Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Masalalu Dibalik Etalase
Matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai apartemen lantai enam itu, membiaskan sinar keemasan yang hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Nindya terbangun tanpa rasa sesak di dada. Tidak ada suara langkah kaki Haris yang terburu-buru, tidak ada bentakan, dan tidak ada lagi rasa cemas menunggu kebohongan apa lagi yang akan terungkap hari ini.
Udara pagi terasa begitu bersih dan menyegarkan.
Nindya melangkah ke dapur mungilnya yang bersih, menyiapkan sarapan sederhana berupa roti panggang dan susu hangat untuk Arka. Tak lama kemudian, Arka keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi, wajahnya berbinar-binar segar.
"Selamat pagi, Mama!" sapa Arka riang, langsung duduk di kursi makan.
"Selamat pagi, Pangeran Mama. Hayo, dimakan dulu sarapannya sebelum kita berangkat," ujar Nindya lembut sembari membelai rambut halus putranya.
Melihat Arka melahap sarapannya dengan penuh lahap dan tawa, Nindya menyunggingkan senyum tulus dari sudut bibirnya. Keputusan menyewa apartemen di dekat sekolah Arka benar-benar sangat tepat. Tidak ada lagi drama kemacetan panjang atau kepanikan di pagi hari seperti saat mereka masih tinggal di rumah lama bersama Haris.
Setelah selesai sarapan, Nindya menggandeng tangan kecil Arka menuju area parkir bawah tanah. Mereka naik ke dalam mobil putih milik Nindya. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit berkendara santai, mobil Nindya sudah tiba di depan gerbang TK Arka.
"Arka, belajar yang pintar ya hari ini. Nanti selesai sekolah, Mama jemput lagi," pesan Nindya sembari membenarkan kerah baju Arka dan mencium kedua pipinya.
"Siap, Ma! Jangan lupa nanti sore Om Noval mau main ke apartemen kita, kan?" sahut Arka mengingatkan dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.
Nindya terkekeh pelan, rasa hangat merayapi hatinya melihat betapa cepat Arka merasa nyaman dengan kehadiran Noval. "Iya, Sayang. Nanti sore Om Noval datang. Sekarang masuk kelas dulu, ya."
"Daaah Mama!" Arka melambaikan tangan kecilnya riang, lalu berlari kecil masuk menyusuri koridor sekolah bergabung bersama teman-temannya.
Nindya berdiri di samping mobilnya, memperhatikan punggung kecil Arka hingga menghilang di balik pintu kelas. Hembusan angin pagi menerpa wajahnya yang cantik dan anggun.
Dulu, setiap kali mengantar Arka sekolah, kepalanya selalu dipenuhi pikiran kelam tentang kepalsuan Haris dan penderitaannya di rumah. Namun pagi ini, langkahnya terasa begitu ringan. Beban berat itu sudah hilang sepenuhnya, berganti dengan rasa percaya diri dan ketenangan jiwa.
Nindya kembali masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Dari TK Arka, ia hanya perlu menempuh jarak pendek menuju toko emas tempatnya bekerja. Nindya memegang kemudi dengan mantap, menyunggingkan senyum cerah menatap jalanan di depannya. Hari ini adalah awal dari hari-hari barunya—sebuah kehidupan yang bebas, terhormat, dan penuh harapan bersama Arka.
Setelah mengantar Arka, Nindya tiba di toko emas tepat waktu. Suasana toko pagi itu cukup tenang. Nindya langsung mengenakan seragam kerjanya yang rapi dan elegan, siap memulai jam kerjanya dengan fokus penuh. Tidak ada lagi beban pikiran yang mengganggu konsentrasinya.
Matahari mulai meninggi ketika jam pergantian shift Tiba. Nindya baru saja selesai merapikan beberapa koleksi perhiasan di dalam etalase kaca ketika Maya, rekan kerjanya, berjalan mendekat dengan raut wajah ragu dan sedikit cemas.
"Nin... ada yang nyariin lo di depan," bisik Maya pelan sembari memberi kode lewat kerlingan matanya ke arah pintu masuk toko.
Nindya mengerutkan alisnya tipis. "Siapa, May? Pelanggan?"
Maya menggeleng pelan, lalu mendekatkan bisikannya. "Bukan... itu Haris, mantan suami lo. Penampilannya kusam banget, Nin. Kayak orang nggak terurus."
Nindya menghembuskan napas perlahan. Tidak ada kepanikan apalagi ketakutan di matanya. Ia mengangguk tenang pada Maya. "Makasih ya, May. Biar aku yang temui."
Nindya merapikan blazernya, melangkah anggun keluar dari area balik etalase menuju ruang tamu kecil di sudut toko tempat pengunjung menunggu.
Di sana, Haris berdiri mematung. Penampilan pria itu benar-benar berbalik 180 derajat. Kemeja kerja yang biasanya licin dan rapi kini tampak kusut, matanya sembap berlingkar hitam, dan raut wajahnya dipenuhi garis-garis kelelahan serta penderitaan. Pria yang dulu begitu sombong dan berkuasa itu kini tampak begitu menyedihkan.
Begitu melihat Nindya melangkah mendekat dengan kecantikan yang kian bersinar dan aura yang begitu tenang, dada Haris makin terasa teremas.
"Nindya..." panggil Haris dengan suara serak, melangkah maju satu pukulan. "Tolong... beri aku waktu sebentar saja untuk bicara."
Nindya berhenti di jarak aman, bersedekah tangan dengan sangat anggun. Tatapannya dingin dan datar, bagaikan menatap seorang asing yang tak memiliki arti.
"Ada urusan apa lagi, Haris?" tanya Nindya dengan nada suara yang sangat profesional dan formal. "Proses pengadilan sudah selesai. Hak asuh Arka dan semua keputusan hukum sudah resmi. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
"Nin, aku mohon..." suara Haris gemetar, matanya mulai berkaca-kaca oleh penyesalan yang membakar. "Aku salah. Aku benar-benar khilaf dan bodoh, Nin! Siska... Siska cuma memanfaatkan uang dan posisiku. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Aku cuma mau kamu dan Arka kembali..."
Nindya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat Haris merinding.
"Khilaf?" ulang Nindya pelan namun menohok. "Pengkhianatan bertahun-tahun dan kebohongan beruntun itu bukan khilaf, Haris. Itu adalah pilihanmu. Kamu yang memilih menghancurkan rumah tangga kita, dan sekarang kamu harus bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri."
"Tapi Arka membutuhkan ayahnya, Nin!" seru Haris putus asa, mencoba menggunakan kartu terakhirnya. "Arka tidak bisa tumbuh tanpa aku!"
Nindya menatap Haris lurus-lurus, matanya berkilat tajam. "Arka tidak pernah kehilangan sosok ayah darimu, Haris... karena selama ini kamu memang tidak pernah benar-benar ada untuknya. Semalam Arka sendiri yang bilang, kamu tidak pernah punya waktu untuk mendampinginya bermain."
Haris bungkam seketika. Kata-kata Nindya bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di jantungnya.
"Pergilah, Haris," tegas Nindya tanpa ragu sedikit pun. "Jangan temui aku atau Arka lagi di tempat kerja maupun sekolah. Lanjutkan hidupmu bersama Siska dan anak yang sedang dikandungnya. Jangan ganggu kedamaian kami lagi."
Tanpa menunggu balasan dari pria yang tertunduk lesu di hadapannya itu, Nindya berbalik dan melangkah anggun kembali ke dalam toko, meninggalkan Haris yang tertinggal dalam kehancuran dan penyesalan seumur hidupnya.