Sesuatu yang buruk menurutmu, bisa jadi itu yang terbaik untukmu. sebuah kisah yang berawal dari candaan, berahir dengan sumpah yang harus ditelan selama hidupnya.
Winda, seorang mahasiswi Fakultas hukum. yang terkesan lembut, pendiam, sederhana dimata teman-temannya, ternyata memiliki ketegasan tersendiri.
Sigit, teman sekelas Winda yang banyak humor kelewat batas, Namun dia adalah sosok yang sangat dingin dan cuek dimata papa Winata. Sigit harus menjalani kehidupan bersama dengan wanita yang sudah hampir 4 tahun ia kenal sebagai gadis unik semasa kuliah. mereka dipertemukan dengan cara yang unik pula.
Nah... penasarankan bagaimana kisah mereka ???
ayo baca disini...!!😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifiq mimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Selang infuse ditangan Winda sudah terlepas. Itu berarti keadaan Winda sudah membaik.
Winda terduduk diatas ranjang masih dalam kebisuan.
Dia memperhatikan cincin dijari manisnya, pemberian mami Lia yang disematkan Sigit beberapa waktu yang lalu.
Seakan tidak percaya bahwa dia sudah menikah dengan orang yang selama ini selalu meledeknya. Sungguh dia tidak pernah menduga.
Terlintas dalam benaknya ketika Sigit menirukan bahasa bicaranya, sehingga harus ada drama sumpah serapah yang terlontar dari bibirnya, dan kini dia sendiri yang harus menjalaninya.
Winda sama sekali tidak pernah mengira jika seorang Sigit yang sering menjailinya, mengganggunya selama dikampus, dan semua tingkah Sigit selama kuliah selalu membuatnya menyimpan rasa kesal dihatinya, kini benar-benar menjadi suaminya.
Mata Winda masih sendu menahan sesak didadanya, dirinya masih belum bisa menerima kenyataan pernikahannya secepat ini.
"Ya Allah, kenapa seperti ini jadinya... kenapa juga harus Sigit yang jadi pasangan hidupku...dia orang yang selama ini menguji kesabaranku. Akankah aku kuat hidup bersama orang yang selalu memandangku rendah? ya Allah..." Jeritan hati Winda, Hingga tidak terasa tetesan bening sudah jatuh dijilbab putihnya.
Mami Lia memperhatikan Winda sesaat, lalu dengan hati-hati mendekatinya ingin memberikan rasa tenang padanya, lalu memegang pundaknya.
"Winda..."
Suara mami Lia terdengar lirih secara tiba-tiba menyadarkan dirinya yang masih termenung sendiri.
"Kenapa masih menangis hmm..." Winda mengusap air matanya.
"Oh ... tidak kenapa-napa kok bu." dahi mami lia berkerut mendengar kata-kata menantunya barusan.
"Kamu bilang tidak kenapa-napa hmm ... jelas-jelas ini ada air dari mata kamu Winda..." mami Lia sudah duduk disebelah Winda dengan ikut menyeka air matanya.
"Atau itu air mata bahagia? " dengan mata melirik genit mami Lia menggodanya. Winda terkejut mendengar perkataan mertuanya, dia menoleh kearah mami Lia.
"Bukan seperti itu bu." matanya kini saling bertemu.
"Winda dengar kata mami, Winda sekarang anak mami, bicarakan sama mami kalau Winda ada masalah yang perlu dibicarakan, jangan ditahan sendirian, dan... satu lagi. Winda boleh panggil mami dengan sebutan mami bukan ibu, biar Winda punya ibu dan punya Mami."
Seolah mengerti perasaan Winda yang yang masih belum bisa menerima keadaanya saat ini, mami Lia mendekatinya, agar tidak ada rasa canggung antara dirinya dengan Winda. Winda pun menyetujuinya dengan menganggukan kepalanya.
"Baik akan Winda coba bu, mi ...." tutur Winda masih dengan suara serak sisa-sisa tangisnya.
"Ternyata kamu benar-benar orang baik Win." monolog mami Lia seraya menatap Winda dengan memegang dagu Winda.
Mami asyik mengobrol bersama Winda beberapa waktu, sehingga melupakan tujuan awalnya memasuki kamar yang ditempati Winda. Tiba-tiba terdengar suara Revan dari arah pintu.
"Mi, ayo, semua sudah menunggu diluar."
suara Revan mengingatkan mami.
"O iya ya ... mami sampai lupa tujuan mami Van ... he he "
Mami Lia menoleh Revan dan beranjak dari duduknya.
Winda berdiri dengan susah payah, namun dia masih saja menahannya agar tidak merepotkan ibu mertuanya. Ada rasa canggung ketika baru mengenal keluarga Sigit, karena hal ini merupakan awal penyesuaian dengan keluarga barunya.
Mami Lia berusaha membantu Winda ketika melihat Winda kesusahan untuk berjalan. Perlahan-lahan Winda melangkahkan kakinya yang sedikit terasa rasa sakit, dia tidak ingin mempunyai kesan lemah dalam keluarga Sigit untuk pertama kalinya.
"Memangnya kamu bisa jalan sendiri? " selidik mami melihat keadaan kaki Winda yang berjalan dengan kaki pincang.
"Bisa kok mi." jawab Winda dengan memaksa kakinya berjalan.
Sigit yang berada dibelakang Revan, melihat Winda sedang kesulitan berjalan membuat hatinya tergerak berniat membantu Winda. Sigit menerobos masuk mendekati Winda, dia berdiri tepat di samping Winda dengan tangan kirinya memegang pundak sebelah kiri Winda. Namun tangan Winda mengibaskan tangan Sigit dengan cepat.
"Tidak usah! aku bisa jalan sendiri! "
Sigit geram menahan malu bantuannya ditolak mentah-mentah oleh Winda didepan Revan dan maminya. Dia merasa harga dirinya telah direndahkan Winda.
Penolakan Winda justru membuat Sigit melakukan perbuatan nekat yang tidak pernah Winda duga sebelumnya, tangan Sigit mengangkat tubuh Winda.
Mata Sigit menatap manik istrinya tajam. Sehingga dengan cepat tubuh Winda sudah dalam bopongannya. Hampir saja Winda kehilangan keseimbangannya, dengan refleks kedua tangan Winda memegang leher suaminya. Mata Winda menatap wajah Sigit tidak menduga sikap Sigit yang benar-benar sudah nekat.
"Jangan membantah kata suami! karena saat ini aku suamimu!"
Mata mami dan Revan masih terbelalak tidak percaya dengan yang barusan dilihatnya. Laki-laki cuek, masa bodoh si Sigit bisa berbuat seperti itu. Mengangkat tubuh Winda dan segera membawanya keluar.
Tidak berbeda dengan mami dan Revan, Winda pun terkejut, dia hanya membisu, terpaku dengan sikap Sigit secara tiba-tiba. Wajah Winda masih menatap Sigit tidak percaya.
Sesampai diparkiran mobil, tanpa disadari Sigit dan Winda, semua orang menyaksikan keromantisan yang tiba-tiba tercipta tanpa mereka sengaja sebagai pengantin baru, dengan adegan mengangkat tubuh pengantin wanita dari dalam rumah hingga memasukkan pengantinnya didalam mobil.
Semua orang yang berada di parkiran terkejut melihat mereka. Sungguh seperti didalam film romantis.
Sigit baru menyadari beberapa pasang mata memperhatikannya setelah mendudukkan Winda disamping kemudi. Seketika dia salah tingkah dan merutuki dirinya sendiri.
"Bodoh bodoh bodoh kenapa gue sampai tidak menyadar ada banyak orang disini."
❄❄❄
Didalam mobil perjalanan pulang
Winda masih terdiam menikmati perjalanan penuh gedung-gedung pencakar langit.
Suasana sore hari menjelang senja, jalanan sangat padat kendaraan berlalu-lalang.
Pengemudi motor tidak sabar dengan antrian yang mengular, membuat mereka nekad menerobos celah-celah kecil, sehingga perjalanan tambah macet.
Hal itu pun sering ia lakoni ketika perjalanan kerja di kantor cabang WP.
Namun, hari ini Winda merasakan sensasi yang berbeda tidak seperti biasanya, walaupun jalur yang ditempuhnya sama.
Hal itu karena dia selalu membawa kuda mesin roda duanya yang selalu terkena kepulan asap dimana-mana, lain halnya sekarang, dia tidak merasa pengap dengan kepulan asap didalam mobil sport milik Sigit.
Winda baru tersadar saat mobil Sigit melaju kebelokan arah kiri, tidak searah dengan perumahan teratai indah letak perumahan kontrakannya berada.
"Kenapa lewat sini? ini bukan jalur perumahan teratai indah git? " sigit hanya melirik Winda yang sewot melalui spion diatasnya.
Hening
"Git... "
"Hmmm"
Hening tak ada jawaban.
"Git! " wajah Winda mulai terlihat geram. Sigit terdiam sesekali melihat spion kanan dan kiri mobil.
"Sigit! " Sigit melirikkan ekor matanya kearah Winda yang benar-benar sudah tersulut emosi.
"Kenapa?" Winda menoleh kearah Sigit yang wajahnya begitu tenang dengan kedua alis Sigit sedikit terangkat.
Laju mobil sudah berkurang kecepatannya.
"Ini jalannya salah Git! Jalan menuju kontrakanku sudah kelewat, bukan lewat sini! " jelas Winda dengan mendengus kesal.
"Terus kenapa? "
"Ya puter baliklah Git! "
"Sekarang pertanyaannya, siapa yang mau ke perumahan teratai indah? " laju mobil semakin lambat
"Aku."
"Mau ngapain?"
"Ya pulanglah Git, Tadi ibu sudah bilang mau kekontrakanku."
"Itu tadi, sekarang udah nggak."
"Kok gitu?"
"Ya. tadi ibu lu udah bilang ke mami, tidak jadi kekontrakan lu, karena malam ini langsung ke rumah saudara lu yang lagi ada acara keluarga."
"Iya ya ... jadi lupa gini si...." tanpa sengaja lirikan mata mereka saling bertemu, hal itu membuat Sigit salah tingkah.
"Kita berhenti didepan dulu."
kata Sigit mengalihkan pandangan.
"Mau ngapain? "
"Ya makan lah. Laper! "
Sigit sudah memarkirkan mobilnya, dia beranjak keluar menuju restaurant.
Setelah beberapa saat menunggu pesanannya, kini makanan pesanannya sudah datang, saat itulah dia baru menyadari keberadaan Winda tidak ada di sekitarnya, dia baru teringat istrinya.
"Winda? dimana Winda? Ya Tuhan Winda... " masih seperti orang bodoh dia baru menyadari istrinya madih didalam mobil, dia pun kembali keparkiran.
Dengan jalan sedikit berlari dia menemukan pintu mobilnya terbuka.
"Ya Tuhan. Winda!"
Begitu sampai dimobil Sigit menemukan Winda masih asik memainkan Hpnya.
Winda kaget melihat tubuh Sigit berada disampingnya, dengan tubuh yang sudah membungkuk mengangkat tubuhnya seperti saat Sigit mengangkatnya dirumah pak Lurah.
Lagi-lagi tindakan Sigit nengejutkan Winda malam itu.
.
.
.
.
Bersambung...🤗
ayo votenya mana....
Winda dan Sigit butuh vote, komen and like akak2 biar semangat 💪💪💖💖💖
semangat ya thor
💖💖💖💖💖
semangat d lanjut ceritanya thor