NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : KETAKUTAN KARTA

"Kau gemetar, Karta."

Bayu berhenti sejenak memilin ujung tali rotan, menoleh lurus ke arah sahabatnya. Suaranya datar, tak bermaksud mengejek sama sekali. Hanya menyatakan apa yang jelas terlihat di depan mata.

Karta duduk bersandar pada batang pohon nangka tua, kedua lututnya rapat saling merapat. Tangan kanannya memegang bambu runcing yang dibuatnya sendiri sejak tadi, namun ujungnya sesekali bergerak naik turun tak menentu. Ia mendengus pelan, memalingkan wajah mencoba menyembunyikan sesuatu.

"Siapa yang gemetar? Anginnya saja yang makin dingin," jawabnya ketus.

"Di bawah terik begini? Peluhmu saja sudah menetes deras," balas Bayu sambil bangkit berdiri perlahan.

Ia berjalan mendekat, lalu duduk sejajar di samping Karta. "Kau tak perlu malu. Jujur saja."

Karta diam cukup lama. Matanya menatap jauh ke arah belukar tempat Dul Kalong dan Jaka Kelitik sedang memasang jebakan. Napasnya diatur berulang kali, berusaha menenangkan jantung yang seakan mau melompat keluar dari dadanya.

"Jujurnya... setiap kali ada ranting patah sedikit saja, langsung terbayang bunyi ledakan itu lagi," ucap Karta akhirnya pelan. Ia menelan ludah susah payah.

"Setiap melihat benda berwarna gelap bergerak di kejauhan, jantungku langsung berhenti sejenak mengira itu pasukan mereka datang. Aku takut, Yu. Sangat takut."

"Siapa yang tidak takut?" sahut Bayu lembut. Ia menepuk lengan sahabatnya itu pelan.

"Aku juga. Demang juga. Semua orang di sini juga merasakannya. Takut itu tanda kita masih waras, masih mengerti bahwa nyawa ini mahal harganya."

"Tapi kalau terus begini, nanti aku malah jadi bebanmu saja," kata Karta menunduk menatap bambu di tangannya.

"Nanti saat benar-benar berhadapan, bukannya maju, aku malah kaku mematung di tempat."

"Selama kau tidak lari membelakangi temanmu, kau tidak akan pernah jadi beban," ujar Bayu tegas.

"Cukup berdiri di sampingku. Itu saja sudah lebih dari cukup."

Dari arah mulut gua terdengar langkah kaki mendekat. Mbah Kartareja berjalan perlahan memegang tongkatnya, diikuti Wadana Raksapati yang sedang memeriksa arah angin dan cuaca. Karta segera mencoba menegakkan punggungnya, menyeka peluh di dahi dengan punggung tangan.

"Masih belum tenang, Nak?" tanya Mbah Kartareja begitu duduk di hadapan mereka. Matanya tajam namun penuh kehangatan.

"Susah untuk tenang, Mbah," jawab Karta terus terang.

"Setiap kali memejam mata, kembali terlihat pesawat itu, terlihat api itu, terlihat wajah mereka yang sudah tiada."

"Dulu saat usiamu masih sebesar Aci Cemong, kau pernah takut melintasi jembatan gantung di pinggir jurang, bukan?" tanya Mbah Kartareja tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Karta mengernyitkan dahi sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Benar sekali, Mbah. Kalaupun dipegangi tangan Bayu sekalipun, kakiku tetap lemas tak bertenaga."

"Lalu bagaimana akhirnya?"

"Kau suruh kami berjalan sambil terus berbicara satu sama lain. Jangan menunduk melihat ke bawah, tatap saja ujung jembatan di seberang sana. Lama-kelamaan kami pun sampai juga," jawab Karta.

"Begitu juga dengan ketakutan ini," ucap Mbah Kartareja sambil mengetukkan tongkatnya pelan ke tanah.

"Jangan kau tatap terus apa yang ada di bawah, apa yang menakutkan. Tataplah apa yang ada di depan: Astri, Ningsih, anak-anak, tanah ini. Selama arahnya benar, kakimu pasti akan terus melangkah walau gemetar sekuat apa pun."

Wadana Raksapati ikut menyahut pelan.

"Aku juga dulu sama sepertimu. Saat pertama kali melihat senapan musuh, lututku lemas sampai nyaris jatuh. Tapi kemudian aku sadar: mereka juga manusia. Mereka juga punya mata yang bisa tertutup, punya kaki yang bisa terjerat, punya hati yang bisa berdebar kaget. Mereka tidak kebal, dan kita tidak lemah tanpa daya."

Bayu berdiri kembali sambil memegangi kampak peninggalan ayahnya. Ia menatap ketiga orang di hadapannya satu per satu.

"Sebentar lagi matahari mulai condong turun. Kita akan periksa jalur masuk dari arah utara. Siapa mau ikut?" tanyanya.

Dul Kalong segera melangkah maju. "Aku hafal setiap semak di sana."

"Jaka Kelitik juga. Banyak jebakan lama yang bisa kita pakai kembali," susulnya dari balik pohon.

Bayu lalu menoleh pada Karta. Hanya diam menanti jawaban.

Karta menghela napas panjang, mengangkat kepala setinggi-tingginya. Tangannya meremas gagang bambu itu semakin erat sampai buku jarinya memutih. Ia masih merasakan getaran di sekujur tubuhnya, masih merasakan tenggorokannya kering seketika. Tapi bayangan wajah kedua orang tuanya, janji di atas makam tadi pagi, serta tatapan percaya Bayu membuatnya tak mungkin mundur.

"Aku ikut," jawabnya tegas.

"Meskipun kakiku gemetar, aku tetap melangkah di sebelahmu."

"Bagus. Ingat pesan Mbah: tatap ke depan saja," ujar Bayu tersenyum tipis.

Mereka pun bergerak beriringan, tak berjalan berderet lebar melainkan menyusuri sela-sela pohon agar tak terlihat jelas dari kejauhan. Karta berjalan tepat di samping kanan Bayu. Sesekali matanya melirik kiri kanan dengan waspada berlebihan, sesekali ia berhenti mendadak saat mendengar suara gerakan di semak, namun tak pernah satu langkah pun ia mundur ke belakang.

"Tenangkan napasmu, tarik perlahan lalu hembuskan panjang," bisik Bayu tanpa menoleh.

"Kalau napasmu tak teratur, konsentrasimu akan buyar."

Karta mencoba melakukannya. Awalnya masih tersendat, namun lama-kelamaan dada terasa sedikit lebih lega. Ia mulai memperhatikan jejak-jejak di tanah seperti yang diajarkan Dul Kalong, mulai memperhatikan arah hembusan angin seperti pesan Wadana Raksapati. Ketakutannya belum hilang sama sekali, namun ia belajar berjalan berdampingan dengan rasa itu.

Tiba-tiba Dul Kalong mengangkat tangan tinggi-tinggi memberi isyarat berhenti serentak. Semua langsung berjongkok merapat di balik akar pohon besar. Jantung Karta kembali berdegup kencang seketika, telapak tangannya dingin berkeringat. Ia mengintip perlahan dari balik dedaunan.

Di kejauhan terlihat dua orang penunggang kuda berseragam cokelat gelap berjalan santai menyusuri jalan setapak. Senapan tergantung di bahu mereka, sesekali berhenti lalu menunjuk ke arah ladang kosong sambil tertawa. Kata-katanya tak terdengar jelas, namun nada meremehkan yang keluar dari mulut mereka cukup menyakitkan hati.

"Itu patroli sersan Pieter," bisik Wadana Raksapati pelan sekali.

"Mereka sedang memetakan jalan masuk ke arah hulu."

"Kalau mereka terus begini, tak lama lagi akan menemukan jejak kita," ujar Karta hampir tak bersuara. Ia menatap Bayu menanti keputusan. Tangannya kini sudah siap memegang ujung bambu runcing.

"Kita tidak menyerang. Kita hanya amati sampai mereka lewat semua," perintah Bayu pelan.

"Tetap di tempat. Jangan bersuara."

Mereka diam mematung seolah menjadi bagian dari pepohonan itu sendiri. Dua penunggang kuda itu lewat tak jauh dari tempat persembunyian mereka. Debu kuda beterbangan sampai ke hidung Karta, membuatnya sangat ingin bersin sekuat tenaga. Ia menahan sekuat tenaga sampai matanya berkaca-kaca. Selama berlalunya mereka itu terasa seperti berjam-jam lamanya.

Baru setelah suara kuda menghilang sepenuhnya di tikungan jauh, Karta berani mengeluarkan napas panjang yang tertahan sedari tadi. Badannya terasa lemas seketika, ia bersandar lemah pada batang kayu di belakangnya.

"Kau hebat, Karta," puji Bayu pelan.

"Kau tetap di tempat meski hatimu seakan mau copot."

"Aku hampir saja lari," akui Karta sambil tersenyum getir.

"Tapi teringat kau di sebelahku, teringat mereka yang menanti di gua. Aku tak mungkin meninggalkan semuanya begitu saja."

"Ketakutan tidak akan pernah hilang sampai napas terakhir kita, Nak," ucap Mbah Kartareja yang menyusul dari belakang.

"Yang membuatmu berani bukan karena kau tidak merasa takut, melainkan meski takut sekalipun, kau tetap memilih berbuat benar."

Karta menatap bambu di tangannya, lalu menatap punggung Bayu yang kembali berjalan memimpin arah pulang. Getaran di kakinya perlahan mereda. Ia tahu perjalanan berat ini masih sangat panjang, masih banyak hal menakutkan yang akan datang menyapa.

Tapi satu hal yang kini ia yakini sepenuhnya: selama mereka berjalan berdampingan, ketakutan itu tidak akan pernah lebih kuat daripada persahabatan dan tekad mereka.

Ia mempercepat langkah menyamai posisi sahabatnya. Tepat di samping kanan, tempatnya selalu berdiri sejak dulu.

"Ke mana pun kau melangkah, aku ikut. Mau gemetar atau tidak, itu urusan nanti," bisiknya pelan.

Bayu hanya tersenyum tipis tanpa menoleh, namun satu tangannya terulur merapatkan bahu sahabatnya sejenak. Kesunyian hutan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Di balik setiap langkah yang diambil, tersimpan kekuatan yang tumbuh justru dari rasa takut yang pernah ada.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!