NovelToon NovelToon
Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Matabatin / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.

Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.

Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.

Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.

Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—

mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27—Waduh

Bab 27

Mang Ujang berbalik ke arah pintu gubuk yang terbuka, lalu berteriak lantang memanggil para pengawal setianya yang sedari tadi berjaga di luar. “Dono! Juki! Masuk kalian!”

​Dua pria bertubuh kekar dengan tato yang memenuhi lengan mereka langsung merangsek masuk ke dalam gubuk. Wajah mereka tampak sangar, siap menerima perintah apa pun dari sang bandar desa.

​“Ada apa, Bos?” tanya Dono, salah satu tangan kanan terpercaya Mang Ujang.

​“Bakar gubuk terkutuk ini! Sekarang!” perintah Mang Ujang dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

​Kyai Wok yang masih terbatuk-batuk di lantai tanah seketika mendongak dengan mata terbelalak horor. “Jangan, Mang! Tolong jangan bakar gubuk saya! Di sini tempat tinggal saya, tempat pusaka leluhur saya!” ratap dukun itu, berusaha merangkak memohon di kaki Mang Ujang. “Kita sudah kenal lama, pristiwa dua tahun lalu juga sukses saya jalani … masak masnya rela bakar gubuk rekan bisnis lama antum.”

“Dengar saya orangnya menghargai rekan kerja. Performamu dua tahun lalu mantap habis makanya saya sewa kamu lagi … tapi.”

​Namun, Mang Ujang sama sekali tidak peduli. Dia mengibaskan kakinya dengan kasar hingga Kyai Wok tersungkur kembali. “Dukun tidak berguna seperti kamu tidak layak punya tempat tinggal di desa ini! Uang saya habis jutaan, tapi hasilnya nol besar! Dono, tunggu apa lagi? Ambil minyak tanah di bagasi mobil, siram seluruh tempat ini!”

​“Siap, Bos!”

​Dono dan Juki bergerak cepat. Hanya dalam hitungan menit, mereka kembali dengan membawa dua jeriken berisi minyak tanah. Tanpa belas kasihan, kedua preman itu menyiramkan cairan berbau menyengat tersebut ke dinding-dinding bambu, tumpukan kain kafan ritual, hingga ke altar pemujaan tempat Kyai Wok biasa merapalkan mantra kutukannya.

​Mang Ujang merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah korek gas zippo perak. Dia menyalakan pemantik itu, menatap kobaran api kecil di tangannya dengan senyuman yang teramat kejam.

​“Kyai Wok... anggap saja ini upah terakhir dari saya atas kegagalanmu siang ini,” desis Mang Ujang.

​FLIP!

​Korek api itu dilemparkan ke atas lantai yang sudah basah oleh minyak tanah.

​WUSH!

​Api langsung berkobar hebat, menjilat dinding bambu yang kering dan merambat dengan kecepatan mengerikan ke langit-langit gubuk. Asap hitam pekat yang menyesakkan dada mulai memenuhi ruangan.

​“Panas! Astaga, panas!” teriak Kyai Wok panik setengah mati. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dukun tua itu mengabaikan semua barang pusakanya yang mulai terbakar. 

Dia merangkak secepat mungkin, meloloskan diri lewat celah pintu belakang gubuk sebelum api mengepungnya bulat-bulat. Dia berlari menyusup ke dalam gelapnya hutan desa dengan pakaian yang compang-camping, mengutuk nama Bima dan Mang Ujang dalam sisa hidupnya yang kini menjadi buronan.

​Di depan gubuk yang kini telah berubah menjadi lautan api yang membumbung tinggi, Mang Ujang berdiri tegak. Cahaya kemerahan dari kobaran api memantul di wajah beringasnya, membuat auranya tampak semakin gelap dan penuh dendam. Dono dan Juki berdiri diam di belakangnya, menunggu instruksi selanjutnya.

​Mang Ujang mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah di dadanya tidak ikut padam bersama terbakarnya gubuk tersebut, melainkan semakin membara. Dia menyadari satu hal yang pasti: jalur mistis dan sihir hitam sudah tidak mempan lagi untuk menyingkirkan Bima.

​‘Bocah keparat itu punya pelindung gaib yang kuat,’ batin Mang Ujang menganalisis dengan tajam. ‘Tapi sekuat-kuatnya ilmu gaib, dia tetap manusia biasa yang punya darah dan daging. Kalau sihir tidak bisa membunuhnya, maka tanganku sendiri yang akan menghancurkannya lewat jalur fisik!’

​Mang Ujang kembali teringat akan janda kembang incarannya, Rasti. Pikirannya melayang pada kejadian dua tahun lalu—sebuah rahasia kelam tentang bagaimana dia mengatur siasat rapi untuk menyingkirkan garis perlindungan keluarga Rasti hingga wanita itu menjadi janda tak berdaya di desa ini. Dia sudah menanti terlalu lama untuk memetik buah ranum itu, dan dia tidak akan membiarkan seorang adik ipar miskin seperti Bima merusak segalanya.

*

Di lain sisi. Rasti dan Bima.

“Mbak, masih marah sama yang tadi?” Tanya Bima.

“Hmph kamu juga salah. Kenapa bisa begitu ramah dengan petugas spg tadi?”

​“Hmph kamu juga salah. Kenapa bisa begitu ramah dengan petugas SPG tadi? Sampai senyum-senyum begitu waktu ditawari bonus minyak wangi!” ketus Rasti sembari melipat kedua tangannya di dada.

​Langkah kakinya sengaja dipercepat, meninggalkan Bima satu langkah di belakang koridor mal yang mulai ramai kembali setelah insiden mati lampu tadi. Gaun terusan pastel di dalam kantong belanjaan yang digandeng Bima tampak berayun seirama dengan langkah jengkel sang janda kembang.

​Bima terkekeh pelan. Dia memperlebar langkah kakinya, dengan mudah menyamai ritme berjalan Rasti, lalu sengaja merapatkan bahunya hingga lengan tegapnya bergesekan lembut dengan lengan Rasti yang mulus.

​"Lho, Mbak Rasti cemburu lagi?" goda Bima dengan nada berbisik yang rendah, sengaja meniupkan embusan napas hangat di dekat telinga Rasti yang membuat wanita itu refleks bergidik meremang. "Bima kan cuma bersikap sopan, Mbak. Lagian, bonus minyak wanginya juga kan Bima minta buat Mbak Rasti, bukan buat Bima."

​Rasti menghentikan langkahnya mendadak. Dia berbalik, mendongak menatap lurus ke dalam sepasang mata Bima yang berkilat jenaka. Wajah cantiknya memerah padam, antara kesal dan malu karena ketahuan cemburu buta untuk kedua kalinya hari ini.

​"Siapa yang cemburu! Mbak cuma... cuma gak suka saja melihat kamu gampang senyum ke perempuan kota. Mbak ini kan... tanggung jawab kamu sekarang di desa. Kalau kamu kenapa-napa atau kepincut orang kota, Mbak sama siapa?" cicit Rasti, suaranya mendadak melunak di akhir kalimat, menyisakan gurat kerapuhan yang teramat dalam.

Hari itu drama rasti mulai berjalan sepanjang jalan dia ngambek. Sampai waktu yang cukup lama, bahkan sampai mereka pulang. Rasti masih merajuk.​

Drama mereka berjalan untuk waktu yang cukup lama. Hingga rasti memutuskan tekad untuk menuntut malam ini!

Malam pun tiba menyelimuti Desa Sukamaju. Suasana di dalam rumah minimalis baru milik Bima terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan udara malam pedesaan yang mulai menusuk tulang. Aroma harum dari sisa cat baru kini bercampur dengan wangi masakan sedap yang disiapkan Rasti sejak sore hari—sebuah upaya terselubung untuk memanjakan perut adik iparnya agar tidak melirik wanita kota lagi.

Namun, ketenangan batin Rasti rupanya belum pulih sepenuhnya. Bayangan Nyonya Siska yang mendesah pasrah di bawah kekuasaan jemari Bima siang tadi terus menari-nari di benaknya, membakar ego dan naluri kewanitaannya. Sebagai seorang janda muda yang pesonanya sempat meredup karena kemiskinan, kehadiran sosialita bening itu benar-benar memicu rasa tidak aman yang teramat sangat di hatinya.

Begitu makan malam selesai dan seluruh sudut rumah sudah terkunci rapat, Rasti tidak membuang waktu lagi. Saat Bima baru saja melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama untuk mengistirahatkan tubuh kekarnya, sesosok tubuh matang nan sintal tiba-tiba menyelinap masuk dan langsung menutup pintu kayu jati itu dengan sentakan pelan namun tegas.

Klik.

Suara kunci pintu yang diputar terdengar begitu nyaring di dalam keheningan kamar. Bima yang sedang bersiap melepaskan kaos hitamnya menoleh, dan sedetik kemudian matanya nyaris melotot menyaksikan penampilan kakak iparnya.

Rasti malam ini benar-benar tampil sangat berbeda, jauh lebih berani dan agresif dari biasanya. Daster usang yang biasa dia kenakan telah berganti dengan selembar daster satin tipis berwarna merah menyala—salah satu baju tidur baru yang dibelikan Bima di kota kemarin. Bahan satin yang jatuh dan licin itu melekat ketat membungkus tubuh jam pasir Rasti, mencetak lekuk pinggangnya yang ramping serta membusungkan sepasang gunung kembar miliknya yang padat berisi tanpa penyangga apa pun di baliknya. Rambut hitamnya yang panjang sengaja digerai bebas, menyebarkan aroma wangi sampo herbal yang segar.

Wajah cantik Rasti masih menyiratkan sisa-sisa kemarahan yang manja, dengan bibir ranum yang sedikit mengerucut dan pipi yang merona merah akibat luapan gairah yang sudah tertahan sejak siang.

"M-Mbak Rasti..." Bima menelan ludahnya gila-gilaan, jakunnya naik turun memandang pemandangan super hot di depannya. "Kok pintunya dikunci?"

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rasti melangkah maju dengan hentakan kaki yang sengaja diperlambat, membuat aset kembarnya bergoyang sensual di balik kain satin tipis. Begitu jarak mereka terkikis habis, Rasti langsung menubrukkan tubuh sintalnya ke dada bidang Bima. Kedua tangan lentiknya yang biasa memegang ulekan kini dengan agresif merayap naik, melingkar erat di leher kokoh Bima, sementara tubuh bagian depannya menempel tanpa celah pada tubuh perkasa sang adik ipar.

"Bima... kamu harus tanggung jawab," cicit Rasti dengan suara yang mendadak serak, sarat akan tuntutan manja seorang wanita yang sedang dilanda cemburu buta. Napasnya yang hangat dan memburu menerpa langsung permukaan kulit leher Bima.

1
Gege
naaah..makin oyeeh nih..yuk bisa yuk banyakin hareem yang pijat plus plus ke MC... duit dapat..enaknya juga dapet..🤭🤣
.
kirain TAMAT Thor dah lama ga update
Manusia Biasa: Nunggu lulus kontrak dulu kemarin. kena masalah terus saking vulgarnya🤣
total 1 replies
septian arista
Nah itu dukun bodoh apa gimana Masa takut sama si Ujang yang nggak bisa apa-apa kenapa nggak disantet aja itu si Ujang🤔🤔🤔
septian arista
cerita cultivator versi dalam negeri🤭🤭🤭
Manusia Biasa: kultivasi lokal
total 1 replies
septian arista
ini ceritanya mirip sama para kultivator yang menemukan warisan tersembunyi
Hentri Gunawan
kpn di up LG Thor ..
Manusia Biasa: selasa mungkin kak, lagi sibuk ujian
total 1 replies
Leynn
Author, kok bisa update sampai 5+ chapter sehari? sanggup kah? atau emang udah punya draft yang banyak? sekali update berapa kata? (mohon jawab karena saya juga author pemula ingin tahu motivasi nya kenapa bisa banyak banget chapter dalam sehari)
Leynn: hell naw😹
total 9 replies
Domek Uuk
mantap
Domek Uuk
lanjut thor,,
Gege
dan othor di pun mencoba men skip adegan kitab kamasutra yang tabu untuk di detailkan dalam platform NT..🤣
Manusia Biasa: gak boleh sama pihak NT
total 1 replies
Kisin Gindam
mantap
Domek Uuk
ceritanya kurang menantang thor
Domek Uuk
lanjut thor
Domek Uuk
zip,lanjutkan thor
Domek Uuk
mantap bos,wiek wik mana?
Ajidewa nagaraja
ribet ya mau tiap lanjut episode
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Waduh mengerikan sekali..😨😰😱
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Menurutku lebih SAH kalau hubungan tersebut diresmikan melalui pernikahan.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊
Achnad Asbert: 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Gege
ditunggu plot ratu LC datang berobat mengalami masalah saluran kencingnya...pasti tangan bima mengobok oboknyaah...😄🤭🤣
Manusia Biasa: udah bos, cabulnya sampai sini dulu. kena pringatan dari PF ini, gagal kotnrak😂😭
total 1 replies
.
sayangnya cuman up 1chap doang Thor,kurang nendang
Manusia Biasa: wkwk iya kak. ini slow up mau tak revisi.

gak lulus kotnrak 😂😭 atau bisa aja malah pindah pf lagi

sekalian coba baca yang sistem sales kak, dijamin menarik dna aman. dapat adaptasi audio juga itu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!