Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SECERCAH CAHAYA DIBAWAH AMUKAN LANGIT
Hujan deras mengguyur Distrik Amethyst malam itu. Suara petir yang bersahutan di langit Valerion berbaur sempurna dengan dentuman musik bas dari aula utama The Velvet Rose. Badai ini menjadi samaran yang tepat bagi apa yang terjadi di sel bawah tanah.
Malam itu, tamu yang masuk ke kamar Kirana adalah Gunawan—seorang pengusaha properti pelanggan tetap Broto. Pria itu masuk dalam kondisi mabuk berat setelah menghabiskan beberapa botol whiskey kadar tinggi bersama Baskara.
"Hei... mainan barunya Broto," racau Gunawan dengan suara cadel dan tatapan sayu yang menjijikkan. Ia melempar jas mahalnya ke lantai, lalu berjalan terhuyung-huyung mendekati dipan tempat Kirana duduk meringkuk.
Kirana tidak bergerak sedikit pun. Matanya yang bengkak memperhatikan setiap gerak-gerik Gunawan dengan cermat. Kesadaran pria itu sudah separuh hilang akibat alkohol, bahkan ia lupa mengunci kembali pintu besi sel dari dalam. Ini adalah celah yang sudah berminggu-minggu Kirana tunggu.
Gunawan ambruk di atas kasur, menindih tubuh Kirana sambil tertawa parau. Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya saat ia mencoba mencengkeram leher Kirana. Namun, tubuh pria itu terlalu lemas.
Kirana tidak membuang waktu. Menggunakan seluruh sisa tenaga yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir, ia memutar tubuhnya dengan sentakan kuat.
BRUK!
Gunawan yang kehilangan keseimbangan langsung terlempar ke sisi kasur yang kosong. Sebelum pria itu sempat mencerna apa yang terjadi, Kirana menyambar botol whiskey tebal di dekatnya dan menghantamkannya tepat ke arah belakang kepala Gunawan. Pria paruh baya itu mengerang pendek, lalu ambruk sepenuhnya tak sadarkan diri.
Napas Kirana memburu. Dengan tangan gemetar, ia menyambar jas panjang milik Gunawan yang tergeletak di lantai untuk menutupi baju kurungnya yang sudah koyak dan bernoda darah.
Kirana mengintip lewat celah pintu besi. Lorong bawah tanah tampak sepi karena para penjaga sedang asyik bermain kartu di ujung ruangan, membelakangi kamarnya. Dengan langkah seringan kucing, Kirana menyelinap keluar, menyusuri dinding lembap menuju tangga darurat yang terhubung langsung ke gang belakang gedung.
Begitu berhasil mendorong pintu keluar, udara malam yang dingin dan siraman air hujan langsung menghantam wajah Kirana. Tanpa menoleh ke belakang, Kirana langsung mengambil langkah seribu.
Ia berlari dan terus berlari. Kakinya yang telanjang menghantam aspal jalanan Distrik Amethyst yang dingin dan tajam. Rasa perih merayap di sekujur tubuhnya akibat luka-luka lama yang kembali terbuka terkena air hujan, namun rasa takut dan adrenalin membuatnya mati rasa.
Kepala Kirana berputar hebat. Pandangannya kabur oleh air hujan dan bengkak di matanya. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak punya uang, tidak punya ponsel, dan tidak punya tempat bersembunyi di kota Valerion yang kejam ini. Setiap kali mendengar suara mesin motor dari kejauhan, jantungnya seolah copot karena mengira itu adalah anak buah Broto yang mengejarnya.
Kirana berbelok ke jalan raya yang lebih besar, berharap bisa berbaur di kegelapan. Napasnya sudah habis, dadanya terasa sesak dan terbakar. Langkah kakinya mulai gontai dan tak seimbang.
Tepat saat ia mencoba menyeberangi sebuah persimpangan jalan yang remang-remang, sepasang lampu sorot yang sangat terang mendadak muncul dari balik tikungan, membelah tirai hujan.
TIIIIIIIIIIIIIIITTTTT!
Suara klakson panjang memekakkan telinga berbunyi nyaring.
CIIIIIIIIEEEEEEEEKKKKKK!
Suara decitan ban mobil yang bergesekan kasar dengan aspal basah terdengar memekik. Kirana membeku di tengah jalan. Sorot lampu mobil itu membutakan pandangannya. Tubuhnya yang sudah terlampau lemas tidak mampu lagi digerakkan untuk menghindar.
Mobil sedan hitam mewah itu mengerem mendadak, bumper depannya berhenti hanya beberapa sentimeter sebelum menghantam lutut Kirana.
Guncangan psikologis dan sisa tenaga yang habis membuat pertahanan Kirana runtuh total. Pandangannya menggelap, lututnya lemas, dan tubuh babak belurnya langsung ambruk, pingsan di atas aspal basah tepat di hadapan mobil tersebut.
Pintu kemudi mobil terbuka dengan cepat. Seorang laki-laki muda dengan setelan kemeja formal melangkah turun menembus hujan, wajahnya tampak panik sekaligus cemas setelah hampir menabrak seseorang di tengah malam buta seperti ini.