Bukan sebuah keberuntungan bagi Linnie di kejar seorang pria tampan yang bergelar seorang Casanova. Meski pria itu terkenal kaya raya dan memiliki kuasa namun Linnie sungguh tidak tertarik dengan pria itu.
Linnie sendiri bekerja di salah satu bar milik Gavin Marva Liam. Seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun namun sudah banyak meniduri banyak wanita di negara nya.
Tidak mudah bagi Gavin untuk menaklukkan hati Linnie. Gadis itu terlalu dingin membuat Gavin geram sendiri. Meski pun begitu, Gavin sangat sabar untuk membuat istri nya jatuh cinta pada nya.
Penasaran?? yuk....baca langsung😁
Jangan lupa Rate, Like, Vote and Comment 👍👍
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
Fb:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08.Linnie Kesal
"Kenapa Linnie tiba-tiba mengundurkan diri?" tanya Devan bingung.
"Linnie bilang pihak kampus sudah merekomendasikan nya ke salah satu perusahaan besar." Jawab Manager restoran.
Devan ternyum, memasukan ke dua tangan nya ke dalam saku celana. "Tidak apa-apa, sudah seharusnya dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Sedikit menyesal Devan ini, pria itu telat untuk Menarik Linnie bekerja di perusahaan nya. Tapi, ya sudahlah. Mungki masih ada waktu lain bagi Devan untuk mengenal Linnie lebih jauh lagi.
Hari ini Linnie mengantar kepergian sahabat nya, Cleo harus kembali ke kota kelahiran sang ayah untuk melanjutkan bisnis keluarga mereka. Rasa nya Linnie sangat sedih, Cleo adalah satu-satunya manusia yang sangat mengerti akan diri nya.
"Linn,...aku lebih senang jika kau dekat dengan pak Devan dari pada dua lelaki yang ikut makan bersama kita kemarin." ujar Cleo.
"Kenapa memang nya?" tanya Linnie penasaran.
"Aku mencari tahu ke tiga pria yang makan bersama kita kemarin. Apa kau tahu, laki-laki yang bernama Gavin itu adalah seorang Casanova. Dia sangat suka daun muda seperti kita ini." Cleo menakuti Linnie.
"Huss,...jangan memfitnah sembarangan. Jika ada orang yang dengar bisa bahaya." kata Linnie setengah berbisik.
"Aku serius,coba kau cari tahu di dunia maya tentang kegiatan Gavin di luar sana." ujar Cleo kemudian Linnie segera mengeluarkan ponsel nya.
Benar saja, banyak foto Gavin yang bersama dengan wanita bahkan dengan wanita yang berbeda-beda. "Menjijikkan!" gumam gadis itu.
"Ya, ku harap kau berhati-hati jika bertemu dengan pria ini. Aku tidak ingin kau jatuh ke jalan yang salah." nasehat Cleo.
Beberapa menit mengobrol, pada akhirnya Cleo harus pergi juga bersama dengan keluarga nya. Mereka saling berpelukan, rasa nya berat untuk sebuah perpisahan. Setelah melihat pesawat yang di tumpangi sahabat nya, Linnie memutuskan untuk pulang.
Hari telah berganti, Linnie sudah rapi dengan kemeja putih di padukan dengan rok span panjang sebetis. Menggunakan sepatu yang tidak terlalu tinggi dengan rambut yang di kuncir kuda. Gadis itu pergi ke perusahaan yang sudah merekrut nya beberapa waktu yang lalu.
Di antar oleh seorang wanita, sudah tentu dia adalah Irene Sekretaris Gavin selama ini. "Silahkan masuk, tuan sudah menunggu di dalam." ujar Irene profesional.
Gadis itu membuka pintu, jantung nya berpacu sangat kencang. Linnie berdiri tegap, menghadap pria yang sekarang hanya tampak belakang nya saja.
"Selamat pagi pak...!" sapa Linnie sopan.
"Apa kamu karyawan baru itu?" tanya Gavin membuat dahi Linnie berkerut dalam. Gadis itu seperti tidak asing dengan suara pria yang ada di depan itu.
"Ya,...nama saya Linnie." jawab Linnie kemudian Gavin memutar kursi nya hingga membuat Linnie terkejut. "Gavin....!" seru nya kesal.
"Welcom....di perusahaan ku wahai nona Linnie..." Gavin menyambut gadis itu sambil tersenyum lebar dan membentangkan ke dua tangan nya.
Seketika wajah Linnie berubah masam, "Sebaiknya aku melamar kerja di tempat lain saja. Aku akan menarik semua berkas ku,...!" ujar Linnie kehilangan akal.
"Kau ini kenapa? apa aku berbuat salah pada mu? kenapa kau tidak mau bekerja di perusahaan ku?" tanya Gavin.
"Pekerjaan ini tidak cocok dengan ku!" seru Linnie.
"Jika pekerjaan ini tidak cocok, lalu kenapa kau menandatangani perjanjian kerja yang sudah kita sepakati? Seharusnya kau senang, pihak kampus sendiri yang mengurus segala nya untuk mu. Linnie,...jika kau mengundurkan diri dari perusahaan ku, kau harus mengganti rugi semua nya sekarang juga." ancam Gavin dengan wajah serius. Melihat wajah pria itu, Linnie sepertinya tidak menemukan kebohongan.
"Kau sudah mempermain ku Gavin. Aku sangat tidak menyukai mu sejak awal." tutur gadis itu kesal.
"Kenapa? rasa nya setiap kali kita bertemu aku selalu meninggalkan kesan yang baik untuk mu." ujar Gavin.
"Seharusnya kau bercermin siapa diri mu. Aku sangat ilfil dekat-dekat dengan mu!" seru Linnie membuat Gavin sedikit terkejut. Apakah Linnie sudah tahu kelakuan bejat diri nya selama ini.
"Hmmm,....itu sih terserah kau saja menilai ku seperti apa. Yang jelas kau harus tetap bekerja di perusahaan ku." sahut Gavin cuek membuat Linnie semakin kesal.
Tiba-tiba, Jeff dan Irene masuk bersamaan ke dalam ruangan. "Jeff,...jelaskan pekerjaan gadis ini." perintah Gavin.
"Nona Linnie,..apa kabar?" sapa Jeff terlebih dahulu. "Kau akan bekerja sebagai Sekretaris pribadi tuan Gavin. Kau harus ikut kemana pun tuan Gavin pergi termasuk ke luar negeri. Sisa nya silahkan baca di buku agenda ini." kata Jeff menjelaskan semakin membuat Linnie syok dan kesal karena sudah di permainkan oleh Gavin dan Jeff.
"Tapi kan saya Sekretaris nya pak...!" protes Irene.
"Tugas mu hanya mengawasi seputaran perusahaan ku saja. Tapi Linnie harus bekerja lebih keras lagi di banding diri mu." sahut Gavin membuat Irene langsung menatap tidak suka ke arah Linnie.
Gavin melihat jika sekarang Linnie sedang mendengus kesal, gadis itu tidak bisa berbuat banyak karena Gavin cukup licik menurut nya. "itu meja kerja mu, aku sudah mempersiapkan semua nya." ujar Gavin sambil menunjuk meja kerja baru. Hati Irene langsung panas melihat meja itu, sudah tiga tahun diri nya bekerja di perusahaan ini namun diri nya tidak pernah duduk satu ruangan bersama Gavin meski mereka sudah pernah tidur bersama.
Hari itu juga, Linnie mulai bekerja. Gadis itu tak sekalipun menampakkan wajah tersenyum. Sedangkan Gavin, terus memandang wajah cemberut itu hingga membuat diri nya menahan tawa sejak tadi.
"Sudah jam makan siang, ayo ikut aku makan siang." ajak Gavin.
"Saya bisa makan sendiri pak!" tolak Linnie dengan memaksa senyum nya.
"Apa kau lupa pekerjaan mu? coba buka agenda mu kembali yang sudah di tulis Jeff dengan sangat rapi itu." perintah Gavin membuat Linnie langsung berdiri. "Berjalan di samping ku, jangan di belakang ku!" seru Gavin membuat Linnie semakin jengkel dengan sikap pria itu.
Irene yang melihat Gavin dan Linnie keluar bersama langsung panas hati nya. "Mau kemana pak?" tanya nya refleks.
"Makan siang!" jawab Gavin acuh kemudian melanjutkan langkah nya yang di ikuti oleh Linnie.
Irene mengepalkan ke dua tangan nya marah, seumur-umur bekerja di perusahaan ini, Gavin tidak pernah mengajak nya makan siang di luar atau acara makan-makan lain nya.
Sepanjang perjalanan, di dalam mobil Linnie tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Namun Gavin tidak mempermasalahkan hal itu yang penting sekarang diri nya bisa melihat Linnie setiap hari tanpa harus mencuri-curi jarak lagi.