NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14_Kuntilanak hitam part1

Malam Terakhir di Rumah Tua

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sukamerta, berdiri sebuah rumah tua yang sudah puluhan tahun dibiarkan kosong. Warga menyebut rumah itu sebagai Rumah Angker Bukit Larangan.

Konon, setiap malam Jumat Kliwon, akan terdengar suara tangisan perempuan dari dalam rumah tersebut.

Namun yang paling ditakuti warga adalah sosok perempuan berambut panjang dengan pakaian serba hitam yang sering muncul di bawah pohon beringin dekat rumah itu.

Mereka menyebutnya... Kuntilanak Hitam.

Malam itu, tiga sahabat bernama Raka, Dimas, dan Sinta datang ke desa tersebut untuk membuat konten misteri.

Angin malam berhembus kencang ketika mereka berdiri di depan rumah tua yang dipenuhi lumut.

"Jadi ini rumah yang katanya dihuni kuntilanak hitam itu?" tanya Dimas sambil menyorotkan senter ke arah pintu kayu yang sudah lapuk. Wajahnya terlihat penasaran, tetapi matanya mulai menunjukkan rasa takut.

Raka tersenyum kecil sambil mengangkat kameranya.

"Iya. Katanya sudah banyak orang yang melihat sosok perempuan berbaju hitam berdiri di depan jendela lantai dua." Raka berbicara dengan penuh percaya diri, meskipun tenggorokannya mulai terasa kering. Wajahnya terlihat berusaha tenang.

Sinta memandang rumah itu dengan gelisah.

"Aku tidak suka tempat ini. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan kita dari dalam rumah." Sinta berbisik pelan sambil memeluk lengannya sendiri. Matanya bergerak cepat melihat ke arah jendela gelap rumah itu.

Tiba-tiba...

BRAKKK!

Pintu rumah tua itu terbuka sendiri. Ketiga sahabat itu langsung terdiam.

"Apa kalian membuka pintunya?" bisik Sinta dengan suara gemetar. Wajahnya pucat dan bibirnya bergetar karena ketakutan.

Dimas langsung menggeleng.

"Tidak. Aku bahkan belum menyentuhnya." ucap Dimas ketakutan.

Dimas mundur satu langkah sambil menatap pintu yang bergerak perlahan. Wajahnya berubah panik.

Raka mencoba tetap tenang.

"Mungkin karena angin." Raka berkata sambil menarik napas panjang. Namun wajahnya terlihat mulai ragu.

Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.

Udara dingin langsung menyambut mereka. Bau tanah basah dan sesuatu yang busuk memenuhi ruangan.

Di dinding rumah itu terdapat banyak foto lama seorang wanita cantik dengan pakaian putih.

Sinta mendekati salah satu foto.

"Siapa perempuan ini?" tanyanya pelan. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.

Dimas melihat foto tersebut.

"Entahlah... tapi kenapa semua fotonya dicoret bagian matanya?" Dimas berkata sambil mengerutkan dahi. Wajahnya menunjukkan rasa takut bercampur bingung.

Raka mengambil kamera dan merekam foto itu.

"Ternyata rumah ini punya cerita besar." Raka tersenyum kecil, mencoba menganggap semuanya biasa saja. Namun matanya terus melihat sekeliling dengan waspada.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis.

"Hu... hu... hu..."

Suara itu berasal dari lantai atas. Ketiganya langsung membeku.

"Raka... kamu dengar itu?" Sinta berbisik. Wajahnya pucat, matanya membesar ketakutan.

Raka mengangguk perlahan.

"Iya... ada seseorang di atas." Raka menjawab dengan suara rendah. Wajahnya mulai tegang.

Dimas langsung menarik tangan Raka.

"Kita pergi sekarang! Ini bukan ide bagus!" ujar Dimas mengajak mereka.

Dimas berkata panik sambil menatap tangga menuju lantai atas. Wajahnya menunjukkan ketakutan yang semakin besar.

Namun tiba-tiba...

Suara perempuan itu berubah menjadi tawa.

"Hihihihihihi..."

Lampu senter mereka berkedip. Lalu mati. Dalam kegelapan, terdengar suara langkah kaki.

Tok... tok... tok...

Seseorang berjalan turun dari tangga.

Sinta mulai menangis.

"Siapa di sana?" teriak Sinta dengan suara bergetar. Wajahnya penuh ketakutan, air matanya mulai mengalir.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara rambut panjang bergesekan dengan lantai.

Srekkk... srekkk...

Kemudian sebuah suara lembut terdengar.

"Kalian... datang untuk melihatku?" tanya sosok perempuan itu.

Ketiga sahabat itu menahan napas. Perlahan cahaya senter kembali menyala. Di depan mereka berdiri seorang perempuan.

Wajahnya pucat seperti mayat. Matanya hitam pekat. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah.

Dan pakaiannya... Serba hitam. Itu adalah Kuntilanak Hitam.

"Kalian mencari aku selama ini?" bisiknya.

Raka mundur perlahan.

"Kamu... siapa?" Raka bertanya dengan suara bergetar. Wajahnya yang biasanya berani kini dipenuhi ketakutan.

Perempuan itu tersenyum.

"Aku adalah seseorang yang dibunuh di rumah ini... lalu dikuburkan tanpa nama." Kuntilanak itu berkata pelan sambil menundukkan kepala. Wajahnya terlihat sedih, tetapi senyum menyeramkan muncul di bibirnya.

Sinta menangis ketakutan.

"Kenapa kamu muncul di depan kami?" Sinta bertanya sambil menutup mulutnya. Wajahnya penuh ketakutan.

Kuntilanak Hitam mengangkat wajahnya.

"Karena... salah satu dari kalian membawa sesuatu milikku." jawab Kuntilanak hitam dengan wajah penuh dendam.

Ketiga sahabat itu saling melihat.

"Apa maksudmu?" Dimas bertanya dengan suara gemetar. Wajahnya pucat dan tubuhnya mulai berkeringat.

Kuntilanak itu menunjuk ke arah kamera Raka.

"Itu..." ucap Kuntilanak hitam lirih.

Raka melihat kameranya.

"Apa? Kamera ini?" Raka bertanya bingung. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.

Kuntilanak Hitam tertawa pelan.

"Di dalam kamera itu... ada wajah terakhirku sebelum aku mati." lanjutnya.

Mereka semua terdiam.

Raka membuka rekaman terakhir. Dan benar... Di layar kamera terlihat sosok perempuan berbaju hitam berdiri di belakang mereka saat mereka pertama kali datang.

Padahal saat itu... Tidak ada siapa-siapa.

"Mustahil..." bisik Raka sambil menjatuhkan kameranya. Wajahnya berubah pucat.

Kuntilanak Hitam mendekat.

"Aku hanya ingin kalian mengembalikan sesuatu yang pernah diambil dariku." kata Kuntilanak hitam itu.

"Apa yang harus kami kembalikan?" tanya Raka dengan suara lemah. Wajahnya penuh ketakutan.

Perempuan itu menunjuk ke arah lantai.

"Hatiku..." lanjutnya.

Tiba-tiba lantai rumah bergetar. Dari bawah papan kayu terdengar suara jeritan panjang.

"AAAAAAHHHH!" teriak Sinta, ia langsung memeluk Dimas.

"Aku mau keluar dari sini!" teriak Sinta sambil menangis. Wajahnya sangat ketakutan.

Namun pintu rumah tiba-tiba tertutup sendiri.

BRAKKK!

Kuntilanak Hitam tersenyum.

"Kalian tidak akan pergi... sebelum mengetahui siapa yang membunuhku." ucap Kuntilanak hitam

Malam itu menjadi awal dari teror panjang di Desa Sukamerta. Karena ternyata... Kuntilanak Hitam bukan datang untuk menakuti mereka.

Dia datang untuk mencari pembunuhnya. Dan salah satu dari mereka... Memiliki hubungan dengan masa lalu kelam perempuan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!