Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 rumah sakit
Brrmmm.......
Sebuah motor sport berwarna hitam memasuki area parkir sebuah rumah sakit kecil yang berada di dalam sebuah perkampungan di pinggiran kota.
Puskesmas Jabon nama rumah sakit itu.
Pukul Dua dini hari,
Biel nampak turun dari motor itu, melepas helmnya dan segera melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu.
Seolah sudah mengenal dan terbiasa dengan tempat dan orang orang di sana, gadis berwajah dingin dan datar itu menyapa petugas di pos jaga kemudian memberikan beberapa bungkus rokok padanya.
" terimakasih mbk......kemana saja, lama tak jumpa ?! " ucap petugas pos itu.
Biel tak menjawab, tapi ia hanya tersenyum tipis dan hanya melambaikan tangannya menanggapi pertanyaan sang petugas sembari terus melangkah.
Sampai di lobi rumah sakit, seorang perawat jaga juga menyapanya.
Biel mendekat dan tersenyum kecil dan tipis hingga nyaris tak terlihat.
Di sana ia memberikan kantong plastik berisi beberapa bungkus makanan.
" ini untuk kalian " ucapnya
" terimakasih mbk.....lama tidak kesini ?! " ucap sang perawat jaga ramah.
" aku sibuk....." jawabnya singkat dan kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan meja perawat jaga itu.
Langkah kaki Biel menyusuri lorong koridor rumah sakit yang lengang dan sepi.
Terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan.
Sampai di sebuah bangsal, ia berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan.
Gadis itu melepas topi hodienya dan menghela nafas berat.
Rambutnya yang ia ikat asal ke atas nampak sedikit acak acakan.
Tatapannya terarah lurus ke arah dalam ruangan yang bisa di lihat dari kaca yang ada di pintu itu.
Seseorang nampak berbaring tak berdaya di atas brangkar dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Rumah sakit ini memang rumah sakit kecil, tapi peralatan yang menempel pada seseorang di dalam sana adalah peralatan medis yang biasa ada di rumah sakit rumah sakit besar.
Kenapa bisa begitu ?!!
Jawabannya adalah Biel sendiri......
Dengan semua pekerjaan yang ia jalani termasuk menjadi seorang kurir obat obatan terlarang,
inilah yang ia inginkan......
Memberikan perawatan mahal untuk seseorang itu.
Ia tak bisa membawa seseorang itu ke rumah sakit di tengah kota walau sebenarnya ia sangat ingin.
Ia khawatir, keselamatan seseorang itu akan terancam di sana.
Cklek....
Setelah berdiri sangat lama di depan pintu, gadis cantik berwajah dingin itu akhirnya membuka pintu ruangan dan melangkah masuk ke dalam.
Kembali ia menghentikan langkahnya dan berdiri tegak di tengah ruangan.
Dadanya terasa sesak tiba tiba, seseorang yang berbaring tak berdaya di atas brangkar sana membuat tubuhnya gemetar.
Posisi dan kondisi seseorang itu tetap sama dengan saat terakhir ia datang kemari hampir dua bulan yang lalu.
" Cryssi......" desisnya pelan nyaris tak terdengar.
" apa kabar ?!..... ini sudah sangat lama sekali.......kapan kau akan sadar..... ?! " desisnya lagi masih dengan suara yang pelan dan nyaris tak terdengar.
Kedua bola matanya berkaca kaca menatap seseorang yang terbaring tak berdaya itu.
Biel masih tenggelam dengan tatapan matanya kepada sosok seseorang yang berbaring di atas brangkar hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.
" Biel.....
kau datang ?! "
sapa seorang pria dewasa berwajah tampan dengan postur tubuh yang atletis dan berdiri tegak di belakangnya.
Sapaan seseorang itu membuat Biel meliriknya sejenak sembari mengusap air matanya yang mengalir tanpa permisi di pipinya dengan kasar.
Seolah ia malu air matanya akan di ketahui oleh laki laki itu.
" hemmm....." jawab gadis itu kemudian
" kemana saja kau selama ini ?! Rasanya sudah sangat lama kau tidak datang ?! Kau juga tidak menerima panggilanku dan membalas pesanku ?! " tanya sosok itu lagi.
" maaf dokter Evan.....aku sibuk " jawab Biel tanpa bergeming sedikitpun dari posisinya saat ini.
Tatapan matanya pun tak bergeming sedikitpun dari sosok seseorang yang tadi ia sebut Crysst itu.
Seseorang yang bernama dokter Evan itu menghela nafas kemudian melangkah maju dan berhenti tepat di sisi Biel.
Ia menatap dalam kepada wajah Biel yang jelas terlihat lelah.
" sebaiknya kau istirahat saja, kau terlihat sangat lelah "
ucap dokter Evan kemudian sembari tangannya terulur kearah gadis itu hendak menyentuh pundaknya.
Tapi belum sempat ia menyentuh pundak gadis itu, Biel menghindar dan menggeser tubuhnya menjauh dari pria berusia 30 tahun itu.
Dokter Evan menghela nafas,
" aku tidak bermaksud apa apa, aku hanya khawatir padamu ....
lama tidak melihatmu, aku...."
" buang jauh jauh perasaanmu itu padaku dokter Evan,
aku bukan wanita yang pantas kau beri perasaan seperti itu.
Siapa aku dan dari mana asalku hanya akan membuatmu berada dalam masalah.
Dan aku harap.....perasaanmu padaku itu tidak mempengaruhi perawatanmu kepadanya.... "
ucap Biel terdengar dingin sembari menatap sosok yang terbaring tak berdaya di atas brangkar sana.
Mendengar ucapan Biel, dokter Evan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tiga tahun yang lalu ia bertemu dengan sosok dingin tak tersentuh di hadapannya itu di sebuah rumah sakit.
Biel datang atas rekomendasi dokter yang merawat seseorang yang katanya adalah saudaranya dan saat ini menjadi pasiennya.
Pertemuan demi pertemuan dan latar belakang yang ia dengar tentang gadis itu dari dokter sebelumnya yang merawat Cryssy yang adalah kakak sepupunya membuatnya diam diam memperhatikan sosok Biel.
Tanpa ia sadari,
Rasa cinta tumbuh di hatinya untuk gadis itu. Tapi sayang.....
ketika ia mencoba mengungkapkan perasaanya dan menawarkan kehidupan yang layak untuknya.....
gadis itu menolaknya mentah mentah.
Dokter Evan tak bisa berbuat apa apa meski sekedar untuk meyakinkan Biel atas cintanya. Biel begitu dingin dan sulit untuk di pahami apalagi untuk di taklukkan.
" bagaimana kondisinya ?! " tanya Biel kemudian.
" masih tetap sama seperti saat kamu tinggalkan terakhir kali " jawab dokter Evan.
" tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dan berdoa,
kami sudah melakukan segalanya, tapi.....
kondisinya memang sangat sulit.
hanya keajaiban yang bisa membuatnya bangun kembali "
lanjut dokter Evan lagi sembari ikut menatap ke arah tatapan Biel saat ini.
Yakni kepada seseorang yang masih terbaring tak berdaya di atas brangkar di depan sana.
Mendengar jawaban dokter Evan, tubuh Biel terasa membeku.
Ia melangkah mendekat ke arah brangkar dan tiba tiba jatuh bersimpuh di depan brangkar itu.
" Cryssy.....maafkan aku ...." desisnya pelan dengan suara bergetar.
Dokter Evan ikut melangkah mendekat.
" Biel.....berhenti terus menyalahkan dirimu, kau sudah melakukan banyak hal dan upaya untuk kesembuhannya.
Kau bahkan sudah berhasil mendatangkan peralatan seperti ini untuknya.
Tapi ini sudah takdir....."
ucap dokter Evan berusaha menenangkan Biel yang saat ini duduk bersimpuh di bawahnya.
Pundak gadis itu nampak naik turun tanda ia sedang menangis.
Biel tak bergeming, pundaknya masih nampak turun naik.