Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Beberapa hari kemudian, di tengah malam Azalea terbangun karena rasa mual yang mendadak. Ia bergegas ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
“Ada apa denganku? Apa aku masuk angin? ” gumamnya pelan saat keluar kembali.
Tiba‑tiba matanya tertuju ke arah balkon. Ada sosok yang mencoba membuka pintu yang terkunci di sana. Azalea panik, lalu segera menekan tombol panggil di dinding. Tak lama terdengar ketukan keras di pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Ia membuka pintu dan mendapati Lisa bersama beberapa pelayan lain sudah berdiri di sana.
“Apa ada yang Nona butuhkan?” tanya Lisa dengan nada sopan.
Pyar!
Kaca pintu balkon tiba‑tiba pecah berkeping‑keping. Semua menoleh serentak—terlihat 3 pria bertopeng hitam melompat masuk.
“Lindungi Nona!” seru Lisa sigap. Para pelayan segera mengerumuni Azalea.
Suara itu terdengar sampai ke kamar Daxon dan Aldric. Keduanya terbangun dan bergegas berlari ke arah keributan.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Daxon saat melihat kerumunan di depan kamar Azalea.
“Maaf Tuan. Ada orang bertopeng hitam yang memecah kaca balkon, namun mereka lari mendengar suara tuan,” jelas Lisa dengan tenang meski napasnya sedikit terengah.
Daxon melirik ke arah puing kaca, lalu beralih menatap Azalea yang tampak gemetar. Ia melangkah mendekat, belum sempat bicara gadis itu langsung menangis dan memeluknya erat. Daxon tertegun sejenak—tak pernah Azalea berani memeluknya tanpa izin, namun ia menduga itu hanya karena ketakutan.
“Kalian boleh pergi,” perintahnya singkat pada para pelayan dan Lisa. Lalu menoleh pada sahabatnya.
“Aldric, selidiki siapa mereka.” perintah Daxon.
“Akan kuselidiki,” jawab Aldric seraya bergegas pergi. Tinggallah Daxon dengan Azalea yang masih tak mau melepaskan pelukannya.
Daxon mengangkat tubuh Azalea dengan hati‑hati, membiarkan gadis itu tetap mencengkeram bajunya dalam ketakutan. Ia membawanya keluar dan menuju kamarnya sendiri, lalu membaringkan Azalea di atas kasur yang empuk. Ia menyelimuti tubuh itu hingga dada, lalu duduk di tepi ranjang dan menatapnya lekat.
“Kamu tidurlah,” ucapnya lembut namun tegas. “Aku di sini. Tidak ada siapa pun yang berani mendekatimu.”
Azalea menatapnya ragu, napasnya masih naik turun meski perlahan mulai tenang mendengar janji itu. Akhirnya ia mengangguk pelan, memejamkan mata sambil tangannya masih menggenggam ujung selimut erat‑erat, merasa sedikit lebih aman karena sosok Daxon ada di sebelahnya.
Setelah memastikan Azalea terlelap, Daxon berjalan kembali ke arah balkon. Ia memastikan pintu balkon terkunci seerat mungkin, lalu menarik gorden lebar hingga tak ada celah pandang dari luar. Ia sengaja membiarkan lampu kamar tetap menyala terang—tak ingin gadis itu kembali dilanda rasa takut.
Setelah segala tampak aman, ia pun melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya perlahan, bergegas menemui Aldric yang sedang memeriksa sekeliling rumah.
Di halaman belakang, Aldric sedang menunduk memeriksa jejak di dekat tembok pembatas. Mendengar langkah mendekat, ia menoleh dan melapaskan debu di tangannya.
“Mereka lari lewat sini, sangat terlatih dan tak meninggalkan banyak bukti,” ujar Aldric pelan. “Namun aku menemukan ini.” Ia menyodorkan selembar kain kecil berwarna gelap yang tersangkut duri pagar.
Daxon menerimanya, menatap kain itu dengan pandangan tajam. “Ini bukan penjahat biasa. Mereka datang dengan sasaran jelas ke Azalea.” Suaranya rendah namun sarat ancaman.
“Kau periksa siapa yang mengirim mereka. Aku takkan membiarkan siapa pun mengganggunya lagi.” perintah Daxon.
Aldric mengangguk tegas. “Akan kuselesaikan secepatnya.” jawab Aldric.
Malam itu Daxon kembali ke kamarnya, memastikan sekali lagi Azalea aman dan tenang dalam tidurnya, sementara pikirannya terus berputar mencari siapa yang berani mengancam nyawa gadis itu.
...****************...
Keesokan paginya Azalea terbangun, dan pandangannya jatuh pada Daxon yang tertidur di atas sofa. Tak lama, mata pria itu terbuka dan ia mendapati Azalea sedang menatapnya lekat.
“Kau lapar?” tanya Daxon.
“Aku ingin makan mangga,” jawab Azalea, matanya berbinar cerah.
“Makanlah sarapan dulu, baru boleh makan mangga,” ucap Daxon tenang.
Mendengar itu, mata Azalea tiba‑tiba berkaca‑kaca, sekuat tenaga ia menahan air mata agar tak jatuh. Daxon tampak bingung melihat perubahan itu. Ia berjalan mendekati gadisnya.
“Ayo kita turun sarapan. Hari ini ada klien yang akan datang ke kantorku,” ucapnya lagi.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Azalea berdiri dan berjalan mendahului menuju lift, langkahnya terlihat lesu dan tak bersemangat. Daxon hanya diam mengikuti dari belakang, hatinya bertanya‑tanya.
"Apakah aku mempunyai salah ke dia? " batin Daxon yang sangat bingung.
Sesampainya di ruang makan, Azalea hanya duduk diam menunduk dan termenung. Saat para pelayan mulai menyajikan hidangan di meja, aroma dan tampilan makanan itu justru membuat rasa mual kembali naik ke kerongkongannya. Ia menekan bibir rapat‑rapat, berusaha menahannya agar tak terlihat.
Daxon memperhatikan segala gerak‑geriknya dengan saksama. Ia makin bingung—perubahan sikap gadis itu terasa sangat mencolok, terlebih kini wajah Azalea tampak pucat dan tak kuasa menatap hidangan di depannya.
“Kenapa kau tidak makan?” tanya Daxon pelan, matanya tak lepas dari wajah Azalea yang terlihat menahan rasa tak nyaman.
Belum sempat Azalea menjawab, rasa mual itu makin kuat mendesak keluar. Ia buru‑buru menutup mulut dengan punggung tangan, wajahnya makin pucat pasi. Tanpa menunggu lagi, ia bergegas bangkit dari kursi dan berlari kecil menuju kamar mandi terdekat.
Daxon terkejut dan segera bangkit mengejarnya. Sampai di ambang pintu, ia mendengar suara Azalea memuntahkan isi perutnya. Rasa bingung bercampur cemas kembali memenuhi benaknya—ia makin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.
Setelah rasa mual sedikit mereda, Azalea menyeka bibirnya dan berdiri gontai mencuci wajah. Saat ia keluar, Daxon sudah berdiri menunggu di ambang pintu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kau sakit?" tanyanya lembut seraya melangkah mendekat dan menyentuh dahi gadis itu. Tak terasa panas, namun wajah Azalea tampak masih pucat dan lemas.
"Aku tidak tahu..." jawab Azalea pelan sambil menghindari tatapannya.
"Tiba‑tiba saja rasanya ingin muntah saat mencium bau makanan yang ada di meja makan" ucap Azalea.
Daxon mengerutkan keningnya, lalu mengantarnya kembali ke meja makan dan meminta pelayan menyingkirkan hidangan itu.
"Istirahatlah sebentar. Aku akan memerintahkan mereka menyediakan makanan yang lebih ringan," ucapnya tenang.
Meskipun hidangan yang lebih ringan sudah disajikan, rasa mual itu tak kunjung hilang. Begitu Azalea mencoba menyuap sedikit saja, perutnya kembali bergejolak hebat. Ia terpaksa meletakkan sendok kembali, wajahnya semakin pucat dan napasnya terasa berat.
“Aku tak sanggup menelannya,” ucapnya pelan sambil menekan dada, berusaha menahan rasa ingin muntah yang kembali mendesak.
Daxon mengamati segala perubahan itu dengan tatapan serius. Ia tak lagi bertanya, namun tangannya perlahan menggenggam jemari Azalea yang terasa dingin.
“Sudah, tidak perlu dipaksakan. Aku akan mengantarmu ke kamar, Aldirc kau telpon dokter untuk memeriksa Azalea.” ucap Daxon.
Aldirc pun mengangguk paham. Daxon segera mengantar Azalea kembali ke kamarnya, membaringkan gadis itu dengan hati‑hati. Ia menyelimuti tubuh yang masih tampak lemas, Daxon pun melihat Aldric.
"Dokter sudah di perjalanan." ucap Aldirc.
Sambil menunggu, Daxon duduk di sisi ranjang, sesekali mengusap pelan punggung Azalea yang masih terguncang rasa mual. Ia tak melepaskan pandangannya, hati kecilnya mulai menyusun dugaan meski belum berani menyimpulkan apa‑apa.
"Tenanglah sebentar, dokter akan segera tiba," ucapnya pelan, mencoba menenangkan sekaligus menenangkan kekhawatiran yang mulai merayap di benaknya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄