NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Rahasia Kecil

"Saya menyarankan kerja sama ini ditunda."

Ruang rapat mendadak sunyi.

Liana berdiri di belakang kursi Renard dengan tablet di tangan. Di layar utama, proposal pemasok kemasan bernilai miliaran rupiah menunggu persetujuan direksi. Semua laporan tampak bersih. Harga kompetitif, kapasitas besar, jadwal pengiriman menarik.

Namun Liana ingat apa yang terjadi tiga bulan lagi dalam kehidupan pertamanya. Perusahaan itu memalsukan laporan utang, gagal membayar pekerja, lalu menutup pabrik tanpa pemberitahuan. Tan Group kehilangan satu musim produksi.

Direktur pengadaan menatapnya. "Atas dasar apa, Mbak Liana?"

Ia tidak bisa mengatakan pernah melihat masa depan.

"Perputaran kas mereka tidak sesuai dengan pertumbuhan pesanan. Dua anak perusahaan juga memakai alamat gudang yang sama, tetapi melaporkan aset terpisah. Saya pikir kita perlu audit beneficial ownership dan utang vendor."

Renard membuka lampiran. Angka yang disebut Liana tersembunyi di halaman empat puluh tujuh.

"Tunda penandatanganan," katanya.

"Pak, harga mereka hanya berlaku minggu ini."

"Kalau sehat, mereka sanggup melewati audit. Kalau tidak, diskon bukan keuntungan."

Keputusan selesai.

Setelah rapat, direktur pengadaan menghampiri Liana di lorong.

"Saya harap kecurigaan Anda benar," katanya kaku. "Kalau tidak, perusahaan kehilangan harga terbaik."

"Saya juga berharap salah," jawab Liana. "Itu berarti tidak ada pekerja atau vendor lain yang akan dirugikan."

Jawaban tersebut menghilangkan nada kemenangan dari perdebatan. Liana tidak ingin terlihat paling pintar. Ia ingin mencegah kerusakan yang pernah dilihatnya.

Di luar ruang rapat, Renard menahan Liana. "Dari mana kamu tahu?"

"Laporan industri dan firasat."

"Firasat tidak menemukan alamat gudang."

"Saya membaca lampirannya."

"Empat puluh tujuh halaman?"

"Itu pekerjaan saya."

Renard menatapnya seolah ingin membuka setiap rahasia di balik wajah tenang itu. "Setiap kali aku mengira sudah memahami kemampuanmu, kamu menunjukkan sesuatu yang lain."

"Apakah itu keluhan?"

"Belum."

Tiga hari kemudian, kabar dari auditor masuk. Pemasok itu memang menyembunyikan pinjaman jatuh tempo dan menjaminkan aset yang sama kepada dua kreditur. Kerja sama dibatalkan sebelum Tan Group kehilangan uang.

Renard meneruskan surel hasil audit kepada Liana dengan satu kalimat.

Firasatmu mahal.

Liana membalas.

Untungnya kali ini gratis, Pak.

Renard keluar dari kantor beberapa menit kemudian dan meletakkan satu kotak makan siang di meja Liana.

"Apa ini?"

"Kamu melewatkan makan siang karena audit."

"Saya bisa pesan sendiri."

"Sudah dipesan."

Di dalamnya ada nasi, ayam panggang, sayur, dan sambal terpisah karena Renard pernah melihat Liana tak tahan terlalu pedas. Ia kembali ke kantor sebelum Liana sempat mengucapkan terima kasih.

Rizal muncul dari balik partisi. "Ini contoh hubungan kerja profesional?"

"Ini makan siang."

"Makan siang yang mengingat level sambal."

Liana menutup kotak sebentar untuk menyembunyikan senyum. "Mas Rizal, laporan."

"Baik, Mbak."

***

Di pantry, Rizal, Bayu, dan Dimas membungkuk di atas catatan digital.

"Tiga bulan," kata Rizal. "Saya taruhan mereka resmi dalam tiga bulan."

"Pak Renard belum sadar," balas Bayu. "Enam bulan."

Dimas mencatat keduanya. "Taruhan batal kalau salah satu dipindahkan divisi."

"Kalian bertaruh apa?" suara Liana muncul dari pintu.

Tiga pria itu menutup layar bersamaan.

"Harga saham," jawab Rizal.

"Cuaca," kata Bayu.

"Hubungan Pak Renard dan Mbak Liana," kata Dimas jujur.

Rizal memegang kepala. "Kenapa kamu jadi saksi kalau tidak bisa bohong?"

Liana menyilangkan tangan. "Saya ingin lima puluh persen dari pot taruhan."

Mereka semua terdiam.

"Mbak tidak marah?" tanya Bayu.

"Saya akan marah kalau dilakukan saat jam kerja. Sekarang kembali ke meja."

Tiga kursi bergeser serempak.

Saat Liana kembali ke tempatnya, WhatsApp berbunyi dari nomor lain.

Aldi: Aku tiba di Jakarta minggu depan. Kita bicara langsung. Jangan terus lari.

Pesan berikutnya menyusul.

Nadia juga kangen kamu, lho.

Wajah Liana kehilangan senyum. Di kehidupan pertama, kalimat persis seperti itu membuatnya setuju bertemu. Aldi datang merendah, Nadia memeluknya, dan jerat lama menutup lagi.

Liana mengambil tangkapan layar, meneruskan ke folder bukti, lalu memblokir nomor.

Malam itu di apartemen kecilnya di Kuningan, ia menulis tiga nama di sebuah halaman kosong: Aldi, Nadia, Ibu Nadia.

Di bawahnya, ia mencatat semua yang masih diingat dari masa lalu. Perusahaan cangkang. Transfer yang diminta Nadia. Rekening yang pernah dipakai ibunya. Tanggal-tanggal yang dulu tampak acak kini membentuk pola.

Liana membuka arsip publik perusahaan dan mencocokkan nama pengurus. Ia tidak mengunduh data ilegal atau menyusup ke rekening siapa pun. Semua yang disimpan berasal dari dokumen badan usaha, unggahan lama Nadia, dan mutasi miliknya sendiri dari kehidupan sekarang.

Satu foto lama memperlihatkan Nadia berpose di depan mobil yang terdaftar atas nama perusahaan kecil milik ibunya. Pada tanggal yang sama, perusahaan itu mengaku tidak memiliki aset untuk membayar korban.

Liana menyimpan tautan, tanggal akses, dan salinan layar. Firasat dari kehidupan pertama memberinya arah, tetapi bukti yang sah tetap harus dibangun di kehidupan ini.

Ponsel gelap di samping laptop menyala lagi.

Aldi: Nadia juga kangen kamu, lho.

Liana membalik ponsel hingga layar menghadap meja.

"Datanglah," bisiknya. "Kali ini aku tidak akan menyambutmu dengan percaya."

Di layar laptop, folder bukti tetap terbuka. Liana tidak menunggu Aldi sebagai korban yang kesepian, melainkan sebagai perempuan yang sudah menyiapkan jalan keluar.

Juga jalan untuk melawan balik, tanpa gentar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!