💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Siapa lelaki itu?
Keesokan paginya. Setelah kunjungan Azzuri kemarin sore, dan sudah berjanji kepada Azka dan Anna untuk mengantar mereka pergi ke sekolah TK , mobil Azzuri sudah terhenti di depan rumah ruko milik Aulia. Dahi Azzuri mengernyit, saat melihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu samping ruko, ada Aulia, Azka, dan Anna memakai baju seragam TK.
"Siapa lelaki itu? apa lelaki itu yang pernah di sebut Anna. Tidak akan aku biarkan," gerutu Azzuri kesal, tangannya membuka seatbelt, turun dari mobil.
Azzuri berjalan memasuki halaman rumah ruko dengan wajah suram, dan rasa cemburu.
"Papi," teriak Anna melihat Azzuri berjalan lurus ke arah mereka.
Mendengar sapaan hangat dari putri kecilnya, wajah Azzuri sedikit berubah. Segaris senyum paksa ia tampilkan untuk Anna, kini sedang berlari kecil menghampiri nya, dan memeluk kedua kaki Azzuri.
"Papi datang untuk antar adek cama Abang Azka ke cekolah TK, 'kan?" tanya Anna dengan wajah gembira.
"Iya," Azzuri mengulurkan jarinya ke seorang pria sedang berdiri menatap dirinya, "Siapa pria ini?" sambung Azzuri bertanya pada Anna.
"Oh...Om itu adalah Om Bali (Bari)," sahut Anna cepat dengan pengucapan kalimat belum sempurna.
Bari mendekati Azzuri, berdiri di hadapan Azzuri, tangannya mengulur ke depan, "Hai, aku, Affandi Bari. Kalau boleh tahu kamu siapa, dan kenapa Anna memanggil kamu dengan sebutan Papi?" tanya Bari, sekaligus memperkenalkan dirinya.
"Sepertinya kamu sudah tahu, jadi tidak perlu basa-basi!" tegas Azzuri dingin.
"Oh ....jadi kamu Suaminya Aulia?" tanya Bari sopan.
"Hem, ini adalah Papi," sambung Anna, ia mengangguk, dan memeluk Azzuri dengan gembira.
Karena jam terus berjalan, Azka dan Anna juga harus segera di antar. Aulia menggenggam tangan Azka, membawa Azka mendekati Azzuri, Bari, dan Anna.
"Adek Anna, mari kita pergi," ajak Aulia, tangan kirinya mengulur ke Anna.
"Ndak mau, adek mau cama Papi," tolak Anna manja.
"Adek Anna...." panggil Aulia sedikit menekan nada suaranya.
"Sudah jangan di marahi, biar aku ikut mengantarnya," sela Azzuri.
"Baiklah," sahut Aulia pasrah. Aulia memandang Bari, "Aku pamit pergi antar anak-anak dulu," pamit Aulia ke Bari dengan lembut dan sopan.
Degser!!!
Aliran darah Azzuri seperti naik dengan cepat ke ubun-ubun. Rasanya ia ingin marah dan menghajar Bari, tapi Azzuri harus bisa menahan dan mengontrol emosinya di depan anak-anak, dan Aulia.
"Kalau gitu, sepulang dari Pabrik, aku akan mampir ke sini, aku ingin ajak anak-anak main," sahut Bari memberi pesan.
"Baiklah," sahut Aulia.
Bari sedikit membungkukkan tubuhnya, tangannya membelai puncak kepala Azka, dan Anna, "Om pergi ke kantor dulu. Kalian harus rajin belajar ya. Kalau nilainya bagus, Om akan belikan semua yang kalian inginkan," janji Bari ke Azka dan Anna.
"Maaf Om, sepertinya Om tidak perlu membuang uang untuk hal itu," tolak Azka seperti seorang pria dewasa.
"Ih...Abang ndak boyeh gitu, itu tandanya tidak menghalgai," omel Anna.
Azka, memutar arah berdirinya menghadap Anna, "Adek Anna, sepulang sekolah akan abang jelaskan," Azka menggenggam tangan Anna, "Sekarang sebaiknya kita berangkat dulu. Abang tidak mau kalau kita terlambat," ajak Azka.
"Kalau gitu kami pergi dulu," pamit Aulia kembali sopan kepada Bari.
"Iya, aku juga mau pergi," sahut Bari ikutan pamit.
Aulia, Azka, Anna, dan Azzuri berjalan ke mobil Azzuri. Baru jalan menuju mobil Fortuner putih miliknya. Mereka pun masuk ke masing-masing mobil, Azzuri menghidupkan mesin mobilnya, melaju ke jalan arah kantor Samsat Lubuk Pakam dari jalan belakang. Sedangkan Bari melajukan mobilnya menuju jalan Batang kuis.
.
.
Di dalam mobil Fortuner putih, Bari terus mengumpat kesal. Kedua tangannya terus menggenggam erat stir bulat.
"Ck, ternyata pria itu Suami Aulia. Pria yang sudah menelantarkan Aulia selama 5 tahun ini. Tapi kenapa pria itu tiba-tiba datang? Apa dia ingin mengajak Aulia untuk pergi bersamanya? Oh....tidak akan aku biarkan, Aulia harus menjadi milikku. Tapi, kalau pria itu ingin mengambil Azka dan Anna, biarkan saja. Aku juga tak butuh anak-anaknya, yang satu masih celat, yang satu sok kebijakan," gerutu Bari kesal mengingat kedatangan Azzuri.
.
.
Mobil Azzuri berhenti di depan gerbang sekolah TK berada tak jauh dari kantor Samsat Lubuk Pakam. Azzuri sudah turun, membuka pintu untuk Azka dan Anna.
"Ini sekolah TK adek dan abang?" tanya Azzuri melihat sekolah TK sederhana.
"Iya Papi," sahut Azka dan Anna serentak.
Baru saja ingin bertanya banyak kepada anak-anaknya, 3 teman TK Azka dan Anna, baru saja di antar orang tuanya, berlari mendekati Azka.
"Azka...Azka, siapa pria tampan ini?" tanya anak perempuan, rambut ikal kuncir 2 dengan pita warna merah muda.
"Berhenti lah bersikap genit. Pria tampan ini adalah Papi ku!" tegas Azka datar.
Azzuri dan Aulia terdiam di dalam kebingungan melihat anak kecil sudah bisa genit kepada orang dewasa.
"Pantes saja kamu tampan, ternyata Papi kamu juga tampan. Aku jadi cinta deh," sambung gadis kecil malu-malu, rambut lurus, memakai bando bunga-bunga.
"Iiih...kamu! nda boleh!" tegas gadis kecil, rambut lurus, kuncir kuda, dan poni di atas alis. Tangannya menggenggam tangan Azka, "Azka ini hanya untukku, dan milikku!" sambung gadis tersebut dengan tegas.
Melihat anak-anaknya berdebat, ketiga orang tua dari putri berdiri mengelilingi Azka, segera turun dari kereta mereka masing-masing, mendekati anak-anak mereka.
"Maaf ya, Bu. Anak saya memang seperti ini. Tapi kalau boleh jujur, habisnya Suaminya ganteng kali," ucap Ibu dari anak berkuncir 2.
"Suaminya ya, Bu?" tanya Ibu dari anak memakai bando bunga-bunga.
"Ganteng ya, Bu," jelas Ibu dari anak berkuncir 1.
Azzuri, dan Anna terdiam, mereka bergidik ngeri saat melihat godaan dari wanita-wanita aneh.
"Terimakasih atas pujiannya, sebaiknya kita antar anak kita masuk ke dalam kelas dulu. Mari Bu," ajak Aulia memecah suasana. Aulia menggenggam tangan Anna dan Azka, membawanya masuk ke dalam lingkungan Sekolah TK.
"Eh, iya," sahut serentak 3 Ibu-ibu genit.
Ketiga Ibu genit itu balik badan, masing-masing tangan menggenggam tangan anak mereka. Namun pandangan, dan senyum masih mengarah pada Azzuri.
Azzuri masih diam berdiri dengan raut wajah bodoh. Bulu kuduknya dari tadi terus berdiri melihat godaan dari Ibu-ibu genit kepadanya.
"Aku baru tahu kalau di sini seorang Ibu bisa genit secara terang-terangan. Mana alisnya hitam, segaris dan melengkung seperti stang sepeda di ujungnya. Bibir tebal, gincu merah. Mimpi apa aku tadi malam," gumam Azzuri ngeri.
Tidak ingin bertemu dengan Ibu genit lainnya. Azzuri segera masuk ke dalam mobil, menunggu Aulia di dalam mobil.
...Bersambung...