Perasaan yang benci lama-lama terluluhkan oleh seorang siswa yang super duper nakal yaitu Gita. Namun ia menemukan sikap dan sifat yang berbeda dari Gita yang membuat seorang guru sangat menyukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Martha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Handphone hilang
"Dek, kamu ngga tertarik sama murid kamu itu? body ok, putih, baik lagi. Kalau kakak mah hajar aja" goda Gisel
"ya ngga lah kak, aku inikan gurunya dia. Dan pastinya aku ini sebagai tuanya orang dia kalau di sekolah ataupun di luar. Jangan mikir aneh-aneh lah kak, " jawab Gito dengan songongnya
"yaeee elahh, ntar naksir pula. Udahlah dari pada LDR, yang di sana palingan ada yang baru lagi mending yang pasti-pasti aja" ujar Gisel ia tahu jika Aulia bukanlah orang baik. Karena pacar temannya sendiri aja di rebut. Namun ia tidak bisa membuktikannya kepada adiknya, ia perlu mengumpulkan bukti-bukti yang ada. ia tahu jik adiknya ini tidak percaya kalau belum lihat kenyataannya.
"iiih kakak ni, jangan gitulah. Ngga suka aku lho kak" jawab Gito yang mulai kesal
kak Gisel hanya membalas dengan menjulur lidahnya, sambil membawa barang-barang ringannya ke kamar, yang berat sudah di bawa bik Susi.
"awas ya kamu kak. aku balas nanti kalau kalian LDR lagi" ujar Gito yang audah kesal.
Sebenarnya setiap sore Gito selalu menyempatkan diri untuk Olahraga. Tetapi karena badannya sekarang tidak mendukung. Jadi Gito hanya membaca komik saja di pinggir kolam renang. Handphone Gito pun tiba-tiba bergetar
truttttt... truttttt.... truttttt
Gito melihat ternyata Aulia chat.
"sayang, hari ini aku ngga jadi balik ke Kalbar. Soalnya pekerjaan aku masih numpuk, dan aku harus selesaikan Minggu ini juga. maaf ya sayang''
"Yah, padahal aku udah rindu banget sama kamu yang😊. Tapi kamu tuntaskan dulu kerjaan kamu biar kalau pulang ngga terlalu banyak beban" balas Gito
"aku juga syang. Makasih ya sayang" balas Aulia
tidak lama kemudian handphone Gito bergetar lagi dan ternyata itu adalah pesan dari ibu Hila.
"Selamat sore pak, maaf ni pak. Tas bapak ketinggalan di ruang guru. Apa perlu saya antar pak?"
"oh iya Bu, memang sengaja saya tinggalkan Bu. ibu ngga perlu repot-repot. Makasih lho Bu atas tawarannya" balas Gito, ia sengaja menolak tawaran ibu Hila karena ia tidak ingin ibu Hila terlalu berharap kepadanya
"Oh ya udah kalau gitu pak. Saya tinggal aja pak" balas ibu Hila
Ibu Hila memang tidak tahu kalau saat jam pelajaran Gito mengikuti Gita hingga ia menjadi babak belur seperti ini.
Saat ingin ke dapur, Gito melihat handphone berwarna hitam yang menyala di lantai. Dan ketika Gito melihat ternyata itu adalah handphonenya Gita. Saking penasarannya dengan isi di handphone Gita, Gito langsung melihatnya. Gito dengan mudah membuka handphone Gita karena Gita tidak menggunakan kode. Dan yang membuat Gito kaget adalah ternyata Gita adalah anak rekan bisnis ayahnya yang kemarin makan malam di rumahnya.
"berarti feeling gue waktu itu benar. Kalau Gita ini anak orang kaya. Tapi kenapa Gita selalu di perumahan kumuh? Dia bahkan tidak seperti anak orang kaya. Apa dia pengen nyembunyin identitas dia? " benak Gito yang masih kebingungan
handphone Gita pun menyala lagi dan ternyata itu panggilan dari ayahnya. ayah Gita ingin mengabarkan kalau dirinya ingin pergi ke luar kota hari ini dan besok akan kembali. Gito sebenarnya takut menjawab telfon ayahnya Gita, tetapi ia pun terpaksa menjawab telfon itu karena takutnya ayah Gita akan marah.
"iya, halo" jawab Gito
ayah Gita kaget dan langsung menjawab
"maaf ini dengan siapa ya? inikan handphone anak saya"
"ini Gito om, gurunya Gita. tadi Gita ngantar saya ke rumah karena saya tadi kecelakaan. tapi handphonenya Gita malah ketinggalan di rumah saya om. Oh ya om, saya Gito anaknya pak Guno." jawab Gito
"oh ternyata kamu Gito. wah om kira tadi siapa hehehe. ternyata kamu gurunya Gita. ya udah kalau gitu ntar om suruh ART om ambil ke situ" ujar ayahnya Gita
"om, gimana kalau besok aja Gito kasi ke Gita sekalian bawa ke sekolah.? Lagian besok ada yang ingin saya sampaikan kepada Gita. ngga apa-apa kan om?" tanya Gito
"oh ya udah, ngga apa-apa kok. om udah percaya sama kamu. apalagi kamu gurunya Gita. Om titip Gita ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang om ya" pinta Ayahnya Gita
" iya om" jawab Gito
Saat Gita di rumah, Gita mulai kebingungan mencari handphonenya. setelah lama mencari hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon nomornya menggunakan telfon rumah. Dan betapa terkejutnya ia, ternyata yang menjawab adalah seorang laki-laki dan suaranya sangat familiar bagi Gita
"Halo" jawab Gito sambil senyum senyum sendiri
"iiiiya, halo. maaf ya ini handphone saya. mas ini siapa ya?" tanya Gita yang masih bingung
"ini saya, Gito" jawab Gito dengan senyuman
"Gito?" ujar Gita sambil mengigat nama Gito
"Oalah bapak. bapak curi handphone saya ya?" ujar Gita dengan sangat curiga
"enak aja, handphone kamu ketinggalan tadi di rumah saya. jadi orang jangan asal nuduh ya, makanya sebelum pergi di cek dulu barang-barangnya, bukan nyelonong pergi gitu aja. ya udah saya mau istirahat jangan ganggu saya. Oh ya, handphonenya besok aja saya antar. Lagian ada yang ingin saya tanya" ucap Gito sambil tertawa penuh kemenangan
"eh eh bapak, malam ini saya ambil pak" balas Gita
"ngga perlu nanti kamu ganggu saya, besok aja titik." ucap Gito sambil mematikan telfonnya. Ia pun mengecek semua yang ada di handphone Gita.
"ta..... tapi pak. tunggu dulu pak"
"pak"
" pak, jangan matiiin pak" jawab Gita yang semakin kesal dengan Gito. Tetapi tetap saja Gito menutup telfonnya. ia ingin mengerjai muridnya itu, karena sudah berani melawan dirinya saat di kelas. Sebenarnya alasan lain Gito tidak ingin memberinya sekarang karena Gito masih kepo isi dari handphone Gita. Ia melihat foto-foto Gita yang begitu lucu dan bahkan ada yang terlihat seperti Barbie.
"dasar guru gila."
"iiiiiiiihhhh gimana dong ini"
"apa gue ke sana aja? tapi kan percuma aja kalau aku ke sana tapi dia tetap aja ngga mau kasi handphonenya." ujar Gita yang menggigit jarinya bahkan Gita sudah dari tadi berjalan ke sana kemari memikirkan cara yang tepat. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti perkataan pak Gito, dari pada ia bertingkah lagi. Gita pun berdoa semoga pak Gito tidak membuka handphonenya. karena ia baru ingat kalau dirinya lupa membuat kode di handphone nya.
"semoga aja orang itu ngga buka handphone aku lah. ah udah ah. pusing kepala ku mikirin dia" gerutu Gita sambil menekan kepalanya lalu merebahkan diri di kasurnya.
kelanjutan nya..