NovelToon NovelToon
Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Badboy / Chicklit / Tamat
Popularitas:790.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: erma _roviko

Namaku Eve Wijaya, gadis berusia 19 tahun yang berpenampilan seperti kutu buku. Memakai kacamata tebal, rambut di kepang dua dan tak lupa memakai behel, penampilan yang dimulai saat aku menginjak bangku sekolah. Bukan tanpa alasan, daddy lah yang mendandaniku culun. Tapi, aku tidak merasa keberatan, karena aku sangat mencintai daddy sepenuh hati.
Aku anak tunggal dari pasangan Lea dan Abian, hal itulah yang membuat daddy begitu posesif kepadaku. Mengingat kakak sepupuku yang bernama Niko adalah seorang cassanova, tidak seperti kembarannya yang bernama Niki. Hal itulah membuat daddy melindungiku dari pria hidung belang, penampilan layaknya boneka Annabelle.

Bagaimana perjalanan cintaku?

JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE, LIKE, DAN KOMEN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Tugas pertama

Eve sangat terkejut, menjadi pelayan  selama dua bulan di apartemen dari pria itu. Dia sudah protes tapi pria itu mengancamnya akan dimasukkan ke dalam penjara, menatap seluruh ruangan itu dengan menghela nafas. "Apa tidak ada keringanan untukku?" ucapnya yang tersenyum kaku. 

"Tidak, apa kau ingin masuk penjara?" ancam Samuel membuat Eve menatapnya dengan jengah. 

"Hah, percuma saja aku punya keluarga kaya tapi tidak bisa membantuku." Batin Eve. 

Samuel melihat Eve yang tampak berpikir, dengan cepat melemparkan pakaian kotor mengenai wajah gadis malang itu. "Jangan melamun saja, cepat selesaikan pekerjaanmu!" 

"Ya…ya, tidak perlu melempari baju kotormu mengenai wajahku," gerutu Eve yang cemberut. 

"Ck, jelas-jelas kaulah yang bersalah. Tapi kau malah membuat dirimu korban, berhentilah berakting dan mulailah membersihkan seluruh ruangan ini."

"Jujur saja, sebenarnya aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah," ungkap Eve yang tersenyum simpul. 

"Lihatlah wajahku!" ucap Samuel membuat Eve menghampirinya seraya meneliti wajah tampannya. 

"Lalu?" tanya Eve yang tak mengerti. 

"Apa kau melihat raut wajahku yang tidak peduli? Aku tahu kau hanya mencari alasan agar terbebas dari hukuman ini."

"Aku mengatakan sejujurnya, tapi kau malah tidak mempercayaiku."

"Berhentilah mengoceh seperti beo, sebaiknya mulailah membersihkan seluruh ruangan ini hingga mengkilap. Dan kau awasi gadis kecil ini, jelaskan daftar pekerjaannya," titah Samuel yang menatap ketua pelayan beberapa detik dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Sementara Eve hanya melihat punggung pria itu dengan kesa. "Pria itu membuat aku sangat kesal, kak Niko dan Samuel? Dua orang yang sama-sama menyebalkan," gumam Eve yang mendelik kesal. 

"Baik, Tuan." Sahut ketua pelayan yang membungkukkan badannya.

Eve mulai membersihkan barang-barang dan juga sampah, menyapu lantai dengan penuh hati-hati sesuai petunjuk ketua pelayan yang terus mengawasinya. "Hah, ternyata cukup melelahkan juga menjadi seorang pelayan." Gumamnya yang memutuskan untuk istirahat sejenak, mengelap keringat yang membasahi seluruh tubuhnya menggunakan handuk kecil di leher. "Ternyata inilah yang dirasakan oleh pelayan di Mansion, mereka bekerja hampir seharian penuh dan aku tidak pernah melihat mereka mengeluh. Aku akan meminta dad Abian untuk menaikkan gaji para pelayan," monolognya merasa simpati dengan pekerjaan para pelayan di Mansion Wijaya. 

"Jangan berbicara sendiri Nona, lakukan pekerjaan dengan benar!" ucap ketua pelayan yang memperingatkan Eve.

"Baiklah."

Eve kembali berdiri dari kursi dan kembali melanjutkan pekerjaannya, berlarian kesana kemari hanya ingin melihat pel lantai yang tidak ditemukan. "Apa di apartemen ini tidak ada pel lantai? Lalu, aku mengepel menggunakan apa?" lirihnya sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. 

Sementara di tempat lain, Samuel memantau pekerjaan dari Eve lewat rekaman Cctv yang terhubung di ponselnya, tersenyum saat berhasil mengerjai gadis malang itu. "Sepertinya kegiatan baruku ini sangatlah menyenangkan, melihat raut wajah bodohnya membuat aku terkekeh geli." Gumamnya sembari menggigit apel yang ada di genggamannya. Dia sangat senang dengan mainan baru, bagai melepaskan kepenatan setelah bekerja. Ponselnya yang jatuh tidak ada apa-apanya, karena Samuel memiliki banyak ponsel berbagai merk terkenal. 

Eve terpaksa mengepel dengan sehelai kain, dia sangat kelelahan dengan pekerjaan itu, pinggang dan kakinya terasa pegal saat dipaksa jongkok. Dia sangat bangga dengan dirinya sendiri, mengepel lantai untuk pertama kalinya. "Walaupun tubuhku terasa remuk, tetap saja ini suatu kebanggaan tersendiri."  Batinnya.

"Sepertinya kau tampak bahagia," celetuk seseorang yang tak lain adalah Samuel. 

"Tentu saja!" jawab Eve dengan ketus. 

Samuel tersenyum smirk, berjalan menghampiri gadis itu. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Samuel tergelincir hingga terjungkal ke belakang. "Sial," umpatnya kesal. 

"Kau kenapa?" tanya Eve dengan polos. 

"Ck, lantainya dipenuhi genangan air."

"Lalu?"

"Apa kau ini bodoh? Kau membuat semua lantai ini basah." Bentak Samuel yang hendak berdiri, tapi karena lantai yang licin kembali membuatnya terjungkal. 

"Sepertinya kau harus membersihkan apartemen ini dari kutukan!" ujar Eve di sela-sela tawanya. 

"Dasar wanita bodoh, kaulah yang terkena kutukan. Apa kau mengepel lantai menggunakan air yang banyak?" umpat Samuel yang berdiri. 

"Sudah aku katakan 'bukan? Jika ini kali pertama aku membersihkan rumah."

"Kau ini gadis miskin yang sangat manja, begitu saja kau tidak bisa!" cibir Samuel. 

"Ya…ya, terserah kau saja. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat," cetus Eve kesal. 

"Kau tidak boleh istirahat sebelum membereskan kekacauan ini," tolak Samuel yang memberi perintah. 

"Kau pria yang tak berperikemanusiaan!" Eve tidak menghiraukan ucapan dari majikan dadakannya, memilih untuk pergi dari tempat itu. 

"Hai, boneka santet! Kau harus membereskan semua ini," tegas Samuel yang menunjuk lantai penuh dengan genangan air. 

Eve menghentikan langkahnya, mengepalkan kedua tangan karena kesabaran yang semakin menipis. Dengan cepat dia menoleh ke belakang, melemparkan kain bekas pel lantai tepat mengenai wajah tampan Samuel. "Kau terlalu banyak bicara," ujar Eve dan beristirahat di sofa empuk. 

Nafas Samuel seperti sesak menerima perlakuan wanita untuk pertama kalinya, seakan harga dirinya jatuh akibat gadis kecil itu. "Selama ini tidak ada yang berani memperlakukanku seperti gadis kecil itu, aku akan memberinya hukuman!" gumamnya kesal, menghampiri Eve yang sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa. 

Menatap gadis itu dengan dalam, bertolak pinggang dengan sorot mata tajamnya. Samuel tersenyum smirk saat menemukan sebuah cara untuk balas dendam, mengambil ember yang berisi air pel dan mengguyur tubuh lelah tanpa perasaan. 

Sontak Eve sangat terkejut, seluruh tubuhnya basah kuyup. Sorot mata tajamnya menatap pria yang masih memegang ember di tangan. "Kau sudah melewati batas!" ucapnya dingin. 

"Apa? Kau kesini untuk menjadi seorang pelayan, jangan bersikap kau ratu di apartemenku ini!" 

Perlahan Eve membuka kepalan tangannya, mengontrol emosi supaya tidak keluar dan dapat mencelakai pria itu, menarik nafas dalam dan terdiam sejenak. "Aku harus mengontrol emosiku, aku tidak ingin orang lain mengincarku demi kepentingan pribadi mereka." Batinnya yang bertekad. 

Eve kembali melanjutkan pekerjaan, Samuel mengerutkan kening melihat sikap gadis itu berubah dengan cepat. Memutuskan untuk pergi dan kembali melanjutkan pekerjaan tertunda. 

Tak lama, suara dering ponsel Eve berbunyi. Dengan cepat dia mengangkatnya, dan melihat siapa yang menghubunginya adalah Niki. 

"Halo kak!"

"Hem, bagaimana kabarmu?" 

"Aku baik, tumben kakak meneleponku!"

"Ada kabar baik untukmu."

"Apa itu?"

"Aku sedang berkemas, dan akan pulang ke Indonesia."

"Benarkah? Apa kakak serius?"

"Tentu saja, tolong sambut aku di bandara!"

"Akhirnya kakak pulang, aku sangat merindukanmu."

"Hem, aku juga. Jangan lupa untuk menyambut kedatanganmu, hanya kau saja."

"Dengan senang hati." 

Sambungan terputus membuat Eve dangat senang, dengan begitu dia mempunyai tempat curhat. Dari beberapa kakak sepupunya, hanya Niki lah yang paling mengerti dirinya. 

 

1
Erina Munir
naah abis itu yg cewek songong tuh hajaar eve
Erina Munir
bulyying nih thoor
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Suyudana Arta
banyak kali iklannya
Ida Naurah
trima kasih Thor SDH menulis novel skeren ini, semangat trus dan hasilkan karya2 yg LBH bagus lg
Ida Naurah
ang kluarga aneh ini mah
Ida Naurah
Luar biasa
Ida Naurah
PD aneh cowo'a
Elin Elin
Luar biasa
Elin Elin
Lumayan
Ida Naurah
awas eve dmkn si Nico lo
Juan Sastra
yah kenapa juga terpancing eve,, hadeeeh udah susah susah dadymu menutupinya
RinaMul Idol
Luar biasa
Saripah Ipah
lanjut
Saripah Ipah
ya lgi seru seru ny berhenti semangat eve
Lyn
besarnya aja mereka gtu, apalagi pas masih dlm rahim, pasti mamanya dibuat heran didlm rahim mereka gulat terus. wkwk
Lyn
wahh parahh sii papa Sam, malah mama tiri dan Liam jga gtu. Liam kau terlalu polos untuk memihak ibumu.
klo aku dioihak Sam dgn keadaan gtu jga bakal bertindak kek Sama sih.
Lyn
sumpahh ngakak banget gagal dinner romantis karna Eve bawa telur cicak, astagaa Sam sabar yh,misimu gagal sih ini, yg ada kau tidak jadi menaklukan tapi kau yg ditakkluhkan.
Lyn
jadi panas dingin aku liat kelakuan Jullian. nda tega klo dia mati, tpi nyeselin jga klo dia hidup. klo emng dia hidup dan butuh kasih sayang, biar Jullian Ama Annita aja. xixixi.
Lyn
kenapa para prianya nda ada yg normal. wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!