NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Indri menatap layar laptop dengan napas memburu.

Foto Laura masih terpampang di sana. Di bawah foto itu, kalimat singkat tersebut terasa seperti pisau yang mengoyak luka lama.

"Apakah kamu masih ingat wajah perempuan yang hidupnya kamu hancurkan?"

Dengan tangan gemetar, Indri segera mematikan laptop.

"Siapa...?" bisiknya.

Ia yakin tidak pernah menyimpan foto itu. Artinya, ada seseorang yang telah masuk ke laptopnya.

Atau, seseorang sengaja mengirimkan pesan itu.

Malam itu Indri hampir tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Laura terus menghantuinya.

Untuk pertama kalinya setelah bebas dari penjara, ia kembali bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, Laura berdiri di lorong rumah sakit dengan gaun pasien yang berlumuran darah.

"Kenapa?" tanya Laura lirih.

"Apa salahku sampai kamu menghancurkan hidupku?"

"Aku... aku tidak bermaksud...."

Laura hanya tersenyum sedih.

"Luka yang kamu tinggalkan tidak ikut mati bersamaku."

Indri terbangun sambil terengah-engah. Keningnya dipenuhi keringat dingin.

Pagi harinya...

Cinta memperhatikan wajah adiknya yang pucat. "Kamu sakit?"

Indri menggeleng pelan.

"Hanya kurang tidur."

Cinta menuangkan segelas teh hangat. "Kalau ada masalah, kamu bisa cerita."

Indri memaksakan senyum.

"Terima kasih, Kak." Namun ia memilih diam. Ia tidak ingin masa lalu kembali mengusik ketenangan keluarga itu.

Sesampainya di kantor, Indri langsung menemui bagian teknologi informasi. "Kemarin laptop saya diperiksa, kan?"

"Betul, Bu."

"Apa ada yang masuk ke sistem saya?"

Petugas IT membuka beberapa data. "Kami menemukan akses dari perangkat lain."

Indri langsung menegakkan tubuh. "Bisa diketahui siapa?"

"Maaf. Jejaknya sudah dihapus."

Jawaban itu membuat jantung Indri kembali berdebar. Berarti seseorang memang sengaja bermain dengannya.

Sementara itu...

Di gedung Evara Capital.

Rio menyerahkan laporan terbaru kepada Evan. "Pak, semalam dia membuka file itu."

Evan membaca laporan singkat tersebut. "Bagaimana reaksinya?"

"Dia terlihat sangat terkejut."

Evan menutup map. "Bagus."

Menjelang siang...

Haris memanggil seluruh direksi untuk rapat mendadak.

"Evara Capital meminta percepatan proyek."

Arman mengangguk. "Itu kabar baik."

Dimas kemudian berkata,

"Kalau begitu, sebaiknya Bu Indri menjadi koordinator proyek."

Semua mata langsung tertuju pada Indri. Ia sedikit terkejut. "Saya?"

"Ini kesempatan bagus untuk belajar," ujar Haris.

Indri menarik napas panjang.

"Baik, Pa. Saya akan berusaha."

Di sudut meja rapat, Dimas menyembunyikan senyum tipis.

Semakin besar tanggung jawab Indri, semakin mudah ia dijatuhkan.

Sore hari. Indri menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. "Halo?"

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara napas seseorang.

"Siapa ini?"

Beberapa detik kemudian, sambungan terputus.

Indri mengernyit. Belum sempat ia menyimpan ponsel, sebuah pesan masuk.

"Jangan merasa hidupmu sudah tenang."

Nomor itu langsung tidak aktif saat ia mencoba menelepon balik.

Di tempat lain. Evan berdiri di balkon kantornya.

Ponselnya berdering. Dimas menghubunginya.

"Dia mulai gelisah."

"Bagus."

"Lalu langkah berikutnya?" tanya Dimas.

Evan memandang langit yang mulai gelap. "Biarkan rasa takut itu tumbuh sendiri. Semakin lama dia bertanya siapa pelakunya, semakin hancur pikirannya."

Ia mengakhiri panggilan.

Namun sebelum masuk ke ruangannya, ia kembali menatap sebuah foto yang selalu ia simpan di dompet.

Laura, adiknya. Evan mengusap foto itu perlahan.

"Aku belum lupa, aku juga belum memaafkan."

Meski begitu, untuk sesaat ia teringat wajah Indri saat membantu petugas kebersihan beberapa hari lalu. Ada keraguan kecil yang mulai muncul di hatinya. Benarkah perempuan itu masih sama seperti dahulu?

Evan segera mengusir pikiran itu.

"Tidak. Aku tidak boleh goyah."

Ia memasukkan kembali foto Laura ke dalam dompet.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Indri berdiri di depan jendela sambil menggenggam ponsel yang terus menampilkan pesan misterius tersebut.

Perasaannya mengatakan bahwa seseorang sedang mengincarnya.

Hanya saja, ia belum tahu bahwa orang itu kini berada jauh lebih dekat daripada yang pernah ia bayangkan.

***

Sudah hampir dua minggu Indri menjadi koordinator proyek kerja sama antara Haris Group dan Evara Capital.

Meski diterpa berbagai gangguan, ia tetap berusaha menyelesaikan setiap tugas dengan baik. Ia mulai membagi pekerjaan secara lebih rapi, menyimpan cadangan semua dokumen, bahkan mengganti kata sandi seluruh perangkat kerjanya.

"Aku tidak boleh lengah lagi," gumamnya.

Pagi itu, Haris memanggilnya ke ruang kerja. "Besok ada presentasi untuk calon investor."

Indri mengangguk.

"Siapa saja yang hadir, Pa?"

"Direksi kita dan tim dari Evara Capital." Haris tersenyum. "Pak Evan juga akan datang."

Jantung Indri berdegup sedikit lebih cepat. Entah mengapa, setiap bertemu pria itu, ia selalu merasa tidak nyaman. Bukan karena Evan bersikap buruk. Justru sebaliknya. Pria itu selalu berbicara sopan. Namun tatapan matanya terasa begitu sulit ditebak.

Keesokan harinya...

Ruang rapat utama dipenuhi para investor. Presentasi berlangsung lancar. Kali ini tidak ada data yang hilang. Tidak ada gangguan teknis. Indri berhasil memaparkan rencana proyek dengan percaya diri. Setelah presentasi selesai, tepuk tangan memenuhi ruangan.

"Presentasi yang bagus."

Salah seorang investor mengangguk puas.

"Terima kasih."

Haris tersenyum bangga melihat putrinya.

Sementara itu, Evan hanya duduk diam sambil memperhatikan Indri.

Dalam hati ia mengakui satu hal.

"Dia memang lebih kuat daripada yang kuduga."

Usai rapat, para tamu mulai meninggalkan ruangan.

Indri mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan.

Tanpa sengaja, sebuah map terjatuh. Beberapa lembar dokumen berhamburan di lantai.

"Saya bantu." Suara itu membuat Indri mendongak.

Evan sudah berjongkok lebih dulu mengambil beberapa lembar kertas.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

Tangan mereka hampir bersentuhan saat mengambil dokumen terakhir.

Indri segera menarik tangannya. "Maaf."

Evan hanya mengangguk kecil.

Untuk sesaat, keduanya terdiam.

"Apa Anda sudah mulai terbiasa bekerja di perusahaan?" tanya Evan.

"Masih banyak yang harus saya pelajari."

"Itu wajar."

"Anda juga memulai semuanya dari nol?"

Evan tersenyum tipis.

"Dari titik yang lebih rendah daripada yang orang bayangkan."

Jawaban itu membuat Indri mengangguk hormat. Ia tidak tahu bahwa yang dimaksud Evan bukanlah kesulitan membangun perusahaan, melainkan hidupnya yang berubah sejak kehilangan sang adik.

Sore hari. Indri memutuskan pulang lebih larut untuk menyelesaikan laporan.

Saat keluar dari gedung, hujan turun sangat deras.

Ia berdiri di lobi sambil memandang jalan yang dipenuhi genangan air.

"Aduh, aku ku lupa membawa payung."

Beberapa menit berlalu.

Hujan tak kunjung reda.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi. Pintu belakang terbuka. Evan turun sambil membawa payung.

Melihat Indri masih berdiri di sana, ia menghampiri.

"Masih menunggu hujan reda?"

"Iya."

"Saya bisa mengantar," tawar Evan.

Indri langsung menggeleng sopan. "Tidak usah, Pak. Saya bisa memesan taksi."

"Hujan seperti ini akan sulit mendapatkan kendaraan."

Indri ragu. Saat itu Nisa, sekretarisnya, sudah lebih dulu pulang.

Haris pun menghadiri acara lain.

Tidak ada orang yang bisa menjemputnya. Setelah berpikir beberapa saat, Indri akhirnya berkata, "Kalau memang tidak merepotkan..."

"Tentu tidak."

Evan membuka payung. "Mari."

Di sepanjang perjalanan, suasana mobil dipenuhi keheningan.

Indri beberapa kali melirik ke luar jendela. Sedangkan Evan memilih menatap jalan.

"Rumah Anda cukup jauh?" tanya Evan memecah kesunyian.

"Tidak terlalu."

"Lalu bagaimana rasanya kembali ke kehidupan lama setelah bertahun-tahun pergi?"

Pertanyaan itu membuat Indri terdiam cukup lama. "Sulit, Saya harus belajar hidup dari awal."

Evan menggenggam setir sedikit lebih erat. "Semua orang memang harus bertanggung jawab atas masa lalunya."

Indri menundukkan kepala.

"Saya setuju."

Jawaban itu terdengar tulus.

Tanpa disadari, kata-kata tersebut membuat hati Evan terusik. Selama ini ia membayangkan Indri sebagai perempuan yang tidak pernah menyesal. Namun perempuan yang duduk di sampingnya sekarang justru berbicara dengan penuh penyesalan.

Mobil berhenti di depan rumah Haris. "Terima kasih, Pak Evan."

"Sama-sama."

Indri membuka pintu mobil, lalu keluar menggunakan payung yang diberikan Evan. Ia berjalan memasuki rumah karena hujan semakin deras. Dan itu tak lepas dari perhatian Evan.

Rio yang duduk di kursi depan memperhatikan atasannya melalui kaca spion. "Bapak tidak jadi menjalankan rencana malam ini?"

Evan tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertuju ke arah rumah Haris. "Besok." Jawabannya singkat.

Rio mengangguk. Mobil kembali melaju meninggalkan rumah itu.

Sementara di dalam rumah, Indri tidak menyadari bahwa kebaikan kecil yang baru saja diterimanya berasal dari seseorang yang sedang memendam luka paling dalam terhadap dirinya.

Dan di dalam diri Evan, untuk pertama kalinya, muncul sebuah keraguan yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia izinkan hadir.

Keraguan itu belum cukup untuk memadamkan dendamnya.

Namun, cukup untuk membuatnya bertanya dalam hati,

"Benarkah membalas luka akan membuatku merasa lega?"

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!