NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Status: tamat
Genre:Poligami / POV Pelakor / Cinta Terlarang / Romansa / Tamat
Popularitas:659.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Shan_Neen

Berawal dari pertemuan kembali di acara reuni SMA, Sarah Amalia berjumpa dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama mereka berpisah.

Kedekatan mereka pun kembali terjalin, dan kabar gembira pun datang, setelah beberapa bulan mereka menjalin hubungan.

"Maukah kau menjadi istriku?" tanya Miko, cinta pertama Sarah.

Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu pun mengiyakan ajakan kekasihnya.

Pernikahan pun terjadi. Setelah beberapa bulan, tiba-tiba datang seorang wanita ke hadapannya.

"Perkenalkan, saya istri pertama suamimu."

Bagai disambar petir, Sarah harus menerima kenyataan pahit itu, dikala dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Miko.

Bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah Sarah tetap bersama Miko? Atau justru menemukan cinta yang lain? Mari kita simak selengkapnya😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbebatan

Seminggu sudah sejak acara reuni berlangsung, aku yang selalu diacuhkan oleh Lidia yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang seolah tak ada habisnya itu, membuatku mencari hiburan lain.

Aku menggulirkan layar ponsel ku dan mencari kontak temanku Dodi, berniat untuk mengajaknya pergi keluar.

Namun, jariku berhenti ketika melihat sebuah nomor asing yang sudah seminggu lalu masuk ke dalam ponselku.

Aku berusaha mengingat-ingatnya, dan seketika aku teringat kepada Sarah. Ya, ini adalah nomor miliknya.

Aku pun segera menyimpan di daftar kontak. Ku lihat, nomor itu terhubung dengan sebuah aplikasi chat yang sedang trend saat ini, dan aku pun mulai mengetikkan sesuatu di sana.

"Hai, Sar. Ini aku, Miko," pesanku.

Tak berselang lama, sebuah pesan balasan dari Sarah datang.

"Hai, Ko. Kirain lupa save 🤭" Sarah.

"Nggak lah. Maaf baru chat, biasalah banyak kerjaan 😁😁😁," oesanku.

"Iya deh percaya yang sekarang jadi bos. BTW, ada apa nih malem-malem chat aku?" tanya Sarah.

"Cuma lagi gabut aja. Tadinya mau ngajakin Dodi keluar, tp aku keinget belum chat kamu," kataku.

"Oh … jadi kamu ingat aku cuma gara-gara gabut toh 😏😏😏," sindir Sarah.

Aku pun tertarik untuk melanjutkan obrolan kami lewat sambungan telepon. Perbincangan kami pun berlanjut hingga larut malam. Aku merasa sangat senang mendapatkan teman berbincang di malam hari.

Lidia? Dia bahkan tak masuk ke dalam kamar sampai lewat tengah malam. Barulah saat pukul dua, dia masuk dan berbaring di samping, dan bahkan memunggungiku.

Pagi harinya, selalu saja sama di mana Lidia terus meninggalkanku sarapan sendiri karena selalu terburu-buru di pagi hari.

Kesal? Sudah pasti aku sangat kesal melihat tingkah Lidia yang setiap hari selalu seperti itu dan semakin tak mempedulikanku sebagai suaminya.

Siang itu, aku mencoba mengajak Lidia untuk makan siang bersama. Namun, lagi-lagi dia selalu menolak dengan alasan masih harus menemui seorang klien. Sangat berbeda ketika sebelum menikah, dia selalu menyempatkan untuk pergi bersamaku.

Ya sudah lah, biarkan saja dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Di tengah kekesalanku, aku tiba-tiba teringat Sarah. Aku pun mengirimnya sebuah pesan chat.

"Sar, lagi apa?" tanyaku dengan pertanyaan yang aneh, dan pasti terdengar menyebalkan.

"Ya lagi kerja lah. Jam berapa ini, Ko. Ngapain juga tanya begitu😅😅😅," balas Sarah.

"Iya yah 😁😁😁 Oh iya, makan siang bareng yuk," ajakku.

"Bentar lagi yah. Aku masih ada beberapa kerjaan yang harus selesai. Jam setengah satu deh, gimana?" ujarnya

Aku pun menyetujuinya.

Siang itu, aku menjemputnya di kantornya yang berada cukup jauh dari tempat kerjaku. Saat aku tiba di sana, dia sudah menungguku di luar, sambil duduk di warung kaki lima yang melapak di depan kantornya.

"Yuk, Sar. Masuk," ajakku yang menurunkan kaca mobil di seberang tempat duduk kemudi.

Sarah pun melihat ku dan segera berjalan menghampiri mobilku.

Kami pun melajun menuju ke sebuah resto terdekat.

Sarah memang berbeda dengan Lidia. Dia adalah tipe wanita yang lebih suka mendengarkan, ketimbang didengarkan. Dia lebih memilih mengerti lawan bicara, dari pada memaksakan kehendaknya.

Sedangakan Lidia, bahkan semenjak sebelum menikahpun, dia selalu mau mendominasi. Apa saja harus sesuai dengan yang dia mau. Bahkan dalam urusan kecil sekalipun.

Semakin lama, aku dan Sarah pun semakin dekat. Aku sadar ini salah. Namun rasa kesepianku atas perlakuan Lidia selama ini, membuatku mencari pelarian, dan hal itu ku dapat pada diri Sarah, mantanku.

Sarah sampai sekarang pun tak tau jika aku sudah menikah, karena aku hanya mengundang teman dekat, kolega dan karyawan kantor saja saat pernikahanki dulu. Dia sama sekali tak bertanya akan hal itu. Sarah selalu seperti itu sejak dulu. Tak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain, kecuali jika dirinya diberitahu lebih dulu.

Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Bercanda tawa tak pernah selepas ini ketika aku bersama dengan istriku, Lidia.

Yang ada dibenaknya hanya soal pekerjaan dan pekerjaan, seakan tak pernah ada aku di sana.

Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah menjadi pilihanku menikahinya, meski sejujurnya, Lidia tak ubahnya sebuah tropi kegengsianku.

Kini, usia pernikahan ku dengan Lidia sudah lewat satu tahun. Dia semakin gila dalam bekerja dan terus saja mengesampingkan diriku.

Hingga pada malam itu, aku sengaja menunggunya pulang kerja. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan istriku belum juga tiba di rumah.

Ketika terdengar suara mobil, aku segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Lidia nampak datang dengan setumpuk dokumen di tengannya. Ia berjalan ke arahku.

"Belum tidur, Ko?" tanyanya sambil berlalu begitu saja dari hadapanku.

"Tunggu, Lid. Kita mesti bicara," tahanku sambil meraih lengan Lidia.

"Besok aja yah ...,"

"Besok? Apa kamu yakin besok ada waktu?" Potongku dengan nada tinggi hingga Lidia pun tertergun mendengar teriakanku.

"Kamu selalu sibuk dan sibuk terus. Nggak pernah ada waktu buat aku, suamimu. Apa atasan kamu memberikan semua pekerjaan satu kantor cuma sama kamu? Kenapa teman-temanmu yang lain nggak sesibuk kamu? Aku mau kamu resign, Lid. Aku lebih memilih seorang istri yang mau diam di rumah, dari pada istri yang selalu mengabaikan suaminya," bentakku.

Lidia menghempaskan tanganku yang memegangi lengannya. Dia berbalik mengahadapku dan menatapku tajam.

"Kenapa kamu nggak bisa ngertiin aku sih? Kalau kamu pengin istri yang kaya gitu, cari aja wanita lain. Aku nggak akan pernah mau resign dari kerjaanku, ngerti kamu!" Balas Lidia tak kalah kerasnya padaku.

Wanita itu berjalan cepat meninggalkan ku yang masih diliputk rasa emosi.

"Baik. Kamu sendiri yang bilang, Lid. Jangan salahkan kalau aku berpaling darimu," gumamku sambil mengepalkan tangan.

Malam itu, aku meninggalkan Lidia sendirian di rumah, dan memilih untuk bermalam di kontrakan milik Dodi, temanku.

Dia terus mengolokku akan apa yang tengah terjadi pada kehidupan rumah tanggaku bersama Lidia.

"Apaku bilangkan. Dia bakal mendominasi," ucapnya.

"Bukannya kamu yang nunjukin dia ke aku pas acara waktu itu, hah?" Keluhku yang kesal dan tambah dibuat jengkel dengan omongan temanku itu.

"Iya juga sih. Sorry, lagian aku kan nggak tau dia kaya gimana waktu itu. Jadi cuma bisa kasih review tentang penampilan luarnya aja," kilah Dodi.

Aku diam dan mencoba memejamkan mata, di saat hatiku masih terasa panas. Aku tak peduli lagi dengan keberadaan temanku itu. Masa bo*do dia mau bicara apa, yang aku mau hanya menenangkan diri.

Keesokan harinya, seperti biasa, aku kembali mengajak Sarah untuk makan siang bersama. Hubungan kami sudah semakin dekat, bahkan aku pun kembali menjalin kasih dengannya.

Aku sangat bersalah pada wanita ini. Secara tak sadar, dia sudah kujadikan selingkuhan.

Ketika bersama dengannya, tiba-tiba aku teringat pertengkaranku dengan Lidia tadi malam. Aku pun memberanikan diri bertanya hal yang sangat dibenci oleh Lidia.

"Ehm ... Sar, misalnya nih, kalau udah nikah nanti, kamu mau nggak kalau disuruh resign sama suamimu?" Tanyaku.

Sarah megertukan alisnya, namun sedetik kemudian, dia kembali menatapku dan tersenyum.

"Kalau yang nyuruh suami, kenapa nggak mau. Kan perintah suami itu wajib dijalankan selama nggak melenceng sama agama kan," ucapnya dengan ringan.

Bak mendapat angin syurga, aku pun seketika menggenggam tangannya dan entah dorongan dari mana, aku serta merta melamarnya saat itu juga.

Karena kebodohan dan emosiku, prahara rumah tanggaku bersama dua orang wanita itu dimulai.

.

.

.

.

Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

1
Jmath
Tidak bisa seratus persen menyalahkan Miko, jika Sarah tidak mulai meladeni Miko juga semua ini tidak akan terjadi
Jmath
kurang nya perhatian istri membuat Miko akhirnya mencari perhatian itu dari wanita lain
Jmath
laki-laki yang tidak bersyukur
Jmath
miko adalah laki-laki yang wajib dihindari
Surati
ceritanya bagus 👍🙏🏻semangat thor 💪
Bundanya Pandu Pharamadina
otw di mari mbak Author
Windarti08
yg punya lobang bukannya ngusir tikusnya, tapi malah keenakan Thor... 🙈🙈🙈
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Windarti08
aku tuh lugu dan polos Thor... jadi gak tau "Dia yg udah bangun" itu siapa?
kasih penjelasan dong Thor... jangan digantung kek jemuran di musim hujan gitu🤭😆
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Windarti08
woles Mas Tino... jangan nge_gas gitu ah, wong adikmu maunya cuma sama Pak duda yg kamu panggil berengsek dan badjingan itu, gimana dong😅😅
Windarti08
hukuman untuk Lidya dibayar kontan... dulu dia menolak untuk hamil dan menjadi Ibu demi karir yang sedang melejit, sekarang... dia divonis kena kanker ovarium stadium lanjut dan terancam diangkat rahimnya. hmmmm.....miris sekali
Windarti08
mamam tuh hasil dari keegoisanmu Lidya... jangan nyalahin Miko doang, kau pun punya andil yg besar dalam kehancuran rumah tanggamu.
bukannya dulu kau yg nantangin Miko buat nikah lagi saat Miko minta kau untuk hamil, knapa jadi kau salahkan Miko jahat karena dia nikah sm Sarah? mengapa batas sekarang kau mau berubah untuk menjerat Miko kembali padamu lagi? udah telat Lidya!
sekarang saatnya kau instropeksi diri
Windarti08
jadi, sebenarnya Miko sadar kalo bayi perempuan itu bukan anak kandungnya...
Windarti08
Jefry Budiawan siapa ya Thor... maaf, apa ada yg aku lewatkan?🤔
Windarti08
mungkin emang lebih baik si jabang bayi gak selamat, Allah lebih sayang dia, jadi diambil lagi oleh pemilik yg sesungguhnya, daripada ia hidup menjadi rebutan dan orang tuanya gak utuh lagi
Windarti08
hadeh... apa sih maunya Sarah ini... kalo bisa menghindari pertemuan dengan Lidya, knapa ini malah ngejar Lidya? ntar ujung-ujungnya sakit hati karena lidah tajam Lidya beserta teman-temannya, kram lagi tuh perut😏😏
Windarti08
perasaan dokter Fadil luang banget waktunya... selalu bisa ketemu saat Sarah menenangkan diri di taman RS
Windarti08
ntar kalo udah lahiran Miko masih gak tegas dengan pernikahan poligaminya pisah aja Sar, gugat cerai Miko.
ngapain masih bertahan dengan laki-laki gak punya pendirian seperti Miko.
dia yg salah, Sarah yg dihujat ibu-ibu bermulut pedas
Windarti08
mungkin yang dimaksud author IGD kali ya...😅✌
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
ℒ⃝esℽαͦ°᭄🐾
dih othor ngeprenkk nih
🐌KANG MAGERAN🐌: maaf kan othor yang iseng ini 😅
total 1 replies
ℒ⃝esℽαͦ°᭄🐾
puber kedua si miko, salah lidya jg sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!