TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control --- *BAB 27: TOPENG DAN DEKAPAN*
Toxic and Control
---
*BAB 27: TOPENG DAN DEKAPAN*
Begitu pintu ganda kayu jati kamar Suite VIP Vanda tertutup rapat di belakang mereka dua malam lalu, sandiwara manis di depan Ibu Lusi menguap. Atmosfer di koridor lantai sembilan yang sunyi langsung terasa canggung.
Kinara Jose membalikkan badannya dengan cepat. Sepasang mata jernihnya menatap Rian Pradifta dengan kilat kejengkelan yang kentara. Dadanya naik-turun hebat akibat menahan emosi yang sejak di dalam kamar rawat sudah tertahan di ubun-ubun.
"Kak Rian, kamu gila, ya?!" semprot Kinara dengan suara berbisik agar tidak terdengar sampai ke dalam. "Pacar? Sejak kapan aku jadi pacarmu?! Kenapa kamu lancang sekali berbohong di depan Ibuku?!"
Rian tetap berdiri tegap, menenggelamkan kedua tangan di saku celana abu-abunya. Alih-alih membalas dengan bentakan dingin atau ancaman kejam seperti biasanya, sepasang mata elang Rian justru meredup.
"Hmm, maaf..." bisik Rian sembari pura-pura memasang muka polos dan menyesal di depan Kinara.
Rahang tegasnya melunak dan sorot matanya dibuat seolah-olah dia benar-benar merasa bersalah atas kelancangannya tadi. "Tadi aku bingung harus mengenalkan diri sebagai apa? Masa aku bilang aku ini tuanmu dan putrimu pelayanku?"
Rian perlahan mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menatap lekat-lekat wajah Kinara yang sempat tertegun melihat perubahan ekspresinya.
"Bukankah lebih baik memperkenalkan sebagai pacar? Itu jauh lebih masuk akal," lanjut Rian dengan suara baritonnya yang melembut, menyembunyikan senyuman miring penuh kemenangan di balik topeng polosnya. "Lagipula kamu gak lihat tadi gimana reaksi ibumu? Dia sangat menyukaiku... sampai tadi dia menitipkanmu padaku."
Kinara seketika bungkam seribu bahasa. Wajah polosnya mendadak memerah merona akibat skakmat verbal dari cowok di depannya. Kalimat "dia menitipkanmu padaku" terus berputar hebat di kepalanya, membuat Kinara hanya bisa memutar bola matanya jengah sekaligus salah tingkah karena ibunya benar-benar sudah masuk ke dalam perangkap pesona Rian.
Saat mereka melangkah berjalan menuju lift, Rian diam-diam menyunggingkan senyuman tipis melihat Kinara yang berjalan di sampingnya sambil cemberut menahan malu. Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, Rian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kacamata bingkai hitam milik Kinara yang sempat dia sita.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, Rian memasangkan sendiri kacamata itu ke hidung Kinara. Ibu jarinya sempat mengusap pipi Kinara yang memerah hangat untuk sepersekian detik. Rian menunduk, berbisik tepat di telinga gadis itu dengan nada posesif yang samar.
"Pakai ini. Aku tidak suka pria lain menatap matamu yang sedang merona," ujar Rian santai, menyembunyikan rasa gemas yang membuncah di dadanya sebelum memimpin jalan menuju parkiran mobil. "Ayo pulang. Kamu harus istirahat untuk besok pagi."
Keesokan paginya, badai ketakutan yang sesungguhnya menghantam seluruh pertahanan mental Kinara Jose.
Di depan pintu ganda ruang operasi utama Rumah Sakit Harapan Bangsa, lampu indikator berwarna merah menyala terang. Tindakan bedah kanker stadium lanjut atas nama Ibu Lusi Jose telah resmi dimulai.
Kinara duduk sendirian di bangku tunggu koridor yang sunyi dengan tubuh ringkih yang bergetar hebat. Kedua tangannya bertautan teramat erat di atas pangkuan, meremas rok kasualnya kuat-kuat demi menahan paranoianya yang pecah berkeping-keping. Pikirannya kosong, dipenuhi ketakutan nyata akan keselamatan nyawa satu-satunya malaikat yang dia miliki di dunia ini. Air mata kecemasan mulai meluncur deras membasahi pipinya yang pucat, menetes di atas lipatan pakaiannya.
Drap... Drap... Drap...
Suara derap langkah kaki yang teratur memecah keheningan koridor rumah sakit yang sepi. Kinara mendongak perlahan dari balik sela-sela jarinya yang basah, dan sepasang mata jernihnya seketika membelalak sempurna.
Rian Pradifta melangkah lebar mendekatinya. Hari ini Rian tidak memakai seragam abu-abu SMA Garuda Nusantara. Cowok gila kontrol itu nekat membolos sekolah demi mendatangi rumah sakit. Dia memakai kaus hitam polos yang dibalut jaket denim mewah serta celana kasual gelap, membuat postur tubuh jangkungnya yang setinggi 188 sentimeter terlihat begitu menonjol dan tampan. Di tangan kanannya, Rian membawa satu cup cokelat hangat manis yang baru saja dibelinya dari kafe bawah.
Rian berhenti tepat di depan Kinara. Melihat air mata yang terus luruh dan tubuh ringkih gadis itu yang gemetar ketakutan, ada rasa perih dan tidak rela yang luar biasa pekat menghantam dada bidang Rian. Sisi tiraninya runtuh total, digantikan oleh naluri protektif seorang pria yang ingin melindungi wanitanya.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Rian mendudukkan tubuh tegapnya di kursi kosong tepat di samping Kinara. Dia menyodorkan cokelat hangat itu ke telapak tangan Kinara yang dingin.
"Pegang ini agar tanganmu tidak gemetar lagi. Aku tidak suka melihatmu terlihat selemah ini," ujar Rian datar, berusaha menyembunyikan getar cemas di dalam batinnya sendiri.
"K-Kak Rian? Kenapa kamu di sini? Bukannya ini jam masuk sekolah?" cicit Kinara dengan suara yang teramat rapuh dan gemetar, mendekap cup hangat itu dengan bingung.
"Aku tidak bisa fokus belajar kalau tahu kamu sedang menangis sendirian di sini," jawab Rian jujur dengan suara baritonnya yang terdengar sangat lembut, berat, dan tenang, membuang jauh-jauh topeng es sedingin kutub yang biasa dia pakai.
Sebelum Kinara sempat merespons atau menghindar karena canggung, Rian sudah bergerak maju. Tangan kekarnya yang besar terjulur, menarik perlahan namun pasti bahu mungil Kinara agar mendekat, lalu menenggelamkan kepala gadis itu di atas dada bidangnya yang kokoh.
Kinara tersentak, jantungnya bertalu gila-gilaan. Aroma parfum maskulin pekat bercampur wangi mint yang segar dari tubuh Rian seketika mengepung seluruh indra penciumannya. Kinara sempat hendak menjauhkan tubuhnya, namun dekapan lengan kekar Rian yang melingkari punggungnya terasa begitu erat, hangat, dan sangat protektif—seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan batinnya untuk menopang kerapuhan Kinara yang nyaris tumbang.
Tangan kekar Rian yang satunya perlahan naik, bergerak mengusap lembut punggung mungil Kinara dengan ritme yang teramat teratur untuk menenangkannya dari badai panik. Setiap kali isakan Kinara mengeras di balik dadanya, dekapan Rian justru semakin mengerat kokoh.
"Menangislah sepuasmu di sini. Ada aku yang menemanimu," bisik Rian lembut. Dia menundukkan kepalanya, mengepalkan tangan sembari mengecup lembut pucuk kepala Kinara dengan penuh kelembutan yang asing.
Di dalam batinnya yang paling dalam, Rian bersumpah bahwa dia akan menggunakan seluruh kekuasaan, uang, dan pengaruh finansial keluarganya untuk memastikan tindakan bedah ini berhasil, murni karena dia tidak sanggup menyaksikan air mata gadis dalam dekapannya ini luruh lagi.
Untuk pertama kalinya di dalam poros hubungan mereka yang penuh dengan `toxic and control`, Kinara merasakan sebuah rasa aman dan kehangatan murni yang perlahan merayap di hulu hatinya, mengikis perlahan sisa rasa benci yang selama ini membeku. Detak jantung Rian yang berdegup gila-gilaan tepat di bawah pelipisnya menjadi satu-satunya melodi yang menenangkan batinnya yang patah.
Tek.
Tiba-tiba, keheningan koridor itu dipecah oleh suara mesin indikator yang berbunyi pendek. Lampu merah pertanda operasi di atas pintu ganda mendadak mati, sedetik kemudian berganti menjadi warna hijau terang.
Pintu ruang operasi terbuka perlahan, memunculkan sosok dokter spesialis dengan senyuman lega di wajahnya yang menandakan tindakan bedah kanker stadium lanjut Ibu Lusi telah berjalan dengan sangat sukses. Momen haru dan melegakan itu seketika memutus ketegangan pekat di antara mereka. Kinara menangis bahagia di dalam dekapan Rian, mengunci babak baru dari jerat takdir yang kian mengikat erat kehidupannya di bawah pelukan tulus sang tuan muda.
Kedamaian pasca-operasi yang manis itu langsung berganti menjadi kecanggungan masif saat hari baru bergulir di SMA Garuda Nusantara.
Pagi ini, di sepanjang koridor lantai dua yang ramai oleh hilir mudik murid, suasana mendadak terasa berbeda. Kinara melangkah dengan buku biologi di pelukannya, bermaksud mengantarkan tugas ke kelas tingkat tiga. Namun, langkah kakinya mendadak dihentikan paksa oleh sesosok tubuh jangkung yang melompat turun dari tangga.
Rian Pradifta.
"Kak Rian! Singkirkan tanganmu!" gerutu Kinara jengah saat Rian dengan gerakan secepat kilat merenggut kacamata bingkai hitam dari hidungnya.
"Tidak mau. Wajahmu jauh lebih cantik kalau tidak memakai benda bodoh ini," goda Rian santai. Senyuman renyah dan binar jahil yang teramat langka terpancar jelas di sepasang mata elangnya, membuang jauh-jauh topeng es yang biasa dia pakai. Rian tahu persis kalau mata Kinara sebenarnya sama sekali tidak minus; benda itu murni hanya bagian dari topeng penyamarannya agar terlihat cupu.
"Kak, kembalikan! Aku tidak nyaman jalan tanpa itu!" jerit Kinara dengan wajah yang merona merah akibat kesal sekaligus malu menjadi pusat perhatian murid-murid koridor.
Rian justru terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu manis. Dengan tinggi tubuhnya yang mencapai 188 sentimeter, Rian mengangkat kacamata itu tinggi-tinggi ke udara menggunakan tangan kanannya, sengaja memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang terlampau jauh.
"Ambil saja sendiri kalau bisa, Pelayan," tantang Rian miring, matanya berbinar penuh kepuasan bermain-main dengan gadisnya.
Kinara mendengus geram. Kehilangan sisa kesabarannya, dia nekat maju merapatkan tubuhnya, menjinjitkan kedua ujung kaki mungilnya sekuat tenaga demi menggapai tangan Rian yang menjulang di atas. Akibat kehilangan keseimbangan karena tubuhnya yang ringkih, tanpa sengaja kedua telapak tangan Kinara mendarat datar, bersandar pasrah tepat di atas dada bidang Rian yang kokoh.
DEG.
Waktu seolah berhenti berputar selama beberapa detik di koridor lantai dua. Kinara membeku dengan wajah yang mendongak sempurna, menatap lekat-lekat rahang tegas Rian dengan jarak wajah yang hanya tersisa beberapa jengkal. Jantung di balik dada bidang Rian yang disentuhnya terasa berdegup gila-gilaan, mengirimkan sengatan hangat yang asing ke seluruh hulu saraf Kinara. Rian sendiri menghentikan tawa jahilnya, matanya menggelap pekat mengunci penuh manik mata jernih Kinara dengan binar kepemilikan yang teramat pekat.
Namun, di sudut koridor utama dekat loker olahraga, pemandangan intim dan manis itu berubah menjadi belati tak kasat mata yang menusuk hulu hati seseorang.
Randy berdiri mematung di balik pilar beton dengan rahang mengeras kokoh dan kedua tangan yang mengepal kuat di dalam saku celananya. Sepasang matanya menatap kaku ke arah interaksi manis Rian dan Kinara yang sedang bercanda ria di depan semua orang—sebuah pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kinara yang biasanya dingin, ketakutan, dan selalu menjaga jarak, kini tampak begitu dekat di dalam dekapan ruang gerak Rian. Bahkan kedua tangan cewek itu bersandar intim di dada sang penguasa sekolah.
Dada Randy bergemuruh hebat oleh rasa patah hati, cemburu, dan keputusasaan yang luar biasa pekat hingga membuatnya sesak napas.
Mengingat kembali kalimat ancaman mutlak dari Rama dan Rangga tempo hari di depan pintu basecamp, Randy terpaksa menelan bulat-bulat seluruh egonya. Dia menyadari, tawa manis Kinara pagi ini adalah harga yang harus dibayar dari pengorbanan kebebasan gadis itu demi melindunginya.
Dengan hati yang telah runtuh menjadi puing-puing pasrah, Randy perlahan membalikkan badannya. Dia melangkah lunglai menyusuri koridor menjauh dari tempat itu, menyeret seluruh puing harga dirinya yang telah rata dengan tanah, membiarkan permatanya kini resmi berputar di dalam poros jerat kendali dan pesona terselubung milik Tuan Muda Rian Pradifta.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk