NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:108.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah momen mendebarkan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar di taman, Eliza pamit sebentar ke toilet untuk membasuh wajahnya yang masih terasa panas. Ia melangkah anggun memasuki area restroom hotel bintang lima yang mewah itu. Suasananya sunyi, dengan dinding marmer mengilap dan aroma mawar yang samar.

Namun, kedamaian itu pecah saat pintu toilet di belakangnya kembali terbuka.

tak

Tak

Tak

Suara sepatu hak tinggi bergema di atas lantai marmer. Eliza mendongak menatap cermin besar di depannya. Di sana, pantulan wajah Jenita dan dua orang teman geng sosialitanya, Carissa yang sempat masuk penjara semalam gara-gara penggerebekan kasus narkoba di club serta satu lagi temannya Yunita.

Jenita yang baru masuk langsung menghentikan langkahnya. Matanya yang dilapisi eyeliner tebal menyipit, memindai penampilan Eliza dari ujung jilbab biru malamnya hingga ke ujung gaunnya yang tampak sangat anggun dan berkelas malam ini. Kilatan rasa tidak terima, dengki, dan iri hati seketika membakar dada Jenita. Ia tidak sudi melihat gadis yang selalu ia rundung di kampus justru terlihat jauh lebih memukau dan mencuri perhatian beberapa fotografer di aula tadi.

"Wah, lihat siapa yang ada di sini," cibir Jenita sembari bersedekap dada, melangkah maju untuk memojokkan Eliza ke wastafel. "Anak narapidana ternyata bisa masuk ke pesta orang kaya ini. Kamu menyelinap ya? Atau... kamu pakai baju sewa dari salon murah mana untuk bisa kelihatan sok cantik begini, Eliza?"

Carissa dan Yunita ikut tertawa mengejek di samping Jenita. "Iya, Jen. Padahal kita sudah senang banget beberapa ini gak lihat muka karung goni dia di kampus karena kelas sudah selesai. Gak nyangka, malam ini malah merusak pemandangan di hotel bintang lima."

Jika ini adalah Eliza yang dulu, ia pasti akan memilih diam, menunduk, dan mengalah demi menjaga nama baik keluarga nya yang menjadi donatur tetap di universitas pelita bangsa.

Pertama, ia sudah tidak terikat aturan kampus lagi karena kuliahnya sudah selesai dan hanya tinggal menunggu wisuda bulan depan. Kedua, dan yang paling penting, hati Eliza baru saja dipenuhi oleh keberanian dan kekuatan setelah laki-laki yang sangat ia cintai, Faas, menerima lamarannya untuk menjadi suaminya. Eliza tidak akan membiarkan harga diri calon istri Faas diinjak-injak oleh perempuan angkuh di depannya ini.

Eliza mematikan keran air perlahan. Ia mengambil selembar tisu, mengeringkan tangannya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Jenita.

Tidak ada ketakutan di mata Eliza. Ia justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat tenang, tipikal ketenangan yang sering ia lihat pada diri Faas.

"Selamat malam, Jenita. Lama tidak bertemu setelah kelas kita selesai," ucap Eliza, suaranya terdengar lembut namun bergaung penuh penekanan di dalam toilet. "Sebelum kamu bicara lebih jauh tentang baju sewa atau menyelinap, sepertinya kamu harus berkaca dulu. Apakah riasan tebalmu itu bisa menutupi rasa malumu?"

Jenita mengernyitkan kening, wajahnya menegang. "Apa kamu bilang?!"

"Ah, maksudku... bukankah beberapa hari lalu kamu baru saja dijemput paksa oleh keluargamu dari club malam karena ada penggerebekan narkoba?" Eliza mencondongkan badannya sedikit, menatap Jenita dengan pandangan kasihan yang sengaja dibuat-buat. "Beruntung sekali ya, namamu tidak sampai masuk ke berita koran pagi bersama teman-temanmu yang sempat menginap di kantor polisi itu." balas Eliza Melirik kedua teman temannya.

Jleb.

Kalimat Eliza menghantam tepat di ulu hati Jenita , Yunita dan Carissa. Wajah ketiga gadis sosialita itu seketika memucat, berganti menjadi merah padam karena rahasia memalukan mereka dikuliti habis-habis di tempat umum.

"Kau—! Berani-beraninya ya!" Carissa berteriak maju, hendak mendorong bahu Eliza karena tidak terima.

Namun, dengan gerakan refleks yang sangat cepat , Eliza selangkah lebih maju. Ia menangkap pergelangan tangan Carissa yang hendak mendorongnya, memutarnya sedikit dengan kuncian tak terlihat, lalu mendorongnya pelan hingga Carissa kehilangan keseimbangan menabrak Yunita, keduanya hampir terjungkal ke pintu kamar mandi.

"Carissa!.. Yunita...!" jerit Jenita syok melihat temannya kalah telak dalam satu gerakan.

"Aku sarankan jangan kasar di sini," ucap Eliza dingin, menatap mereka bergantian dengan aura yang mendadak tegas. "Ini hotel bintang lima, Jenita. Ada kamera pengawas di koridor luar. Kalau kalian membuat keributan dan aku melaporkannya atas tindakan penganiayaan, kira-kira... bagaimana nasib saham Abrari Property Group besok pagi? Bukankah papamu sangat menjaga citra perusahaannya?"

Senjata makan tuan. Kata-kata ancaman tentang saham perusahaan yang tadi pagi diucapkan Husen di meja makan, kini justru digunakan oleh Eliza untuk mengunci pergerakan Jenita.

Jenita mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya yang dikikir rapi memutih. Dadanya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak. Ia sangat benci, amat sangat benci kenyataan bahwa malam ini ia tidak bisa berkutik di hadapan Eliza. Eliza yang ia kira lemah, ternyata memiliki taring yang mematikan.

"Dengar ya, Eliza Daneswara palsu!" desis Jenita dengan suara bergetar menahan dendam yang membara. "Jangan pernah merasa menang! Sampai kapan pun, kamu tetaplah musuhku! Aku akan pastikan hidupmu di Jakarta ini tidak akan pernah tenang!"

Eliza hanya merapikan kembali posisi jilbab birunya di depan cermin, mengabaikan ancaman itu seolah itu hanyalah angin lalu. Sifat manjanya kembali sedikit muncul saat ia tersenyum manis menatap Jenita.

"Aku tunggu ya, Jenita. Oh iya, semoga prosesi wisuda kita bulan depan berjalan lancar tanpa ada drama polisi lagi. Permisi," ucap Eliza mengedipkan sebelah matanya, lalu melangkah keluar dari toilet dengan dagu terangkat anggun.

"Aaaarrrgh!! Sialan kamu, Eliza!!" teriak Jenita frustrasi di dalam toilet, menendang tempat sampah kecil di dekatnya untuk meluapkan kebenciannya yang kini sudah sampai ke ubun-ubun sampai sampai itu berhamburan.

Jenita semakin membenci Eliza setengah mati. Namun, yang tidak pernah disadari oleh Jenita adalah, gadis yang paling ia benci dan baru saja mempermalukannya itu... sebentar lagi akan resmi menjadi kakak iparnya, istri dari Faas, abang kandungnya yang selama ini ia remehkan sebagai pengangguran tak berguna. Roda takdir sedang mempersiapkan kejutan yang jauh lebih mengerikan untuk meruntuhkan keangkuhan keluarga Abrari.

Eliza berjalan menemui Faas yang masih menunggunya di taman, ia mengetikkan pesan pada Diki kalau ia ingin pulang, Faas yang langsung mendapat telpon dari Diki tentang Eliza langsung mengiyakan.

"Kak... sepertinya aku harus pulang kak,toh tuan Malik tidak hadir, tidak ada alasan aku untuk tetap berada di pesta ini" ucap Eliza dengan lembut.

Faas mengangguk " Baiklah ...aku akan mengantarmu pulang...tapi pakai taksi bagaimana, aku tidak membawa mobil"

Eliza tersenyum lembut " asal bersama kakak, jalan kaki pun tak masalah".

Faas tersenyum... baginya Eliza adalah cahaya di kehidupan nya yang kaku.

1
Sri Supriatin
ditunggu upnya n pasti saran2 pembaca.bakal mbludak... sy nenek2 nunggu dgn sabar🤭🤣🤣
Lovita BM
jadikan dia orang abnormal Thor 😆
Sukarti Wijaya
semedi dulu thior buat nyari ide pembalasannya, ayyooo semangat💪💪💪💪💪
suti markonah
part ini kok melani semua sih thor ?
Sri Supriatin
untung cemburu fadil blm mendarah daging, semoga selalu rukun💪💪💪
Sri Supriatin
eleuh2 kecil2 sdh cemburu🤭🤭
Sapna Anah
pedil keci kecil otaknya Uda licik
suti markonah
nah gitu dong fadil, kamu harus jadi sepupu yg baik untuk aufal👍👍👍👍👍
suti markonah
fadil kamu kan dr kecil dpt ksh syg dan kemewahan materi..kenapa mesti cemburu sm aufal yg notabene hidup serba kekurangan dan penyiksaan...
Sukarti Wijaya
waaduhh kasihan dong aufalnya kalau nanti di buly sama fadil/Frown/
Sri Supriatin
tks upnya thor, semoga kemahnya menyenangkan 👍👍😍
Sapna Anah
katanya diki ga perna nidurin regina , regina lebaran h banyak tidur sama rshan ko bisa mirip
suti markonah
aufal umur 10th masih di kasih bola warna warni sm prosotan thor🤭🤭🤭
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: kam Aufal belum pernah 😄
total 1 replies
suti markonah
weleh" rehan ngajak melani ke grand indonesia emang bisa bayar?.
suti markonah
ayo dong kakak² yg cantik jelita semua nya~ bantu author kasih vote dan hadiah nya biar author tmbh semangat update nya 🙏🙏🙏
Cica Aretha
semangattt thor..kok up nya cuma satu bab thor🤭💪
Sri Supriatin
sehat thor kok belum up?🤭 ditunggu yah 👍😍😍
suti markonah
author nya kemana yo~
Sukarti Wijaya
èhm...ehm...ehmm...MP diki dan jenita🤭👍🙏
Sapna Anah
ngapain saka harus menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!