NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit

Hutan purba Little Garden seolah menahan napasnya. Kabut lembap yang biasanya mengambang rendah di antara akar-akar pohon raksasa kini tersapu oleh gelombang panas yang tidak wajar. Aroma daun basah dan tanah berlumpur mendadak tergantikan oleh bau mesiu yang hangus terbakar.

​Mr. 5, yang baru saja terpelanting menabrak pohon akibat serangannya sendiri yang dibalikkan oleh Roy Mustang, terbatuk keras. Darah kental menetes dari sudut bibirnya. Kacamata hitamnya retak, dan jaket kulit panjangnya robek dipenuhi sisa arang.

​Di atas tanah yang dipenuhi semak berduri, Brogy si Raksasa Merah menatap Mustang dengan mata terbelalak lebar. Kapak raksasanya yang berlumuran darah Dorry bergetar di tangannya.

​"Gababababa! Manusia kecil yang aneh!" tawa Brogy menggelegar, meskipun tawanya dipenuhi kebingungan. "Api itu muncul begitu saja dari tangannya! Apakah dia dewa penjaga pulau ini?!"

​Di sebelahnya, Dorry yang terbaring lemah dengan perut terluka parah hanya bisa mengerang, matanya yang mulai meredup mencoba mencerna apa yang terjadi. "Gegyagyagya... Kekuatan yang menakutkan..."

​Namun, fokus utama di medan pertempuran itu terletak pada pria berambut kuncir berbentuk angka 3. Galdino, atau yang lebih dikenal dengan nama sandi Mr. 3 dari Baroque Works.

​Keringat dingin membasahi wajah licik Mr. 3. Tangannya yang sedang mempertahankan posisi untuk mengeluarkan lilin cair mulai bergetar. Sebagai seorang seniman pembunuh yang mengandalkan taktik, jebakan, dan kelemahan psikologis, berhadapan langsung dengan seseorang yang bisa memanipulasi api secara instan adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Api adalah musuh alami dari lilinnya.

​"K-Kukuku... Kukukukuku!" Mr. 3 mencoba tertawa, suaranya melengking tinggi menyembunyikan kepanikannya. "Jangan sombong dulu, Tuan Prajurit! Kau pikir api kecilmu itu bisa menghancurkan karya seniku?! Lilinku ini sepuluh kali lebih keras dari besi ketika mengeras! Ini adalah seni pembunuhan yang sempurna!"

​Roy Mustang berdiri dengan santai, sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana militernya, sementara tangan kanannya yang bersarung putih menggantung bebas di sisinya.

​"Keras seperti besi, katamu?" Mustang tersenyum meremehkan. "Kau benar-benar tidak memahami hukum termodinamika dasar, ya? Benda yang keras sekalipun akan kehilangan ikatan molekulnya jika dihadapkan pada titik leleh yang tepat."

​"Banyak omong kosong! Candle Lock (Kunci Lilin)!" teriak Mr. 3 dengan histeris.

​Dari kedua telapak tangan Mr. 3, cairan lilin putih menyembur keluar dengan kecepatan tinggi, melesat ke udara dan membentuk borgol-borgol raksasa yang mengincar kaki dan tangan Mustang. Lilin itu bergerak dengan lincah seperti ular hidup.

​Mustang bahkan tidak memindahkan posisi kakinya. Ia menatap lilin yang melesat ke arahnya dengan pandangan bosan, lalu mensejajarkan ibu jari dan jari tengah kanannya.

​SNAP!

​Percikan api sekecil ujung jarum menyala. Namun, di bawah kendali alkimia Mustang, molekul oksigen di sepanjang jalur terbang lilin tersebut telah dipadatkan secara ekstrem.

​BHOOOM!

​Gelombang api oranye kemerahan meledak dalam formasi memanjang, bertabrakan langsung dengan semburan lilin Mr. 3 di udara.

​Tidak ada suara benturan keras. Yang terjadi hanyalah suara mendesis yang sangat kencang, Tssssssss!

​Lilin yang dibanggakan sekeras besi itu bahkan tidak sempat menyentuh mantel Mustang. Begitu bersentuhan dengan dinding api termobarik, lilin itu langsung mencair, mendidih, dan menguap menjadi gas dalam hitungan kurang dari satu detik. Sisa-sisa lelehan lilin panas jatuh ke tanah, membakar semak-semak di sekitarnya.

​Mr. 3 mematung. Mulutnya menganga lebar hingga rahangnya nyaris menyentuh dada. "M-Mustahil... Karya seniku... menguap?!"

​"Karya seni yang buruk," ejek Mustang, meniup pelan ujung sarung tangannya yang berasap. "Kau terlalu bergantung pada material murahan."

​"JANGAN MEREMEHKAN KAMI, KEPARAT!"

​Sebuah jeritan melengking dari udara memotong ucapan Mustang. Dari atas dahan pohon yang sangat tinggi, Miss Valentine melompat turun. Wanita berambut pirang pendek dengan gaun lemon itu memegang payungnya, menatap Mustang dengan tatapan membunuh.

​"Kyahahaha! Kau mungkin bisa melelehkan lilin, tapi mari kita lihat apakah kau bisa menahan sepuluh ribu kilo daging yang menghancurkan kepalamu! Kilo Kilo no Mi! Sepuluh Ribu Kilo Guillotine!"

​Miss Valentine mengubah berat tubuhnya menjadi 10.000 kilogram secara instan di udara. Gaya gravitasi menarik tubuhnya turun dengan kecepatan yang mengerikan, mengarah lurus ke atas kepala Mustang dan Muzan yang berdiri tak jauh di belakangnya. Hantaman dari berat sepuluh ton yang jatuh dari ketinggian puluhan meter akan setara dengan meteor kecil yang mampu meratakan tanah menjadi kawah.

​Mustang mendongak ke atas, matanya sedikit menyipit. Ia bersiap untuk menjentikkan jarinya ke udara.

​Namun, dari balik tudung jubah hitamnya, Muzan Kibutsi mengangkat satu tangannya dengan pelan, memberi isyarat pada Mustang untuk menahan diri.

​"Mustang, tahan apimu," perintah Muzan melalui koneksi telepati yang dingin. "Kita tidak sendirian. Biarkan Dewa yang mengurus langit."

​Mustang segera menurunkan tangannya dan tersenyum simpul. Ia mundur satu langkah, sepenuhnya memercayai perintah sang Dalang.

​Di udara, Miss Valentine tertawa semakin gila, mengira mereka berdua sudah pasrah menerima kematian. "Kyahahaha! Kalian sudah mati! Hancurlah menjadi daging cin—!"

​Ucapan Miss Valentine terpotong secara brutal.

​Bukan oleh api, bukan oleh pedang. Melainkan oleh murka alam itu sendiri.

​Langit di atas Little Garden, yang tertutup oleh kanopi hutan dan awan mendung, tiba-tiba memancarkan kilatan cahaya biru keputihan yang luar biasa menyilaukan. Bahkan Brogy dan Dorry harus memejamkan mata mereka karena terangnya cahaya tersebut.

​Dari atas awan, suara berat dan penuh kecongkakan bergema, seolah turun langsung dari singgasana surga.

​"Manusia rendahan berani berbicara tentang menghancurkan sesuatu dari atas langit? Kesombongan yang menggelikan. Hukuman Ilahi... El Thor!"

​KRAK-THOOOOOMMM!!!

​Pilar petir raksasa berdiameter lima meter melesat lurus dari langit biru, membelah kanopi hutan purba hingga hangus, dan menyambar tepat ke arah Miss Valentine yang sedang meluncur turun.

​"A-Apa...?!" Hanya itu yang sempat diucapkan oleh sang agen Baroque Works.

​Petir itu menghantamnya telak. Tegangan jutaan volt mengalir melalui tubuhnya dalam seperseribu detik. Daging seberat sepuluh ribu kilogram tidak memiliki arti apa-apa di hadapan penghakiman energi murni. Miss Valentine menjerit tanpa suara saat petir itu menelan tubuhnya secara keseluruhan.

​Pilar petir itu terus melaju ke bawah, menghantam tanah hutan dengan daya ledak yang menggetarkan seluruh pulau.

​Tanah meledak. Batu-batu purba hancur menjadi debu. Gelombang kejut elektromagnetik menyapu area tersebut, membuat rambut Mr. 3 dan Mr. 5 berdiri kaku, sementara tubuh mereka terlempar beberapa meter ke belakang.

​Ketika cahaya petir yang menyilaukan itu mereda, sebuah kawah sedalam tiga meter yang pinggirannya meleleh menjadi kaca hitam berasap tertinggal di tengah hutan. Di dasar kawah tersebut, Miss Valentine terkapar tak bergerak, gaunnya hangus total, tubuhnya kejang-kejang ringan dengan kepulan asap putih keluar dari mulutnya. Ia tidak mati, namun sistem sarafnya telah hancur total untuk waktu yang sangat lama.

​Kesunyian yang memekakkan telinga turun menyelimuti medan pertempuran.

​Mr. 5, yang baru saja bangkit kembali, menjatuhkan rahangnya. Lututnya kehilangan seluruh tenaganya. "P-Petir?! Dari langit yang cerah?! B-Bagaimana mungkin... Kekuatan macam apa ini?!"

​Brogy, sang raksasa dari Elbaf, menjatuhkan kapaknya. Ia jatuh berlutut, menatap kawah berasap itu dengan mata bergetar penuh kekaguman. "G-Gabababa... Ini... ini pasti kemarahan Dewa Elbaf... Mereka melindungi kita..."

​Di tengah kengerian para agen Baroque Works, Muzan Kibutsi perlahan menurunkan tangannya. Di balik jubahnya, ia bisa mendengar tawa arogan Enel yang menggema di dalam sistem.

​"Zehahaha! Bagaimana, Pencipta? Serangga itu terbakar sangat indah di bawah cahayaku," lapor Enel dari langit dengan sombong.

​"Kerja bagus, Enel. Terus pantau area sekitar," balas Muzan dingin, memastikan ego sang Dewa Petir tetap berada di bawah kendalinya.

​Muzan menatap ke arah Mr. 3 yang kini meringkuk di tanah, tubuhnya gemetar sehebat daun yang tertiup badai. Galdino, pria licik yang selalu merasa rencananya sempurna, kini dihadapkan pada entitas yang melampaui logika perhitungannya.

​"M-Monster... Kalian semua monster!" jerit Mr. 3, air mata dan ingus mengalir di wajahnya. Rasa takut akan kematian mendorong adrenalinnya ke batas maksimal. Insting bertahannya meledak.

​"AKU TIDAK AKAN MATI DI SINI! Mr. 0 AKAN MEMBUNUHKU JIKA AKU GAGAL!"

​Mr. 3 memukul tanah dengan kedua tangannya. Semburan lilin dalam jumlah yang sangat masif membanjiri area sekitarnya. Lilin itu mengalir cepat, memutar dan mengeras, membentuk sebuah robot pelindung raksasa setinggi lima meter yang menyerupai gladiator dengan baju besi tebal.

​Candle Champion!

​Mr. 3 melompat masuk ke dalam rongga dada patung robot lilin tersebut, menyegel dirinya di dalam. Wajahnya terlihat dari balik kaca lilin yang tebal, memancarkan senyum gila yang dipenuhi keputusasaan.

​"Kukukuku! KUKUKUKU! BAGAIMANA SEKARANG, KEPARAT?!" teriak Mr. 3 dari dalam zirah lilinnya yang menggema. "Lilin ini setebal sepuluh inci! Bahkan raksasa tidak akan bisa menghancurkannya dengan mudah! Api kecilmu tidak akan bisa melelehkan ini dalam waktu singkat! Aku akan menghancurkan kalian berdua!"

​Robot lilin itu melangkah maju dengan berat, mengangkat tinjunya yang dilengkapi duri tajam ke arah Mustang.

​Mustang bahkan tidak memundurkan posisinya. Ia menghela napas panjang, menatap robot lilin itu dengan pandangan iba yang sangat merendahkan.

​"Kau benar-benar idiot," ucap Mustang santai. "Kau sengaja mengurung dirimu sendiri di dalam cangkang yang kedap udara. Kau tidak menciptakan pelindung, Galdino. Kau baru saja membuat oven panggangmu sendiri."

​Mr. 3 membelalakkan matanya. "O-Oven?!"

​Mustang tidak mengincar bagian luar patung lilin tersebut. Dengan pengetahuan alkimianya, ia merasakan celah pernapasan kecil yang dibuat Mr. 3 agar bisa bernapas di dalam zirah tersebut. Mustang memusatkan oksigen bertekanan tinggi tepat ke celah itu, mengalirkannya langsung ke dalam ruang sempit di mana tubuh Mr. 3 berada.

​"Selamat menikmati panasnya neraka," bisik Mustang.

​SNAP!

​Satu jentikan jari yang sangat pelan.

​Tidak ada api yang berkobar di luar patung. Namun, dari dalam zirah lilin tersebut, cahaya oranye yang sangat terang tiba-tiba menyala. Suhu di dalam ruangan sempit itu melonjak hingga ratusan derajat Celcius dalam sekejap mata.

​"GYYYAAAAAAAAAARRRRRGGGHHHH!!!!!"

​Jeritan yang sangat memilukan dan teredam terdengar dari dalam patung lilin tersebut. Mr. 3 terpanggang hidup-hidup dari dalam. Panas yang luar biasa itu tidak membakar cangkang luar lilinnya, melainkan memantul di dalam ruangan kedap tersebut, menciptakan efek konveksi termal yang mematikan.

​Zirah lilin itu perlahan mulai meleleh dari dalam ke luar, meneteskan cairan putih panas ke tanah.

​"P-Panasss!! Tolonggg!! Aaaaaahhhh!!!"

​Mr. 3 meninju-ninju dinding lilinnya sendiri dengan panik, mencoba keluar dari karya seninya yang kini berubah menjadi peti mati. Dinding lilin bagian dadanya akhirnya retak dan pecah. Mr. 3 terlempar keluar dari dalam zirah, tubuhnya berasap, kulitnya melepuh merah parah, dan rambut angka tiganya telah meleleh sepenuhnya menjadi gumpalan hangus.

​Ia jatuh ke atas lumpur hutan, berguling-guling sambil menangis histeris sebelum akhirnya kesadarannya terputus sepenuhnya akibat syok rasa sakit yang luar biasa.

​Tiga agen Baroque Works elit telah ditumbangkan dalam waktu kurang dari lima menit.

​"Seni yang sangat rapuh," komentar Mustang santai, merapikan lengan seragamnya.

​Muzan, yang sedari tadi hanya menonton, mengalihkan pandangannya ke arah akar pohon beringin raksasa di sudut arena pertarungan tersebut.

​Di sana, masih ada satu agen yang tersisa.

​Miss Goldenweek.

​Gadis kecil dengan celemek pelukis itu masih duduk bersila, memegang kuas dan palet bunganya. Meskipun teman-temannya telah dihancurkan dengan cara yang mengerikan, ekspresinya tetap datar dan kosong, menyesap secangkir teh hijau dengan tenang.

​"Dia memiliki keberanian yang aneh, atau sekadar bodoh," gumam Mustang, bersiap menjentikkan jarinya ke arah gadis kecil itu. "Aku tidak pandang bulu terhadap musuh, Tuan."

​"Tunggu, Mustang," potong Muzan dingin. "Biar aku yang mengurus anak ini. Kekuatannya mengacaukan psikologis. Api tidak akan menyelesaikan ilusi dengan rapi."

​Muzan melangkah maju. Sepatu botnya menginjak daun-daun kering.

​Miss Goldenweek meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia mencelupkan kuasnya ke dalam cat berwarna kuning-hijau di paletnya. Matanya yang datar menatap Muzan yang mendekat.

​"Warna Pengkhianatan," bisik Miss Goldenweek, mengayunkan kuasnya untuk melukis simbol gaib di atas udara yang mengarah ke kaki Muzan. Kemampuan Colors Trap-nya mampu memanipulasi emosi dan tindakan seseorang secara absolut jika mereka terkena cat atau simbolnya.

​Namun, Muzan Kibutsi bukanlah manusia biasa yang bisa dijebak oleh trik mental rendahan. Jiwanya dilindungi oleh 636 Poin Kekuatan Mental, sebuah benteng baja kognitif yang mustahil ditembus oleh ilusi kelas teri.

​Terlebih lagi, Muzan tidak berniat memberinya waktu untuk menyelesaikan lukisannya.

​Dengan 105 Poin Kecepatan, tubuh Muzan bergerak melampaui batas pandangan mata manusia normal.

​WUSSH!

​Bagi Miss Goldenweek, remaja berjubah hitam itu seolah menghilang dari pandangannya. Sebelum kuasnya sempat menyelesaikan setengah goresan, sebuah tangan yang dibalut sarung tangan kulit hitam telah mencengkeram erat lehernya, mengangkat tubuh kecilnya ke udara.

​Kuas dan paletnya jatuh berhamburan ke tanah.

​Muzan menatap mata gadis kecil itu yang kini akhirnya menunjukkan secercah kepanikan.

​"Seni memanipulasi pikiran," bisik Muzan dengan suara yang menggema berat dan dingin. Aura Haoshoku Haki memancar tipis, cukup untuk menghancurkan pertahanan mental gadis itu. "Jangan bermain-main dengan pikiran di hadapan seseorang yang mengendalikan jiwa, anak kecil. Tidurlah."

​Muzan menekan titik saraf di pangkal leher Miss Goldenweek dengan presisi. Mata gadis itu langsung memutih, dan tubuhnya lemas seketika. Muzan melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh mungil itu jatuh pingsan di atas akar pohon.

​Keempat agen Baroque Works elit yang ditugaskan ke Little Garden telah sepenuhnya dilumpuhkan tanpa perlawanan yang berarti.

​Di belakang mereka, Brogy yang masih berlutut menelan ludah dengan susah payah. Raksasa yang telah bertarung selama ratusan tahun itu merasa kerdil di hadapan dua entitas berjubah dan berseragam ini.

​"K-Kalian... siapa kalian sebenarnya?" tanya Brogy, suaranya bergetar. "Apakah kalian diutus oleh dewa untuk menolong kami?"

​Muzan menolehkan kepalanya, melirik sang raksasa dari balik tudungnya. "Kami tidak peduli dengan dewa-dewa kalian, Raksasa. Teruskanlah pertarungan bodoh kalian itu. Musuh kalian di sini sudah kami bersihkan."

​Muzan membuka panel sistemnya. Ia mengarahkan tangannya ke arah Mr. 3, Mr. 5, Miss Valentine, dan Miss Goldenweek.

​"Sistem, masukkan keempat buronan ini ke dalam Stasis Inventory."

​Cahaya keemasan menyelimuti keempat tubuh agen Baroque Works yang pingsan itu. Dalam sekejap, mereka menguap menjadi partikel data dan berpindah ke dalam dimensi ruang penyimpanan sistem Muzan. Hadiah jutaan Belly menanti untuk dicairkan di pangkalan Angkatan Laut terdekat.

​"Pembersihan selesai," lapor Mustang, membalikkan badannya menghadap Muzan. "Apa langkah kita selanjutnya, Tuan? Menuju Alabasta?"

​Namun, sebelum Muzan bisa menjawab, telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki berisik, gesekan semak-semak, dan teriakan khas yang sangat ia kenal dari kejauhan.

​"UWOOOOOHHH! DINOSAURUS?! KEREEEENNN!!"

​Suara cempreng Monkey D. Luffy membelah hutan.

​Tak lama kemudian, dari balik semak-semak lebat di arah selatan, muncullah Luffy yang berlari antusias, diikuti oleh Roronoa Zoro yang memegang pedang, dan Usopp yang bersembunyi di belakang Zoro dengan kaki gemetar. (Nami tampaknya tetap di kapal seperti alur aslinya, atau tersesat di tempat lain).

​Langkah Luffy terhenti tiba-tiba saat ia memasuki area terbuka tersebut. Matanya yang bulat melebar melihat kawah hangus, pepohonan yang meleleh, dan sosok Brogy yang terluka parah.

​Lalu, matanya tertuju pada dua sosok yang berdiri di tengah kekacauan itu.

​Luffy mengerjapkan matanya. Senyumnya mengembang lebar, ia menunjuk ke arah Roy Mustang dengan antusias.

​"Ah! Si Paman Api! Kita bertemu lagi!" teriak Luffy kegirangan, melambaikan tangannya. "Wah, kau sedang membuat pesta kembang api di sini, ya?!"

​Namun, reaksi Zoro berbanding terbalik. Wajah pendekar pedang berambut hijau itu seketika mengeras menjadi sebongkah es. Tangan kanannya otomatis mencabut Wado Ichimonji, sementara tangan kirinya meraih Sandai Kitetsu yang baru ia dapatkan di Loguetown.

​"Cih," desis Zoro, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Insting pendekar pedangnya berteriak waspada melihat sisa-sisa kehancuran di sekitar mereka. Kawah petir, tanah yang meleleh... Ini bukanlah tempat pesta. "Monster-monster ini lagi... Erebus. Kenapa kalian selalu berada di mana-mana?!"

​Usopp, yang akhirnya mengenali seragam Mustang, menjerit histeris dan jatuh terduduk. "HIIIIIII! I-Itu kan pria mengerikan dari Whiskey Peak yang membakar seluruh kota! Apa yang dia lakukan di sini?! Luffy, Zoro, ayo lari!"

​Muzan Kibutsi berdiri tak bergeming, melipat kedua lengannya di dada. Di balik tudungnya, sebuah senyuman manipulatif terukir.

​Perjumpaan dengan Topi Jerami di Little Garden bukanlah hal yang buruk. Ini adalah momen yang tepat untuk memotong jalur Crocodile dari akarnya, dan menggunakan kelompok bajak laut ini sebagai bidak yang sempurna untuk mengalihkan perhatian Angkatan Laut saat Erebus menyusup ke Alabasta.

​"Monkey D. Luffy," suara berat Muzan menggelegar, memotong keributan kelompok Topi Jerami. "Kita memang sering bersinggungan di lautan ini. Tapi percayalah... pertemuan kita hari ini bukanlah sebuah kebetulan."

​Di saat yang sama, jauh di dalam hutan, seekor burung hering pembawa pesan (Unluckies, Mr. 13 dan Miss Friday) yang seharusnya mengawasi kinerja Mr. 3 sedang terbang mengendap-endap. Di kaki burung itu, terdapat sebuah Eternal Pose menuju Alabasta dan sebuah Den Den Mushi komunikasi langsung ke Baroque Works pusat.

​Muzan menyadari kehadiran burung itu melalui Mantra Enel yang disalurkan kepadanya.

​"Mustang, urus Topi Jerami sebentar. Aku punya satu tamu terakhir yang harus disambut," bisik Muzan dingin.

​Panggung penutup Little Garden kini berada di ujung jari Sang Dalang. Dan di ujung saluran komunikasi itu, Crocodile—sang Shichibukai—sedang menantikan laporan yang akan menghancurkan kerajaannya.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!