NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Kalau begitu, hentikan kincir itu. Aku ingin memastikan apakah benar-benar ada serbuk racun di sana," perintah Orion.

Begitu selesai berbicara, ia langsung berdiri dan berjalan cepat meninggalkan lapangan.

Yang lain segera mengikuti langkahnya menuju Kincir Penjaga di tengah kota.

Arina dan Alhena berada di barisan paling belakang.

Krak!

Saat melewati sebuah tikungan yang cukup gelap, telinga Arina menangkap suara ranting patah dari sisi kanan jalan.

Ia langsung menoleh.

Di sana terbentang kebun mangga yang cukup luas. Pepohonan yang rimbun membuat bagian dalamnya tampak gelap, bahkan di bawah cahaya lampu.

Arina menghentikan langkahnya.

Sementara itu, Orion dan rombongan lainnya telah berjalan cukup jauh di depan.

"Kau juga mendengarnya, Alhena?" tanya Arina lirih.

Alhena mengangguk pelan.

"Saya mendengarnya, Nona. Sepertinya ada seseorang yang mengikuti kita... atau sedang memata-matai kita."

Jantung Arina berdegup sedikit lebih cepat. Siapa pun orang itu, berarti ia telah menguping pembahasan mereka sejak tadi.

Jika dibiarkan pergi, kemungkinan besar seluruh rencana mereka akan bocor.

"Kau lanjutkan perjalanan bersama Orion dan yang lainnya ke tengah kota," perintah Arina sambil menatap lekat ke arah kebun mangga yang gelap. "Aku akan memeriksa tempat itu dan mencari tahu siapa yang memata-matai kita."

"Tapi, Nona..."

"Kalau dalam waktu lebih dari satu jam aku belum kembali, laporkan semuanya kepada Orion."

Arina tidak memberi kesempatan Alhena untuk membantah.

Begitu selesai berbicara, ia langsung melompat melewati semak-semak dan menghilang ke dalam kebun mangga yang gelap.

Dalam sekejap, sosoknya lenyap di antara rimbunnya pepohonan, meninggalkan Alhena yang hanya bisa menatap ke arah itu dengan wajah penuh kekhawatiran.

Sementara itu, Orion memimpin rombongan berjalan cepat menuju Kincir Penjaga yang berdiri megah di tengah Kota Asterra. Semakin dekat mereka, semakin jelas terdengar derit halus baling-baling kayu raksasa yang terus berputar diterpa angin malam.

"Matikan kincirnya," perintah Orion singkat.

"Baik, Jenderal."

Edmund segera berlari menuju rumah mesin kecil di sisi dasar kincir. Ia menarik sebuah tuas besi yang telah berkarat, lalu memutar roda pengunci dengan sekuat tenaga.

Krek... krek...

Suara roda gigi bergesekan memenuhi udara.

Perlahan, putaran baling-baling mulai melambat.

Derit kayu terdengar semakin pelan hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.

Angin malam masih bertiup, tetapi baling-baling raksasa itu kini diam tak bergerak.

Orion mengangkat wajah, mengamati keseluruhan struktur kincir selama beberapa saat.

"Jangan ada yang menyentuh apa pun," katanya tegas.

Tanpa menunggu jawaban, ia melompat ke pagar kayu, lalu memanjat rangka kincir dengan gerakan yang lincah. Sepasang tangannya berpindah dari satu balok ke balok lain seolah telah terbiasa memanjat bangunan setinggi itu.

Semua orang di bawah hanya bisa mendongak mengikuti pergerakannya.

Tak lama kemudian, Orion telah mencapai bagian atas, tepat di belakang poros utama baling-baling.

Tatapan hazelnya menyapu setiap sudut dengan saksama.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Namun, saat ia hendak turun, matanya menangkap sebuah benda kecil yang tersembunyi di balik salah satu balok penyangga.

Sebuah kotak kayu berwarna hitam.

Ukurannya tidak lebih besar dari kedua telapak tangan orang dewasa.

Kotak itu dipasang dengan kuat menggunakan pengikat logam sehingga hampir menyatu dengan struktur kincir. Jika tidak diperiksa dari dekat, mustahil seseorang akan menyadari keberadaannya.

Orion mengernyit.

Ia mendekat, lalu mengamati permukaan kotak tersebut.

Di salah satu sisinya terdapat puluhan lubang kecil seukuran ujung jarum.

Saat angin bertiup, lubang-lubang itulah yang memungkinkan isi kotak keluar sedikit demi sedikit dan terbawa ke seluruh penjuru kota.

"..."

Tatapan Orion berubah tajam.

Tanpa ragu, ia mencabut pengait logam yang menahan kotak itu, lalu mengangkatnya dengan hati-hati.

Kotak itu terasa sangat ringan.

Namun, setiap kali sedikit berguncang, terdengar suara halus dari dalamnya, seolah ada serbuk kering yang bergeser.

Orion tidak membukanya.

Ia segera melompat turun dari kincir dan mendarat dengan ringan di hadapan semua orang.

"Jenderal!" seru Putri Vega.

Orion mengangkat kotak hitam itu agar semua orang dapat melihatnya.

"Aku menemukannya."

Semua mata langsung tertuju pada kotak kayu berlubang kecil tersebut.

Wajah Edmund seketika memucat. "Itu... selama ini benda itu berada di atas Kincir Penjaga?"

Orion mengangguk pelan.

"Jika dugaan Lady Wezen benar, maka serbuk racun di dalam kotak inilah yang telah tersebar ke seluruh Kota Asterra melalui embusan angin.” Darius menelan ludah, ini terlalu berani.

Orion menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari sosok Arina untuk memeriksa isi kotak tersebut.

Namun, Arina tidak terlihat.

Yang berdiri di sana hanya Alhena dengan kepala tertunduk, seperti biasanya.

"Di mana Arina?" tanya Orion.

Mendengar pertanyaan itu, semua orang ikut mengedarkan pandangan. Baru saat itulah mereka menyadari bahwa Arina memang tidak bersama rombongan.

"Alhena." Orion melangkah menghampiri pelayan itu dengan langkah cepat. "Di mana Arina? Bukankah tadi dia berjalan bersamamu?"

"Ampun, Tuan." Alhena langsung menundukkan kepalanya lebih dalam. "Saat di tengah perjalanan, kami menyadari ada seseorang yang mengikuti dan memata-matai kita. Nona Arina menduga orang itu adalah mata-mata, lalu memutuskan mengejarnya seorang diri."

Rahang Orion seketika menegang.

"Dan kau membiarkannya pergi sendiri?" Tatapan hazelnya berubah dingin. "Kau juga tidak langsung melaporkan hal ini kepadaku?"

Suaranya meninggi untuk pertama kalinya malam itu.

"Apa kau sedang berusaha membunuh istriku?"

Alhena sontak menggeleng.

"Tidak, Tuan!" jawabnya buru-buru. "Nona memerintahkan saya tetap mengikuti rombongan dan baru melapor jika dalam waktu satu jam beliau belum kembali."

Orion memejamkan mata sesaat, berusaha menahan amarahnya. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, ia melemparkan kotak kayu di tangannya ke arah Darius.

"Tangkap."

Darius menangkap kotak itu dengan sigap.

"Jaga benda itu. Jangan biarkan seorang pun membukanya sampai aku kembali."

"Baik, Jenderal."

Orion kembali mengalihkan pandangannya kepada Alhena. "Ke arah mana dia pergi?"

Alhena mengangkat tangannya dengan gemetar, menunjuk ke arah jalan kecil di samping kota.

"Ke... ke arah kebun mangga di sebelah timur."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Orion sudah melesat pergi.

Brak!

Tanah tempatnya berpijak retak akibat dorongan yang begitu kuat.

Dalam sekejap, sosok Orion menghilang ke dalam kegelapan malam, berlari menuju kebun mangga tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Suasana di sekitar kincir kembali sunyi.

Semua orang hanya bisa saling berpandangan.

Malam ini, mereka melihat Jenderal Orion kehilangan ketenangannya demi seseorang.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!