Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 "Justin Penyelamat Jia"
Hari cukup terik, terlihat Jia yang sedang berjalan seorang diri menyusuri jalanan Hongdae. Gadis itu mencoba untuk menemukan kalungnya yang tidak sengaja terjatuh. Sudah hampir satu jam gadis itu mencarinya namun belum juga membuahkan hasil apapun.
Meskipun sudah mulai lelah tapi Jia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia terus berjalan dan mencari hingga tanpa sengaja langkah kakinya membawanya ke tengah keributan para remaja yang sedang tawuran.
"Ya Tuhan!" gadis itu terkejut dan panik seketika. Dia mencoba untuk keluar namun tidak menemukan celah. "Ya Tuhan, bagaimana ini?" gumamnya penuh kepanikkan, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Kedua matanya terbelalak saat melihat sebuah balok kayu yang tidak sengaja terlempar mengarah padanya.
Bruggg!! dan di waktu nyaris bersamaan seseorang lebih dulu menarik lengannya hingga wajahnya berbenturan dengan dada bidang pria penyelamatnya.
Orang itu mendorong tubuh Jia dengan kasar setelah berhasil membawa gadis itu keluar dari tengah perkelahian. "Apa kau sudah tidak waras? Di mana akal sehatmu? Bagaimana kau bisa berada di tengah tawuran seperti ini?" Jia tersentak kaget mendengar nada ketus kelewat dingin itu. Suaranya begitu familiar dan tidak asing ditelinganya. Ragu dan tidak yakin Jia mengangkat wajahnya, dan.....?
"Justin!!" pekiknya setelah melihat wajah orang tersebut dan mengetahui jika pria penolongnya adalah Justin.
Jia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat tatapan horror Justin membuat Jia sedikit bergidik.
"Dasar gadis merepotkan." Sinis Justin dan berlalu begitu saja sampai dia merasakan cengkraman pada pergelangan tangannya
"Justin, tunggu." Seru Jia membuat Justin mau tidak mau menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?" tanyanya dingin.
"Kau terluka, sebaiknya kita obati dulu luka dikeningmu itu." Balas Jia sambil menunjuk darah yang mengalir dari kening Justin.
"Tidak perlu." Lagi-lagi Jia menahan lengan Justin.
"Aku mohon," Justin mendengus berat. Dan dengan terpaksa dia menuruti permohonan Jia karna tidak tahan melihat wajah memelasnya.
"Ck, baiklah dan berhenti memasang wajah menjijikkan itu didepanku." Gadis itu tersenyum lebar. Meggedarkan pandangannya untuk menemukan tempat yang nyaman.
"Di sana saja." Tunjuknya pada sebuah taman.
Justin terpaku saat merasakan genggaman Jia pada pergelanan tangannya, gadis itu menarik Justin menuju bangku taman yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat mereka berada. Sementara itu, Park Haneul yang melihat pemandangan langkah itu tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
Semenjak Hanna meninggalkan dia satu tahun yang lalu, ini adalah pertama kalinya Haneul melihat tuan mudanya itu berinteraksi dengan seorang perempuan.
Sepanjang Jia menggobati luka dikeningnya. Tak sedikit pun Justin meloloskan tatapannya dari Jia, tatapannya tetep dingin dan sedatar sebelumnya. Pandangan Justin bergulir pada lengan kiri gadis itu yang penuh bekas sayatan benda tajam. Justin tidak tau seberapa terlukanya gadis dihadapannya ini sampai dia begitu frustasi dan depresi, rasanya Justin ingin sekali meledakkan kepala Brian karna sudah menghancurkan hati dan perasaan gadis malang ini hingga dia menggalami depresi yang begitu berat.
"Kau baik-baik saja?" ucap Justin seraya menatap gadis di hadapannya.
Jia mengangkat wajahnya dan menatap bingung Justin, gadis itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis
"Apakah aku tidak terlihat baik-baik saja?" ucapnya dengan senyum yang sama.
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja." Balas Justin menimpali.
"Nah selesai." Jia menarik dirinya dan tersenyum puas melihat hasil karyanya. Sebuah perban putih terlihat melingkari kening sampai belakang kepala Justin dengan bercak darah tepat diatas alis kanannya. Jia tidak tau bagaimana Justin bisa terluka namun dia lega karna lukanya tidak terlalu parah. "Lagi-lagi kau menyelamatkanku dan ini sudah keempat kalinya. Aku berhutang nyawa padamu, aku tidak tau bagaimana nasibku jika kau tidak ada." Ujar Jia panjang lebar.
"Aku tidak tau kenapa kau selalu terlibat dalam masalah seperti ini dan selalu berada dalam bahaya, kadang aku berfikir kau itu bodoh atau ceroboh? Dan jika boleh jujur, kau adalah gadis terbodoh dan terceroboh yang pernah aku temui dalam hidupku." ujar Justin. Alih-alih merasa marah, Jia malah terkekeh mendengar ucapan Justin.
"Begitukah? Aku memang sangat ceroboh, bahkan saat masih sekolah dan kuliah dulu aku selalu tertimpa kesialan karna kecerobohanku sendiri. Oya, Justin-ssi. Terimakasih untuk bantuannya, maaf tapi aku harus pergi sekarang. Sekali lagi aku ucapan terimakasih." Jia tersenyum seraya membungkuk pada Juatin. Kemudian gadis itu berbalik dan melenggang pergi meninggalkan Justin yang masih bertahan dalam posisinya.
Pemuda itu memgulum senyum tipis. "Gadis yang aneh." Justin segera beranjak dari posisinya dan melenggang meninggalkan taman, dia sudah terlalu lama meninggalkan bibi pengasuhnya sendiri di dalam mobil. Sebelum menemui teman-temannya, Justin akan lebih dulu mengantarkan wanita itu pulang ke apartemen pribadi miliknya.
.
Ting!!
Suara lonceng diatas pintu cafe menandakan jika ada pelanggan yang datang. Seorang pemuda bersurai blode dalam balutan jeans belel hitam, singlet yang dibalut rompi levis serta perban melilit dahinya terlihat memasuki cafe tersebut. Meskipun penampilannya begitu serampangan tapi hal itu tidak mengurangi pesonanya sedikit pun dan terlihat beberapa pengunjung cafe memperhatikannya
"Hyung, di sini." seorang pemuda melambaikan tangan padanya.
"Omo? Justin, apa yang terjadi pada keningmu?" tanya Sean melihat perban melilit kening Juatin.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja." Jawabnya datar.
"Hyung, kau ingin makan dan minum sesuatu? Khusus hari ini gratis. Tapi asal jangan yang mahal-mahal karna bisa-bisa aku bangkrut." Ucap Dio selaku pemilik cafe. Dio adalah bagian dari Five Corner meskipun dia jarang sekali berkumpul bersama Justin , Sean, Leo, Thomas dan Felix termasuk beberapa pemuda yang duduk di satu meja dengan mereka.
"Huaaa!! Tumben sekali kau baik, Hyung? Biasanya kau sangat pelit apalagi padaku dan, Thomas Hyung." Ujar Felix menyahuti.
"Itu karna kau dan bocah ini selalu memilih makanan termahal di cafe ini, jika setiap hari aku bisa bangkrut." Jawab Dio menimpali.
"Dasar perhitungan, giliran pada kami berdua saja kau pelit. Coba saja pada para wanita pasti kau akan memberikannya secara gratis. Dasar mata keranjang."
"Yakk!! Hentikan ocehanmu itu, Lee Felix." pekik Dio kesal. Alih-alih merasa kesal, Felix malah terkikik geli
"Kau begitu menggemaskan, Hyung. Oya aku ingat, kemarin aku melihatmu jalan dengan, Riana, padahal setauku kekasihmu adalah, Vivi, meskipun tampangmu terlihat polos ternyata kau playboy juga ya."
"Diamlah bocah setan, jika kau tidak ingin aku sumpal menggunakan dolar milik, Sean, Hyung."
Sean menoleh seketika dan menatap tajam pada Dio. "Yakk!! Maniak panci, kenapa kau malah bawah-bawah dolar milikku. Jika cuma buat nyumpal mulut cerewet bocah ini aku tidak sudi tapi kalau untuk membeli, Kim Hyuna, aku sih tidak masalah."
"Hueee!!! Bukankah kau sudah berkali-kali membelinya, Hyung?" ucap Leo menimpali.
"Ck, kenapa kau malah membuka kartuku? Dasar tiang listrik gila."
"Hahahha!! Ternyata kau masih semesum dulu ,Hyung. Bahkan kau lebih parah lagi. Aku jadi ingin belajar darimu dan sepertinya, Max, Hyung yang mesum super akut kalah darimu." ujar Kai tidak mau kalah.
"Yakk!! Diamlah kau hitam."
"Hyung, jika kau mau aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa wanita sexy dan menggoda. Aku memiliki banyak kenalan wanita yang mau membuka kedua kakinya dengan senang hatinya untukku." Sahut Tian menimpali.
"Bagaimana?"
"Akan lebih menyenangkan jika kita bermain secara berjamaah," ucap Max sambil menatap teman-teman mesumnya itu. "Bagaimana, Lay, Kau setuju bukan?"
"Sorry , Hyung. Tapi aku tidak memiliki otak mesum seperti kalian semua. Tapi aku juga tidak bisa menolak saat kenikmatan itu berada di depan matamu." ujarnya dan langsung mendapatkan timpukan kacang dari semua teman-temannya kecuali Justin.
Justin mendengus dan memutar matanya jengah mendengar perdebatan teman-temannya yang menurutnya tidak berfaedah sama sekali. Mereka hanya membicarakan hal-hal berbau mesum yang menyesatkan dan itu menbuat Justin merasa sangat muak. Cinta dan wanita? Apakah dua hal itu begitu penting sampai mereka begitu bersemangat saat membahasnya.
"Maaf Oppa. Aku tidak bisa, aku tidak pernah memiliki perasaan lebih padamu. Aku... hanya menganggapmu teman, tidak lebih dari itu."
Justin menoleh seketika setelah mendengar suara yang begitu familiar dan mendapati Jia duduk tak jauh darinya dengan seorang pria berpakaian rapi. Dari sana Justin dapat melihat Jia yang menarik kedua tangannya yang semula digenggam oleh laki-laki itu.
"Kenapa, Jia? Apa yang kurang pada diriku? Harta aku punya, tampan sudah sangat jelas, lalu apa lagi?"
"Aku belum ingin menjalin hubungan apapun dengan seorang pria, jadi mengertilah. Mianhae, aku harus pergi."
"Tunggu." laki-laki itu menahan Jia. dengan menggenggam pergelangan tangannya "Ada apa lagi?"
"Jangan sok jual mahal, Min Jia. Aku tau wanita seperti apa kau ini, jika kau mau aku bisa memberikanmu banyak sekali uang dan aku bisa memuaskanmu. Kau terlalu munafik, Nona. Semua wanita pasti sangat menginginkannya, termasuk dirimu. Harta, kepuasan dalam bercinta jadi jangan berpura-pura tidak menginginkannya."
Byurrr!!
Jia mengambil gelas menimuan di depannya dan menyiramkan pada wajah laki-laki di hadapannya lalu menyentak tangannya dengan kasar. Dan apa yang Jia lakukan menarik perhatian semua pengunjung cafe termasuk Justin dan teman-temannya.
"Aku tau kau memang kaya dan memiliki segalanya tapi kau tidak bisa menyamakan diriku dengan sampah tidak berharga. Laki-laki sepertimu banyak didunia ini dan jika aku mau aku bisa membelimu. Aku masih memiliki harga diri, dan jangan pernah berfikir untuk membeli harga diriku karna harga diriku tidak akan ternilai harganya. Aku permisi."
Baru saja dua langkah Jia berjalan namun langkahnya kembali dihentikan oleh laki-laki itu dengan menghimpitnya pada tembok dibelakangnya. Jari-jarinya mencengkram rahang Jia dan menatapnya sinis. "Sekali jal*ng tetap saja jal*ng, kau berani mempermalukanku dan untuk itu kau harus menerima akibatnya." Jia segera menutup matanya dan menundukkan wajahnya melihat laki-laki didepannya mengangkat tinggi salah satu tangannya dan bersiap untuk menamparnya.
'Plakk'
Namun gerakan tangan laki-laki itu harus terhenti sebelum menyentuh wajah Jia karna seseorang yang lebih dulu menahannya. "Aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan tanganmu jika kau berani menyentuhnya." ucap orang itu dengan tatapan dingin penuh intimidasi, sontak saja Jia mengangkat wajahnya dan lagi-lagi orang yang sama yang menyelamatkannya.
"Justin!"
Justin menarik Jia untuk berdiri disampingnya, sementara laki-laki itu tampak geram melihat kedatangan Justin yang sangat tiba-tiba. "Yak! Siapa kau? Berani sekali kau ikut campur?" teriak pria itu didepan wajah Justinn seraya menarik pakaiannya.
Melihat Justin diperlakukan seperti itu tidak lantas membuat teman-temannya diam begitu saja. Semua beranjak dari duduknya dan menghampiri laki-laki itu. Felix dan Thomas berdiri di barisan paling depan.
Byurrrr...!!!
V dan Felix mengguyur kepala laki-laki itu dengan minuman dan sup
"Jangan pernah menyentuhkan tanganmu pada, Leader Five Corner , jika kau tidak ingin berakhir dipemakaman." ucap Felix halus namun terdengar begitu berbahaya. Karna tidak ingin terlibat masalah pada para brandalan itu, laki-laki tersebut pun memutuskan untuk pergi dari sana.
"Awas kalian semua, dan awas kau." ancamnya sambil menunjuk Justin.
"Nunna, kau tidak apa-apa? Apa bajingan itu menyakitimu?" tanya Thomas memastikan.
Jia menggeleng. "Aku baik-baik saja, terimakasih untuk pertolongan kalian semua." Jia membungkuk pada mereka semua.
"Tidak perlu seperti itu, Jia. Kami senang bisa membantumu." ucap Leo menimpali.
"Aku akan mengantarkan dia pulang, malam ini kita langsung bertemu di lokasi saja." Leo dan Max mengacungkan jempolnya pada Justin sebelum pemuda itu membawa Jia pergi dari sana.
"Hyung, kalian semua ada yang bertaruh denganku untuk mereka berdua? Yang kalah harus bersedia menjadi wanita dan babu selama dua minggu? Bagaimana? Ada yang berani?" usul Felix sambil menatap hyung-hyungnya. Para anggota Five Corner saling bertukar pandang dan beberapa diantaranya menyetujuhi taruhan dari Felix.
"Oke, kami bertiga setuju."
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....