," ujar pemilik bengkel.
"Iya, Pak."
Kai mengganti pakaiannya, lalu duduk di bangku depan bengkel sambil meminum sebotol air mineral.
Sejak siang tadi, pikirannya terus dipenuhi ucapan Karin.
"Aku ingin menyelamatkan keluargaku."
Kalimat itu lagi-lagi berputar di kepalanya.
"Masalah apa sebenarnya yang sedang dia hadapi?"
Kai bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Namun entah mengapa, kali ini ia merasa ingin tahu. Bukan karena permintaan menjadi pacar pura-pura. Melainkan karena tatapan mata Karin.
Tatapan itu...
Tidak terlihat seperti orang yang sedang berbohong. Melainkan seseorang yang benar-benar ketakutan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Kai menghela napas pelan.
"Aneh..."
Baru pertama kali ia memikirkan seorang perempuan selama ini.
Sementara itu, tanpa disadari siapa pun...
Di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari bengkel, seseorang sedang memperhatikan Kai.
Pria itu menurunkan sedikit kaca mobilnya. Matanya menyipit.
"Jadi...Ini orang yang ditemui Karin kemarin."
Sudut bibir Gio terangkat tipis. Ia memang belum mengenal Kai. Namun nalurinya mengatakan bahwa pria itu bisa menjadi penghalang. Dan Gio tidak pernah suka jika ada orang yang menghalangi keinginannya.
Malam itu...
Tanpa diketahui Karin maupun Kai, permainan baru telah dimulai.
-
-
-
Bersambung...