Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Indri tidak berhenti berjalan sampai dirinya tiba di lobi. Langkahnya tergesa-gesa. Napasnya belum sepenuhnya teratur, sementara telapak tangannya masih terasa dingin.
Ia berhenti di dekat pintu kaca dan memejamkan mata. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Namun semakin ia mencoba melupakan kejadian di dalam lift, semakin jelas semuanya kembali terbayang.
Tatapan kemarahan Evan. Kalimat-kalimat sindiran yang ia lontarkan. Dan... Perlakuan tak menyenangkan yang dilakukan pria itu.
Indri menundukkan kepala. "Kenapa semuanya harus seperti ini?" Suara itu keluar nyaris tanpa suara.
Seorang petugas keamanan yang berdiri tidak jauh darinya sempat memperhatikan keadaan Indri. "Bu, apakah Anda baik-baik saja?"
Indri segera mengusap wajah. "Iya."
"Benar-benar tidak apa-apa?"
Indri mengangguk. "Saya hanya sedikit pusing."
Petugas itu mengangguk, lalu kembali ke posnya.
Indri menarik napas panjang. Ia harus segera pulang. Tidak ada alasan untuk tetap berada di tempat itu.
Di dalam lift, Evan masih berdiri di tempat yang sama. Pintu sudah tertutup. Namun pikirannya justru semakin terbuka terhadap sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui.
Ia teringat wajah Indri ketika mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melupakan kesalahannya.
Bukan wajah seorang perempuan yang tidak peduli. Bukan pula seseorang yang sedang berusaha mencari pembenaran. Melainkan seseorang yang tampak lelah. Sangat lelah.
Evan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, rasa puas yang biasanya muncul setiap kali ia mengingat masa lalu tidak terasa sama. Yang tersisa justru rasa bersalah.
Ia mengusap wajahnya. "Apa aku sudah kelewatan."
Kalimat itu terdengar asing dari mulutnya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Evan selalu meyakini bahwa kemarahannya adalah bentuk cinta kepada Laura. Ia merasa sedang memperjuangkan keadilan untuk adiknya.
Namun malam itu, keyakinan tersebut mulai retak. Ia memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi pada Laura. Tetapi ia juga tidak bisa terus menggunakan kematian adiknya sebagai alasan untuk menghancurkan hidup orang lain.
***
Malam telah larut ketika Indri sampai di rumah. Ia langsung menuju kamarnya.
Rumah sudah sunyi. Haris mungkin telah tidur, begitu pula Cinta, Vano dan anak-anaknya.
Indri berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar, lalu duduk perlahan.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap kosong ke hadapannya.
Pikirannya kembali pada Evan. Pada semua ancaman. Pada masa lalu yang tidak pernah berhenti mengejarnya. Pada bagaimana setiap kali ia mencoba menata hidup, pria itu selalu muncul dan menyeretnya kembali ke dalam rasa bersalah.
Indri menarik napas panjang. "Aku sudah mencoba." Suaranya bergetar.
"Aku sudah mencoba bertahan." Ia menundukkan kepala. Tetapi malam itu, sesuatu dalam dirinya terasa telah patah.
Selama bertahun-tahun ia menerima hukuman atas kesalahannya. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan besar.
Namun ia mulai menyadari bahwa penyesalan seharusnya tidak berubah menjadi hukuman tanpa akhir.
Evan tidak lagi sekadar mengingatkan kesalahannya.
Keberadaan pria itu telah menjadi bayangan yang menguasai hidupnya. Dan Indri sudah terlalu lelah.
Tangannya perlahan membuka sebuah buku catatan. Halaman kosong terbentang di hadapannya. Ia mengambil pena.
Awalnya ia hanya menggenggamnya. Lalu menulis satu kalimat.
Bagaimana caranya agar Evan berhenti?
Indri menatap tulisan tersebut.
Beberapa detik kemudian, ia mencoretnya. Lalu menulis lagi.
Bagaimana caranya agar aku benar-benar bebas?
Kali ini ia tidak mencoretnya. Air matanya jatuh di atas halaman.
Karena jawaban yang muncul di kepalanya membuatnya sendiri merasa takut.
Evan harus mati.
Indri langsung meletakkan pena.
"Tidak..."
Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Namun pikiran itu tidak hilang. Semakin ia mencoba mengusirnya, semakin jelas bayangan tentang kehidupan tanpa Evan muncul di kepalanya.
Tidak ada ancaman. Tidak ada rasa takut. Tidak ada seseorang yang terus mengingatkan bahwa dirinya pernah menghancurkan kehidupan Laura. Tidak ada lagi belenggu.
Indri berhenti di depan cermin.
"Apa aku benar-benar sanggup melakukan itu?"
Pantulan dirinya tidak menjawab.
Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, Indri membayangkan dirinya mengambil keputusan yang tidak dapat ditarik kembali.
Bukan karena kebencian. Bukan pula karena ingin melihat Evan menderita. Melainkan karena ia merasa tidak menemukan jalan lain.
Ia kembali duduk. Buku catatan itu dibuka lagi. Indri mulai menuliskan beberapa hal yang menurutnya harus dipertimbangkan.
Bukan bagaimana membunuh Evan. Bukan pula cara melakukannya. Ia menulis tentang akibatnya.
Papa, Kak Cinta, Laura kecil, Brian, Vano... Dan diriku sendiri.
Satu per satu nama itu membuat tangannya semakin gemetar. Jika ia melakukan hal tersebut, hidup keluarganya tidak akan pernah sama lagi.
Ia mungkin terbebas dari Evan.
Tetapi apakah ia akan terbebas dari rasa bersalah? Pertanyaan itu membuatnya terdiam lama.
...
Pagi berikutnya, Indri datang ke kantor seperti biasa. Tidak seorang pun mengetahui bahwa semalam ia telah mengambil keputusan yang begitu gelap.
Ia tetap tersenyum kepada karyawan. Tetap menghadiri rapat. Tetap memeriksa laporan.
Namun sekarang, setiap kali nama Evan muncul dalam pembicaraan, jantungnya berdetak lebih cepat.
Menjelang siang, sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama yang sudah Indri hapal.
"Kita perlu bertemu."
Indri membaca pesan tersebut. Biasanya ia akan merasa takut. Kini perasaannya berbeda. Ia justru merasa sedang berdiri di persimpangan.
Ada jalan yang mengarah kepada kehidupan baru. Dan ada jalan lain yang mungkin menghancurkan dirinya untuk selamanya.
Indri menggenggam ponselnya erat. "Aku harus mengakhirinya."
Tetapi bahkan setelah mengucapkan kalimat itu, ia belum tahu apakah yang ingin ia akhiri adalah hidup Evan... atau dendam yang telah mengikat mereka selama bertahun-tahun.
Malamnya, Indri kembali membuka buku catatan tersebut.
Di halaman terakhir, ia menulis:
Jika aku melakukannya, aku mungkin bebas dari Evan.
Ia berhenti. Kemudian menambahkan:
Tetapi aku mungkin akan menjadi tawanan diriku sendiri seumur hidup.
Indri menatap kalimat itu lama. Rencana yang semula terasa seperti jalan keluar mulai terlihat seperti pintu menuju penjara lain.
Namun keputusan yang sudah terlintas di kepalanya tidak mudah dihapus. Ia menutup buku tersebut dan memasukkannya ke dalam laci.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan menentukan semuanya."
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁