NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celah di Balik Pintu

Kekalahan kecil Arimbi di lantai 12 tidak lantas menyurutkan ketegangan yang mengepung PT Dirgantara Megah Karya. Sebaliknya, udara di dalam gedung berlantai 20 itu justru makin terasa pekat oleh konspirasi. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore ketika Rapat Pleno Konsorsium di ruang konferensi utama lantai 19 berlangsung memanas.

Alina duduk di sudut belakang ruangan besar berdinding panel kayu mahogani itu. Sebagai bagian dari tim penyusun materi presentasi, tugasnya adalah memastikan seluruh slide visual dan dokumen fisik yang dibutuhkan Devan dapat disajikan tanpa

cela. Namun, dari tempatnya duduk, Alina bisa merasakan aura permusuhan yang mengepul tebal dari meja bundar utama.

Di ujung meja, Pak Hendra, paman Devan yang menjabat sebagai Komisioner Utama, duduk bersedekap dengan wajah memerah.

Di sampingnya, Arimbi Rekso duduk anggun mengenakan gaun hitam kustom yang memancarkan pesona dingin. Di seberang mereka, Devan duduk dengan gestur tubuh yang sangat tenang, memutar-mutar pena fountain perak di jemarinya seolah gertakan para investor di depannya tidak lebih dari sekadar angin lalu.

"Devan, jangan terlalu bersikap keras kepala!" tegas Pak Hendra sambil mengetuk meja kayu itu dengan buku jarinya. "Pihak Rekso Group menawarkan komitmen dana sebesar empat triliun rupiah untuk proyek percepatan ekosistem kendaraan listrik kita. Persyaratan mereka sangat wajar: aliansi kepemilikan saham yang disahkan melalui pernikahan resmi dengan Arimbi. Kenapa kamu terus-menerus menunda pengumuman pertunangan ini?"

Beberapa anggota dewan komisaris lainnya tampak mengangguk setuju. Mereka adalah orang-orang tua yang hanya peduli pada angka pertumbuhan deviden dan nilai saham perusahaan di bursa efek.

Arimbi menatap Devan dengan tatapan yang sulit diartikan, perpaduan antara rasa kepemilikan dan ego tinggi yang terluka. "Devan, kita berdua tahu ini adalah langkah terbaik untuk masa depan Dirgantara Group dan Rekso Group. Pernikahan ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga menjaga kehormatan dua keluarga besar. Apa lagi yang membuatmu ragu?"

Alina menahan napas di sudut ruangan. Jemarinya mencengkeram erat tepi map dokumen di pangkuannya. Di bawah lampu kristal yang berkilau, kontras antara dirinya dan wanita anggun di meja utama itu terasa begitu menghantam kesadarannya.

Devan meletakkan penanya di atas meja. Suara ketukan kecil itu seketika membungkam riuh rendah ketegangan di dalam ruangan. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Pak Hendra dan Arimbi secara bergantian dengan pandangan mata yang sedingin es.

"Dirgantara Group dibangun atas dasar inovasi dan integritas kerja, Paman," ujar Devan dengan suara bass yang berwibawa, bergema memenuhi setiap jengkal ruang rapat. "Bukan atas dasar transaksi pernikahan politik yang mengada-ada."

"Devan!" bentak Pak Hendra, matanya melotot tajam. "Jaga bicaramu! Tanpa konsorsium Rekso Group, proyek Dirgantara City akan kekurangan likuiditas untuk tahap ekspresi pabrik di Jawa Barat!"

"Laporan keuangan konsorsium yang disajikan tim analis saya menunjukkan hal sebaliknya," potong Devan tenang. Ia memberi isyarat mata pada Pak Bagas yang berdiri di sampingnya.

Pak Bagas dengan sigap membagikan lembar dokumen tambahan bertanda Sangat Rahasia ke hadapan seluruh anggota dewan komisaris dan pihak Rekso Group.

"Apa maksudnya ini?" tanya Arimbi sambil meraih dokumen tersebut dengan kening berkerut.

"Itu adalah laporan audit independen atas anak perusahaan Rekso Group di Singapura," terang Devan tanpa ragu sedikit pun. "Dalam tiga bulan terakhir, aliran kas utama kalian mengalami penurunan likuiditas sebesar tiga puluh persen akibat investasi gagal di sektor properti Eropa. Kalian membutuhkan aliansi dengan Dirgantara Group bukan untuk membantu kami, melainkan untuk menutupi defisit neraca keuangan kalian sendiri sebelum laporan tahunan diterbitkan."

Wajah Arimbi seketika pucat pasi. Keanggunan yang ia tampilkan sejak pagi runtuh dalam hitungan detik. Sementara itu, Pak Hendra terperanjat, matanya menatap Devan dengan rasa tak percaya yang mendalam.

"Kamu ... kamu memata-matai keuangan keluarga Rekso?" bisik Arimbi dengan suara gemetar oleh rasa malu dan marah.

"Aku melakukan verifikasi risiko bisnis, Arimbi," sahut Devan datar. "Jadi, jangan menggunakan narasi 'bantuan finansial' atau 'pernikahan demi masa depan perusahaan' di hadapanku. Aku tidak akan pernah menjual kebebasan pribadiku maupun saham utama perusahaan ini demi menutup lubang finansial pihak lain."

Gumpalan ketegangan pecah di dalam ruangan. Para anggota dewan komisaris mulai saling berbisik panik setelah membaca angka-angka di dalam laporan audit tersebut. Posisi Pak Hendra dan Arimbi yang semula di atas angin kini berbalik terpojok dengan sangat telak.

Arimbi berdiri mendadak dari kursinya, merapikan blazernya dengan tangan yang bergetar. "Rapat ini selesai! Kita bicarakan lagi ini di tingkat pemegang saham utama!" tegasnya, berusaha menyembunyikan rasa malu yang luar biasa sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang rapat disusul oleh para pengawalnya.

Pak Hendra menunjuk Devan dengan telunjuknya yang bergetar. "Kamu akan menyesali kelakuan sombongmu ini, Devan! Paman akan memastikan dewan komisaris menggelar rapat luar biasa untuk mencopot wewenag eksekutifmu!" ancamnya sebelum ikut meninggalkan ruangan dengan langkah gusar.

Pukul tujuh malam. Seluruh peserta rapat telah membubarkan diri. Ruang rapat utama kini sepi dan remang-remang, tersisa cahaya lampu jalanan Jakarta yang menerobos masuk melalui kaca jendela besar.

Alina masih berada di dalam ruangan, merapikan sisa-sisa lembar dokumen yang berserakan di atas meja bundar. Hatinya berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia sangat kagum pada keberanian dan kecerdasan Devan yang sanggup membalikkan serangan politik paman dan calon tunangannya. Namun di sisi lain, ia tahu Devan baru saja menyulut api perang terbuka dengan faksi-faksi terkuat di perusahaan.

Saat Alina sedang memasukkan salinan draf ke dalam tasnya, pintu ganda ruang rapat tertutup rapat. Suara kunci digital berbunyi

klik

Alina menoleh terkejut. Devan berdiri di dekat pintu. Pria itu telah melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan kancing atas yang sedikit terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya memancarkan keletihan yang teramat sangat setelah bertarung secara mental selama berjam-jam.

"Devan ..." panggil Alina pelan. "Kenapa kuncinya dikunci?"

Devan tidak menjawab. Pria itu melangkah mendekati Alina dengan langkah perlahan namun pasti. Tatapan matanya yang semula keras saat menghadapi para komisaris, kini melunak sepenuhnya menjadi tatapan hangat penuh kerinduan.

Devan menghentikan langkahnya tepat di depan Alina. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik tubuh Alina pelan ke dalam pelukannya. Devan menyandarkan dagunya di atas bahu Alina, merengkuh pinggang gadis itu dengan erat seolah sedang mencari kekuatan di tengah badai yang menghimpitnya.

Alina terpaku sejenak, terkejut oleh tindakan impulsif suaminya. Namun, merasakan napas Devan yang hangat dan hangatnya tubuh pria itu, pertahanan Alina runtuh. Ia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Devan dengan mengusap punggung lebar pria itu secara lembut.

"Kamu sangat lelah, ya?" bisik Alina halus tepat di dekat telinga Devan.

"Sangat," jawab Devan pendek, suaranya parau dan berat. "Ruangan ini penuh dengan orang-orang yang menginginkan kejatuhanku. Cuma di dekatmu aku bisa bernapas dengan tenang, Alina."

Kata-kata tulus yang keluar dari mulut pria yang dikenal membeku itu membuat dada Alina bergetar hebat oleh rasa haru. Didekapnya Devan sedikit lebih erat, menyalurkan seluruh kehangatan dan dukungan yang bisa ia berikan.

"Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa hari ini," kata Alina lembut. "Kamu berhasil melindungi perusahaan dan ... melindungi kita."

Devan melonggarkan pelukannya, mundur beberapa senti untuk menatap wajah cantik Alina. Tangannya terangkat, merapikan beberapa helai rambut hitam yang jatuh di kening Alina.

"Paman Hendra tidak akan berhenti di sini," ujar Devan dengan nada suara yang kembali serius, matanya menatap dalam-dalam manik mata Alina. "Dia tahu dia kalah dalam argumen finansial, jadi dia akan mencari celah lain untuk menyerangku. Dan celah terbesarmu adalah keberadaanmu."

Jantung Alina berdegup kencang. "Maksudmu ... Paman Hendra mulai mencurigai hubungan kita?"

"Dia menugaskan detektif swasta untuk menyelidiki kehidupan pribadiku di luar kantor sejak minggu lalu," Devan menjelaskan dengan tenang namun tegas. "Itulah alasan kenapa aku bertindak cepat membongkar keuangan Rekso Group hari ini. Aku harus mengalihkan fokus mereka sebelum mereka menemukan jejak pendaftaran pernikahan kita di dinas kependudukan."

Alina menelan ludah dengan susah payah. Bahaya itu tidak pernah benar-benar pergi; bahaya itu hanya bersembunyi di balik bayang-bayang.

"Lalu ... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Alina cemas.

Devan menatap bibir Alina yang bergetar, lalu kembali menatap matanya. Sebuah senyuman tipis, senyuman tulus yang sangat jarang terlihat di wajah sang CEO, terukir manis di bibirnya.

"Kita akan memainkan permainan mereka," bisik Devan rendah. Jemarinya mengusap lembut rahang Alina. "Besok malam adalah pesta ulang tahun pendiri Dirgantara Group di gedung konvensi utama. Paman Hendra berencana mengumumkan pertunanganku secara sepihak di depan media untuk menyudutkanku."

"Lalu?"

"Aku akan membawa seseorang yang sebenarnya untuk mendampingiku," ujar Devan dengan pandangan mata yang memancarkan tekad tak tergoyahkan.

Alina membelalakkan mata, napasnya tertahan di tenggorokan. "Devan ... kamu ... kamu tidak berniat mengumumkan pernikahan kita di depan seluruh media dan keluarga besar, kan?"

"Kenapa tidak?" sahut Devan tegas, mempererat genggaman tangannya di jemari Alina. "Aku sudah lelah bersembunyi di balik dinding kaca ini, Alina. Sudah saatnya seluruh dunia tahu siapa wanita sah yang memiliki hatiku dan berdiri di sampingku sebagai Nyonya Dirgantara."

Kata-kata Devan bergema indah namun teramat dahsyat di dalam benak Alina. Keberanian pria itu untuk mempertaruhkan segalanya, takhta, jabatan, dan reputasinya, demi meresmikan keberadaannya membuat air mata haru menetes membasahi pipi Alina.

Di dalam ruangan yang remang-remang itu, di antara himpitan konspirasi korporat yang kejam, Alina menyadari bahwa takdir telah membawa hubungan rahasia mereka menuju titik balik paling krusial: sebuah keberanian untuk keluar dari bayang-bayang dan menghadapi dunia bersama-sama.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!