Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Lelaki yang Pulang
Arya berhenti dua langkah setelah melewati pintu.
Tatapannya menyapu teras, Bayu yang rambutnya masih basah, Raka yang memegang handuk bersih, lalu Sasa yang tertidur wangi di pelukanku.
Dia tidak menunjukkan keterkejutan di wajah. Namun matanya tinggal lebih lama pada pipi bersih Sasa dan bekas garukan di leher kecil itu.
“Ayah!” Bayu berlari mendekat. “Sasa mandi air hangat. Dia ketawa. Aku yang bikin dia ketawa.”
“Kena cipratan air juga,” tambah Raka.
“Itu bagian dari membantu.”
Arya menepuk kepala Bayu sekali. “Masuk. Udara malam dingin.”
Sebelum kami sempat bergerak, Bik Inah keluar dari dalam rumah.
“Pak Arya, akhirnya pulang juga!” Suaranya langsung naik. “Saya sudah tidak sanggup menghadapi perempuan ini. Dia merusak gembok, mengobrak-abrik gudang, mengambil semua bahan makanan, dan hampir memukul saya dengan daging beku.”
Aku hampir tertawa pada tuduhan terakhir.
Arya menatapku. “Sasa sudah makan?”
“Sudah. Nasi lembek, telur, dan sayur.”
“Yang lain?”
“Sudah makan dua kali hari ini. Raka dan Bayu juga sudah mandi.”
Dia mengangguk. “Baringkan Sasa dulu.”
Tidak ada bentakan. Tidak ada keputusan terburu-buru. Dia hanya meminta semua orang masuk ke ruang tamu setelah Sasa kubaringkan di kamar bawah agar mudah diawasi.
Di atas meja, aku menaruh ponsel, catatan jumlah barang, dua tas belanja yang tadi sudah dikemas Bik Inah, dan satu kotak susu Sasa yang masih tersegel.
Bik Inah berdiri sambil melipat tangan. “Lihat? Baru dua hari datang sudah merasa jadi nyonya rumah.”
“Bik bilang gudang itu milik pribadi,” kataku. “Di dalamnya ada kiriman makanan rumah ini dan susu atas nama Sasa. Karena saya membuka tanpa kunci, saya panggil Bu Sumi sebagai saksi. Semua isi saya foto sebelum dipindahkan. Salinannya juga saya kirim ke Bang Gino.”
Arya mengambil ponselku. Dia melihat foto satu per satu tanpa mengubah ekspresi.
“Tiga karung beras, dua baki telur, minyak, gula, empat kotak susu, dan daging,” lanjutku. “Dua tas sudah dibungkus untuk dibawa keluar. Raka bilang hal itu terjadi setiap Jumat.”
“Anak kecil bisa salah ingat,” potong Bik Inah. “Saya bawa bahan itu untuk ditukar di pasar. Uangnya dipakai beli kebutuhan rumah.”
“Mana catatannya?” tanya Arya.
Bik Inah terdiam.
“Nota belanja?”
“Saya tidak biasa simpan nota, Pak.”
“Sisa uang?”
“Sudah terpakai.”
“Untuk apa?”
“Ya, untuk makan anak-anak.”
Arya menatap Raka dan Bayu. Kedua anak itu kurus di balik pakaian bersih. Bayu masih memegang ujung kausnya, sementara Raka berdiri sedikit di depan adiknya seperti biasa.
“Anak-anak ini makan singkong pagi tadi,” kataku. “Semalam Bayu minta setengah mangkuk nasi dan dibilang rakus.”
Rahang Arya mengeras.
Bik Inah buru-buru mendekat. “Pak, jangan percaya begitu saja. Laras sengaja membuat anak-anak melawan saya. Dia juga mengancam akan mengambil alih uang rumah.”
“Dia tidak perlu mengambil alih,” kata Arya. “Aku yang akan memberikannya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bik Inah berkedip. “Maksud Pak Arya?”
Arya tidak menjawabnya. Dia memandang foto gudang sekali lagi, lalu meletakkan ponsel di depanku.
“Aku memang jarang di rumah,” katanya. “Tapi aku tahu keadaan anak-anak enam bulan terakhir. Mereka makin kurus. Sasa tidak pernah bersih. Aku bertanya, kamu selalu bilang mereka susah makan dan susah diatur.”
Bik Inah memucat. “Memang begitu, Pak. Saya sudah berusaha.”
“Hari ini mereka makan masakan Laras.”
“Karena makanannya mewah. Kalau setiap hari seperti itu, uang rumah cepat habis.”
“Uang rumah tidak pernah kurang.”
Nada suaranya tetap datar. Justru itu yang membuat Bik Inah tidak berani menyela lagi.
“Setiap awal bulan aku memberi uang belanja,” lanjut Arya. “Beras, daging, telur, dan susu dikirim terpisah dari peternakan. Biaya sekolah Raka dan Bayu kubayar langsung.”
“Uangnya habis untuk obat dan pakaian anak-anak,” kata Bik Inah cepat.
“Obat apa?” tanyaku.
“Macam-macam. Demam, batuk, vitamin.”
“Sebutkan bulan terakhir Sasa dibawa ke puskesmas.”
Bik Inah menoleh kepadaku dengan mata menyala. “Saya tidak hafal tanggal.”
“Nama obatnya?”
“Sudah dibuang bungkusnya.”
“Pakaiannya?”
Bayu menarik ujung kausnya yang sudah sempit. “Ini punya Kak Raka waktu kecil.”
Raka mengangguk. “Baju baru terakhir dibeli Ayah sebelum Lebaran tahun lalu.”
Arya membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan memperlihatkan riwayat transfer bulanan. Jumlahnya tetap, tidak pernah terlambat. Di luar itu masih ada pengiriman bahan pangan setiap minggu.
“Mulai malam ini, simpan semua nota,” katanya. “Aku akan periksa enam bulan terakhir.”
Bik Inah memegang sandaran kursi. Buku-buku jarinya memutih.
Arya mengambil dompet dari saku celananya. Di dalamnya ada beberapa lembar uang seratus ribuan. Dia mengeluarkan semuanya, lalu menaruhnya di telapak tanganku.
“Untuk kebutuhan beberapa hari. Besok aku ambil uang lagi.”
Tumpukan itu terlalu tebal untuk disebut kebutuhan beberapa hari. Aku menatapnya, lalu menatap Arya.
“Mas Arya tidak perlu memberi sebanyak ini.”
“Pakai untuk makan, pakaian, atau apa pun yang dibutuhkan anak-anak.”
“Saya bisa mencatat pengeluarannya.”
“Kalau mau.”
“Dan uang ini tetap uang Mas Arya. Kita belum akad.”
“Aku tahu.” Dia menutup jemariku di atas tumpukan uang. “Aku memercayakan kebutuhan rumah kepadamu, bukan membeli persetujuanmu.”
Telapak tangannya hanya menyentuh punggung jariku sebentar. Namun kehangatannya tertinggal setelah dia menarik tangan.
“Terima kasih sudah memasak dan mengurus anak-anak,” lanjutnya.
Kalimatnya kaku, seolah ucapan terima kasih adalah benda berat yang jarang dia angkat. Anehnya, justru itu membuatnya terasa sungguh-sungguh.
Bik Inah berdiri di seberang meja dengan wajah sulit dibaca.
“Mulai besok, semua kiriman dari peternakan dicatat,” kata Arya kepadanya. “Tidak ada barang keluar tanpa izin Laras atau aku.”
“Pak Arya lebih percaya orang yang baru datang daripada saya?”
“Aku percaya apa yang bisa kulihat.”
Matanya beralih pada anak-anak. “Hari ini mereka bersih dan kenyang.”
Dia terdiam sesaat, lalu menambahkan, “Aku juga salah karena terlalu lama percaya tanpa memeriksa. Mulai sekarang, keadaan mereka tidak boleh luput lagi.”
Raka mengangkat wajah. Tatapan anak itu pada Arya melunak, meski hanya sebentar.
Bik Inah membuka mulut, tetapi tak ada suara keluar.
Malam semakin larut. Setelah anak-anak masuk kamar, aku membawa uang itu ke meja makan dan menghitungnya. Delapan juta rupiah. Diberikan begitu saja, tanpa ditanya akan kupakai untuk apa.
Aku membuka foto-foto gudang dan membandingkannya dengan pesan pengiriman yang diteruskan Bang Gino. Bukan hanya tiga karung beras dan dua kotak daging. Setiap minggu, peternakan mengirim bahan dalam jumlah cukup untuk satu rumah besar.
Mas Arya tidak pelit. Rumah ini tidak pernah kekurangan uang ataupun makanan.
Kalau begitu, selama enam bulan anak-anak hidup lapar karena uang dan bahan pangan yang seharusnya untuk mereka sengaja dialihkan.
Bik Inah mengambil jauh lebih banyak daripada beberapa kantong beras.