NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

​"Aduh, bau apa ini?" ujar Tamara dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.

"Oh, ternyata dari lokernya si bisu. Cocok banget ya, tempat sampah ketemu sampah," lanjut Tamara.

​Hesti dan Erika tertawa renyah, tawa yang menusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. Nadia menatap Tamara dengan mata bulatnya yang bergetar, ia tahu siapa Tamara, tapi untuk apa Tamara ada di Fakultas Desain?

​Nadia dengan cepat mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang membabi buta dan tidak boleh terlihat lemah. Nadia merogoh sapu tangan dari saku celananya, lalu mengambil buku-buku sketsanya yang tersisa di bagian atas yang belum terlalu basah dan mengusapnya dengan sabar tanpa mengeluarkan sebutir air mata pun di hadapan mereka.

​Tamara yang berharap melihat Nadia menangis histeris atau memohon dengan bahasa isyaratnya justru dibuat naik pitam oleh ketenangan gadis itu, senyum tipis dan ketabahan Nadia terasa seperti tamparan bagi harga diri Tamara yang melangit.

​"Lo dengar nggak sih?" gertak Tamara sambil melangkah mendekat dan mencengkeram bahu Nadia dengan kasar, memaksa gadis itu menatap matanya.

"Jangan pura-pura tegar! Lo itu cuma parasit cacat yang kebetulan beruntung dapat beasiswa di sini. Jangan sok deh, ingat! Jangan pernah coba-coba tebar pesona ke Roy pakai drama duka lo yang murah itu!"

​Nadia menatap lurus mata Tamara. Meski pendengarannya samar, ia bisa membaca gerakan bibir Tamara yang penuh dengan bisa racun, Nadia melepaskan cengkeraman tangan Tamara dari bahunya dengan gerakan tegas namun tidak kasar. Kemudian, jemarinya bergerak luwes membentuk isyarat yang sederhana.

​'Aku di sini untuk belajar, bukan untuk bersaing dengan siapapun.'

​"Gue nggak ngerti bahasa monyet lo!" teriak Erika sambil menepis tangan Nadia secara kasar hingga buku catatannya yang setengah basah jatuh dan berserakan di lantai.

​Tepat saat itu, langkah kaki berdegup terdengar mendekat dari ujung lorong, Resya muncul dengan membawa dua cangkir kopi panas. Melihat pemandangan di depannya, lokasi loker Nadia yang berantakan dan tiga primadona kampus yang mengerumuninya, kopi di tangan Resya hampir saja tumpah.

Awalnya Resya ingin memberikan semangat untuk sahabatnya dengan membawakan kopi pagi, namun ia justru melihat hal yang begitu menyayat hati.

​"Hei! Apa-apaan ini?" teriak Resya melangkah lebar dan berdiri pasrah menyelimuti tubuh Nadia di belakang punggungnya.

Mata Resya menyalang menatap Tamara dan kedua temannya, "Kalian bertiga keterlaluan ya! Mau jadi preman kampus lo pada?" bentak Resya.

​Tamara mengibaskan rambut panjangnya dengan anggun, memutar bola matanya malas. "Santai aja kali, kita cuma mau ngingetin temen bisu lo ini supaya tahu diri. Jangan kotor-kotorin pemandangan kampus pakai drama kemiskinan dia," jawab Tamta santai.

​"Jaga mulut lo, Tamara! Gue bisa laporkan kalian bertiga ke Komisi Disiplin sekarang juga!" bentak Resya.

​"Silakan! Bokap gue salah satu donatur terbesar yayasan kampus ini. Kira-kira, rektorat bakal percaya sama gue atau sama cewek bisu nggak berguna ini? Pikir pakai otak lo," balas Tamara sinis, mengaitkan jemarinya dengan percaya diri.

​Dengan lambaian tangan meremehkan, Tamara membalikkan badan dan berjalan pergi diikuti oleh Hesti dan Erika yang tertawa puas.

​Resya berbalik cepat, matanya menatap Nadia penuh kekhawatiran. "Nad! Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanyanya.

​Nadia menggelengkan kepala perlahan, ia berlutut dan mulai memunguti buku-bukunya yang kotor satu per satu. Saat Resya ikut berlutut untuk membantunya, Nadia menatap sahabatnya itu, lalu membentuk senyuman manisnya kembali, senyuman palsu yang dipasang sekuat tenaga untuk menyembunyikan retakan besar di dalam jiwanya.

​Jemari Nadia bergerak pelan, 'Aku tidak apa-apa, Resya. Jangan khawatir, tempat sampah bisa dibersihkan, tapi mimpi tidak boleh kotor.'

​Resya menahan napasnya, hatinya teriris melihat betapa kuatnya Nadia memikul semua penderitaan ini seorang diri tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah bagi Nadia, perundungan yang dimulai dari loker kini menjalar bagaikan wabah yang merayap ke seluruh sudut kampus. Tamara tidak main-main dengan ancamannya, dengan kekuasaan dan pengaruh sosialnya, ia berhasil menghimpun sekelompok mahasiswa untuk mengisolasi dan mempermalukan Nadia secara sistematis.

​Di dalam kelas, tempat duduk di samping dan di sekitar Nadia selalu dikosongkan secara sengaja. Ketika ada tugas kelompok, tidak ada satu pun mahasiswa yang sudi memasukkan nama Nadia ke dalam daftar anggota kelompok mereka, memaksa Nadia mengerjakannya sendirian dari nol.

​Puncaknya terjadi pada suatu siang di laboratorium komputer utama Fakultas Desain. Nadia sedang duduk sendirian di meja pojok, menyelesaikan simulasi karya ilmiah untuk pengajuan pameran karya S2 tingkat nasional. Dimana seluruh fokus dan kerja kerasnya selama tiga minggu nonstop tersimpan di dalam drive khusus kampus tersebut.

​Ketika Nadia pergi ke toilet sejenak selama lima menit, Hesti dan Erika menyelinap masuk. Tanpa ada yang mencegah, karena mahasiswa lain di ruangan itu memilih pura-pura tidak melihat. Erika mencabut flashdisk Nadia dan menghapus seluruh file proyek dari penyimpanan cloud kampus dengan akun Nadia yang lupa di-logout.

​Saat Nadia kembali dan duduk di mejanya, matanya membelalak melihat layar monitor yang kini bersih tanpa sisa. Dokumen berbulan-bulan yang ia susun dengan bercucuran keringat dan air mata sirna begitu saja.

​Nadia meremas jemarinya sendiri hingga memutih, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba mencari jejak file tersebut di sistem, namun semuanya telah terhapus secara permanen. Ia menoleh ke sekeliling ruangan, menatap rekan-rekan sekelasnya dengan tatapan memohon penjelasan. Namun, orang-orang di ruangan itu hanya menunduk atau mengalihkan pandangan seolah-olah Nadia adalah sosok yang tidak terlihat.

​Di sudut ruangan dekat pintu keluar, Tamara berdiri sambil memutar-mutar kunci mobilnya dan melempar senyuman kemenangan yang sangat memuaskan egonya.

​Nadia tidak menangis, ia berdiri dengan tubuh tegak dan merapikan tasnya, lalu berjalan menuju ruang Biro Kemahasiswaan dan Dekanat untuk melaporkan tindakan kejahatan digital dan perundungan yang dialaminya, ia membawa bukti berupa catatan tertulis lengkap mengenai waktu kejadian dan kerugian yang ia alami.

​Namun, dunia kenyataan terbukti jauh lebih dingin dari yang Nadia bayangkan.

​Di dalam ruangan Dekan Fakultas Desain yang ber-AC dingin, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Pak Hendra, hanya menatap berkas laporan tertulis Nadia dengan raut wajah malas dan formalitas yang kaku.

​"Nadia, kami mengerti kekecewaan kamu atas hilangnya file tugas itu. Tapi menuduh teman-temanmu melakukan kelalaian atau sabotase tanpa bukti CCTV yang jelas adalah hal yang sangat serius," ujar Pak Hendra setelah membaca sekilas kertas tersebut tanpa minat.

​Nadia dengan cepat mengambil pulpen di meja Pak Hendra, menuliskan kalimat di kertas kosong dengan tangan gemetar namun tegas.

​[Kamera CCTV di lab komputer menghadap tepat ke meja saya, Pak. Bapak bisa memeriksa rekaman pada pukul 13.15 WIB tadi!]

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!