NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Ujian Pertama di Dunia Kerja

Matahari siang memantulkan kilau memukau di atas dinding kaca gedung Perusahaan Zena. Alya berdiri di pelataran depan, membetulkan letak blazer hitam sederhananya yang dibeli beberapa tahun lalu. Napasnya terengah halus, ada desir gugup yang mengalir deras di dalam dadanya. Ini adalah kali pertama ia kembali melangkahkan kaki ke dunia profesional setelah tiga tahun mengurung diri dalam ikatan pernikahan yang hampa.

Mengingat perlakuan ibunya tadi pagi, Alya menegakkan dadanya. Ia tidak boleh gagal. Ia harus membuktikan bahwa dirinya sanggup berdiri tegap di atas kakinya sendiri.

"Alya Pramudya?" seorang staf wanita menyapa saat Alya memasuki ruang tunggu lantai lima.

"Iya, Saya Alya," jawab Alya ramah, mengulas senyum terbaiknya.

"Silakan masuk ke ruang wawancara nomor tiga. Bapak Manajer HRD sudah menunggu Anda."

Alya mengangguk sopan, melangkah dengan penuh percaya diri mengetuk pintu kayu jati yang kokoh tersebut. Setelah mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk, Alya memutar gagang pintu dan melangkah pelan.

Di balik meja kerja raksasa yang tertata rapi, duduk seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kemeja bermerek dengan kancing atas yang sengaja dibuka, menampilkan kesan arogan. Namanya Dion—Manajer HRD Perusahaan Zena yang baru menjabat beberapa bulan, sekaligus kerabat jauh dari Keluarga Surya.

Dion menatap Alya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matanya meneliti lekuk tubuh Alya yang anggun meski hanya dibalut pakaian formal sederhana. Sebuah ukiran senyum tipis yang sarat akan niat terselubung terbit di wajahnya.

"Silakan duduk, Nona Alya," ujar Dion dengan nada suara yang dibuat-buat ramah.

"Terima kasih, Pak Dion," Alya duduk dengan posisi tegap, menyerahkan berkas fisik portofolio dan resume miliknya.

Dion mengambil berkas itu, namun alih-alih membaca pencapaian dan kualifikasi akademik Alya, matanya justru sibuk memperhatikan wajah Alya yang bersih tanpa riasan tebal. Ia membolak-balik lembaran kertas itu dengan malas.

"Alya Pramudya... lulusan terbaik jurusan Manajemen Konstruksi dan Perencanaan," Dion tertawa kecil, menyandarkan tubuhnya ke kursi rotan mewahnya. "Latar belakang akademikmu cukup mengesankan. Tapi... jujur saja, riwayat kerjamu kosong selama tiga tahun terakhir. Di dunia industri yang bergerak cepat seperti Perusahaan Zena, celah tiga tahun itu adalah nilai minus yang sangat besar."

Alya menahan napas sejenak, mempertahankan profesionalismenya. "Saya memahami hal itu, Pak Dion. Namun selama tiga tahun terakhir, saya tetap mengikuti perkembangan industri properti dan terus memperbarui keahlian analisis manajemen saya. Saya yakin kualifikasi dan konsep proyek yang saya sertasikan di lembar lampiran bisa memberi nilai tambah bagi Zena."

Dion terkekeh pelan. Ia sengaja menggeser kursinya mendekati meja, meletakkan kedua lengannya di atas permukaan kayu, lalu menatap Alya dengan tatapan melecehkan.

"Konsep? Kualifikasi?" Dion menggeleng-gelengkan kepala seolah prihatin. "Nona Alya, kamu harus sadar posisi. Di luar sana, ada ribuan pelamar dengan pengalaman tanpa jeda yang mengantre untuk posisi Manajer Proyek ini. Lagipula, aku tahu siapa kamu. Kamu adalah mantan istri dari pria benalu yang kemarin diusir dari rumah keluarga Pramudya, kan?"

Jantung Alya berdegup kencang. Wajahnya mendadak pucat. Ia tidak menyangka berita perceraiannya dan desas-desus mengenai Reno sudah menyebar hingga ke ruang wawancara ini.

"Pak Dion, kita di sini untuk membahas kualifikasi pekerjaan saya, bukan urusan pribadi," tegur Alya lembut, mencoba menahan rasa tersinggung yang mulai membakar dadanya.

"Urusan pribadi justru menentukan nilai tawarmu, Alya," Dion tersenyum picik. Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga berhenti tepat di samping kursi Alya. Aroma parfum menyengat menusuk hidung Alya.

Dion membungkukkan badan, mendekatkan wajahnya ke telinga Alya hingga membuat wanita itu refleks bergeser mundur.

"Keluargamu sedang diambang kehancuran, bukan?" bisik Dion dengan nada rendah yang menjijikkan. "Aku tahu Keluarga Pratama telah memutus semua pasokan dana untuk keluargamu. Tanpa pekerjaan ini, kamu dan orang tuamu akan menjadi gelandangan di kota ini. Lagipula, Keluarga Surya yang memiliki pengaruh besar di kota ini adalah kerabatku. Jika aku berkehendak, jangankan di Zena, di seluruh perusahaan di kota ini kamu tidak akan pernah diterima bekerja."

Alya mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Matanya menatap Dion dengan ketegangan yang membuncah. "Apa maksud Anda?"

Dion menyunggingkan senyum kemenangan. Ia menyentuh sudut meja, menatap Alya dari atas ke bawah dengan pandangan penuh nafsu.

"Maksudku sangat sederhana. Posisi Manajer Proyek ini memiliki gaji puluhan juta per bulan, ditambah komisi proyek yang fantastis. Aku bisa memberikan posisi ini kepadamu hari ini juga. Bahkan, aku bisa memastikan karirmu melonjak cepat di perusahaan ini."

Dion menghentikan kalimatnya, lalu memajukan tangannya berniat menyentuh dagu Alya. "Syaratnya sangat mudah, Alya. Jadilah wanitaku. Temani aku beberapa malam dalam seminggu, dan semua masalah finansialmu akan selesai. Lagipula, suamimu yang dulu kan hanya pria tak berguna. Kamu pasti sudah lama tidak merasakan kemewahan dan perlindungan dari pria berkuasa sepertiku, kan?"

Mendengar kata-kata yang begitu merendahkan martabatnya, darah Alya berdesir hebat. Amarah yang meledak menyapu bersih rasa takut dan kegugupannya. Perlakuan ibunya yang matrealistis sudah cukup menyiksanya, dan kini seorang pria asing mencoba membeli kehormatannya seolah ia adalah barang dagangan murah!

*PLAK!*

Suara tamparan nyaring bergema kuat di dalam ruang wawancara yang sunyi itu.

Dion tersentak hebat. Wajahnya terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang membekas jelas di pipi kirinya. Ia memegangi pipinya dengan mata terbelalak tidak percaya.

Alya berdiri dari kursinya dengan tubuh gemetar membakar. Matanya menyalakan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapannya tajam menembus Dion.

"Jaga mulutmu, Dion!" tegas Alya dengan suara lantang yang sarat akan martabat. "Saya datang ke sini untuk melamar pekerjaan berdasarkan kualifikasi dan kerja keras saya, bukan untuk menjual diri saya! Kamu hanyalah seorang manajer yang menyalahgunakan kekuasaan demi memuaskan nafsu bejatmu!"

Dion meringis kesakitan, matanya mendadak berubah merah penuh dendam dan kebuasan. Harga dirinya sebagai seorang pria dan pejabat perusahaan hancur berkeping-keping oleh tamparan seorang wanita yang ia anggap tak berdaya.

"Berani-beraninya kamu menamparku, wanita tidak tahu diri?!" geram Dion dengan suara berat membendung amarah. Ia maju satu langkah, menunjuk muka Alya dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kamu pikir kamu siapa?! Kamu hanyalah wanita buangan dari keluarga jatuh miskin!"

Alya merapikan blazernya, menyambar tas dan berkasnya dari atas meja dengan gerakan cepat namun anggun.

"Saya mungkin butuh pekerjaan, tapi saya tidak akan pernah menjual kehormatan saya demi selembar posisi beracun seperti ini," kata Alya dingin. "Perusahaan sekelas Zena sangat tidak layak memiliki manajer sampah sepertimu."

Alya berbalik, berniat melangkah lebar menuju pintu keluar. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Dion berteriak histeris menekan tombol sakelar panggil di dinding dekat mejanya.

"Satpam! Masuk sekarang juga!" teriak Dion berapi-api.

Hanya dalam hitungan detik, pintu terbuka dan dua orang petugas keamanan berseragam lengkap menerobos masuk ke dalam ruangan.

"Pak Dion, ada apa?" tanya salah satu satpam panik melihat bekas tamparan di wajah atasannya.

"Tahan wanita itu!" perintah Dion seraya menunjuk Alya dengan wajah bersimbah amarah. "Dia mencoba mencuri dokumen rahasia perusahaan dan menyerangku saat wawancara! Seret dia keluar dari gedung ini, lempar dia ke jalanan, dan pastikan namanya dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh industri di kota ini! Biarkan dia membusuk tanpa pekerjaan!"

Kedua satpam itu langsung bergerak maju, hendak mencengkeram kedua lengan Alya secara kasar. Alya mundur satu langkah, mencoba membela diri. "Jangan sentuh saya! Dia berbohong! Dia yang mencoba melecehkan saya!"

"Diam kamu! Seret dia!" bentak Dion puas, mengulas senyum kemenangan yang kejam. Ia ingin melihat Alya berlutut dan menangis memohon ampun padanya.

Namun, tepat saat jemari kasar salah satu satpam hampir menyentuh pakaian Alya, sebuah suara deburan keras menghantam pintu utama lorong direksi. Pintu ganda berukiran emas di ujung lorong luar mendadak terbuka lebar dengan dentuman dahsyat, mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!