Widhi Maharani menikahi Agung Haryanto, duda beranak dua. Berbagai masalah mulai muncul di awal pernikahan. Mulai masalah ekonomi, masalah orang ketiga sampai dituduh sebagai PELAKOR.
Ternyata mereka tak bisa mempertahankan pernikahan, karena Agung lebih memilih kebahagiaan anak-anaknya dan kembali pada mantan istrinya.
Widhi bertemu lagi dengan mantan pacar pertamanya, tapi percintaan mereka pun terhalang lagi oleh istri mantan pacarnya. Dan Widhi dicap lagi sebagai pelakor.
Akhirnya Widhi menemukan cinta sejatinya dengan seorang teman lamanya. Dan mereka memutuskan menikah hingga memiliki anak dan hidup bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Rient, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 LAPOR POLISI
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Tapi belum juga ada kabar dari mas Agung. Bahkan dia seperti hilang ditelan bumi. Aku yang dari sore tadi berusaha tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rega, akhirnya mewek juga saat Rega akhirnya tertidur lagi.
Aku tak dapat lagi menahan kesedihanku. Tapi aku pun gak bisa berbuat apa-apa. Karena untuk pergi ikut mencari jelas tak mungkin. Aku tak mungkin meninggalkan Rega sendirian. Dan juga aku tak tau mesti mencari kemana. Saking capeknya menunggu, akupun tertidur kembali di sofa ruang tamu.
Pelan sekali aku dengar pintu depan di buka. Rupanya mas Agung dengan wajah sangat kusut, pulang. Dengan kunci cadangan yang dijadikan satu dengan kunci mobil, dia bisa masuk tanpa membangunkan orang rumah.
Lain halnya denganku, karena tidur dengan perasaan gelisah, denger suara sedikit aja langsung kebangun. Aku tatap mas Agung. Dia sendiri. Lalu mana Risa? Aku berjalan menghampirinya.
"Risa mana mas?" tanyaku dengan nada khawatir.
"Aku belum menemukannya. Vita belum bisa di hubungi. Orangtuanya juga gak tau kemana perginya Vita," jawab mas Agung sedih.
"Apa gak sebaiknya kita lapor polisi mas?" kataku lagi.
"Kita lihat besok ya, kita ke sekolah Risa lagi. Kalau ternyata Risa gak ada di sekolah, berarti fix Vita menculik Risa. Karena dia mengambilnya tanpa ijin dariku, sedang hak asuh anak-anak ada padaku" jelas mas Agung. Akupun mengangguk tanpa berniat membantah, walaupun dalam hatiku sangat khawatir.
"Sekarang kita istirahat yuk. Kamu dari tadi nunggu disini?" tanya mas Agung. Aku mengangguk kembali. Dia pun merangkulku untuk masuk ke kamar.
"Rega gimana sayang" tanya mas Agung kembali.
"Dia dari sore tadi nanyain kakaknya terus. Aku jawab ayah lagi jemput kakak dirumah temannya. Sampai malam dia masih saja nanyain. Aku cuma bisa menghiburnya karena dia keliatan sedih, kakaknya gak pulang-pulang" jawabku menjelaskan.
"Ya udah, sekarang kita tidur. Besok pagi kita ke sekolahnya Risa" ucap mas Agung.
"Mas gak bersih-bersih badan dulu? Biar enak tidurnya?" tanyaku, karena lihat penampilan suamiku yang kacau.
"Kenapa, kamu mau sayang?" tanya mas Agung nakal, berusaha mencairkan suasana.
"Ih apaan sih..." jawabku malu-malu. "Udah sana ke kamar mandi dulu, nanti aku siapin baju gantinya. Bau acem" ucapku kemudian sambil menutup hidungku. Mas Agung mencium aroma keteknya sendiri.
"Iya bau" kata mas Agung sambil ketawa dan langsung masuk ke kamar mandi. Sementara aku nyiapin pakaian gantinya.
Mas Agung keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, yang dililitkan di pinggangnya. Wow...gantengnya suamiku, batinku. Aku memalingkan sedikit wajahku biar gak fokus menatapnya.
"Liat aja gapapa, gratis kok sayang. Mau lebih dari liat juga boleh" kata mas Agung menggodaku.
"Udah malam mas, tidur. Mas juga capek kan?" ucapku mengalihkan omongan.
"Biar sekalian capeknya terus tidur nyenyak sambil meluk kamu sayang" jawab mas Agung.
Aku pasrah saat mas Agung mendekatiku. Dia mulai membelai pipiku, bibirku dan berhenti di leherku. Bibirnya mulai dia tempelkan ke bibirku, lembut sekali. Aku seperti melayang. Hilang sudah perasaaan cemas yang dari siang tadi menguasaiku. Ciumannya makin dalam, dan tangannya mulai menjelajah.
Tapi tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Sontak kami saling melepaskan diri. Aku berjalan untuk membuka pintu. Ternyata Rega yang terbangun dari tidurnya.
"Ada apa sayang?" tanyaku lembut.
"Kakak mana? Aku takut tidur sendiri" ucapnya hampir menangis. Maklum, dia terbiasa tidur dengan kakaknya walau tidak satu ranjang.
"Kakak belum pulang sayang. Gimana kalau Rega tidur disini sama ayah dan ibu?" tawarku spontan. Rega mengangguk setuju dan langsung naik ke ranjang.
Sementara mas Agung yang masih mengenakan handuk hanya bisa mengangkat bahu. Aku menahan tawa dengan menutup mulutku. Kasian dia tadi udah on.
Dia pun akhirnya pasrah dan memakai pakaian tidur yang udah aku siapin tadi. Kami mencari posisi tidur masing-masing.
"Selamat tidur suamiku" ucapku sambil masih menahan tawa. Dilemparnya bantal kecil yang ada di ranjang ke arahku.
"Sssttt...gak boleh becanda, udah malem" ucapku lagi sambil meletakan jari telunjuk ku di bibir dan melemparkan kembali bantal kecil tadi.
Mas Agung mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Aku menyelimuti badan kami bertiga biar gak kedinginan nanti.
----------------------------------------
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidur. Aku beranjak dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi. Untuk bersiap sholat subuh. Selesai dari kamar mandi, aku bangunkan mas Agung untuk sholat.
Selesai berjamaah kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sambil menunggu waktu nanti ke sekolahnya Risa. Aku memilih membantu bi Siti di dapur, sedang mas Agung membersihkan beberapa kandang burungnya.
Setelah Rega bangun dan mandi, masakan untuk sarapan pagi pun udah siap, kami sarapan bertiga.
"Kita makan bertiga lagi Yah? Kakak kapan pulang?" tanya Rega ke ayahnya.
"Nanti siang sayang. Habiskan sarapanmu terus ke sekolah. Nanti ayah sama ibu jemput kakak di sekolah ya?" jawab mas Agung pelan, menahan perasaan cemasnya.
Selesai sarapan kami segera berangkat mengantarkan Rega sampai ke sekolahnya. Lalu kami ke gedung sebelah untuk menunggu apakah Risa diantarkan ke sekolah. Sampai bel masuk berbunyi, gak ada tanda-tanda Risa datang. Akhirnya kita masuk menemui kepala sekolah.
Setelah berbicara sebentar, kami memutuskan untuk melapor ke kantor polisi, atas dugaan penculikan. Pihak sekolah, terutama penjaga sekolah bersedia menjadi saksi. Kami ke kantor polisi dengan di dampingi kepala sekolah, guru kelas dan penjaga sekolah.
Selesai urusan dikantor polisi, aku dan mas Agung memilih langsung pulang, dan menunggu kabar selanjutnya dari pencarian polisi. Sementara kepala sekolah, guru kelas dan penjaga sekolah, kembali ke sekolah.
Sepanjang perjalanan pulang, mas Agung tak bicara sepatah katapun. Aku tau dia pasti lagi berfikir dimana kira-kira mantan istrinya membawa Risa pergi. Aku hanya bisa menguatkan mas Agung dengan mengelus lengannya dan memberi sedikit ciuman disana.
Aku memperhatikan suamiku. Wajahnya menyimpan amarah tapi di tahannya. Entah apa yang akan dilakukannya kalau sampai ketemu mantannya.
Aku berfikir, mungkin ini salah satu cara mamanya anak-anak protes karena mas Agung menikahiku. Tapi kan mereka memang udah berpisah. Jadi gak ada hak dong dia melarang mas Agung menikahiku atau siapapun.
Aku jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, apa mungkin mantannya itu masih mencintai suamiku? Kalau masih cinta kenapa dulu mereka berpisah? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku.
Masalah dalam rumah tangga sepertinya memang rumit, tidak selalu indah seperti bayanganku. Nyatanya aku yan baru beberapa saat menikah aja, udah dapat masalah kayak begini. Untung suamiku sangat baik, dia begitu perhatian padaku. Kami hadapi masalah ini berdua. Semoga kami bisa melewatinya.
Tapi....eeehhh tunggu sebentar.
"Mau kemana lagi kita mas?" tanyaku bingung, karena mas Agung gak berhenti di depan rumah, tapi malah bablas terus.
"Astaghfirullah...kebablasan sayang" ucap mas Agung sambil nyengir.