Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan
Keesokan harinya, padahal jadwal kuliahnya siang, tapi Emily tetap harus ikut sarapan di pagi hari saat mereka berkumpul. Emily menundukkan kepalanya di meja. Orang tuanya pikir Emily sedang merenungi kesalahannya, padahal tahu-tahu dia malah tertidur di meja makan.
“Dek, emangnya meja makan tempat tidur ya?” ucap Altan sambil memegang bahu adiknya.
“Ngantuk, Bang…” jawab Emily lirih.
“Balapan lagi? Pulang jam berapa?”
“Hampir jam satu. Itupun karena aku menang, Bang… jadi ya aku senang-senang dulu untuk merayakan kemenanganku. Aku cuma minum dikit kok, Bang. Janji nggak lagi. Jangan bilang papa ya…”
“Telat. Bukannya Papa sudah tahu, ya?”
Emily langsung terperanjat kaget.
“Astagaaaaa… Hehe, maaf, Pa. Janji yang terakhir…” ucapnya dengan nada panik.
“Papa sudah tahu. Orang mulut kamu saja semalam pulang bau alkohol. Dan jangan harap setelah ini kamu bisa bebas lagi. Ibu sudah menyuruh Mbak buat mengemasi barang kamu. Besok lusa, sebelum Papa berangkat ke luar negeri, kamu harus sudah masuk pesantren!”
“Kok gitu sih, Pah?! Nggak, nggak, nggak! Ih, Papa gimana sih? Bu, aku nggak mau masuk pesantren. Bu, aku kan lagi kuliah…”
“Papa masukin kamu ke universitas asrama yang ada pesantrennya. Jadi bisa sambil kuliah, bisa sambil mengaji juga. Apa perlu Papa kirimkan kamu ke Mesir, ke Tarim yang lebih dalam lagi?”
“Apa-apaan, Pa?! Aku nggak mau! Aku nggak mau pesantren, pokoknya nggak mau! Papa, janji, Emi janji… Emi nggak bakal mabuk-mabukan lagi…” ucap Emily terbata-bata dengan nada panik.
“Kemarin juga perkataanmu seperti itu, dan buktinya semalam ngelakuin lagi. Papa punya anak perempuan satu-satunya, berharap bisa jadi anak yang sholehah. Lah ini malah jadi anak yang sholehot, gimana ceritanya? Kalau sampai ada yang apa-apain kamu gimana, Emi? Kamu itu anak gadis!” ucap Papa Evan dengan nada keras.
“Emi bisa jaga diri, Pah. Percaya sama Emi. Emi bisa beladiri, bisa melawan mereka yang jahat…”
“Bisa jaga diri, kok pacaran, Dek?” sela Altan.
“Itu kan buat senang-senang aja, Bang. Biar nggak gabut…”
“Pacaran ujung-ujungnya apa?
Abang juga punya pacar, hayo. Anggota BM itu juga kan pacar Abang…”
“Tapi Abang nggak seliar kamu, Dek. Kamu pacaran udah kayak apaan, nempel kayak perangko. Kalau Abang itu sewajarnya aja, nggak kayak kamu. Kemana-mana berdua, itu udah di luar batas deh. Apalagi kamu juga sering bolos kuliah…”
“Yang sudah-sudah, tetap keputusan Papa. Kamu harus masuk pesantren besok lusa. Hari ini kamu terakhir kuliah, dan Papa akan mengurusi kepindahan kamu. Tinggal milih, mau pesantren di dalam negeri atau ke luar negeri.”
“Papa nggak mau! Papa kenapa sih?! Ya udah, Papa maunya apa? Aku nggak balapan lagi, ya. Nggak, aku janji. Semalam yang terakhir. Aku janji, Pa…” ucap Emily cepat dengan nada panik.
“Janji kamu sudah nggak bisa dipegang, Adik,” ucap Ibu Amanda tegas.
“Terus Emi harus kayak gimana, Ibu? Emi janji, Emi minta maaf, nggak bakal lagi deh…”
“Seperti kata Papa semalam. Pilihannya cuma dua: nikah atau pesantren.”
“Pa… pilihannya sulit sekali. Pa Alex belum siap nikah, Pah…”
“Emang siapa yang mau nikahin kamu sama Alex? Kamu pikir Papa mau nikahin kamu sama bocah itu?”
“Lah terus sama siapa, Pa? Aku kan sudah punya pacar. Ya, Pa… aku sayang banget sama dia, Pah…”
“Tuh, belum apa-apa juga udah kayak gitu. Amit-amit kalau sampai ada apa-apa. Orang tua yang malu.”
“Tapi nggak dinikahin juga dong, Pa…”
“Ya udah, berarti pesantren ke Tarim, ya. Atau ke Mesir.”
“Papa, please…”
“Papa tunggu jawaban kamu sepulang kuliah nanti. Pilih pesantren atau menikah.”
“Tapi masalahnya menikahnya dengan siapa, Papa? Aku sayang banget sama Alex, Papa…”
“Papa nggak suka sama Alex, dan Papa nggak bakal ngijinin kamu nikah sama laki-laki itu sampai kapanpun, ya kan, Bu?”
“Iya, Emi. Ibu sudah siapkan calon suami kamu. Jadi Ibu rasa sepertinya menikahkan kamu adalah hal yang terbaik daripada kamu masuk ke dalam pergaulan bebas seperti itu bersama laki-laki yang bukan suamimu. Kalau ada apa-apa, siapa nanti yang akan repot? Orang tua juga, kan. Setidaknya kalau kamu punya suami, kamu punya batasan. Siapa tahu suamimu bisa mendidik. Soalnya kamu sudah kebal banget sama Papa, udah nggak nurut sama Ibu, apalagi sama Abangmu juga nggak bisa nurut…”
“Tapi nggak mau nikah juga, Bu. Apalagi calonnya aku nggak tahu siapa. Kenapa harus aku duluan yang nikah? Kan ada Abang. Abang aja duluan yang nikah!”
“Abang cowok. Adik bisa saja kamu langkahi. Ya kalau nggak mau nikah, ya berarti berangkat pesantren. Nggak boleh pegang HP, nggak boleh kenal media sosial.”
“Arggghhh! Kok gini sih….” teriak Emily frustasi.
Saat sampai di kampus, cuaca cukup terik. Emily berangkat diantar sopir karena motornya dibawa oleh Ziva. Seperti biasa mereka sudah janjian, nanti pas pulang baru Emily ambil motornya.
Saat turun tiba-tiba dia berpapasan dengan Reyze.
Mereka memang satu fakultas, fakultas bisnis. Tapi mereka tidak pernah akur. Di kelas pun mereka sering berdebat dan salah paham.
“Apa lo liat-liat? Masih belum menerima kekalahan?” ucap Emily dengan nada ketus.
“Baru menang segitu aja bangga. Itu karena gue lagi apes aja,” ucap Rey membela diri.
“Idih, kalau kalah, ya kalah aja. Nggak usah kayak gitu, nggak nerima kenyataan. Cupu lo!” sahut Emily sambil memberikan jari tengahnya.
“Emily sialan! Liat aja, setelah ini gue yang akan pegang pialanya!” balas Rey geram.
“Coba aja kalau bisa. Bleweeeek!” ejek Emily.
“Bebyyyy!” ucap Alex yang langsung meneriaki Emily dari kejauhan.
“Hai, Beb…” jawab Emily langsung tersenyum.
“Kamu kuliah siang ini?” tanya Alex.
“Iyalah, jam segini baru datang, berarti kelasku siang,” sahut Emily santai.
“Kamu ngapain ngobrol sama dia?” Alex melirik Rey dengan nada cemburu.
“Oh, itu cuma urusan balapan. Semalam kamu nggak nonton, padahal aku menang, loh.”
“Oh ya? Sport Queen menang lagi?”
“Iyalah. Emily gitu, sang raja betina. Nggak mungkin ada yang mengalahkan. Apalagi model kayak Rey. Gayanya aja dia jadi ketua BLR, aslinya cupu. Dia menangnya cuma pas lawan geng WK doang. Giliran tanding sama geng gue, kalah. Dia hahaha…” ucap Emily penuh percaya diri.
“Kamu benar-benar hebat, Baby…” ucap Alex sambil menatapnya kagum.
“Woi, pacaran bae loh!” teriak Nara dari belakang.
“Apa sih lo, Ner… tuh bayi lo ngikutin terus…” sahut Emily sebal.
“Hhhha! Emily anj, bilang gue bayi. Nggak sadar loh siapa yang paling manja…” ucap Dion ikut nyeletuk.
“Kantin, ya? Masih ada waktu kan?” ucap Ziva.
“Yoiii. Caca mana?” tanya Emily.
“Toilet, dia nyusul katanya.”
Saat perjalanan menuju ke kantin, tiba-tiba Alex nyeletuk, “Baby, katanya geng Winner King sekarang nantangin lo. Mau diterima nggak? Lumayan gede, loh, 30 juta.”
Emily tak langsung menjawab. Pikirannya masih tertahan pada perdebatan dengan orang
tuanya semalam. Apakah dia harus melawan lagi?