NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Tuduhan palsu mertuaku

Keesokan paginya adalah hari Minggu. Semua orang berada di rumah.

Setelah sarapan selesai, Mas Viyan meletakkan gelasnya.

"Ma. Boleh ngobrol sebentar?"

Bu Mirna tersenyum. "Ngobrol apa?"

"Tentang Fitri."

Senyum itu perlahan menghilang. "Memangnya kenapa?"

Mas Viyan menatap ibunya dengan tenang. "Kenapa Mama cerita ke tetangga kalau Fitri malas?"

Bu Mirna tampak terkejut.

"Hah? Siapa yang bilang?

"Banyak."

"Mama enggak pernah bilang begitu."

Mas Viyan menghela napas. "Ma. Tolong jujur."

"Mama cuma curhat."

"Curhat apa?"

"Ya..kalau Fitri masih belajar jadi istri. Itu saja."

Aku menggigit bibir bawahku. Kalimatnya memang terdengar sederhana.

Namun kenyataannya berbeda.

"Ma."

Mas Viyan kembali berkata. "Curhat Mama sudah membuat orang-orang salah paham sama istri Viyan."

Bu Mirna langsung menggeleng. "Itu bukan salah Mama. Lho? Kalau mereka salah paham ya urusan mereka."

Aku menatap wajah beliau. Hebat sekali... Beliau selalu bisa melepaskan diri dari tanggung jawab.

Tiba-tiba Dinda keluar dari kamarnya. "Ada apa sih ribut-ribut?"

"Enggak ada." Jawab Bu Mirna.

Namun Dinda langsung duduk di samping ibunya. "Bang.. Kenapa sih sekarang sering banget nyalahin Mama?"

Mas Viyan menarik napas panjang. "Aku enggak nyalahin. Aku cuma enggak mau nama istriku dirusak."

Dinda langsung tertawa sinis. "Nama dirusak? Kalau memang rajin, kenapa takut orang ngomong?"

Aku yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Dinda. Aku enggak takut orang ngomong. Aku cuma sedih...karena yang berbicara justru keluargaku sendiri."

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Bu Mirna langsung berdiri.

"Sudah! Mulai sekarang enggak usah bahas ini lagi."

Beliau berjalan masuk ke kamar dengan wajah kesal. Namun sebelum pintu tertutup, aku sempat mendengar gumam nya.

"Kalau cara halus enggak berhasil...berarti harus pakai cara lain."

Aku tidak tahu maksud ucapan itu.

Tetapi entah mengapa... Hatiku mendadak gelisah.

Aku merasa...Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

***

Senin pagi. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima ketika aku sudah selesai memasak, menyiapkan bekal Mas Viyan, dan menyapu ruang tamu.

"Aroma nasinya enak." Mas Viyan tersenyum sambil mencium keningku.

"Pasti dong. Aku kan masak buat suami tercinta."

Mas Viyan terkekeh pelan. "Mas beruntung punya kamu."

Belum sempat aku membalas, suara Bu Mirna terdengar dari dalam kamar.

"Yan!"

"Iya, Ma."

"Kemari sebentar."

Mas Viyan pun masuk ke kamar ibunya. Aku kembali membereskan meja makan.

Beberapa menit kemudian, Mas Viyan keluar. "Wajah Mas kok tegang?"

"Enggak apa-apa. Ayo sarapan dulu."

Aku merasa ada yang disembunyikan, tetapi memilih tidak bertanya.

Mas Viyan berangkat bekerja dulu sejam sebelum aku berangkat. Dinda juga tidak tau kemana. Aku pun bersiap menuju kantor. Saat hendak memakai sepatu, Bu Mirna memanggilku. Ku lihat beliau sudah memakai gamis entah mau pergi kemana.

"Fitri."

"Iya, Ma?"

"Rumah jangan lupa di kunci ya."

"Iya."

Aku tersenyum lalu berangkat. Hari itu pekerjaanku cukup padat. Aku bahkan baru sempat membuka ponsel saat jam makan siang.

---

Sore hari nya, begitu membuka pintu rumah, suasana terasa berbeda. Bu Mirna duduk di ruang tamu dengan wajah muram. Dinda juga berada di sampingnya. Melihatku masuk, keduanya langsung menoleh.

"Sudah pulang?"

"Iya, Ma."

Bu Mirna menghela napas panjang.

"Fitri. Mama mau tanya."

"Tanya apa, Ma?"

"Kamu masuk kamar Mama hari ini?"

Aku menggeleng. "Enggak."

"Yakin?"

"Iya."

Bu Mirna mengambil sebuah kotak kayu kecil dari meja.

"Tadi pagi Mama taruh amplop di sini. Sekarang hilang."

Aku mulai mengerti arah pembicaraan ini.

"Isinya berapa, Ma?"

"4 juta rupiah."

Aku terdiam. "Lalu?"

"Yang terakhir meninggalkan rumah hari ini cuma Mama sama kamu."

Aku mengernyit. "Ma.. aku kan langsung berangkat. Ku sama sekali enggak ke kamar mama. Terus sepanjang hari aku di kantor. Mama juga tadi pagi lihat sendiri. Aku pakai sepatu di luar rumah"

Bu Mirna menyandarkan tubuhnya. "Ya siapa tahu sebelum berangkat. Kamu masuk lagi"

Aku mulai merasa dituduh lagi. "Ma. Aku enggak pernah masuk kamar Mama."

Dinda tiba-tiba menyela. "Terus siapa? Abang kerja. Berarti tinggal Mbak."

Aku menarik napas panjang. "Dinda. Jangan asal nuduh. Aku juga bisa bilang kamu."

"Loh. ngapain aku nyuri uang Mama sendiri?"

Aku tidak menjawab.

Tak lama kemudian Mas Viyan pulang. Beliau melihat wajahku yang mulai pucat.

"Ada apa lagi?"

Bu Mirna langsung berdiri. "Yan. Uang Mama hilang. Kamu ingat uang tadi pagi yang mama tunjukan ke kamu?"

Mas Viyan menjawab : "Iyaa aku ingat. Kok bisa hilang sih?"

"Sudah dicari?"

"Sudah."

"Enggak ada."

"Tadi mbak FItri yang terakhir ada di rumah bang. Pasti dia yang ambil. Belum ngaku tuh" Ucap Dinda.

Mas Viyan menatapku. Aku langsung berkata, "Mas.Aku enggak ambil."

"Aku percaya." Jawaban itu membuatku sedikit lega.

Namun Bu Mirna langsung memotong.

"Percaya? Yan. Kamu percaya terus sama istrimu. Terus Mama harus percaya siapa?"

Mas Viyan berjalan menuju kamar ibunya.

"Ma."

"Boleh Viyan lihat lagi?"

"Lihat apa?"

"Tempat Mama nyimpan amplop."

Bu Mirna tampak sedikit ragu. Namun akhirnya beliau mengangguk.

Aku ikut berdiri di depan pintu kamar. Mas Viyan memperhatikan meja rias, lemari, hingga laci tempat Bu Mirna menyimpan barang. Kemudian pandangannya berhenti pada sebuah kalender dinding.

"Ma. Katanya Mama kemarin ikut arisan, kan?"

"Iya."

"Setoran bulan ini sudah bayar?"

Bu Mirna tampak gugup sesaat. "Sudah."

"Bayarnya pakai apa?"

"Ya... uang Mama."

"Yang di amplop itu?"

"Tentu bukan lah. Uang itu uang dari ibu-ibu sama sisa uang kemarin"

Mas Viyan terdiam. Ia membuka laci kecil di bawah kalender. Di sana terdapat sebuah buku catatan arisan. Mas Viyan membukanya perlahan.

Lalu alisnya mengernyit.

"Ma."

"Iya?"

"Di sini tertulis...Mama masih punya utang setoran 4 juta rupiah ke Bu Rina."

Wajah Bu Mirna langsung berubah. "Itu...Itu catatan lama."

Mas Viyan kembali membuka halaman berikutnya. Tepat di bawahnya terdapat tulisan baru.

'Bu Mirna janji melunasi hari Senin.'

Hari itu...Adalah hari Senin. Mas Viyan menutup buku tersebut perlahan. Tatapannya kini bukan lagi kepada laci. Melainkan kepada wajah ibunya sendiri.

"Ma...Sebenarnya...uang itu benar-benar hilang. Atau..sudah dipakai buat bayar utang arisan?"

Ruangan mendadak sunyi. Tak seorang pun berani bersuara. Sementara aku melihat Bu Mirna mulai mengepalkan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya... Kebohongannya hampir terbongkar di depan anak yang selama ini paling mempercayainya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!