NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 #Benteng Pelindung

Tangisan Kaivandra tidak juga mereda. Bisikan beracun dari sang kakek dan kenyataan pahit tentang perceraian kedua orang tuanya terlalu berat untuk ditampung oleh dada kecil bocah enam tahun itu. Pelukan hangat Gibran pun tak lagi mampu menenangkannya. Di dalam benak Kai, hanya ada satu hal yang ia inginkan saat ini, kembali ke pelukan hangat mamanya.

"Kai mau pulang, Papa... Kai mau sama Mama! Kai tidak mau di sini!" jerit Kai terisak-isak, meremas kuat kerah kemeja Gibran.

Gibran memejamkan mata erat-erat. Hatinya hancur berkeping-keping melihat penderitaan putranya. Ego keras yang biasanya mendominasi sikap sang CEO seketika runtuh total. Pria itu menatap Asri yang berdiri di sudut kamar dengan raut iba.

"Toni! Siapkan mobil sekarang!" perintah Gibran dengan suara tegas yang bergetar menahan emosi.

"Baik, Pak!" sahut Toni, asisten pribadinya, yang bergegas turun ke lantai bawah.

Gibran menggendong tubuh kecil Kaivandra, menyandarkan kepala putranya di bahunya. Langkah-langkah lebarnya menuruni tangga rumah utama keluarga Aditama dengan terburu-buru.

"Gibran! Mau kamu bawa ke mana cucuku malam-malam begini?!" Wira Aditama berdiri menatap putranya dengan wibawa yang tajam dan nada suara memburu. "Jangan biarkan anak itu kembali pada wanita pengkhianat itu!"

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gibran mengabaikan panggilan sang ayah sepenuhnya. Pria itu bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya hanya makin erat merengkuh Kaivandra yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gibran, menangis sesenggukan. Gibran melangkah lurus melewati sang ayah, menerobos pintu depan menuju mobil sedan hitam yang pintunya sudah dibukakan oleh Toni.

"Jalan, Toni. Ke rumah Bening," ujar Gibran dingin begitu pintu mobil tertutup rapat.

..

Sementara itu, di sebuah rumah sewa sederhana di pinggir kota, suasana malam terasa sunyi namun riuh oleh dentang loyang dan aroma adonan. Bening masih sibuk di dapurnya. Keringat tipis membasahi pelipisnya saat jemarinya yang terampil merapikan dekorasi krim di atas kue pesanan pelanggan untuk esok pagi. Usaha kecil-kecilan ini adalah satu-satunya napas kehidupan bagi Bening dan Kai.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras dan kasar menghantam pintu depan rumahnya. Suaranya bergema nyaring, memecah keheningan malam dan mengejutkan Bening yang sedang memegang kantung semprotan krim.

Bening menarik napas panjang. Jantungnya berdebar tidak tenang. Ritme ketukan yang tidak sabaran dan cenderung merusak itu amat sangat ia kenali. Tanpa perlu mengintip lewat jendela, Bening sudah tahu pasti siapa yang berdiri di balik pintu kayu rumah sewanya.

Dengan langkah pelan dan hati yang cemas, Bening berjalan menuju ruang tamu lalu memutar gagang pintu.

Begitu pintu terbuka, sosok pria berbadan agak tegap berdiri di sana dengan raut wajah ketus. Hendra. Kakak kandung Bening sendiri.

"Ada apa, Kak?" tanya Bening mencoba bersikap tenang, meski rasa cemas sudah menggerogoti dadanya.

"Jangan banyak tanya!" semprot Hendra kasar tanpa basa-basi, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Mana uang bulanan untuk Ibu dan Ayah? Kamu belum kirim lagi!"

Bening mengerutkan keningnya, menatap sang kakak dengan nada tidak percaya. "Kak... minggu lalu aku sudah mengirimkannya ke rekening Kakak. Aku sudah kirim dua juta rupiah."

Hendra meludah ke samping, menatap Bening dengan pandangan menghina. "Dua juta doang?! Mana cukup zaman sekarang, Bening! Semua harga kebutuhan pokok lagi naik! Kamu pikir dua juta itu besar?!"

"Kak, aku hanya mampu memberi segitu..." Bening menahan getaran pada suaranya, berusaha membela diri. "Aku harus menyisihkan sisanya untuk menabung biaya sekolah Kaivandra. Kai sebentar lagi mau masuk Sekolah Dasar, Kak. Aku mau putraku mendapatkan pendidikan yang terbaik."

Bukannya tersentuh, Hendra justru menyeringai mengejek. Tawa culas meluncur dari mulutnya.

"Hahaha! Pendidikan terbaik?" ejek Hendra dengan nada sinis yang menyakitkan. "Anak dari wanita nakal sepertimu berharap bisa dapat pendidikan tinggi? Dengarkan ya, Bening... mau berpendidikan tinggi sampai ke ujung dunia pun, anak itu tidak akan pernah bisa mengubah statusmu sebagai wanita pengkhianat yang mengotori nama keluarga!"

Deg.

Kata-kata itu bagai sembilu yang mengiris tepat di ulu hati Bening. Telinganya seketika terasa panas, dan hatinya remuk tak berkeruan.

Hendra, pria yang memiliki darah yang sama dengannya, kakak yang sejak dulu sangat ia hormati, selalu saja mengungkit fitnah perselingkuhan keji tujuh tahun lalu. Hendra tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah mau tahu, bahwa semua penderitaan, caci maki, dan keterbuangan ini diterima Bening demi melindungi keselamatan keluarga mereka sendiri dari ancaman kekejaman Wira Aditama. Bening menelan semua kehancuran itu sendirian agar Hendra dan kedua orang tua mereka bisa tetap hidup tenang.

Namun inilah balasan yang ia dapatkan, hinaan tanpa henti dari keluarganya sendiri.

"Kak... hina aku sesukamu," bisik Bening dengan mata yang mulai menggenang basah. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Hina aku sesukamu, Kak... tapi tolong, jangan pernah bawa-bawa nama Kai dalam masalah ini!"

"Sudah! Tidak usah banyak bicara dan sok suci!" potong Hendra kasar, mendorong bahu Bening hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Hendra mencoba menerobos masuk ke dalam rumah. "Mana uangnya sekarang?! Kalau kamu tidak mau kasih uang tambahan, aku acak-acak semua kue pesanan pelangganmu di dapur!"

"Tidak! Jangan, Kak! Jangan lakukan itu!" Bening panik luar biasa. Ia bergegas pasang badan, merentangkan kedua tangannya di ambang pintu untuk menghalangi jalan masuk Hendra. "Kak, aku mohon... aku beneran tidak ada uang lagi. Uangku sudah habis untuk beli bahan kue dan bayar sewa..."

Air mata Bening akhirnya menetes melintasi pipinya yang pucat. Ia menangis terisak, menahan tubuh kakaknya yang bersikap seperti preman.

"Minggir tidak?!" gertak Hendra mengangkat tangannya, bersiap melayangkan dorongan yang lebih keras.

Namun, gerakan Hendra terhenti seketika saat sorot lampu tembak yang sangat silau menghantam wajahnya. Suara gesekan ban mobil mewah yang mengerem mendadak di atas tanah berkerikil halaman rumah Bening memecah kegelapan malam.

Sebuah sedan hitam berhenti terparkir sempurna di sana.

Pintu mobil terbuka lebar. Gibran turun dari kursi penumpang belakang. Wajah sang CEO tampak sangat kaku, dengan rahang yang mengeras dan iris mata yang memancarkan kilatan amarah yang teramat dingin dan membunuh. Di tangannya, ia menuntun Kaivandra yang matanya sembap.

Melihat sosok mamanya menangis di ambang pintu, Kaivandra langsung melepaskan genggaman tangan Gibran. Bocah kecil itu berlari kencang menerobos halaman, melompat ke dalam pelukan Bening.

"Mama...! Mama kenapa menangis...?" jerit Kai memeluk erat pinggang Bening. Bocah itu mendongak, lalu menunjuk Hendra dengan wajah penuh permusuhan. "Papa! Om Hendra bikin Mama menangis lagi, Pa! Om Hendra jahat sama Mama!"

Kaivandra mengadu pada papanya dengan suara nyaring yang gemetar.

Dada Hendra seketika berdegup kencang karena terkejut luar biasa. Langkah kakinya yang hendak merangsek masuk mendadak membeku di tempat. Otaknya bekerja keras mencoba memproses situasi di depannya. 'Kaivandra bersama Gibran Aditama? Kenapa anak ini memanggil Gibran dengan sebutan Papa? Apa hubungan Bening dan mantan suaminya sudah membaik?!'

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepala Hendra. Namun, sebelum sempat satu patah kata pun meluncur dari mulutnya untuk bertanya, Gibran sudah melangkah maju.

Setiap helai aura kepemimpinan dan intimidasi yang dimiliki Gibran seolah menekan udara di sekitar tempat itu. Pria bertubuh tinggi itu berdiri di depan Bening dan Kai, memasang tubuhnya sebagai benteng kokoh yang melindungi mantan istri dan anak kandungnya.

Gibran menatap Hendra dengan tatapan mata yang begitu tajam, dingin, dan sarat akan ancaman mematikan, sebuah tatapan dari seorang penguasa yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyentuh miliknya.

Nyali Hendra seketika menciut habis. Rasa culas dan garang yang tadi ia tunjukkan pada Bening menguap tanpa bekas, berganti dengan rasa takut yang mencengkeram kuduknya.

Tanpa berani menguarkan sepatah kata pun atau menanyakan soal uang lagi, Hendra buru-buru mundur beberapa langkah. Ia memutar tubuhnya dan berlari setengah terbirit-birit melintasi pelataran rumah sewa Bening, menghilang menembus kegelapan jalanan malam.

Suasana pelataran rumah kembali hening. Hanya tersisa suara napas Bening yang terengah-engah dalam tangisnya, serta hembusan angin malam yang membawa aroma minyak wangi mahal milik Gibran yang kini berdiri tepat di depannya.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!