NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh Pahit dan Jejak Pemburu

Pendar merah dari terminal terenkripsi di sudut remang sebuah kontainer pelabuhan Jakarta berkedip cepat. Lucas—Viper-0—menatap baris kalimat terakhir yang dikirimkan oleh Aran. Matanya yang tajam dan dipenuhi garis usia memicing dalam kegelapan.

MESSAGE: Saya tidak akan pulang, Komandan. Di sini, saya bukan lagi senjata. Saya telah menemukan alasan untuk hidup.

Jemari Lucas yang dipenuhi bekas luka tembak meremas pinggiran meja besi hingga memutih. "Alasan untuk hidup...?" bisiknya dengan suara serak yang amat dingin.

Sebagai pria yang membentuk Aran dari serpihan bocah trauma menjadi operator paling mematikan di organisasinya, Lucas paham betul apa artinya jika seorang pembunuh mulai memiliki ketertarikan pada kehidupan normal. Itu adalah tanda awal kelemahan—dan faksi liar yang dipimpin Viper-4 tidak akan ragu mengeksploitasi kelemahan tersebut untuk membantai Aran sampai ke akar-akarnya.

"Cari lokasi sinyal pemancar ini," perintah Lucas datar pada anak buah kepercayaannya yang berdiri di bayangan. "Kita harus menemukan Viper-1 sebelum faksi liar mendahului kita."

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca ruang makan kediaman Al-Maktoum. Aroma sangrai kopi dan roti panggang memenuhi udara, namun suasana di meja makan panjang itu justru diwarnai oleh ketegangan kecil yang menggemaskan.

Shanum duduk di kursi utamanya, bersedekap dada seraya menatap pria kekar yang berdiri tegap tepat dua meter dari ujung meja. Aran mengenakan kemeja formal abu-abu gelap yang rapi, berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang pinggang.

"Aran, ini perintah pimpinan," ujar Shanum tegas, mencoba memasang wajah kaku meski matanya memancarkan rasa geli. "Duduk dan makan sarapanmu. Poin Keempat perjanjian kita menyatakan kamu dilarang menolak makanan dari atasan."

Aran tidak bergeming. Ia menatap Shanum dengan raut wajah netral, lalu melirik kursi kosong di sebelah kiri Shanum.

"Secara taktis, Mbak Shanum..." sahut Aran santai, suaranya kini jauh lebih ramah dan tidak lagi seperti mesin otomatis. "Duduk di kursi itu membelakangi jendela taman samping. Jika ada penembak jitu di atas pohon perimeter, dada saya menjadi target yang sangat mudah. Saya lebih memilih berdiri di sini."

Shanum memutar matanya malas, mengembuskan napas panjang. Kekeraspalaan Aran yang dibungkus alasan taktis selalu sukses memancing kejengkelannya, tetapi anehnya, Shanum mulai menikmati pertengkaran-pertengkaran sepele seperti ini. Aran tidak lagi terasa seperti pengawal asing yang menakutkan; kehadiran pria itu kini membawa rasa aman dan kehangatan tersendiri.

"Kalau begitu duduk di meja kecil dekat pantry itu!" sembur Shanum kaku seraya menunjuk meja bundar di sudut ruangan. "Sudut pandangmu bebas ke jendela, dan kamu tetap bisa menjalankan Poin Keempat tanpa alasan taktis konyolmu!"

Aran menatap meja kecil itu, menganalisis posisinya selama dua detik, lalu mengangguk pelan. "Posisi tersebut memiliki cakupan perlindungan delapan puluh persen. Diterima, Mbak Shanum."

Shanum tersenyum puas, merasa menang dalam perdebatan pagi ini. Saat Aran melangkah menuju meja kecil dan menarik kursi, Shanum menuangkan teh hangat ke dalam cangkir kedua di mejanya.

"Oya, Aran..." panggil Shanum santai seraya menyesap tehnya. "Kemarin waktu di pesantren, saya memperhatikan kamu... Kamu kelihatannya betah sekali waktu Ning Layla mengobati lukamu di klinik."

Aran yang baru saja hendak meraih roti panggang mendadak menghentikan gerakannya. Pria yang biasanya tidak pernah terusik oleh ancaman senjata api itu kini berdehem canggung.

"Ning Layla hanya menjalankan tugas medisnya, Mbak Shanum," sahut Aran datar, berusaha mempertahankan garis wajah dinginnya meski ada sedikit rona hangat yang samar di sekitar lehernya.

"Masa cuma tugas medis?" goda Shanum dengan alis terangkat, menikmati momen langka melihat mantan prajurit berdarah dingin itu salah tingkah. "Tapi waktu Ning Layla tersenyum dan mendoakanmu, mata dinginmu itu langsung melunak. Beda sekali kalau melihat saya—kamu selalu menatap saya seperti mau mengajak perang taktis!"

Aran menatap Shanum, memunculkan senyum tipis yang teramat bersahaja. "Mbak Shanum sering membuat grafik emosi saya naik dengan keputusan-keputusan nekat Anda. Sedangkan Ning Layla... pembawaannya sangat tenang. Berada di dekat beliau membuat pikiran terasa begitu teduh."

Shanum terbelalak pelan. Ia tidak menyangka Aran akan menjawab dengan sejujur itu. Rasa takjub bercampur geli membuat Shanum tertawa kecil.

"Wah, rupanya es batu bernama Ardebaran ini bisa luluh juga oleh kelembutan seorang Ning," ledek Shanum seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi saran saya, kalau kamu memang tertarik pada Ning Layla, belajar mengaji dulu. Jangan cuma belajar teknik bongkar pasang senjata!"

Aran terkekeh halus—sebuah tawa pendek yang begitu manusiawi. "Nasihat yang sangat rasional, Mbak Shanum. Saya akan mempertimbangkannya."

Hubungan mereka telah bergeser secara alami. Tidak ada lagi sekat ketakutan atau formalitas kaku yang menekan. Mereka kini beroperasi sebagai dua orang teman yang saling menerima keberadaan satu sama lain, meski pertengkaran-pertengkaran sepele tentang aturan dua meter dan teh pahit masih terus mewarnai harinya.

Satu jam kemudian, SUV hitam Al-Maktoum Group membelah jalanan Jakarta menuju kawasan perkantoran. Di dalam kabin, Shanum sibuk memeriksa dokumen penawaran harga tender Senayan yang sudah diperbaiki, sementara Aran mengemudikan kendaraan dengan ritme yang stabil dan santai.

Namun, saat mobil memasuki pelataran parkir gedung Al-Maktoum Group, sudut mata Aran menangkap sesuatu yang tidak wajar.

Di atas atap gedung komersial setinggi sepuluh lantai yang terletak di seberang jalan, ada pendar cahaya tipis—sebuah pantulan kilat dari lensa optik pengintai yang muncul selama sepersekian detik sebelum lenyap di balik pembatas beton.

Refleks tempur Aran langsung aktif. Pantulan itu terlalu bersih dan terlalu tinggi untuk ukuran pembunuh bayaran amatir suruhan Surya Wijaya. Itu adalah teknik scouting jarak jauh khas prajurit Viper.

Aran tidak membelokkan mobil ke area parkir VIP terbuka seperti biasanya. Dengan gerakan tenang namun mantap, ia memutar lingkar kemudi, membawa SUV tersebut masuk langsung ke dalam garasi basement yang tertutup rapat.

"Aran? Kenapa parkir di basement?" tanya Shanum heran seraya melihat ke sekeliling area parkir yang agak remang. "Bukannya biasanya kita turun di lobi utama?"

Aran mematikan mesin mobil, lalu membalikkan badan menatap Shanum. Wajahnya yang tadi hangat kini kembali diliputi kewaspadaan tinggi, namun matanya tetap memancarkan kesantunan yang menenangkan.

"Suhu udara di area lobi luar agak terlalu panas pagi ini, Mbak Shanum," alibi Aran santai, tak ingin membuat Shanum panik oleh ancaman pengintai di atap gedung. "Lewat basement dan lift eksekutif jauh lebih nyaman untuk Anda."

Shanum mengernyitkan alis, menatap Aran dengan pandangan curiga. Sebagai wanita yang cerdas, Shanum mulai bisa membaca perubahan gestur Aran. Ia tahu ada hal berbahaya yang baru saja ditangkap oleh mata tajam pengawalnya.

Shanum tidak bertanya lebih lanjut. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah termos kecil berisi teh pahit dingin yang telah disiapkannya sendiri dari rumah, lalu menyodorkannya ke arah Aran.

"Minum ini dulu," ujar Shanum pelan, nada bicaranya melembut tanpa sedikit pun kepura-puraan. "Suhunya persis dua puluh dua derajat. Jangan diprotes lagi."

Aran tertegun menatap termos di tangan Shanum, lalu menerimanya dengan kedua tangan secara amat santun. "Terima kasih banyak, Mbak Shanum."

"Ingat aturan kita, Aran," lanjut Shanum seraya melangkah keluar dari mobil, berdiri menunggunya di jarak dua meter. "Kamu bertugas menjaga keselamatan saya, dan saya bertugas memastikan pengawal saya tidak mati konyol karena terlalu tegang."

Aran menyunggingkan senyum tulus, menyesap teh pahit itu rasanya persis seperti yang biasa ia racik. Kehangatan yang menjalar di tenggorokannya semakin menguatkan tekad di dalam dadanya.

Aran melangkah keluar dari mobil, mengambil posisi dua meter tepat di belakang bayangan Shanum. Ia memindai setiap sudut basement yang remang dengan mata kelamnya yang tajam. Apapun ancaman yang dibawa oleh bayangan masa lalunya dari organisasi Viper, Aran bersumpah tidak akan membiarkan satu peluru pun menyentuh kehidupan baru yang telah ia temukan di sini.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!