NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 26 Hubungan Baru

Arunika baru saja melangkahkan kaki ke ruang keluarga ketika langkahnya mendadak melambat.

Ruangan itu luas, elegan, dan terasa terlalu formal baginya. Di salah satu sofa, seorang pria paruh baya sedang membaca dokumen. Begitu mendengar suara langkah, pria itu mengangkat wajah.

Tatapannya langsung jatuh kepada Adrian. Kemudian kepada Arunika, Lalu turun sebentar pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.

Arunika spontan ingin menarik tangannya Namun Adrian tidak melepaskannya.

"Adrian."

"Hm?"

"Aku benar-benar gugup."

"Aku tahu."

"Aku merasa seperti sedang menjalani wawancara."

Pria di sofa itu mengangkat alis, Adrian justru berkata santai.

"Kalau begitu, anggap saja mereka yang sedang diwawancarai."

Arunika menatapnya tidak percaya.

"Ini keluargamu!"

"Aku tahu."

"Kenapa kamu santai sekali?"

Adrian menoleh kepadanya.

"Karena aku sudah memutuskan."

Arunika terdiam Sebelum ia sempat bertanya, pria paruh baya itu akhirnya berdiri.

"Jadi, ini Arunika?"

Arunika langsung menegakkan tubuh.

"I-iya, om"

Pria itu memandangnya beberapa saat, tetapi ekspresinya tidak menunjukkan penolakan.

"Selamat datang."

"Terima kasih."

Adrian membawa Arunika duduk. Ibunya ikut duduk di sisi lain, sementara ayahnya kembali mengambil tempat di hadapan mereka. Beberapa menit pertama diisi percakapan sederhana.

Tentang pekerjaan, Tentang keluarga, Tentang bagaimana Adrian mengenal Arunika, Semakin lama, Arunika mulai merasa sedikit lebih tenang.

Sampai akhirnya ibunya Adrian bertanya dengan nada lembut.

"Adrian bilang kalian sedang dekat?"

Arunika langsung tersedak kecil.

Adrian menoleh.

"Pelan-pelan."

Arunika memelototinya.

"Ini gara-gara kamu."

"Aku tidak bertanya."

"Diam."

Ibunya Adrian justru tersenyum melihat mereka,bNamun setelah beberapa saat, percakapan itu membuat Arunika kembali teringat sesuatu.

Pernyataan Adrian. Beberapa waktu lalu, pria itu pernah mengatakan bahwa ia ingin menjalani hubungan dengannya. Saat itu Arunika belum memberikan jawaban.

Ia terlalu banyak berpikir, Takut salah langkah, Takut perasaannya hanya sementara. Takut hubungan itu justru mengubah semuanya.

Namun sekarang, setelah melihat bagaimana Adrian membawanya ke rumah utama dan memperkenalkannya kepada keluarganya, Arunika akhirnya menyadari sesuatu.

Adrian tidak sedang bermain-main Pria itu benar-benar sedang memberinya tempat dalam hidupnya Dan untuk pertama kalinya, Arunika merasa dirinya juga ingin memberikan tempat yang sama.

Malam mulai turun ketika mereka akhirnya keluar dari ruang keluarga, Arunika berjalan di samping Adrian menuju teras belakang. Begitu sampai di sana, ia berhenti.

"Adrian."

Pria itu ikut berhenti.

"Hm?"

Arunika menatap halaman yang mulai diterangi lampu Jemarinya saling bertaut.

"Adrian..."

"Hm?"

"Kamu masih ingat pernyataanmu waktu itu?"

Adrian langsung tahu maksudnya.

"Yang mana?"

Arunika menatapnya.

"Jangan pura-pura lupa."

"Aku cuma ingin mendengarnya darimu."

Arunika menghela napas Pria ini memang menyebalkan, Namun justru itulah yang membuatnya tersenyum kecil. Beberapa detik kemudian, Arunika memberanikan diri menatap Adrian.

"Adrian apa pernyataan itu masih berlaku?"

Adrian tidak langsung menjawab Tatapannya berubah lebih serius.

"Masih."

Jawaban itu begitu cepat hingga Arunika sedikit terkejut.

"Kalau iya..."

Arunika menarik napas.

"...ayo jalani dulu."

Adrian diam Arunika langsung merasa semakin gugup.

"Aku tahu aku belum bisa menjanjikan semuanya. Aku juga masih takut dan mungkin masih akan banyak berpikir."

Ia menunduk sebentar.

"Tapi aku ingin mencoba."

Adrian tetap diam Arunika mulai salah tingkah.

"Kenapa kamu diam?"

"Aku sedang memastikan."

"Memastikan apa?"

"Kalau aku tidak salah dengar."

Arunika langsung memerah.

"Adrian!"

Pria itu akhirnya tersenyum Bukan senyum tipis yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain Senyum yang benar-benar terlihat bahagia.

Arunika terdiam melihatnya Lalu Adrian berkata pelan.

"Baik."

"Baik?"

"Kita jalani."

Arunika mengangguk kecil Namun Adrian belum selesai.

"Dan satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak akan menganggap ini sebagai sesuatu yang sementara."

Arunika menatapnya.

"Adrian..."

"Aku sudah menunggu kamu berhenti bersembunyi di balik rasa takutmu."

Arunika terdiam Adrian melanjutkan.

"Jadi kalau kamu sudah memilih untuk mencoba, aku akan menjalaninya dengan serius."

Jantung Arunika berdegup lebih cepat Ia tersenyum kecil.

"Kalau begitu... jangan menyesal."

Adrian mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Karena mulai sekarang kamu harus menghadapi aku yang sebenarnya."

"Aku siap."

"Belum tentu."

"Aku siap."

Arunika tertawa kecil rasa gugupnya perlahan menghilang. Namun mereka tidak tahu bahwa di saat yang sama, jauh dari rumah utama... Nita sedang menerima laporan pertama tentang Arunika.

Sebuah nama keluarga, Sebuah alamat lama, Dan satu fakta yang membuat ekspresi Nita berubah. Arunika ternyata bukan perempuan biasa seperti yang selama ini ia pikirkan.

Dan semakin banyak informasi yang masuk, semakin Nita menyadari satu hal, Pertemuan Arunika dengan Adrian mungkin bukan kebetulan. Nita menatap layar ponselnya lama.

"Jadi, siapa sebenarnya kamu, Arunika?"

Malam semakin larut ketika Arunika dan Adrian berdiri di teras belakang rumah utama, Udara terasa lebih dingin daripada sebelumnya, tetapi Arunika justru merasa wajahnya semakin panas.

Ia masih memikirkan keputusan yang baru saja dibuatnya, Mereka benar-benar akan mencoba menjalani hubungan ini. Bukan lagi sekadar saling mendekat.

Bukan lagi perasaan yang dibiarkan menggantung tanpa nama, Arunika akhirnya menoleh kepada Adrian.

"Adrian."

"Hm?"

"Kalau aku bilang aku mau mencoba... kamu benar-benar serius?"

Adrian menatapnya.

"Sangat serius."

"Jangan jawab terlalu cepat."

"Kenapa?"

"Aku takut kamu cuma sedang terbawa suasana."

Adrian mendekat satu langkah.

"Tadi aku membawamu masuk ke rumah utama dan memperkenalkanmu kepada keluargaku."

Adrian menatap matanya.

"Menurutmu aku sedang terbawa suasana?"

Arunika menggeleng pelan.

"Enggak."

"Bagus."

Namun beberapa detik kemudian, Adrian mengulurkan tangannya. Arunika melihat tangan itu.

"Apaan?"

"Pegang."

"Kenapa?"

"Karena mulai hari ini aku tidak mau lagi kamu berjalan sendirian."

Arunika mengangkat wajah Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat.

"Kalau aku merepotkan?"

"Aku hadapi."

"Kalau aku keras kepala?"

"Aku hadapi."

"Kalau aku marah?"

"Aku tunggu sampai kamu selesai."

Arunika menahan senyum.

"Kalau aku terlalu banyak bertanya?"

"Aku jawab."

"Kalau aku cemburu?"

Adrian terdiam sebentar Arunika langsung menyipitkan mata.

"Nah, kan. Kamu bingung."

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku justru ingin melihatmu cemburu."

Arunika langsung memukul lengannya pelan.

"Adrian!"

Pria itu tertawa kecil Arunika semakin salah tingkah, Namun ketika tawa mereka perlahan mereda, suasana berubah menjadi lebih tenang.

Arunika menatap Adrian cukup lama Ada sesuatu yang ingin ia katakan, Sesuatu yang sejak tadi ia tahan.

"Adrian."

"Hm?"

"Jika suatu hari rasa ini hilang bilang ya, aku akan pergi sebelum sebuah penghianatan hadir."

Senyum Adrian perlahan menghilang Tatapannya berubah serius, Arunika melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Aku tidak takut kalau suatu hari kamu tidak mencintaiku lagi."

Ia menarik napas.

"Yang aku takutkan adalah kamu berhenti mencintaiku, tapi tetap tinggal. Kemudian diam-diam mencari seseorang yang lain."

Adrian tidak menyela.

"Aku lebih memilih kamu jujur."

Arunika menatap matanya.

"Kalau suatu hari perasaanmu berubah, katakan kepadaku. Jangan membuatku menjadi orang terakhir yang tahu."

Adrian akhirnya menggenggam tangan Arunika.

"Aku akan memberitahumu."

Arunika terdiam.

"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu."

"Apa?"

Adrian sedikit mendekat.

"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa perasaan manusia tidak akan pernah berubah."

Arunika mengangguk.

"Aku tahu."

"Tapi aku bisa menjanjikan satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak akan membuatmu mengetahui perubahan itu dari orang lain."

Arunika menatapnya.

Adrian menggenggam tangannya lebih erat.

"Kalau suatu hari aku merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku, kamu akan menjadi orang pertama yang tahu."

Mata Arunika perlahan melembut.

"Janji?"

"Janji."

Arunika tersenyum.

"Kalau begitu aku juga janji."

"Apa?"

"Aku akan berusaha percaya kepadamu."

Adrian menatapnya beberapa saat.

"Lalu?"

"Lalu?"

"Kamu belum selesai."

Arunika mengerutkan kening Adrian mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam.

"Kamu bilang akan mencoba menjalani hubungan ini."

Arunika mengangguk.

"Terus?"

Arunika tiba-tiba tersenyum malu.

"Terus... aku pacarmu sekarang."

Adrian terdiam Arunika langsung curiga.

"Kenapa?"

"Ulangi."

"Enggak mau."

"Arunika."

"Adrian."

"Aku ingin dengar lagi."

Wajah Arunika memerah.

"Jangan manja."

"Aku cuma ingin memastikan."

"Kamu tadi sudah memastikan."

"Belum cukup."

Arunika akhirnya menatapnya sambil tersenyum kecil.

"Ya. Aku pacarmu."

Kali ini Adrian benar-benar tersenyum Arunika bahkan belum pernah melihat senyum itu sedekat ini.

"Kenapa senyum?"

"Aku senang."

"Sesederhana itu?"

"Iya."

Adrian menatapnya lama.

"Lima tahun lalu aku tidak pernah membayangkan akan berdiri di sini bersamamu."

Arunika terdiam.

"Dan sekarang?"

Adrian mengusap lembut punggung tangannya dengan ibu jari.

"Sekarang aku cuma berharap aku tidak terlambat menyadari bahwa orang yang kucari selama ini ternyata berdiri tepat di depanku."

1
sinnox
50k mana cukup😭
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!