Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07 : Tugas Pertama sebagai Putri Kerajaan Hearthose
“Maaf, pak. Ada keributan apa?” tanya Yula.
Bapak itu terlihat bingung melihat Yula karena ia terlihat sangat asing. Ia melihat ke arah Lacus yang masih di atas kereta, Lacus membalas dengan senyuman, dan kembali melihat ke Yula.
Pakaian anak ini terlihat sederhana tapi mewah, ia pasti bukan orang biasa. Ia pun melihat lambang Hearthose dikalungkan pada kuda dan di badan kereta.
Yula mengeluarkan bandul kalungnya yang berlambang kerajaan Hearthose pada bapak tua itu. Ia pun terkejut. “A-apakah Anda dari Kerajaan Hearthose?”
“Perkenalkan, Pak. Nama saya Yula Athhra,” Yula memperkenalkan diri.
“Athhra? Jangan-jangan Anda putri bungsu kerajaan?” kaget bapak itu. Ia pun menunduk, “Maaf atas kelancangan saya, Tuan Putri.”
“Tak apa. Berdirilah, Pak. Tak enak dilihat yang lain,” perintah Yula. Bapak itu pun berdiri. “Lalu, ada masalah apa?” tanya Yula sekali lagi.
“Perkelahian dua suku, Tuan Putri. Walau memang sudah sering terjadi antar warga di sini, tapi pertengkaran ini sudah tiga hari dan para kepala suku tak ada yang mau mengalah. Kami masih ada penengah dan bersikap netral tapi tetap saja masing-masing kepala suku tak ada yang mau berdamai. Rencananya tadi kami mau mengutus salah seorang ke kerajaan untuk mendamaikan permasalahan ini.”
“Apa utusan itu telah pergi?” tanya Yula.
“Belum. Itu masih rencana kami.”
“Bagus. Kalau tidak akan jadi masalah baru di kerajaan. Biar aku saja yang mengatasinya.”
“Benarkah, Tuan Putri? Apa Tuan Putri sanggup?” heran bapak itu.
“Ehe? Sanggup gak sanggup kalau tak dicoba belum tentu, bukan?” jawab Yula ringan.
“Eh? Itu sama saja, Tuan Putri!” cemas bapak itu.
“Kak Lacus mau ikut? Aku mau berperan menjadi seorang Putri yang bijaksana hari ini.” Yula bersikap dewasa, matanya tampak bersemangat. Dalam pikirannya, jika ia berhasil menyelesaikan permasalahan di desa ini lalu terdengar oleh ayahanda dan kakaknya, pastinya hal itu bisa dijadikan satu kebanggaan dan ia mendapat kepercayaan dari dua laki-laki yang keras dengannya.
“Dengan senang hati, Putri Yula,” jawab Lacus menundukkan kepala sedikit dengan anggun.
Yula kembali ke kereta, mengendalikan kekang kuda agar menggiring kereta masuk ke dalam desa di mana dua suku sedang akan bertarung. Yula menghentikan kereta ditengah pertemuan dua suku yang akan bertengkar tersebut. Mereka kaget akan kedatangan kereta di antara mereka.
“Pertengkarannya sampai di sini!!” teriak Yula di atas kereta dengan posisi berdiri berkacak pinggang.
“Hei, anak kecil! Jangan ikut campur! Cepat keluar atau kau akan kena imbasnya!” kesal salah seorang dari mereka.
Yula menatap sinis pada kedua belah pihak. Ia kesal dibilang anak kecil. “Anak kecil?!” kesalnya, ia menahan amarahnya keluar. “Para petani. Para pengrajin besi...,” Yula menunjuk yang sepertinya kepala suku masing-masing, “di antara kalian yang merasa kepala suku, tunjuk tangan dan mari kita bicara dengan tenang di satu meja.”
“Huh, mana mungkin kita mau diperintah anak kecil. Memang kau siapa?” kata salah seorang dari suku pengrajin besi.
“Yula Athhra dari Kerajaan Hearthose.”
“Jangan mengambil nama keluarga kerajaan, Nak! Kau pasti suruhan kelompok netral untuk mendamaikan kami! Kami tak mau berdamai jika mereka tak mengakui kesalahan mereka!”
“Kami tak bersalah! Yang jelas kalian mulai duluan! Kami tak akan meminta maaf sedikitpun! Jangan meremehkan kelompok tani!”
“APA?!”
“APA??!!”
Yula tak tahan mendengar pertengkaran dua suku tersebut. Ia menghirup udara banyak ke dalam paru-parunya dan dikeluarkan hingga terjadi sedikit angin ribut. Lacus yang tahu apa yang akan dilakukan Yula, ia langsung mengumpat dalam bilik kereta menghindari angin ribut, ia tak mau roknya terkibas oleh angin.
“DIIAAAAAAM!!”
Yula pun menghempaskan magica angin ribut dari mulutnya ke arah para petani dan membuat mereka terpental. Dan juga magica tamparan angin ke arah para pengrajin besi, mereka semua berhasil tumbang. Yula kembali mengambil napas panjang, itu membuat mereka was-was akan gadis kecil itu kembali mengeluarkan magica angin ribut. Tapi Yula hanya mengembus angin kecil dari hidungnya.
“Huf, akhirnya diam juga. Hahaaa!” Yula tertawa puas. Ia kembali memberi tatapan intimidasi ke kedua suku. “Apa kalian sudah tahu aku siapa?”
“Magica angin hanya dikuasai oleh keluarga kerajaan Hearthose,” bisik salah seorang pada teman di sebelahnya.
“A-apa? Tak mungkin! Jangan-jangan....”
Kedua kepala suku langsung memberi hormat pada Yula dengan perasaan sangat malu. “Maafkan atas kelancangan kami, Tuan Putri. Kami tak menyadari kalau itu Anda.”
“Ya, gak apa-apa kok. Lagi pula salahku sendiri yang tak menampakkan diri. Penduduk di kota juga baru tahu aku pagi ini, jangan dipikirkan,” ujar Yula ringan.
Mereka semua tercengang.
“Jadi, apa bapak-bapak mau duduk bersamaku dan Tuan Putri Lacus Wallt di satu meja dengan tenang? Ah, aku juga mau ada hidangan teh dan kue. Bisa?” pinta Yula dengan khas anak-anaknya.
“Tu-Tuan Putri Woerlt?” kaget mereka hingga tak ada yang bergerak.
Lacus pun keluar dan melambaikan tangan pada mereka semua. “Selamat siang semua. Maaf, terlambat memperkenalkan diri,” sapanya dengan senyuman. Bibir tipisnya yang mengkilat berbentuk bulan sabit sempurna mampu memikat seluruh pasang mata yang memandang.
.
.
.
Yula, Lacus, kedua kepala suku dan kepala desa duduk bersamaan berhadapan pada sebuah meja bundar yang telah disuguhi cangkir-cangkir berisi teh hangat dan jamuan lainnya. Tak disangka bapak yang Yula temui sebelumnya ternyata Kepala Desa Hijau. Mereka dan para petinggi jabatan lainnya hadir memenuhi kantor kepala desa, yang lain menunggu di luar dengan tenang karena telah diancam oleh Yula.
“Jadi masalahnya karena meributkan di mana bagusnya meletakkan kincir air untuk sumber daya listrik dan perairan sawah. Kalau diletakkan di sini akan mengambil wilayah persawahan, tapi kalau diletakkan di sini akan mengambil lahan rumah orang. Tapi orang yang bersangkutan tak ada di rumah, wakilnya pun tak ada. Padahal kedua tempat ini berdekatan.”
Yula memperhatikan peta rencana perancangan kincir air dari Kepala Desa. Lahan sawah yang jika dipakai untuk kincir angin tak merelakan lahannya diambil takut terkurang stok beras mereka. Sedangkan lahan rumah yang kosong yang berdekatan dengan lahan sawah ialah milik salah seorang suku pengrajin besi yang sangat dihormati walau sudah tiada.
Suku pengrajin besi tak mau perkarangan rumah tersebut dipakai tanpa izin meski tak ada siapa pun wali dari rumah tersebut. Akhirnya mereka bertengkar dan berujung pada mengolok-olok suku satu sama lain.
Mereka sangat malu dikatai Yula bertingkah seperti anak kecil, karena itu keluar dari mulut seorang anak kecil. Lacus tertawa melihat situasi saat itu. Walau ia seorang Putri Kerajaan Woerlt, ia tak ada berhak ikut campur dalam masalah dari dalam kerajaan lain, ia hanya bisa memberi ide atau nasihat.
“Kalau begitu kenapa tak buat dua kincir air di dua tempat ini? Satu kincir untuk perairan sawah dan kincir satu lagi untuk sumber listrik perumahan bagian sana, jadi mereka bisa mendapatkan penerangan saat malam hari, bukan?” kata Yula yang secara spontan mengungkapkan idenya.
“Eh?” kaget Kepala Desa.
“Nanti kalau kincirnya tiba-tiba rusak, membuat gantinya memakan waktu, bukan? Nah, kalau buat dua untuk masing-masing fungsi mereka akan tahan lama. Belum lagi kalau salah satu rusak, fungsi kincir air satu lagi bisa dipakai untuk dua fungsi sementara kincir air lain dibuat. Untuk lokasi bagaimana mengambil masing-masing dua bagian ini? Biar aku yang meminta izin pada kedua pihak pemilik lahan. Bagaimana?”
“Ah, kenapa tak terpikir ke sana, ya?” ujar kepala suku petani.
“Benar juga,” kepala suku pengrajin besi setuju.
“Kalau begitu, buat apa membuang waktu? Mari kita bangun kincir air itu bersama-sama?” ajak Kepala Desa senang.
Mereka semua mengangguk setuju. Kedua kepala suku pun berjabat tangan mengakui kesalahan masing-masing dengan begitu kedua pihak akur kembali. Mereka saling bahu-membahu membuat dua kincir air tersebut.
Dengan Kepala Desa sebagai mandor, serta Yula dan Lacus melihat dari jauh, melihat keakuran dua suku tersebut hingga terlihat membaur satu sama lain. Hingga matahari terbenam dua kincir angin tersebut berhasil dipasang di dua tempat yang telah direncanakan. Semua bersorak riang saat kincir air tersebut bekerja dengan baik.
“Tidakkah sebaiknya Tuan Putri Yula dan Tuan Putri Woerlt menginap malam ini di sini? Perjalanan malam sangat berbahaya bagi para gadis,” saran Kepala Desa.
Yula menatap Lacus yang mengisyaratkan keputusan ada pada Lacus.
“Tentu. Jadi esok pagi kita memiliki tenaga penuh untuk melanjutkan perjalanan,” jawab Lacus pada Kepala Desa menetapkan keputusan. Yula senang mendengarnya. Ia selama ini belum pernah ke Desa Hijau, desa terujung dari Kerajaan Hearthose jadi ia bisa belajar tentang rakyatnya di luar kerajaan.
Kepala Desa menunjukkan tempat menginapan untuk Yula dan Lacus beristirahat. Kepala Desa memilih sebuah rumah yang ditempati oleh seorang wanita tua yang memiliki seorang cucu perempuan. Pemilik rumah dengan senang hati menunjukkan kamar tidur yang masih kosong dan memberi pelayanan yang terbaik bagi dua gadis penting itu walau mereka berdua menolak untuk diperlakukan khusus.
Untuk merayakan dua kincir angin yang telah dipasang dan kedamaian kembali dua suku tersebut serta kedatangan yang tak disangka dari Putri Kerajaan Hearthose dan Putri Woerlt, penduduk Desa Hijau mengadakan pesta di sebuah lapangan luas biasa mereka mengadakan pesta bersama dengan menyuguhkan makan-makanan dan minuman hasil ladang mereka serta tarian tradisional.
Hingga hampir tengah malam pesta berakhir. Lacus dan Yula kembali ke rumah tempat mereka menginap untuk beristirahat. Bagi kaum laki-laki mendapat tugas untuk membersihkan area pesta hingga bersih sedangkan yang perempuan kembali ke rumah masing-masing.
“Kamu berhasil menjadi seorang Putri yang baik di desa ini, Yula,” puji Lacus setiba mereka di kamar.
Yula tersanjung mendengarnya. “Iyah~ walau sebenarnya Yula tak percaya diri bisa mendamaikan pertengkaran orang dewasa.”
“Tak percaya diri?” heran Lacus. Tak terlihat dari sikapmu tadi, Yula!
“Mendengar permasalahan mereka Yula pikir pertengkaran mereka seperti anak kecil. Yula sendiri anak kecil, terus Yula juga sering melerai teman-teman kalau lagi berantem. Jadi Yula anggap mereka seperti melerai pertengkaran diantara teman-teman Yula. Hehee~,” jelasnya ringan.
Lacus tertawa kecil mendengar jawaban Yula. Tak disangka gadis kecil itu bisa melerai pertengkaran orang dewasa karena beranggap seperti pertengkaran antar temannya, ditambah dengan sikap polosnya dalam menghadapi situasi seperti itu. Tapi jujur, ia sangat kagum akan magica angin yang Yula keluarkan tadi siang.
Untuk pertama kali sejak mereka bertemu kembali dan kekuatan magica anak itu bertambah sangat pesat. Pantas Ratu Amaria mengusulkan Yula yang ikut, kekuatan magica-nya hampir sama dengan kakaknya, mungkin, pikir Lacus. Selain itu, Ratu pernah bercerita padanya kalau ternyata dari kecil Yula sangat rajin membaca buku-buku magica dan pengetahuan dunia di perpustakaan kerajaan hingga wawasannya lebih luas dibanding siapapun di Hearthose.
“Sudah tengah malam, sebaiknya kita tidur, Yula.”
“Hm!”
Yula naik ke keranjang tidur Lacus walau dalam kamar itu punya dua keranjang tidur. Seperti biasa Lacus mengelus kepala Yula dengan lembut sampai anak itu tertidur.
Kamu mengingatkan aku saat kecil, seumuran denganmu dan manja pada seseorang, ujar Lacus dalam hati. Ia menjadi teringat sosok yang sangat ia rindukan. Saat itu ia seusia Yula—saat itu Yula belum lahir—karena tak memiliki kakak perempuan ia sering ke Hearthose atau menjemput sosok kakak perempuan itu ke istananya untuk bermain. Lacus sangat manja pada sosok kakak perempuan itu, sama manjanya seperti Yula padanya saat ini.
Lacus sangat menyayangkan Yula tak begitu lama mengenal kakak sulungnya yang sudah delapan tahun menghilang. Apa rasa kehilangannya sama dirasakan oleh Yula? Ia tak tahu. Namun Lacus telah memutuskan untuk menjadi pengganti kakak perempuan bagi Yula meski ia tahu tak ada yang bisa menggantikan posisi itu.
Dalam tidurnya, Lacus melihat kakak sulungnya Yula. Seorang gadis yang lebih tua tujuh tahun darinya, merangkulnya agar bisa tidur nyenyak. Tanpa ia sadari dalam tidurnya ia menitikkan air mata kerinduan.