Time travel ke tubuh gadis yang bunuh diri, membuat Elliana kembali mendapatkan penampilannya yang dulu. Dia ingin mengubah takdir bagi Sabrina, pemilik tubuh yang tertekan dengan semua bullyan teman-temannya di kampus.
Elliana juga mencairkan tabungannya untuk membantu Sabrina dalam perubahan yang akan dilakukannya.
Apakah Elliana akan berhasil dan kuat dengan tubuh baru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Yang Hangat
Selama ini Riyan sering mengikuti perlombaan balap motor ilegal, yang sering diadakan oleh banyak geng dari beberapa geng ada dan dia kenal. Dan geng ini bukan hanya dari komunitas kampusnya saja, tapi juga di luar kampusnya alias kampus lainnya.
Riyan berencana untuk menantang Sabrina dengan permainan tong setan, yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Dia ingin menaklukkan gadis cupu tersebut dengan persyaratan, yaitu jika Sabrina kalah harus menuruti semua permintaan Riyan. Begitu juga sebaliknya, jika Riyan kalah, maka harus menuruti semua permintaan Sabrina.
"Bagaimana ide Gue?" Riyan bertanya pada Tia dan Surya, yang sudah dateng dan melihat latihannya.
"Ok tuh."
"Gue sih yes!"
"Siip!"
Riyan merasa senang, karena kedua temennya itu mendukung rencana yang sudah dia buat agar bisa menaklukkan Sabrina lagi.
"Tapi... dia pasti kalah kan?" tanya Tia ragu.
"Iyalah pastinya! kemarin malam dia menang karena dibantu Johan. Jika tidak pastinya juga kalah," elak Riyan tidak mengakui kekalahannya malam itu.
Setelah kesepakatan yang mereka dapatkan, waktunya Riyan kembali latihan. Dia tidak mau jika sampai kalah dengan Sabrina lagi.
"Eh Tia. Lo aneh nggak sih dengan sikap sabrina yang sekarang ini?" Surya bertanya kepada Tia, dengan apa yang dipikirkannya saat ini.
Surya merasa jika Sabrina sudah berubah, sehingga tidak mudah mereka tekan lagi sama seperti dulu.
"Iya sih. Gue juga heran sama tuh anak!"
Setelah berkata demikian, keduanya sama-sama terdiam. Berpikir dengan pemikiran masing-masing, atas perubahan yang mencolok pada Sabrina yang sekarang.
Dulu mereka dengan mudah membully dan mengejek Sabrina, bahkan menyuruh gadis tersebut untuk bunuh diri saja, daripada harus menjadi beban orang tua dan kampus mereka yang sudah memberinya beasiswa.
Tapi kenyataannya sekarang Sabrina justru melawan mereka secara perlahan-lahan. Dari mulai menantang saat mendapat tatapan tajam, atau ikut berkacak pinggang pada saat dihina mereka-mereka.
"Gue harap dia memang tidak bisa main tong setan, jadi gak akan besar kepala lagi." Tia mengeluarkan suaranya dengan nada lirih.
Sebenarnya dia sendiri tidak bersemangat saat berada di kampus, karena tidak mendapatkan keasyikan tersendiri saat melakukan bullyan terhadap Sabrina. Apalagi temannya, Nana, sudah 5 hari ini tidak ada kabar yang jelas.
"Oh ya Anna ke mana ya? Lo tahu gak?" Tia mengajukan pertanyaan kepada Surya, berharap temannya itu mengetahui kabarnya Nana.
"Gak tahu Gue. Bukannya Lo yang biasanya dekat dengannya?" Surya justru balik bertanya pada Tia.
"Tau tuh anak gak ada kabar. DM gue juga gak dibalas."
Surya hanya menggendikkan kedua bahu, sebagai tanda bahwa dia tidak tahu apa-apa.
Akhirnya mereka berdua kembali melihat ke arah arena tong setan, melihat bagaimana usaha Riyan yang sedang menyeimbangkan laju motornya supaya tidak jatuh.
***
Jika Riyan bersama dengan dua temannya sedang berada di arena tong setan, Elliana ada di rumah bersama dengan kedua orang tuanya Sabrina. Dia sedang membersihkan kuku kakinya yang tidak rapi, sembari duduk disamping ibu Mawarni.
Tapi tiba-tiba ayah Rizal datang dengan membawa sebuah kotak, yang membuat mata istrinya menyipit.
"Ayah, bawa apa?" tahta ibu Mawarni ingin tahu, apa yang dibawa suaminya.
"Tebak apa coba?" Ayah Rizal justru memberikan teka-teki, yang tidak pernah diketahui oleh istrinya sendiri.
Kejadian ini membuat Elliana menghentikan kegiatannya, kemudian memperhatikan dua orang paruh baya tersebut saling berinteraksi. Ada rasa hangat yang dicampur dengan haru, melihat kedua orang sabrina yang akur.
'Andai dulu kedua orang tuaku akur seperti mereka, Aku tidak mungkin pergi kuliah di Jepang dan menerima lamaran Alex.'
'Bahkan kematian ku saja tidak mereka tangis, justru mereka sibuk mencari rekening Bank atau asuransi jiwa yang Aku miliki.'
Elliana merasa sangat marah, di saat teringat dengan kedua orang tuanya. Tanpa sadar raut wajahnya mengeras dengan kedua tangan yang mengepal.
Hal ini membuat ayah Rizal dan ibu Mawarni saling pandang, kemudian saling membujuk supaya bertanya pada anak mereka.
"Ibu tanya pada Sabrina ya," pinta ayah Rizal.
"Gak ah Ayah saja," elak ibu Mawarni.
Eliiana perlahan-lahan terbuka kepalan tangannya, kemudian memejamkan matanya untuk meredam emosi yang tiba-tiba datang.
Perlahan-lahan Elliana membuka matanya, kemudian mengalihkan pandangannya menatap ke arah ibu dan ayahnya Sabrina. Dia tersenyum simpul mmperhatikan keduanya yang sama-sama tampak mengkhawatirkan keadaannya.
"Ayah, Ibu. Jangan khawatir denganku. Aku baik-baik saja kok," ujar Elliana, membuat ayah Rizal dan ibu Mawarni mengembangkan senyuman yang tulus.
“Sabrina...” panggil ibu Mawarni dengan mengambil tangan anaknya yang sebelah kanan. Dia menepuk-nepuk punggung tangan tersebut dengan satu tangannya yang lain.
Hal ini membuat Elliana menjadi tersenyum dalam keharuan. Dia benar-benar merasa seperti anak kecil yang kekurangan kasih sayang orang tuanya.
'Ya Tuhan... Aku benar-benar merasa bersyukur berada di tengah-tengah keluarganya Sabrina ini.'
Tanpa bicara apa-apa lagi, Elliana memeluk ibu Mawarni, dengan perasaannya yang membuncah karena rasa haru dan bahagia.
"Ayah membelikan Kamu sepatu baru Nak."
Mendengar perkataan ibu Mawarni, membuat Elliana mengurai pelukannya. Dia melihat ke arah ayah Rizal, memastikan bahwa apa yang dia dengar tadi benar.
Ayah Rizal hanya mengangguk pelan, seketika membuat Elliana kembali memeluk ibu Mawarni dan menyandarkan kepalanya di bahu orang tua tersebut.
Setelah puas memeluk ibu Mawarni yang hanya diam dan mengelus-elus rambutnya, Elliana beralih pada ayah Rizal.
Grep
"Ayah, terima kasih."
Elliana tidak bisa banyak berkata-kata, karena dadanya terasa sangat sesak menahan rasa bahagia dan haru.
'Keluarga Sabrina benar-benar saling menyayangi, jadi Aku harus bisa memerankan sosok Sabrina sebagai anak mereka yang bisa dibanggakan.'
'Kasian sekali mereka, jika tahu bahwa Sabrina sebenarnya memang sudah meninggal dunia.'
"Tung... tunggu... tunggu sebentar."
Ibu Mawarni beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya. Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi, dengan membawa satu kotak kecil yang ada di tangannya.
"Tadi Ayah sudah memberikan hadiah untukmu. Sekarang giliran Ibu."
Setelah berkata demikian, ibu Mawarni membuka kotak yang dibawanya, kemudian mengeluarkan isinya.
Ternyata itu adalah jam tangan impian Sabrina, sehingga Ibu Mawarni membelinya sebagai hadiah untuk anaknya.
"Ibu..."
Elliana kembali memeluk ibu Mawarni, dengan semua rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dia benar-benar merasa bahagia, karena mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Meskipun jalannya dengan menempati tubuh anak mereka.
'Aku akan membahagiakan kalian berdua, dan tidak biarkan kalian sengsara lagi setelah ini.'
Begitulah kira-kira tekad dan niat Elliana, yang sudah bisa menerima keadaannya sebagai Sabrina.
Semoga bisa berhasil ya niatan Elliana ini, tapi kira-kira ada halangan apa kedepannya nanti?
dan skrng Lolli memng pntas klo sampai kehilangn rasa percya diri krn putus kakinya akibt kecelakaan yg dibuat sndri...