NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal Terlarang di Balik Dinding Kaca

Sore itu Alina ada di ruang kerja utama Devan, Alina sempat terpaku dengan perhatian Devan. Sentuhan ibu jari Devan di pipinya masih menyisakan sensasi hangat yang membakar kulit Alina, bahkan setelah beberapa menit pria itu menarik tangannya kembali. Keheningan yang menyelimuti ruang kerja lantai 20 kini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang dingin dan mengintimidasi, melainkan sebuah kecanggungan manis yang sarat akan ketegangan emosional.

Devan berdeham pelan, berbalik menuju meja kerjanya dan meraih sebuah cangkir kopi yang sudah mendingin. "Pulanglah. Pengawalku sudah menunggu di basement untuk mengantarmu ke apartemen."

"B-baik, Pak Devan. Terima kasih," jawab Alina terbata-bata, berusaha merapikan tali tasnya dengan jemari yang masih gemetar. Ia membungkuk hormat, lalu bergegas melangkah keluar ruangan sebelum Devan sempat melihat rona merah yang kini merambat memenuhi seluruh wajahnya.

Di dalam lift khusus yang meluncur turun, Alina menyandarkan punggungnya ke dinding besi berpola garis emas. Ia menyentuh pipi kirinya. Bayangan tatapan mata Devan yang kelam, serta kelembutan yang tak terduga dari jemari pria itu, terus berputar di benaknya.

("Apakah pria dingin itu benar-benar mulai peduli padaku, atau ini hanya bentuk tanggung jawab seorang penguasa yang tidak ingin aset miliknya diganggu?") bisik batin Alina bingung.

****

Keesokan harinya, suasana di lantai 12 terasa sedikit berbeda. Sejak pukul delapan pagi, tim hukum pusat dari kantor direksi terlihat menyambangi meja Mbak Maya dan menyerahkan sebuah dokumen resmi bersampul abu-abu tebal.

Tak lama setelah tim hukum pergi, Mbak Maya memanggil Clara dan Alina ke dalam ruang kerjanya.

"Clara, Alina," panggil Mbak Maya dengan raut wajah serius namun tenang. Ia meletakkan dokumen dari tim hukum di atas mejanya. "Soal perdebatan data kependudukan Alina kemarin sore, pihak HRD pusat bersama tim legal sudah menerbitkan surat klarifikasi resmi."

Clara yang berdiri di samping Alina melipat kedua tangannya di dada dengan senyum miring, yakin betul bahwa kejahatan Alina akan dihakimi. "Bagaimana hasil verifikasinya, Mbak Maya? Bukankah data Alina palsu?"

Mbak Maya menghela napas, menatap Clara dengan pandangan prihatin. "Data Alina sepenuhnya sah dan legal. Status pernikahannya baru saja diperbarui secara resmi minggu lalu setelah seluruh proses seleksi pegawai selesai, sehingga tidak ada bentuk pemalsuan data diri saat melamar. Terkait dokumen pendukung dan data pasangan, statusnya dikategorikan sebagai Data Terproteksi Privasi Eksekutif di bawah naungan perlindungan hukum perusahaan."

"Apa?!" Clara terbelalak, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya.

"Terproteksi? Bagaimana bisa staf biasa punya status terproteksi seperti itu, Mbak? Ini tidak masuk akal! Siapa suaminya sampai harus dilindungi hukum perusahaan?!"

"Itu di luar wewenang kita, Clara!" potong Mbak Maya dengan suara meninggi, memutus sikap tidak sopan bawahnnya itu. "Manajemen pusat menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba membongkar, menyebarkan isu, atau mengintimidasi staf terkait data pribadi yang dilindungi ini, akan langsung dikenakan Sanksi Pelanggaran Kode Etik Berat tingkat tiga. Kamu paham maknanya, kan?"

Wajah Clara seketika pucat pasi. Sanksi tingkat tiga berarti pemutusan hubungan kerja secara tidak hormat tanpa pesangon.

Gigi Clara bergeletuk menahan amarah dan malu yang luar biasa. Ia melirik Alina dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam, lalu menghentakkan kakinya keras dan keluar dari ruangan Mbak Maya tanpa pamit.

"Alina," panggil Mbak Maya lembut setelah Clara pergi. "Kamu tidak usah khawatir lagi. Kerjakan tugasmu seperti biasa. Jangan biarkan hal ini mengganggu fokus kerjamu, ya?"

"Baik, Mbak Maya. Terima kasih banyak atas bantuannya," sahut Alina tulus, lega melihat perisai rahasia Devan bekerja dengan sangat sempurna.

***

Beberapa hari berlalu. Kondisi Bu Rahmi di rumah sakit menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Dokter Hendra bahkan menyatakan bahwa jika tren pemulihannya stabil, ibunya sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa akhir minggu ini.

Berita bahagia itu membuat kerja keras Alina di kantor terasa jauh lebih ringan.

Namun, dinamika hubungan Alina dan Devan di kantor perlahan-lahan mulai berubah secara halus, sebuah perubahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua.

Devan mulai lebih sering melakukan inspeksi mendadak ke lantai 12. Jika sebelumnya sang CEO hanya melintas sebulan sekali untuk rapat besar, kini setidaknya dua hari sekali sosok tingginya yang anggun akan terlihat berjalan menyusuri koridor divisi Pemasaran bersama Pak Bagas.

Meskipun Devan tidak pernah menyapa Alina secara langsung di depan pegawai lain, matanya yang tajam selalu menyapu kubikel Alina. Kadang-kadang, ketika Devan berpura-pura mendengarkan laporan dari manajer senior, garis pandangnya akan terhenti selama beberapa detik pada Alina yang sedang mengetik. Dan setiap kali pandangan mereka beradu secara tidak sengaja, Alina bisa merasakan desiran halus yang membakar dadanya.

Bahkan hal-hal kecil mulai terjadi. Sering kali saat Alina pulang melintasi lorong parkir atau koridor sepi di lantai bawah, Pak Bagas akan muncul secara ajaib membawa kotak makan siang bergizi tinggi atau cangkir teh chamomile favoritnya dengan pesan singkat: ("Dari Tuan Devan, pastikan dihabiskan.")

"Alina, kamu sadar tidak sih?" bisik Siska suatu sore ketika mereka sedang menyusun laporan di meja kerja.

"Sadar soal apa, Siska?" tanya Alina bingung sambil menata jilidan kertas.

Siska mencondongkan tubuhnya, berbisik heboh. "Pak Devan! Akhir-akhir ini beliau makin sering banget ke lantai kita! Terus ya ... kalau beliau lagi berdiri di depan papan presentasi, matanya itu sering banget ngelirik ke arah sudut meja kita. Kamu merasa begitu juga tidak?"

Jantung Alina berdegup kencang. Ia berusaha tertawa canggung. "Masa sih? Mungkin Pak Devan cuma mau memastikan proyek peluncuran baru berjalan sesuai target, Siska."

"Ah, tidak mungkin cuma soal proyek," kekeh Siska. "Tapi yah, biarlah. Dilihat dari jauh saja sudah bikin mata segar. Sayang sekali beliau itu sudah dingin kayak es batu dan katanya sebentar lagi mau dijodohkan sama putri konglomerat."

Mendengar kata dijodohkan, senyum tipis di bibir Alina mendadak sirna. Kenyataan pahit itu kembali merayap masuk ke dalam pikirannya, memadamkan kehangatan kecil yang sempat mekar di hatinya.

***

Jumat malam, pukul delapan. Seluruh pegawai divisi Pemasaran sudah pulang. Alina sengaja bertahan untuk menyelesaikan laporan keuangan bulanan yang harus diserahkan Senin pagi. Gedung megah itu mulai hening, tersisa lampu-lampu koridor yang memancarkan cahaya temaram.

Saat Alina sedang mematikan komputernya, langkah kaki yang mantap terdengar bergema di sepanjang lantai marmer yang sepi. Alina mendongak dan terkejut melihat Devan berdiri di ambang pintu masuk divisi Pemasaran. Pria itu tidak mengenakan jasnya, hanya kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku dan celana kain gelap yang membingkai kakinya yang jenjang.

"Pak Devan?" Alina berdiri dari kursinya. "Kenapa Anda ada di lantai ini jam segini?"

Devan melangkah masuk, menyusuri deretan kubikel kosong hingga berhenti di depan meja Alina. Aroma sandalwood yang maskulin seketika memenuhi ruang udara di antara mereka.

"Aku melihat lampu mejamu masih menyala dari layar CCTV di ruanganku," jawab Devan dengan suara bass yang rendah dan berat di tengah keheningan malam. "Kenapa belum pulang? Ini sudah lewat jam delapan."

"Saya baru saja selesai merapikan laporan bulanan, Pak. Ini sudah mau jalan pulang," terang Alina sambil merapikan tas selempangnya.

Devan menatap Alina, memperhatikan lingkaran hitam tipis di bawah mata gadis itu. "Bagaimana kondisi ibumu hari ini?"

Alina tersenyum, dan kali ini senyumannya begitu cerah hingga membuat Devan terpana sejenak. "Sangat baik, Pak Devan! Dokter bilang Minggu ini Ibu sudah bisa pindah ke kamar biasa. Semua ini berkat Anda ..."

Devan memalingkan pandangannya sebentar, mencoba menguasai getaran di dadanya saat melihat senyuman tulus itu. "Bagus kalau begitu."

Devan kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci perak berlogo khusus, meletakkannya di atas meja Alina.

"Apa ini, Pak?" dahi Alina berkerut.

"Kunci akses lift khusus nomor 3," Devan menjelaskan datar. "Mulai Senin depan, kamu tidak perlu lagi mengendap-endap lewat tangga darurat kalau kupanggil ke lantai 20. Gunakan kartu akses ini langsung dari basement eksekutif."

Alina menatap kunci perak itu, lalu menatap Devan dengan ragu. "Tapi Pak ... kalau ada yang melihat saya membawa kunci akses eksekutif—"

"Tidak akan ada yang berani mempertanyakannya," potong Devan tegas. Ia melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Alina bisa merasakan aura hangat yang memancar dari tubuh pria itu. Devan menundukkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang jernih. "Dan satu hal lagi ... mulai besok akhir pekan, kamu tidak boleh menolak saat aku menyuruh sopir menjemputmu untuk makan malam bersama."

Jantung Alina berdegup liar bagaikan genderang perang. "Makan ... makan malam bersama?"

"Ya," ujar Devan singkat tanpa keraguan.

"Kita sudah menikah hampir satu bulan, Alina. Sudah saatnya kita saling mengenal lebih jauh di luar urusan dokumen dan rumah sakit."

Kata-kata Devan terngiang indah namun berbahaya di dalam kepala Alina. Di satu sisi, hatinya membuncah oleh kebahagiaan yang tak terelakkan. Namun di sisi lain, bayangan sosok Arimbi, wanita bangsawan yang direstui keluarga Devan, dan ancaman paman Devan membayang bagaikan badai hitam yang siap menghancurkan segalanya.

Apakah Alina sanggup menyerahkan hatinya kepada pria yang berada di puncak dunia ini, di tengah bahaya rahasia yang setiap saat bisa meledak?

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!