Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Para warga, yang telah sepenuhnya digelapkan pikirannya oleh fitnah dan provokasi keji Hana serta Rukmini, sepakat mengambil tindakan paling tidak manusiawi. Mengasingkan Nina dan putri kecilnya, Gendis ke dalam belantara hutan rimba di belakang desa. Pengasingan ini dijatuhkan tanpa batasan waktu yang jelas, sebuah hukuman kejam atas dosa perzinahan yang sama sekali tidak pernah dilakukan Nina. Tak ada belas kasihan yang ditunjukkan oleh warga desa, tak seorang pun menaruh iba pada linangan air mata Gendis yang masih balita.
Anehnya, Roni sendiri berdiri mematung dalam selubung rasa linglung. Ada gejolak asing yang menghantam pikirannya, sebuah kabut tebal yang melumpuhkan akal sehat. Entah mengapa, ia tidak sedikit pun berusaha mempertahankan atau mengambil hak asuh atas Gendis, anak perempuan yang dulu begitu ia manjakan. Roni hanya menatap kosong, membiarkan darah dagingnya ikut terseret menerima hukuman dari fitnah kejam tersebut.
Nina dan putrinya dipaksa berjalan jauh menembus semak belukar hingga tiba di sebuah gubuk reot terpencil. Gubuk itu hanya terbuat dari jalinan daun kelapa kering dan susunan ranting kayu lapuk yang tampak ringkih, seakan bisa runtuh diterjang angin kapan saja.
Begitu warga memaksa Nina tinggal di dalam gubuk dan melangkah pergi kembali ke desa, Hana justru bertahan sejenak. Perempuan itu melangkah mendekati Nina, menyunggingkan senyum sinis yang amat penuh kemenangan.
"Akhirnya... aku yang memiliki Roni lagi," desis Hana dengan suara pelan.
Nina mendongak, matanya yang sembab menatap tajam. "Apa maksudmu... memiliki lagi?" tanya Nina dengan tenggorokan tercekat.
Hana hanya tersenyum simpul tanpa menjawab, lalu berbalik pergi meninggalkan Nina yang terdiam dalam heningnya belantara.
Di dalam kesendirian yang menghimpit, Nina merenungkan kalimat itu. Pikirannya melayang pada masa lalu Roni sebelum mereka menikah. 'Apakah mungkin Hana adalah wanita dari masa lalu Mas Roni yang dulu pernah diceritakannya?' batin Nina. Seketika itu juga seluruh teka-teki menjadi terang benderang. Nina akhirnya paham akan motif obsesi gila yang mendorong Hana menghancurkan hidupnya.
Nina sungguh tak menduga itu semua.
Di dalam hutan, suasana terasa sangat lembap dan mencekam. Udara begitu pekat oleh aroma tanah basah dan pembusukan dedaunan liar, sementara sinar matahari nyaris tak sanggup menembus rimbunnya pepohonan purba yang menggantung tebal di atas mereka. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi dengan ranting yang saling bertautan, menciptakan bayangan gelap dan dingin di bawahnya.
Nina duduk merapatkan tubuhnya dengan Gendis, meresapi rasa dingin yang merayap hingga ke dalam tulang. Tanah di bawah tubuh mereka basah oleh sisa hujan, membuat napas terasa makin berat. Hutan ini telah menjadi penjara tanpa jeruji besi yang penuh penderitaan, di mana deru angin malam hanya membawa rasa gulana tanpa ketenangan. Namun, Nina tahu ia tidak boleh menyerah. Ia harus hidup demi Gendis.
Di tengah keputusasaan yang melilit jiwa, pandangan Nina yang kabur oleh air mata mendadak menangkap sebuah penampakan di antara bayangan pohon-pohon besar. Ia memicingkan mata, berusaha meyakinkan penglihatannya.
Di sanalah, berdiri di antara rimbunnya dedaunan dan kabut tipis hutan, sosok Nek Nilam.
Nina terperanjat, tubuhnya gemetar hebat namun tak sanggup bersuara. Sosok Nek Nilam tampak begitu nyata meski samar-samar, seperti wujud yang hadir di batas antara mimpi dan kenyataan. Wajah rentanya terlihat sendu, matanya yang teduh memancarkan kesedihan mendalam dan penyesalan karena tak sempat melindungi cucunya. Nek Nilam hanya berdiri menatap Nina dengan kehangatan cinta.
Meskipun terpisah dua dunia, kehadiran penampakan sang nenek memberikan sedikit helaan napas dan kehangatan di tengah dinginnya hutan. Nina merasa Nek Nilam tidak pernah benar-benar meninggalkannya, sang nenek masih menjaga dari alam yang berbeda.
*
Sementara itu, di rumah kontraan Hana Rukmini, dan Ruhi merayakan kemenangan mereka dengan pesta kecil. Di ruang tamu ketiganya berkumpul, tertawa, dan minum teh tanpa sedikit pun tersisa rasa penyesalan.
"Ini jauh lebih mudah dari yang kita bayangkan!" ujar Hana sembari membelai bibirnya yang berhias susuk. "Roni bahkan tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi!"
Rukmini mengangguk-angguk puas. "Dengan perginya Nina, kamu bisa bersama Roni sekarang."
Ruhi ikut tertawa renyah. "Tidak ada lagi wanita miskin itu yang menghalangi jalan kita."
Mereka bertiga tertawa di atas penderitaan Nina yang terbuang, merasa berada di puncak kejayaan tanpa menyadari bahwa roda kehidupan terus berputar dan karma sedang mengintai di sudut yang paling gelap.
Di rumah peninggalan Nek Nilam, Roni terduduk termenung di kursi teras. Pikirannya kusut bagai benang ruwet. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Nina memang bersalah dan pantas diusir. Namun, di ceruk hatinya yang paling dalam, ada bisikan nurani yang menolak pemikiran itu. Ada ikatan batin yang membuatnya enggan sepenuhnya membenci Nina.
Sayangnya, setiap kali keraguan itu muncul, Hana akan hadir melancarkan bisikan-bisikan dari bibirnya yang bersusuk emas, membungkam seluruh naluri Roni.
*
Waktu berjalan dengan cepatnya.
Tak butuh waktu lama, Hana resmi menikahi Roni dan memboyong seluruh barangnya untuk tinggal di rumah Nek Nilam. Hana menguasai setiap jengkal kehidupan Roni, memanipulasi pria itu hingga bayangan Nina dan Gendis perlahan memudar, tenggelam dalam kenikmatan semu yang disajikannya.
Hari-hari berlalu di hutan, Nina hanya bisa mengandalkan ubi kayu liar yang tumbuh di sekitar gubuk untuk bertahan hidup. Setiap pagi dan sore, jemarinya yang makin kurus menggali tanah lembap demi mendapatkan umbi-umbian kecil untuk mengganjal perut Gendis. Tubuh Nina dan anaknya kian menyusut, digerogoti kurang gizi dan dinginnya malam.
Suatu sore, suara mungil Gendis memecah hening gubuk. "Ibu... Yayah di mana?" tanya bocah itu polos, matanya yang bulat menatap sekeliling.
Nina merangkul erat putri kecilnya, mengusap kepalanya penuh kasih sembari menahan perih di dada. "Ayah sedang kerja, Sayang," jawab Nina dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Nina buru-buru menyapu air mata yang menetes di pipinya agar tak terlihat oleh Gendis. Baginya, Gendis adalah satu-satunya alasan untuk tetap bernapas.
Di tengah obrolan anak ibu itu, tiba-tiba...
Srek... srek...
Suara semak-semak yang terinjak terdengar mendekat. Nina seketika tegang, memasang tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Gendis. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi ancaman terburuk.
Namun, ketakutan itu seketika sirnah ketika sosok yang keluar dari balik pepohonan adalah Ustadz Imam dan istrinya, Bu Maya.
"Ustadz... Bu Maya..." bisik Nina bernapas lega.
Ustadz Imam dan Bu Maya melangkah mendekat dengan raut wajah yang amat prihatin melihat kondisi Nina yang kurus kering dan Gendis yang lelah.
"Nin. kami sangat mengkhawatirkan keadaan kalian," ujar Bu Maya mata berkaca-kaca, meremas lembut tangan Nina yang dingin. "Kamu tidak perlu menjalani penderitaan ini sendirian. Maukah kamu ikut dan tinggal di rumah saudara saya di desa sebelah? Agar kamu tidak perlu lagi mengasingkan diri di hutan ini."
Nina tertegun, terharu atas ketulusan hati pasangan suami istri tersebut. Namun, setelah merenung sejenak, Nina menggelengkan kepala secara halus.
"Terima kasih banyak, Ustadz, Bu Maya... Kebaikan Bapak dan Ibu sangat berarti bagi kami," tutur Nina tulus dengan suara lembut. "Tapi saya tidak ingin membawa masalah dan menyusahkan keluarga Ibu. Biarlah saya dan Gendis bertahan di sini sebentar lagi. Saya yakin Allah akan memberi kami kekuatan."
Bu Maya menghela napas berat, memahami keteguhan hati Nina. "Tawaran ini akan selalu terbuka untukmu kapan saja, Nina."
Ustadz Imam mengangguk dengan senyum hangat penuh hormat. "Kami akan selalu memantau dan membantumu dari jauh, Nina. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberikan keberkahan untukmu dan Gendis."
Ucapan terimakasih meluncur dari bibir Nina.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭