NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Perang Kilat

Pada langkah kesebelas, Dwi sadar ia sudah tidak punya pilihan baik.

Masalahnya, penonton belum sadar. Dari luar pagar pembatas, posisi tampak biasa saja: beberapa batu hitam di tengah, beberapa batu putih mencoba menekan diagonal. Namun bagi pemain yang memahami ancaman berlapis, papan itu seperti ruangan dengan semua pintu terkunci dari luar.

Dwi mengambil batu putih, menaruhnya di sisi kiri, lalu segera menyesal.

Arya meletakkan batu hitam tanpa jeda. Ancaman terbuka dua arah.

Dwi menutup satu. Arya membuka yang lain. Dwi menutup lagi. Arya menciptakan garis ketiga yang tidak bisa dijangkau. Wasit meja melihat urutan itu, lalu menatap Arya seolah baru menyadari bahwa anak di depannya bukan peserta hiburan.

"Menang," kata Arya.

Dwi menatap papan. Ia menghitung sekali, dua kali, tiga kali. Wajahnya berubah dari tidak percaya menjadi malu. Ia menjatuhkan batu putih ke mangkuk. "Saya menyerah."

Waktu Arya tersisa empat belas menit dua puluh detik dari lima belas menit awal.

Rizky yang menonton dari luar pagar membuka mulut. "Apakah dia baru saja menang lebih cepat dari orang pesan mi instan?"

Putri mencatat posisi akhir. "Dwi membuat kesalahan langkah kedua."

"Langkah kedua? Aku bahkan belum selesai memahami langkah pertama."

Berita kemenangan kilat menyebar di aula. Beberapa peserta mendekat untuk melihat papan setelah Dwi pergi. Seorang master daerah mengerutkan kening. "Ini jebakan pembukaan lama, tapi variasinya beda. Hitam biasanya tidak bisa memaksa secepat ini."

Arya yang sedang mengisi formulir hasil berkata, "Bisa kalau putih menutup ancaman palsu lebih dulu."

Master itu menatapnya. "Kamu sengaja memberi ancaman palsu?"

"Kalau lawan ingin merasa pintar, beri sesuatu untuk diselamatkan."

Kalimat itu terdengar lebih kejam karena diucapkan datar.

Ronde kedua mempertemukan Arya dengan pemain klub bernama Tegar. Tegar tidak meremehkan. Ia menonton partai pertama dan memilih bermain lambat. Pada lima langkah awal, ia menutup pusat dengan hati-hati. Pada langkah keenam, Arya mengubah arah ke sisi kanan. Tegar tidak terpancing. Itu membuat permainan berlangsung lebih lama.

Lebih lama berarti delapan belas langkah.

Tegar kalah karena ancaman ganda yang muncul dari batu hitam yang ia kira hanya pengalih. Setelah menyerah, ia tidak marah. Ia justru memotret papan dengan izin wasit. "Saya mau belajar posisi ini."

Arya mengangguk. "Langkah sembilan Ibu benar. Langkah sepuluh terlambat satu titik."

Tegar mencatat. Peserta lain yang mendengar langsung ikut mencatat. Dalam dua ronde, sikap aula bergeser. Arya tidak lagi dilihat sebagai siswa viral. Ia menjadi sumber bahaya yang juga bisa menjadi sumber pelajaran jika cukup rendah hati.

Hendra mulai menonton lebih lama.

Pada ronde ketiga, Arya menghadapi Bu Sulastri, mantan juara nasional perempuan yang dikenal sabar. Ia tidak membuat kesalahan awal. Ia memaksa permainan masuk ke papan lebar, menghindari pusat, dan mencoba menarik Arya ke duel stamina. Strateginya benar untuk melawan anak muda yang hanya hafal jebakan.

Arya tidak hafal jebakan. Ia membangun jebakan.

Langkah demi langkah, ia membiarkan Bu Sulastri merasa berhasil memperlambat. Batu hitam menyebar seperti titik tidak berhubungan. Komentator internal yang berjalan di aula berkata, "Arya kehilangan bentuk. Ini kesempatan bagi Bu Sulastri."

Putri mendengar dan melihat papan lebih teliti. Ia tidak mengerti semua, tetapi ia mengenali wajah Arya. Itu bukan wajah orang yang kehilangan bentuk. Itu wajah orang yang sedang menunggu lawan masuk ke bentuk yang lebih besar.

Pada langkah kedua puluh tujuh, Arya meletakkan batu hitam di tepi atas.

Bu Sulastri berhenti.

Ruang kosong yang tadi tampak acak tiba-tiba terhubung. Ada ancaman diagonal, horizontal, dan satu garpu tersembunyi yang hanya aktif jika putih menutup diagonal. Bu Sulastri menghitung hampir tiga menit. Penonton mulai diam. Hendra menyipitkan mata.

Akhirnya Bu Sulastri menutup horizontal.

Arya membuka diagonal kedua.

Bu Sulastri menarik napas panjang. "Saya kalah."

Aula kali ini benar-benar ribut. Tiga kemenangan. Total waktu Arya tidak sampai setengah jam.

Presenter turnamen bernama Aditya mulai mengejar Arya dengan mikrofon. Rendy tidak bertugas di sini. "Mas Arya, tiga kemenangan cepat. Apakah ini strategi yang sudah disiapkan khusus?"

"Saya menyiapkan prinsip. Lawan menyiapkan kesalahan masing-masing."

Aditya tertawa gugup. Ia belum tahu apakah kalimat itu pantas menjadi judul berita, tetapi kamera sudah merekam.

Di sisi aula, Hendra akhirnya mendekati papan bekas partai Bu Sulastri. Ia tidak menyentuh batu, hanya melihat. Asistennya bertanya, "Pak, bagaimana?"

Hendra tidak langsung menjawab. Garis diagonal itu sederhana setelah terlihat, tetapi cara membuat lawan memilih sendiri jalan ke sana tidak sederhana.

"Anak itu tidak bermain cepat," kata Hendra pelan. "Dia membuat orang lain terlambat."

Setelah kemenangan ketiga, panitia memindahkan papan Arya ke area yang lebih mudah disorot kamera. Keputusan itu diumumkan sebagai penyesuaian siaran, tetapi semua peserta mengerti artinya: anak SMA itu kini menjadi pusat turnamen. Hendra masih wajah di spanduk, tetapi Arya mulai menjadi alasan orang menyalakan siaran.

Komentator Aditya memanggil Master Suroso, analis tua yang dikenal pelit pujian. Mereka berdiri di dekat papan demonstrasi dan mengulang tiga partai Arya. Pada jebakan pertama, Suroso berkata standar. Pada jebakan kedua, ia berkata menarik. Pada partai Bu Sulastri, ia diam hampir satu menit.

Aditya bertanya, "Master?"

Suroso menunjuk batu tepi atas. "Langkah ini tidak mencari kemenangan langsung. Ia mencari keputusan buruk dari lawan empat langkah kemudian. Anak ini bukan cepat. Dia bermain seolah sudah melihat papan setelah lawan menyesal."

Kalimat itu langsung dipotong kru media menjadi klip pendek. Dalam sepuluh menit, nama Arya naik di kolom tren turnamen.

Klip Master Suroso membuat ruang komentar siaran berubah liar. Sebagian penonton menuduh panitia memberi lawan lemah. Sebagian pemain klub langsung membantah dengan diagram posisi. Mereka menunjukkan bahwa Dwi, Tegar, dan Bu Sulastri bukan nama kecil. Jika mereka terlihat lemah, itu karena Arya membuat posisi mereka kehilangan napas terlalu cepat.

Rafi memantau komentar itu bersama tim keamanan. "Eksposur naik dua kali lipat."

Maya menjawab lewat pesan aman: pantau komentar ekstrem. Bayangan suka bersembunyi di antara penggemar marah dan pembenci baru.

Rafi melihat Arya mengisi formulir hasil dengan tenang. Anak itu belum tahu panggungnya membesar lagi. Atau mungkin tahu dan tidak menganggapnya alasan untuk berhenti.

Putri menyimpan klip itu sebagai catatan ancaman. Setiap kali publik memahami sedikit lebih banyak tentang kekuatan Arya, orang yang takut padanya juga mendapat alasan baru untuk bergerak.

Wasit meja ikut menyalin posisi akhir untuk arsip turnamen. Catatan kecil itu penting: mulai ronde berikutnya, semua lawan Arya tidak lagi hanya bermain melawan anak SMA, tetapi melawan reputasi yang tumbuh setiap beberapa langkah.

Untuk pertama kalinya sejak turnamen dimulai, senyum Hendra hilang sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!