NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Wijaya Group Tumbang

Satu jam setelah Vivi meninggalkan kantor, tiga proyek Wijaya Group menghilang dari meja Sebastian.

Bukan secara harfiah. Berkasnya masih tersusun di depan sekretaris, tetapi semua akses pendanaan, pasokan, dan dukungan logistik dari Gunawan Group sudah dibekukan.

“Dua bank meminta peninjauan ulang jaminan mereka,” lapor sekretaris pria itu. “Tiga pemasok utama juga menunda pengiriman setelah menerima hasil audit sementara.”

Sebastian menandatangani surat terakhir. “Pernyataan resmi?”

“Sudah diterbitkan. Kami menyebut perbedaan standar tata kelola dan penyelidikan internal.”

“Rekaman CCTV?”

“Salinan asli diamankan tim hukum. Polisi sudah menerima laporan. Hanya potongan tanpa gambar sensitif yang disiapkan jika pihak Wijaya menyebarkan narasi palsu.”

Semua bersih. Legal. Bisa dijelaskan kepada pemegang saham dan media.

Terlalu ringan.

Sebastian menatap noda kecil pada manset kemeja yang belum sempat digantinya. Celine tidak berhasil menyentuh kulit, tetapi kuku perempuan itu pernah menggores kain saat Sebastian mundur.

Ia ingin membakar kemeja ini bersama seluruh rumah keluarga Wijaya.

Namun, Vivi berkata beri jalan keluar.

Ia tidak mengatakan jalan itu harus nyaman.

“Pak Sebastian,” sekretarisnya memanggil hati-hati. “Ketua direksi Wijaya Group sudah menunggu di ruang rapat. Bersama dua anggota dewan.”

“Biarkan mereka masuk.”

Tiga pria berusia lebih tua memasuki kantor dengan wajah tegang. Tak satu pun duduk sebelum Sebastian memberi izin. Ayah Celine berdiri paling depan, membawa map permohonan maaf dan jaminan tertulis.

“Kami menarik diri dari tiga proyek,” katanya. “Celine juga akan dikirim ke luar negeri malam ini. Dia tidak akan menghubungi Bu Vivian atau keluarga Winata lagi.”

Sebastian membuka map itu.

Ada surat pengunduran diri Celine dari seluruh posisi perusahaan, pernyataan tidak mendekati Vivi, dan kuasa kepada tim hukum untuk mengakses perangkat yang dipakai dalam pertemuan tadi.

“Kalian terlambat mendidiknya,” ujar Sebastian.

Ayah Celine menunduk. “Kami mengakui kesalahan itu.”

“Dia menyuruh istriku menceraikanku.”

Tak seorang pun berani menjawab.

“Kalau satu pesan, hadiah, atau orang suruhan mendekati Vivi setelah hari ini, semua bukti akan kubuka. Bukan hanya rekaman kantor. Audit kalian juga.”

Wajah dua anggota dewan berubah pucat.

“Kami mengerti,” jawab ayah Celine.

Sebastian menutup map. “Kalian boleh pergi.”

Tiga pria itu mengembuskan napas lega terlalu cepat.

Sebelum mereka mencapai pintu, sekretaris Sebastian masuk membawa pembaruan lain.

“Pernyataan Wijaya Group sudah diterbitkan. Dewan mencopot Nona Celine dari seluruh jabatan dan meminta maaf secara terbuka kepada Bu Vivian Gunawan.”

Ia memutar tablet agar semua orang melihat. Nama Celine berada di urutan teratas pencarian bisnis. Potongan pernyataan dewan sudah menyebar ke grup WhatsApp investor dan akun berita korporasi. Dua acara amal menghapus namanya dari daftar panitia. Sebuah merek perhiasan membatalkan kerja sama dalam hitungan menit.

Ayah Celine memejamkan mata.

“Kami akan menghentikan rumor sebelum berkembang,” katanya.

“Tidak,” jawab Sebastian. “Biarkan orang tahu dia kehilangan jabatan karena melanggar batas di kantor orang lain. Kalian boleh melindungi wajah perusahaan, bukan menghapus akibat perbuatannya.”

Ketua direksi mengangguk kaku. Permintaan maaf itu tetap tayang. Tidak ada uang atau koneksi keluarga yang diizinkan menenggelamkannya.

Mereka mengira pertemuan itu akhir hukuman.

Mereka salah.

***

Celine menunggu penerbangan malamnya di sebuah ruangan tanpa jendela di bawah gedung Gunawan Group.

Ruangan tersebut biasanya dipakai tim keamanan untuk memeriksa pelanggaran internal sebelum diserahkan kepada pihak berwenang. Tidak ada kamera perusahaan di dalamnya. Hanya meja logam, dua kursi, dan lampu putih yang terlalu terang.

Celine duduk dengan pergelangan tangan terikat di depan tubuh. Blusnya sudah rapi, tetapi maskara menghitam di bawah mata.

“Ayahku sudah meminta maaf,” katanya saat Sebastian masuk. “Kamu sudah menghancurkan tiga proyek. Apa lagi yang kamu mau?”

Sebastian mengenakan sarung tangan kulit hitam.

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia meletakkan ponsel di meja dan memutar rekaman kantor. Suara Celine memenuhi ruangan.

Kamu cuma istri kontrak. Cerai saja.

Sebastian menghentikan video tepat pada kata terakhir.

“Tangan mana yang hendak kamu pakai untuk menyentuhku?”

Celine menegang. “Apa?”

“Tangan kanan.” Sebastian menjawab sendiri. “Aku melihatnya.”

Ia membuka ikatan pergelangan Celine hanya untuk menarik tangan kanannya ke atas meja. Perempuan itu berusaha melawan. Sebastian menekan punggung tangannya dengan ujung tongkat logam pendek yang biasa dibawa kepala keamanan.

“Sebastian, jangan gila.”

“Kamu membuka pakaian tanpa persetujuanku. Kamu mencoba menyentuhku. Lalu kamu menaruh kata cerai di kepala istriku.”

“Aku tidak menyakitinya!”

Tekanan tongkat turun pada telunjuknya.

“Kamu membuatnya takut.”

Celine berteriak ketika sendi jarinya bergeser dengan bunyi kering. Sebastian berhenti sebelum tulangnya patah total. Cukup untuk membuat tangan itu dibalut selama berminggu-minggu. Cukup untuk meninggalkan ingatan setiap kali ia hendak menyentuh orang tanpa izin.

Air mata Celine jatuh ke meja.

Sebastian melepaskan tekanan dan membersihkan ujung tongkat dengan tisu disinfektan.

“Ini kesempatan keluar yang diminta Vivi untukmu,” katanya. “Pesawatmu berangkat dua jam lagi. Naiklah. Jangan kembali.”

“Kalau polisi tahu...”

“Katakan kepada mereka.”

Celine menatapnya dengan napas terputus-putus.

Sebastian meletakkan formulir pemeriksaan medis di depannya. Dokter swasta sudah menunggu di mobil yang akan membawanya ke bandara. Cedera itu akan ditangani. Tak ada cacat permanen, selama Celine mematuhi terapi.

Ia tidak membutuhkan perempuan itu rusak selamanya.

Ia hanya membutuhkan rasa takutnya bertahan lebih lama daripada penerbangan.

“Kalau kamu menyebut nama Vivi lagi,” lanjut Sebastian, “jari berikutnya tidak akan mendapat dokter.”

Celine mengangguk cepat.

Sebastian keluar tanpa menoleh.

Di lorong, sekretarisnya menunggu dengan tablet.

“Mobil menuju bandara siap, Pak. Ayahnya sudah menandatangani berita acara bahwa cedera terjadi saat Nona Celine melawan petugas keamanan.”

“Pastikan dia naik pesawat.”

“Baik.”

“Dan bersihkan ruangan itu.”

Ia melepas sarung tangan, memasukkannya ke kantong limbah, lalu mencuci tangan di wastafel lorong. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Bayangan kulit Celine masih terasa kotor meski tak pernah menyentuhnya langsung.

Malam itu, Sebastian baru meninggalkan kantor setelah menerima konfirmasi bahwa Celine sudah melewati pemeriksaan imigrasi dan naik ke pesawat.

***

Keesokan siangnya, ia baru selesai rapat ketika ponselnya bergetar di atas meja kerja.

Nama Vivi muncul di layar.

Sebastian berhenti mencuci.

Tiga foto masuk berturut-turut.

Pada foto pertama, Vivi mengenakan pakaian renang putih dengan tali lebar dan rok pendek. Foto kedua berwarna biru gelap, menutupi perut tetapi memperlihatkan garis bahu. Foto ketiga berwarna hijau muda, sederhana di bagian depan, tetapi sisi pinggangnya terbuka.

Semua cukup sopan untuk dipakai di tempat umum.

Semua terlalu terbuka untuk dilihat siapa pun selain dirinya.

Sebuah pesan suara menyusul.

Sebastian menekan tombol putar.

“Sebas,” suara Vivi terdengar lembut, sedikit malu. “Kamu suka yang mana?”

Sebastian menatap tiga foto itu sampai dadanya terasa sesak. Tangan yang tadi tidak gemetar saat menekan jari Celine kini meremas laporan rapat hingga kertasnya berkerut.

Ia mengunci pintu kantor, berbalik, lalu berjalan cepat menuju ruang istirahat pribadinya.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!