Blurb :
"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.
Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.
"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.
Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.
Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Lunch box
“Assalamualaikum ….”
“Waalaikumussalam …,” sahut Ammar menoleh ke arah pintu. Ia tampak mengerutkan keningnya.
“Loh. Ini ada apa, ya?” Ia tak menyangka bahwa Nadeen akan muncul tiba-tiba di hadapannya.
Nadeen masih berdiri di ambang pintu. Dia ragu untuk melangkah. “Bolehkah saya masuk, Pak Ammar?” tanyanya. Dia khawatir Ammar akan keberatan dengan kedatangannya.
“Ya ... karena kalian sudah datang, tentu saja harus masuk. Mana mungkin saya mengusir kalian.”
“Saya bisa lihat dari wajah Pak Ammar, saat ini pasti sedang merasa heran. Kenapa saya dan Hanin bisa sampai di sini?” Nadeen mulai melangkah masuk sambil kembali menarik tangan Hanin.
“Itu karena ... seingat saya belum ada siapa pun yang diberitahu kecuali bude tentang keadaan saya ini,” ucap Ammar seraya membenahi posisi duduknya.
“Dan memang budenya Pak Ammarlah yang memberitahu saya lewat telepon. Maaf jika kedatangan saya mengganggu.”
“Sebenarnya saya baik-baik saja. Kalian tidak perlu repot-repot datang ke sini, bukannya kalian harus kuliah sekarang?”
“Syukurlah kondisi Pak Ammar sudah membaik.”Hanin menatap jam tangannya.
“Sebenarnya saya masih ada satu mata kuliah lagi, kalau boleh saya mau pamit kembali ke kampus,” ucapannya membuat Nadeen lebih mengeratkan genggaman tangannya.
“Nin, kita berangkat bareng, kembali ke kampus pun harus bareng.” Nadeen mempertajam tatapannya.
“Baiklah. Karena saya sudah tidak apa-apa, dan saya memang sudah bisa pulang sekarang. Jadi kalian pun bisa kembali ke kampus. Silakan ….”
“Saya akan memastikan dulu Pak Ammar pulang ke rumah dengan selamat, karena ini amanat dari Bu Astuti.”
Ammar hanya menunduk karena merasa kesulitan untuk menolak maksud baik Nadeen, tetapi dia juga merasa tak enak jika harus merepotkannya.
“Pak Ammar jangan khawatir, kita akan naik taksi yang berbeda. Saya hanya akan mengikuti dari belakang. Setelah Pak Ammar sampai rumah, saya pun akan pulang.” Nadeen coba memecahkan kebingungan yang terlihat di raut wajah Ammar.
“Baiklah, kita percepat saja, supaya kalian bisa cepat kembali.” Ammar bangun dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pulang.
“Sebenarnya saya hanya merasa tidak enak karena harus merepotkan kalian. Padahal saya ini kan sudah tidak apa-apa.”
Nadeen membereskan barang-barang milik Ammar. Sebuah jaket dan sepasang sepatu serta dompet yang tergeletak di meja. Sebelum mengantar Ammar menyelesaikan administrasi rumah sakit, dia sudah memesan dua taksi online yang salah satunya untuk di tumpangi Ammar menuju pulang ke rumah budenya. Sementara satu taksi ia naiki bersama Hanin.
“Nad, sepertinya aku gak bisa ikut kuliah karena sudah telat. Jadi, aku langsung pulang aja, ya. Toh, Pak Ammar juga bentar lagi nyampe rumahnya.”
“Baiklah. Aku minta maaf, ya, Nin. Udah ganggu waktu kuliah kamu, soalnya tidak ada cara lain lagi.”
“Aku mengerti, Nad. Kalian tidak bisa jika hanya berdua-duaan saja, 'kan?” Hanin tersenyum sambil membuang napasnya. Ia turun di depan rumahnya yang memiliki jarak lebih dekat dari rumah sakit itu. Tinggallah Nadeen seorang diri di dalam taksi. Dia turun setelah Ammar masuk ke dalam rumahnya, barulah ia pulang ke tempat kost.
Bu Astuti yang saat ini sedang mengunjungi anaknya yang menikah dan juga menetap di negeri Jiran Malaysia, mengatakan bahwa dirinya belum bisa pulang karena harus menemani menantunya yang baru saja melahirkan.
“Haruskah aku mengingatkan Pak Ammar, supaya tidak telat makan selama Bu Astuti tidak di rumah?” Dia hanya berpikir seraya memainkan ponsel lalu mengetik sebuah pesan singkat, tetapi urung dia kirimkan.
Akhirnya, Nadeen mencoba untuk memasak sesuatu dengan resep yang ia temukan di internet. Makanan itu ia simpan di meja teras rumah Bu Astuti. Setelah itu dia kirim pesan supaya Ammar mengambil dan memakannya. Tak lama kemudian Ammar membalas pesan Nadeen.
[Syukron, Ukhty …]
Dia juga mengirimkan foto makanan yang sudah hampir habis dimakannya.
Nadeen hampir tak percaya jika Ammar benar-benar menghabiskan makanan itu, karena Nadeen tahu sendiri bahwa dirinya tidak pandai memasak.
“Jangan-jangan dia hanya berpura-pura menghabiskannya padahal dia buang karena masakanku sangat tidak enak.”
[Kemana perginya makanan itu? Apakah Pak Ammar sudah membuangnya? ….]
[Iya, aku membuangnya ke dalam perutku ….]
Senang sekali Nadeen dengan pesan itu sampai berulang-ulang dia terus membacanya. Bertambahlah semangat Nadeen untuk belajar memasak.
Entah apa yang membuat Nadeen seperhatian itu, hingga pagi sebelum berangkat ke kampus pun ia sempatkan menyiapkan kotak makan untuk Ammar.
Di persimpangan jalan ia menunggu Ammar. Dari kejauhan dia tunjukkan kotak itu lalu ia letakkan supaya Ammar bisa mengambilnya saat lewat di sana.
Setelah Ammar mengambilnya, ia segera mengirim sebuah pesan singkat.
[Ukhty, kenapa kamu merepotkan dirimu sendiri dengan membuatkan saya makanan tiap hari?]
[Jangan khawatir saya bisa membelinya jika sudah lapar, nanti. Gunakan saja waktumu untuk belajar ….]
Nadeen membalasnya setelah selesai mata kuliah pertama.
[Saya sedang belajar memasak. Saya yakin rasanya tidak enak jadi saya tidak akan tersinggung, sekali pun Pak Ammar tidak memakannya ….]
Ammar selalu mengirimkan foto kotak makannya setelah dia menghabiskan semua, untuk menghibur hati Nadeen karena dia sudah berbaik hati padanya.
...▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬...
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
...الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ...
“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)
...▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬...
Semangat, Kak. 😍😍
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
aku menanti cepat lah cepat lah