"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 2, Upah?
Malam telah merayap jauh melewati pukul sembilan ketika bus terakhir yang mereka tumpangi berhenti di dekat kawasan apartemen. Kilauan lampu Jakarta Utara masih menyala seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Gedung-gedung menjulang memantulkan warna keemasan, sementara kendaraan tetap mengalir di jalan layang, seolah ibu kota tak pernah benar-benar mengenal kata istirahat.
Anna berjalan di sisi Jeevan tanpa banyak bicara.
Buket bunga yang tadi di bawanya telah berganti menjadi tas kecil berisi kotak makanan sisa acara syukuran. Langkahnya pelan. Bahunya terasa berat, bukan karena barang bawaan, melainkan karena kata-kata yang sedari siang masih bergema di dalam kepala.
Lift berhenti di lantai unit mereka berada.
Pintu logam terbuka perlahan.
Koridor apartemen yang panjang diterangi lampu kekuningan. Sunyi. Hanya terdengar dengungan pendingin udara dan sesekali suara pintu tentangga yang menutup dari kejauhan.
Jeevan membuka pintu apartemen.
Ruangan itu tidak terlalu luas, tetapi tertata rapi. Sofa abu-abu menghadap televisi berukuran sedang. Balkon kecil memperlihatkan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang masih bercahaya. Semua benda di dalamnya dipilih sedikit demi sedikit dari hasil kerja keras Jeevan. Bahkan apartemen itu sendiri sudah di tempati Jeevan sejak sebelum menikah dengan Anna, mirisnya apartemen itu belum sepenuhnya menjadi milik mereka; cicilan bulanannya masih harus di bayar beberapa tahun lagi.
Anna langsung menuju kamar.
Ia mengganti gaun hijau emerald dengan piyama berwarna krem, lalu duduk di tepi ranjang sambil melepaskan jedai dari rambutnya. Untaian hitam itu jatuh menutupi bahu, membuat wajahnya tampak semakin lelah.
Di depan meja rias, ia memandang bayangannya sendiri.
Senyum yang sejak pagi di pakainya sebagai tameng kini perlahan memudar.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Jeevan masuk sembari mengusap tengkuknya.
"Capek juga," gumamnya.
Anna hanya mengangguk pelan.
Keheningan memenuhi kamar malam itu, sedangkan suara pendingin ruangan menjadi satu-satunya irama yang terdengar.
Jeevan menghampiri istrinya.
Ia berdiri tepat di belakang Anna yang masih duduk di depan cermin.
"Na." Panggilnya.
"Iya, Mas?"
"Soal kejadian tadi siang..."
Anna mengangkat pandangan melalui pantulan kaca.
Jeevan menghembuskan napas panjang. "Ucapan ibu jangan dimasukkan ke hati."
Anna tidak menyela.
"Coba pahami ibu, ya."
"Beliau sudah tua."
"Kadang ngomongnya keras."
"Tapi sebenarnya nggak ada maksud jahat."
Setiap kalimat terdengar seperti kapas yang berusaha menutupi luka, tetapi tidak pernah benar-benar menghentikan darah yang mengalir.
Anna menatap wajah suaminya beberapa detik.
Ia ingin bertanya.
Kalau memang tidak bermaksud menyakiti, kenapa setiap kata terasa begitu tajam?
Namun pertanyaan itu tetap tinggal di dalam dadanya.
Jeevan merogoh saku celananya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah amplop putih.
"Nih." Ucapnya seraya menyerahkan amplop itu.
Anna menerimanya seraya mengeryit. "Apa ini, Mas?"
"Buat kamu."
Perlahan Anna membukanya dan ketika amplop itu di buka, beberapa lembar uang tersusun rapi di dalamnya. Anna menatap amplop itu, lalu kembali menatap Jeevan.
"Kamu gajian? Bukannya belum waktunya? Tumben juga pake amplop segal."
"Itu ibu yang kasih." Jawab Jeevan santai.
"Ibu? Maksudnya?" Anna masih belum mengerti.
Jeevan menjawab santai, seolah tidak ada sesuatu yang aneh. "Katanya.... sebagai ucapan terima kasih."
Anna belum mengerti. "Terima kasih?"
"Iya." Jawab Jeevan seraya mengangguk. "Tadi kan kamu bantu beres-beres rumah. Cuci piring, bersih-bersih dapur, angkat-angkat."
Jeevan memandang istrinya yang kini menatap uang di dalam amplop itu, lalu tersenyum tipis.
"Anggap saja upah."
Seketika dunia di sekitar Anna seperti kehilangan suara. Tangannya membeku menggenggam amplop itu.
'Upah' satu kata yang sederhana. Tapi malam itu terdengar begitu asing, begitu dingin, begitu menusuk.
Padahal tadi pagi ia datang sebagai menantu, sebagai keluarga, bukan seseorang yang bekerja lalu pulang membawa bayaran.
Tatapannya kembali jatuh pada lembar-lembar uang berwarna merah di dalam amplop itu, entah mengapa benda itu mendadak terasa jauh lebih berat daripada nilainya.
Anna mengangkat wajahnya. Ingin sekali ia mengatakan sesuatu, tetapi bibirnya tak sanggup ia buka. Rasanya lelah jika harus memperdebatkan masalah sepele.
Hingga pada akhirnya ia memilih tersenyum kecil, senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Jeevan mengangguk puas. "Ya sudah. Aku nonton bola dulu."
Tanpa menyadari badai yang baru saja ditinggalkannya di dalam hati sang istri, ia berbalik menuju ruang tengah.
Beberapa detik kemudian suara televisi memenuhi apartemen. Sorak penonton dari stadion menggema, komentar berbicara semangat lalu sesekali terdengar suara tepuk tangan Jeevan ketika tim favoritnya mendapatkan peluang.
Sementara itu di dalam kamar, Anna masih duduk memandangi amplop putih tersebut. Perlahan ia memasukkannya ke dalam laci meja rias.
Tangannya gemetar nyaris tak terlihat. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Akan tetapi bayangan siang tadi kembali datang silih berganti.
" Kapan kasih cucu?"
"Jeevan di besarkan seperti seorang raja."
"Kalau setelah menikah malah kamu suruh kerja begitu..."
"Anggap saja upah."
Kalimat-kalimat itu terus berputar tanpa henti, seperti hujan yang mengetuk jendela sepanjang malam.
Anna memejamkan mata.
Dadanya mendadak terasa penuh, seolah ada tangan tak kasat mata yang perlahan mengikat rongga napasnya. Ia mencoba menarik udara lebih dalam, tetapi napas itu berhenti di tenggorokan.
Ia kembali menghirup perlahan.
Masih terasa sempit, dan jantungnya mulai terasa berdetak lebih cepat daripada biasanya. Telapak tangan mulai berbuah terasa dingin, ujung jemarinya sedikit bergetar.
Anna memilih berdiri dari kursi, berniat mengambil segelas air. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terasa sedikit berkunang.
Ia segera berpegangan pada sisi lemari. "Nggak apa-apa..."
Bisiknya kepada diri sendiri.
"Hanya...capek."
Ia mencoba mengatur napas, menghitungnya secara perlahan.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Tetapi rasa sakit itu justru semakin memenuhi dada, seperti ombak yang terus meninggi tanpa memberinya kesempatan menghirup udara dengan utuh.
Di ruang tengah, suara komentator bola semakin riuh.
"Gol!"
Seruan kemenangan menggenggam dari televisi, di susul sorakan kecil Jeevan yang larut dalam pertandingan.
Sedangkan di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Anna menundukkan kepala sambil memeluk dirinya sendiri.
Tak ada yang melihat bagaimana bahunya mulai bergetar pelan. Tak ada yang mendengar napasnya yang semakin pendek.
Dan di malam yang tampak biasa bagi semua orang, tubuh Anna kembali mengirimkan isyarat bahwa tidak semua luka meninggalkan bekas yang bisa di lihat dengan mata.
"Mas Jeevan..." bisiknya lemah.
Air matanya mulai mengalir membanjiri kedua pipinya. Perempuan itu tampak ketakutan dalam kamar yang sunyi, ia memeluk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Saat itulah, Jeevan melihat istrinya tampak duduk bersimpuh di lantai dengan menggenggam erat ujung ranjang kasur.
"Anna, kamu kenapa?"
...🌼🌼🌼...
Hai, Yehppee menulis novel ini berdasarkan riset beberapa ibu rumah tangga yang mengalami seperti yang di rasakan Anna.
Orang-orang yang memilih diam dan selalu berkata aku pasti baik-baik saja pasti atau kurang lebihnya akan mengalami yang namanya anxiety disorder. Untuk itu, yuk belajar menjadi seorang perempuan yang berani mengatakan TIDAK pada sesuatu yang tidak kita sukai.
...BERSAMBUNG ...