Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Harga yang Mustahil
"Bang, nasi goreng satu. Telurnya dua."
Pak Maman, pemilik gerobak di ujung gang kos, hampir menjatuhkan spatulanya. "Dua telur? Tumben, Rak. Baru putus cinta atau baru dapat warisan?"
Raka duduk di bangku plastik yang kakinya timpang. Matanya merah karena semalaman tidak tidur, tetapi punggungnya tegak. Ia menaruh ponsel di meja, membuka aplikasi bank, lalu menatap saldo Rp350.000 yang tidak berubah.
Suara Mimpi muncul tenang di kepalanya.
[Uji transaksi disarankan. Nilai yang dibayar tuan rumah akan mengikuti harga deflasi sistem. Pedagang tetap menerima nilai wajar menurut realitas mereka.]
"Kalau aku bayar terlalu sedikit, dia tetap merasa cukup?" gumam Raka.
Pak Maman menoleh. "Ngomong sama siapa?"
"Sama perut saya, Pak. Dari tadi demo."
Pak Maman tertawa, lalu mengaduk nasi di atas wajan. Bau bawang putih dan kecap langsung menampar lapar yang sejak kemarin ditahan Raka. Biasanya ia menghitung dulu sebelum membeli. Nasi goreng satu porsi tujuh belas ribu. Telur tambah lima ribu. Teh hangat tiga ribu. Total dua puluh lima ribu, hampir ongkos makan dua hari kalau ia benar-benar irit.
Pagi ini Mimpi menampilkan angka lain.
[Harga terdeteksi: Rp0,00001.]
Raka menatap angka itu lama.
"Tidak lucu," katanya pelan.
[Tidak dirancang untuk melucu.]
"Kalau sistem bisa tersinggung, berarti aku benar-benar kurang tidur."
Pak Maman menaruh piring di depannya. "Makan dulu. Wajahmu kayak orang habis dikejar debt collector."
Raka mengambil sendok. Satu suapan masuk, panasnya membuat lidahnya perih. Justru rasa sakit kecil itu membuatnya yakin ia masih sadar.
Ponsel bergetar.
Nama Vera Anggraini muncul.
Raka memandang layar sampai panggilan itu mati sendiri. Tidak sampai lima detik, panggilan kedua masuk. Ia menekan tombol diam dan melanjutkan makan.
Pak Maman memperhatikan. "Pacar?"
"Mantan."
"Bagus. Kalau masih bikin muka begitu, berarti memang harus jadi mantan."
Raka hampir tersenyum.
Setelah piring bersih, ia berdiri. "Berapa, Pak?"
"Dua puluh dua ribu. Karena kamu langganan, tehnya saya kasih."
Raka mengambil sekeping koin seratus rupiah dari saku. Tangannya sempat berhenti. Koin itu terasa konyol, seperti sedang menghina orang yang selama ini sering memberinya makan ketika dompetnya kosong.
"Pak, saya bayar pakai ini."
Pak Maman menerima koin itu. Detik berikutnya, wajah pria tua itu berubah bingung.
"Lho, ini kebanyakan, Rak. Saya tidak ada kembaliannya."
Raka menahan napas.
Di mata Pak Maman, koin seratus rupiah itu bukan seratus. Sistem membuatnya cukup untuk menutup harga nyata, bahkan lebih.
"Tidak usah kembali, Pak."
Pak Maman mengernyit. "Jangan sok kaya. Kamu baru kehilangan kerja, kan? Herman tadi malam telepon orang-orang sekitar, katanya kamu bikin onar di Restoran Taman."
Jadi Herman sudah bergerak.
Raka memasukkan ponsel ke saku. "Saya memang tidak kerja di sana lagi. Tapi bukan berarti saya habis."
Pak Maman menatapnya beberapa saat. "Raka, saya lihat kamu dari pertama kos di sini. Kamu bukan anak nakal. Kalau butuh makan, bilang. Jangan pinjam ke orang salah."
Kalimat sederhana itu membuat dada Raka menghangat. Bukan semua orang melihatnya sebagai tangga.
"Saya ingat, Pak. Nanti saya balas kebaikan Bapak."
"Balas dengan hidup benar saja cukup."
Raka baru mau menjawab ketika ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan suara dari Vera.
Ia menekan putar.
Suara Vera terdengar tertahan. Tidak ada sesal di sana; hanya kesal karena rencana kecilnya terganggu.
"Raka, jangan kekanak-kanakan. Kamu tidak perlu datang ke acara pertunangan. Kalau kamu butuh uang, aku bisa minta Ahmad transfer sedikit. Tapi jangan ganggu hidupku. Kita sudah beda level."
Pak Maman ikut mendengar bagian terakhir. Wajahnya langsung gelap.
"Itu perempuan yang kamu antar tiap malam itu?"
Raka menghapus pesan suara tanpa membalas.
"Dulu iya. Sekarang cuma pelajaran mahal."
[Mimpi merekomendasikan langkah awal: gunakan aset besar untuk membangun identitas finansial yang tidak bisa dibantah. Target dekat: PT Mutiara Emas Properti, penjualan vila kosong sedang tertekan.]
Peta kecil muncul di penglihatan Raka. Alamat kantor pemasaran, daftar vila, harga pasar, dan harga deflasi yang membuat urat nadinya berdenyut.
Satu vila bernilai puluhan miliar di dunia normal.
Di mata sistem, hanya ratusan rupiah.
Raka duduk lagi. Lututnya tiba-tiba terasa terlalu ringan.
"Mimpi, kalau aku membeli properti besar, dokumennya sah?"
[Selama transaksi dilakukan melalui mekanisme legal yang diterima dunia luar: transfer bank, akta jual beli, notaris, pajak, dan bukti kepemilikan. Sistem hanya menyesuaikan harga yang dibebankan kepada tuan rumah.]
"Berarti aku tidak mencuri."
[Benar. Tuan rumah membayar. Dunia menerima.]
Raka melihat gang kos yang sempit, kabel listrik kusut, dinding lembap, dan sandal Bintang yang sudah jebol di depan pintu kamar Bibi. Pemandangan itu tidak perlu didramatisasi. Itu adalah alasan yang cukup.
Ia berdiri.
"Pak Maman, kalau ada orang Restoran Taman tanya saya, bilang saya sedang cari tempat tinggal baru."
Pak Maman mendengus. "Dengan uang apa?"
Raka mengangkat koin seratus rupiah yang tersisa di saku, lalu memasukkannya kembali.
"Dengan uang receh."
Pak Maman mengira ia bercanda. Raka tidak menjelaskan.
Di kamar kos, Bibi Lestari sedang menjemur seragam sekolah Bintang yang warnanya mulai pudar. Perempuan itu terkejut melihat Raka pulang terlalu cepat.
"Kamu sakit?"
"Tidak, Bi. Saya berhenti dari restoran."
Tangan Bibi membeku. "Raka..."
"Saya akan urus uang sekolah Bintang hari ini. Bibi jangan pinjam ke siapa pun. Jangan jual cincin peninggalan Ibu."
Bibi Lestari memegang ujung jilbabnya, bingung dan takut. "Kamu dapat kerja baru?"
Raka menatap kamar kecil yang selama bertahun-tahun menampung tiga orang dan terlalu banyak kecemasan.
"Lebih dari kerja baru. Tapi saya belum bisa jelaskan semua. Hari ini saya harus memastikan satu hal. Kalau berhasil, kita pindah."
Bintang muncul dari balik tirai, membawa buku tulis. "Pindah ke mana, Kak?"
Raka berjongkok di depannya. "Ke tempat yang pintunya tidak bocor kalau hujan."
Mata anak itu langsung menyala, tetapi Bibi Lestari justru makin cemas.
"Jangan lakukan hal berbahaya."
"Saya tidak akan jual diri, tidak akan menipu, tidak akan pinjam ke lintah darat," kata Raka. "Saya cuma akan membeli sesuatu."
"Membeli apa?"
Raka melihat peta PT Mutiara Emas Properti yang masih melayang di matanya.
"Rumah. Mungkin beberapa."
Ponsel bergetar lagi. Vera, untuk keempat kalinya.
Raka mengangkat kali ini.
"Akhirnya kamu angkat," kata Vera cepat. "Dengar. Ahmad marah. Kamu jangan muncul di acara kami. Aku bisa bicara ke Herman supaya kamu dapat gaji separuh, tapi syaratnya kamu minta maaf."
Raka membuka pintu kos dan melangkah keluar.
"Vera."
"Apa?"
"Tunggu sebentar."
"Maksudmu?"
Raka menatap matahari pagi yang memantul di kaca gedung jauh di pusat kota. Untuk pertama kalinya, gedung-gedung itu tidak tampak seperti milik dunia lain.
"Aku baru mau belajar menghabiskan uang."