"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Fitnah di Grup WhatsApp
Ponsel Gunawan berdering pukul sebelas lewat empat puluh malam.
Bayu belum tidur. Di lantai dua ruko, Budi masih menandai bukti pembelian lot Kalimantan, Rizal menyusun map pelanggan pertama, dan Hendra tertidur di kursi plastik dengan helm masih di pangkuan.
"Mas Bayu," suara Gunawan terdengar berat. "Jangan balas apa pun dulu. Baca saja yang saya kirim."
Layar ponsel Bayu menyala.
Sebuah tangkapan layar grup WhatsApp pedagang permata Surabaya memenuhi layar. Judul pesannya panjang, huruf kapital di banyak tempat.
Terbongkar! Pemuda Pacitan Diduga Mengatur Potongan Batu.
Di bawahnya ada video pendek. Potongan adegan lelang, potongan wajah Bayu saat memilih batu, lalu suara seseorang berkata bahwa semua kemenangan Bayu terjadi karena ia bekerja sama dengan tukang potong. Di akhir video, muncul lingkaran merah pada tangan salah satu operator mesin, seolah ada kode rahasia.
Hendra langsung terbangun ketika Bayu memutar ulang video.
"Lho, iki opo maneh?"
Budi meminta ponsel itu tanpa panik. "Kirim file asli. Forward kedua sudah kehilangan sebagian jejak. Semua screenshot harus ada metadata waktu."
Gunawan masih di telepon.
"Beberapa orang mulai tanya saya. Ada yang bilang mau observasi dulu sebelum transaksi lagi dengan CV Mas. Satu supplier yang tadi siang hampir jadi deal juga baru saja mundur."
Rizal menutup mapnya pelan.
"Mereka menyerang sebelum kita punya nama cukup kuat."
"Justru karena nama kita mulai kuat," kata Bayu.
Ia menonton video itu lagi. Mata Dewa tidak berguna untuk video. Tetapi memori sempurnanya bekerja seperti arsip yang terbuka. Sudut kamera berasal dari sisi kanan panggung lelang saat tantangan melawan Aditya. Audio tepuk tangan tidak sama dengan gerak mulut orang di belakang. Potongan saat tukang potong mengangkat tangan berasal dari momen berbeda.
Editan.
Tetapi editan yang cukup rapi untuk membuat pedagang sibuk takut.
Pagi berikutnya, ruko CV Prasetyo terasa lebih dingin daripada biasanya. Dua calon pembeli membatalkan janji. Seorang pemilik toko yang kemarin memuji Bayu tiba-tiba menjawab pendek, "Kita lihat dulu perkembangan, Mas."
Pesan lain masuk dari pemasok kecil yang baru mereka bantu minggu lalu.
"Maaf, Pak Bayu. Keluarga saya takut nama toko ikut terseret. Order batu akik kita tahan dulu."
Kerugian di atas kertas belum besar, tetapi arus transaksi mulai tersendat. Dalam perdagangan batu, kepercayaan berjalan lebih cepat daripada kuitansi, dan kecurigaan berjalan lebih cepat lagi. Budi menandai semua pembatalan sebagai dampak reputasi agar kerugiannya dapat dihitung jika kelak diperlukan.
Hendra kembali dari pasar menjelang siang dengan wajah kusut.
"Aku dapat jalurnya. Video itu pertama disebar dari akun gosip batu, terus dilempar ke grup pedagang. Operator akunnya anak-anak studio PR kecil di Ngagel. Mereka biasa bikin konten politik lokal, review palsu, barang viral murahan."
"Siapa bayar?" tanya Rizal.
"Lewat dua rekening. Dari studio, masuk ke freelancer. Dari freelancer, sumbernya tidak jelas. Tapi bos studio mabuk semalam di kafe, ngomong dia dapat kerjaan dari 'anak konglomerat'."
Budi mengangkat kepala.
"Itu belum bukti."
"Aku tahu," jawab Hendra cepat. "Makanya aku cuma bilang jalur."
Bayu menyukai jawaban itu. Hendra mulai belajar batas.
Budi menyusun langkah di papan tulis kecil.
"Satu, kita simpan semua pesan, tautan, nomor penyebar awal, dan video versi pertama. Dua, kita minta notaris membuat pencatatan waktu atas materi digital. Tiga, kirim somasi ke studio PR dan akun penyebar, minta koreksi, permintaan maaf, dan bukti dasar tuduhan. Empat, jangan balas dengan hinaan."
Hendra menunjuk poin keempat.
"Poin paling berat."
"Itu sebabnya saya tulis besar."
Bayu tersenyum tipis. "Kerjakan."
Budi mengunduh video asli dari tautan pertama, mencatat waktu penerimaan, membuat salinan di dua perangkat, lalu menghasilkan kode hash untuk file itu. Setelah itu ia mengirim paket bukti ke notaris dan kuasa hukum dengan daftar kronologi.
"Kalau besok mereka menghapus unggahan, kita tetap punya bentuk awalnya," katanya.
Hendra mengintip kode panjang di layar.
"Itu mantra apa?"
"Jejak digital. Mantra tidak bisa meninggalkan metadata."
"Aku lebih suka jejak sandal. Tapi lanjutkan."
Rizal menambahkan daftar saksi: Gunawan sebagai penerima pesan pertama, dua pedagang yang meneruskan, dan tukang potong yang namanya diseret. Mereka menghubungi tukang potong itu langsung. Pria tua itu lebih marah melihat videonya dipotong hingga ia tampak bodoh daripada mendengar tuduhan yang diarahkan kepadanya.
"Saya mau bicara kalau perlu," katanya. "Mesin saya, meja saya, semua orang lihat."
Menjelang sore, Intan datang ke ruko tanpa rombongan. Ia memakai blazer biru gelap dan membawa tablet.
Hendra langsung berdiri. "Mbak Intan, kalau mau marah, marahi yang bikin video. Kami masih miskin mental menghadapi fitnah."
Intan menatapnya sebentar. "Saya datang untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin."
Ia meletakkan tablet di meja Bayu. Di layar, ada denah aula kecil milik jaringan Wibowo, daftar undangan pedagang permata, jurnalis lokal, dan tiga lembaga pemeriksa independen.
"Kalau kamu hanya membantah, mereka akan bilang kamu panik. Kalau kamu hanya somasi, mereka akan bilang kamu takut diuji. Jadi kita buat acara terbuka."
Bayu membaca judul rancangan.
Tantangan Potong Batu Terbuka.
Intan melanjutkan, "Dua puluh batu dibeli secara terbuka dari pasar umum. Pembelian direkam, nomor karung dicatat, dan disimpan oleh panitia netral. Kamu pilih tiga, pihak penantang pilih tiga. Semua dipotong di tempat. Nilai dihitung oleh penilai yang disepakati. Yang kalah menanggung biaya, meminta maaf, dan tidak boleh mengulang tuduhan."
Budi segera bertanya, "Siapa panitia netral?"
"Asosiasi pedagang lokal. Wibowo hanya menyediakan tempat dan memastikan tidak ada orang mengutak-atik barang. Gunawan bisa masuk sebagai saksi pasar. Posisi juri harus diisi orang independen."
Gunawan, yang ikut lewat telepon, batuk kecil. "Saya bersedia. Nama saya juga ikut terseret kalau Mas Bayu dituduh main di toko saya."
Rizal menatap Bayu. "Ini risiko. Kalau satu batu saja tidak naik, mereka akan menggunakannya."
"Kalau kita diam, mereka akan menggunakan diam itu," kata Bayu.
Intan memandangnya.
"Aku bisa membuka pintu. Kamu yang harus berjalan."
Kalimat itu tidak lembut, tetapi justru membuat ruangan terasa kokoh.
Bayu berdiri. "Kita tidak menjawab fitnah dengan fitnah. Kita jawab dengan batu yang dipilih di depan semua orang."
Malam itu, somasi dikirim oleh kuasa hukum. Notaris mencatat materi digital yang sudah dikumpulkan Budi. Hendra mengirim undangan resmi ke jaringan pasar, lalu menahan diri untuk tidak menulis balasan pedas di grup.
"Yu," katanya, menatap ponsel seperti menatap musuh pribadi, "jari ini gatal."
"Pegang kopi."
"Kopi tidak cukup."
"Pegang laporan pajak Budi."
Hendra langsung memasukkan ponsel ke saku. "Kopi saja."
Undangan tantangan terbuka menyebar lebih cepat daripada fitnahnya. Orang yang kemarin berbisik mulai bertanya siapa yang berani datang. Beberapa pedagang yang menahan order menulis satu kalimat pendek: "Kami hadir sebagai saksi."
Di Jakarta, di sebuah ruang klub pribadi yang lampunya hangat dan mejanya terlalu mahal, Kevin Putra Wijaya membaca undangan itu dari layar ponsel.
Di depannya duduk tiga orang tua dengan kotak lup, catatan kulit batu, dan reputasi puluhan tahun.
Kevin tertawa kecil.
"Berani juga dia. Kali ini gue bawa ahli beneran."