📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh
Kata orang tua dulu, hidup itu sawang sinawang. Saat orang lain melihat hidup kita mereka akan menerka jika hidup kita itu enak dan lebih bahagia dibanding mereka. Begitu juga saat kita melihat orang lain, menerka hidup mereka lebih beruntung dibanding kita.
Padahal pada dasarnya semua tergantung dari cara pandang kita. Lagi dan lagi ungkapan isi hati itu tak mudah di definisikan. Layaknya sebuah kata yang syarat akan makna.
“Hanya karena aku tak menangis bukan berarti aku tak bersedih. Hanya karena aku tertawa bukan berarti aku tak berduka.”
“untuk mata yang memandang, kehidupan orang lain akan selalu terlihat sempurna. Tapi bagi yang menjalani tak sesempurna yang terlihat.”
Miya merapikan rambut panjangnya, “Kamu bahagia Kamiya Maulida. Tak ada orang tua yang ingin anaknya tak bahagia.” Ucapnya sambil tersenyum memandangi gambar dirinya di dalam cermin, menyemangati dirinya sendiri.
Tak ada satu pun yang tau jika empat tahun ini hidupnya sudah jungkir balik. Melakukan negosiasi akan keinginan terakhir ibunya tak mungkin. Surganya itu sudah menghadap ilahi, kini pilihannya hanya mencoba mewujudkan keinginan sang ibu. Meski awalnya berat tapi sejauh ini dia sedang berusaha. Setiap hari dia meyakinkan diri jika ia bahagia, walau tiap malam Miya tak bisa tidur nyenyak karena sebagian hatinya belum mampu melepas Ardi.
Tok… tok…
“Miya, Tante masuk yah.”
Ketukan pintu dari luar kamarnya menyadarkan Miya dari lamunan sejenak. Wanita dengan gaun formal berwarna gold dipadu dengan rambut yang digelung anggun yang sedang berjalan menghampirinya adalah Tante Wilona, sepupu yang dipercayai oleh mendiang ibunya untuk menjaga Miya.
“Cantik banget sayang.” pujinya pada Miya yang kini mengenakan gaun dengan warna senada.
“Sini Tante bantuin.” Wilona mengambil alih toga yang ditangan Miya dan membantu mengenakannya. “Selamat yah keponakan Tante udah jadi magister sekarang. Ibu kamu pasti bangga.” Lanjutnya sambil menepuk bahu Miya.
“Makasih Tante.”
“Udah siap kan. Ayo kita sarapan dulu. Habis itu kamu berangkat sama Wildan yah, soalnya Tante harus nunggu Om kamu dulu.” Ujar Wilona.
Miya mengangguk setuju, kemudian berjalan beriringan menuju meja makan. Sudah ada Wildan yang duduk di sana.
“Pagi Mas Wildan.” Sapa Miya.
“Pagi juga Dek. Cie yang mau wisuda S2, selamat yah.”
Ya hari ini Miya akan menghadiri acara wisuda S2 nya. Gadis yang pernah kuliah jurusan akuntansi di universitas persada itu baru menyelesaikan program S2 bidang management. Sesuai dengan keinginan ibunya, Miya harus jadi wanita cerdas dan mandiri.
“Makasih Mas.”
Miya mengambil dua keping roti gandum dan mengolesnya dengan selai stroberi. Dia kemudian mengigit roti itu sedikit demi sedikit sambil mencuri-curi pandang pada lelaki yang hampir berusia tiga puluh tahun, tapi wajahnya begitu baby face. Kata orang dia mirip Song Jong ki si vicenzo cassano yang sedang naik daun. Tapi sosok di depannya itu lebih sempurna karena dia bukan duda. Wildan itu putra pertama dari Tante Wilona. Sejak kecil Miya sudah akrab dengan lelaki yang kini ia panggil dengan sebutan ‘mas’ itu.
Selisih usia enam tahun membuat Wildan memperlakukan Miya seperti adiknya sendiri. Dulu saat Miya masih sekolah dasar orang tua mas Wildan masih menetap di Indonesia, namun setelah Miya beranjak masuk SMP suami tante Wilona memboyong keluarganya ke negara dengan ikon singa laut yang cukup terkenal. Tak pernah disangka jika mereka akan bertemu lagi saat dewasa, terlebih terjebak dalam sebuah wasiat.
“Nggak usah diliatin terus, bentar lagi juga di halalin.” Ucap Wildan saat memergoki dirinya yang sejak tadi diam-diam mencuri pandang.
Uhuk.. ucapan itu berhasil membuat Miya tersedak. Dengan sigap Wildan beranjak dari kursinya dan menyodorkan segelas air putih pada Miya.
“Kebiasaan keselek. Minum nih.”
“Makasih Mas.” Ucap Miya setelah meletakan kembali gelas ke meja. Sejenak teringat pada wasiat terakhir sang ibu.
“Miya… kalo ibu udah nggak ada kamu jangan sedih. Ibu udah pastiin putri kesayangan ibu ini akan selalu bahagia. Jadilah wanita yang cerdas dan mandiri. Miya, Tante Wilona akan jagain kamu. begitu juga dengan Wildan, dia calon suami yang baik buat kamu. Ibu yakin kamu bahagia sama Wildan. Janji sama ibu, kalo kamu akan selalu bahagia Miya.”
Saat itu Miya hanya bisa mengangguk sambil terisak dalam tangisan. Ia tak pernah tau jika ibunya selama ini sakit karena setaunya selama ini ibunya sehat-sehat saja. Bahkan saat Tante Wilona menghubunginya empat tahun silam dengan embel-embel Miya harus pulang ke Jogja mumpung tante lagi di Indonesia pun membuatnya pulang dengan hati senang. Tapi begitu sampai rumah ia tak menemui ibunya, hanya ada Wildan yang nyaris tak ia kenali saat itu.
“Dek…
“Miya…
“Kamiya Maulida…” Wildan berulang kali memanggilnya, kali ini dibarengi dengan menyentil kening tanpa poni Miya.
“Aduh… sakit tau Mas. Kebiasaan deh main sentil sentil aja.” Gerutu Miya yang baru saja kembali dari lamunannya.
“Abisnya kamu kebiasaan deh pagi-pagi udah melamun.” Balas Wildan.
“Ayo berangkat! Nanti telat lagi.” Lanjutnya sambil membawa tas jinjing Miya.
Miya beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Wildan dari belakang. Mas Wildan itu udah dewasa, mapan, ganteng dan fix no debat nggak ada keburikan sedikit pun. benar-benar tipe suami idaman semua wanita, pantas saja jika mendiang ibunya memilih Wildan menjadi suaminya.
Miya sudah duduk di samping kursi kemudi, lengkap dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang dengan sempurna. Ia melirik Wildan yang sedang bersiap melajukan kendaraan yang akan membawa mereka ke gedung tempat ia di wisuda.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa Mas.” Jawab Miya sekenanya kemudian membuang padangan ke arah lain.
selesainya study S2 yang ia tempuh berarti sudah tak ada lagi alasan untuk menunda pernikahan dengan lelaki pilihan ibunya.
Dalam perjalanan hidup, perpisahan dan kematian sulit terelakan. Merasakan asam garam kehidupan. Tidak bisa lepas dari suka dan duka. Ada orang yang hanya ditakdirkan menjadi orang lewat. Dan ada orang yang akan terikat seumur hidup.
“Mas Wildan, kamu pria yang baik. Tapi kenapa hati ini tak pernah berdebar untukmu…”
"Ibu... andai ibu tau kalo Ardi dan aku terikat hubungan, apa ibu akan tetap menjodohkan aku dengan Mas Wildan?"
“Ardi… apa kita benar-benar tak berjodoh? apa kamu hanya orang yang ditakdirkan menjadi orang lewat? bukan orang yang ditakdirkan akan terikat seumur hidup denganku?"
.
.
.
.
Dukung aku dengan like, komen dan favoritkan!
Dukung aku dengan like, komen dan favoritkan!
Dukung aku dengan like, komen dan favoritkan!
Dukung aku dengan like, komen dan favoritkan!
semuanya👍👍👍👍👍