Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Pertama
Emma mengembuskan napas panjang begitu pintu kamarnya tertutup.
Klik.
Ia langsung menyandarkan punggung ke daun pintu.
"Ya Tuhan..."
Pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Kamar itu hampir sebesar apartemen sederhana.
Dominasi warna krem dan putih membuat suasananya hangat, sementara jendela besar menghadap taman belakang yang dipenuhi bunga mawar.
Emma berjalan perlahan.
Di atas meja rias masih tersusun rapi parfum, perhiasan, dan beberapa foto.
Ia mengambil salah satunya.
Di dalam foto itu, Ella dan Ralph berdiri berdampingan mengenakan pakaian formal.
Tidak ada yang aneh.
Namun...
Tidak ada senyum.
Jarak di antara mereka juga cukup jauh untuk ukuran pasangan suami istri.
Emma menggeleng pelan.
"Ini foto pernikahan atau foto dua kolega?"
Ia meletakkan kembali bingkai itu.
Kemudian membuka pintu lain di dalam kamar.
Kosong.
Lemari pakaian.
Lalu pintu berikutnya.
Emma membeku.
Sebuah pintu penghubung menuju kamar lain.
Ia membukanya perlahan.
Ruangan itu gelap.
Maskulin.
Didominasi warna hitam dan abu-abu.
Tempat tidur sudah rapi.
Tak ada barang perempuan sedikit pun.
Emma menatap beberapa detik.
"Luar biasa..."
Ia tertawa kecil tanpa suara.
"Bahkan mereka benar-benar tidur terpisah."
Ia kembali menutup pintu penghubung itu.
Sekarang ia benar-benar mengerti.
Ella tidak pernah melebih-lebihkan apa pun.
Pernikahan itu memang sedingin yang diceritakannya.
Tepat pukul tujuh malam...
Mr. Howard mengetuk pintu.
"Nyonya, makan malam telah disiapkan."
Emma meraih blazer tipis berwarna hitam.
"Aku segera turun."
Ruang makan keluarga Alexander begitu panjang hingga mampu menampung lebih dari dua puluh orang.
Namun malam itu...
Hanya ada dua piring.
Emma duduk di salah satu ujung meja.
Beberapa detik kemudian Ralph masuk.
Ia mengenakan kemeja putih dengan rompi hitam sederhana.
Tanpa banyak bicara, pria itu duduk di kursinya.
"Selamat malam."
Suara Ralph tetap datar.
"Selamat malam."
Pelayan mulai menyajikan hidangan.
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Emma mencoba menikmati sup di hadapannya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tak satu pun berbicara.
Emma akhirnya meletakkan sendoknya.
"Apa memang setiap makan malam di rumah ini seperti pemakaman?"
Suara denting sendok langsung berhenti.
Semua pelayan menoleh.
Ralph perlahan mengangkat pandangan.
"Pemakaman?"
"Iya."
Emma mengangguk santai.
"Sepi sekali."
"Kita sedang makan."
"Memangnya makan dilarang sambil mengobrol?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku tidak merasa perlu."
Emma mengembuskan napas.
"Pantas saja."
"Pantas?"
"Suasananya membosankan."
Mr. Howard hampir menjatuhkan teko teh.
Belum pernah...
Belum pernah ada yang mengatakan ruang makan keluarga Alexander membosankan.
Apalagi yang mengatakannya adalah Nyonya Alexander sendiri.
Ralph tetap tenang.
"Kalau begitu, topik apa yang ingin kau bicarakan?"
Emma benar-benar tidak menyangka Ralph akan menanggapinya.
Ia berpikir sejenak.
"Lima tahun menikah."
Ralph menatapnya.
"Kita bahkan tidak saling mengenal."
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini berbeda.
Kalimat Emma membuat Ralph terdiam beberapa saat.
"Aku tahu kau suka kopi hitam."
Emma melanjutkan.
"Kau bangun pukul enam pagi."
"Kau jarang pulang sebelum malam."
"Tapi selain itu..."
Emma mengangkat bahu.
"Aku bahkan tidak tahu makanan favoritmu."
Tatapan Ralph tak lepas dari wajah istrinya.
"Aku juga tidak tahu makanan favoritmu."
Emma tersenyum tipis.
"Nah."
"Itu maksudku."
Untuk pertama kalinya sejak menikah...
Ralph merasa percakapan di meja makan tidak sekadar formalitas.
Makan malam hampir selesai ketika seorang pelayan datang tergesa-gesa.
"Permisi, Tuan."
Ralph menoleh.
"Ada apa?"
"Nona Lusiana Roosevelt datang berkunjung."
Emma yang sedang meminum air langsung menghentikan gerakannya.
Lusiana?
Nama itu tidak pernah disebut Ella.
Ralph tampak sedikit terkejut.
"Selarut ini?"
"Ia mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan."
Ralph mengangguk pelan.
"Persilakan masuk."
Beberapa menit kemudian...
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari lorong.
Seorang wanita bergaun hitam elegan memasuki ruang makan dengan anggun.
Rambut cokelatnya disanggul rapi.
Wajahnya cantik dan dewasa.
Tatapannya langsung tertuju kepada Ralph.
"Maaf datang tanpa memberi kabar."
Senyumnya lembut.
"Aku baru resmi menyelesaikan proses perceraianku pagi ini."
Emma memperhatikan wanita itu dalam diam.
Entah mengapa...
Instingnya langsung berkata bahwa wanita ini bukan tamu biasa.
Dan tanpa disadari siapa pun di ruangan itu...
Tatapan Lusiana perlahan beralih kepada Emma.
Senyumnya masih sama.
Namun sorot matanya berubah.
Ia melihat seorang Ella Alexander yang... sangat berbeda dari wanita yang dikenalnya selama bertahun-tahun.
Ruangan kembali diselimuti keheningan.
Namun kali ini bukan keheningan yang canggung.
Melainkan keheningan penuh penilaian.
Lusiana Roosevelt tetap mempertahankan senyum anggunnya.
Ia melangkah mendekat dengan tenang, seperti seseorang yang telah puluhan kali datang ke mansion itu.
"Tidak kusangka kau sudah kembali dari liburan mu Ella."
Suaranya lembut dan elegan.
Ralph sudah berdiri lebih dulu sebagai bentuk penghormatan.
"Lusiana."
Emma ikut berdiri.
Ia mengamati wanita di depannya diam-diam.
Cantik.
Berkelas.
Setiap gerakannya menunjukkan pendidikan khas bangsawan.
"Ini pasti Lusiana." batinnya.
Wanita itu tersenyum kepada Emma.
"Ella."
Emma membalas senyumnya.
"Lusiana."
Lusiana sedikit terkejut.
Biasanya Ella akan menyapanya dengan hangat, bahkan lebih dulu menanyakan kabarnya.
Hari ini...
Hanya namanya.
Singkat.
Datar.
"Aku mendengar kau pergi berlibur selama seminggu."
Emma mengangguk.
"Ya."
"Sepertinya liburanmu menyenangkan."
"Sangat menyenangkan."
Jawaban singkat itu kembali membuat Lusiana merasa ada sesuatu yang berbeda.
Namun ia tidak menunjukkannya.
Sebagai wanita bangsawan, menyembunyikan perasaan adalah sesuatu yang sudah diajarkan sejak kecil.
Ralph mempersilakan Lusiana duduk.
"Apa kau sudah makan malam?"
Lusiana menggeleng pelan.
"Belum."
Ralph menoleh kepada kepala pelayan.
"Howard."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian, satu set peralatan makan kembali disiapkan.
Emma hanya memperhatikan.
Ia baru tahu...
Lusiana ternyata datang dan pergi dari rumah ini dengan sangat bebas.
Percakapan selama makan malam tetap berlangsung seperlunya.
Sebagian besar hanya antara Ralph dan Lusiana.
"Masa transisi setelah perceraian pasti melelahkan."
Ralph berkata datar.
Lusiana tersenyum tipis.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak semua akhir adalah hal buruk."
"Itu benar."
Emma menyuapkan sepotong kecil kentang ke mulutnya.
Ia merasa seperti sedang menjadi penonton.
Namun justru dari situlah ia mulai memahami hubungan keduanya.
Tidak ada rayuan.
Tidak ada tatapan penuh cinta.
Percakapan mereka lebih seperti dua teman lama yang saling menghormati.
Namun...
Lusiana tampak sangat nyaman berbicara dengan Ralph.
Sangat nyaman.
Beberapa kali bahkan ia tertawa kecil.
Emma melirik Ralph.
Pria itu memang tidak tertawa.
Namun wajahnya tampak sedikit lebih santai dibanding saat hanya berdua dengannya tadi.
"Wajar."
"Mereka memang teman kecil."
Emma kembali fokus pada makanannya.
Ia sama sekali tidak cemburu.
Bagaimanapun...
Ralph bukan suaminya.
Ia hanya sedang menjaga rumah tangga Ella.
"Omong-omong."
Lusiana akhirnya mengalihkan pandangan kepada Emma.
"Rambutmu."
Emma refleks menyentuh rambut pirangnya.
"Kenapa?"
"Aku hampir tidak mengenalimu."
Emma tersenyum kecil.
"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru."
Lusiana mengangguk pelan.
"Hmm sangat berani."
"Dulu kau selalu berkata takut mencoba warna terang."
Emma langsung menyadari.
Lusiana benar-benar mengenal Ella.
Untungnya ia tetap tenang.
"Orang bisa berubah."
Jawabannya singkat.
Lusiana tersenyum.
"Tentu."
Namun dalam hati ia mulai bertanya-tanya.
"Bukan hanya rambutnya..."
"Cara bicaranya pun berubah."
Setelah makan malam selesai...
Ralph berdiri.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu."
Lusiana menggeleng sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin mampir sebentar."
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai tuan rumah."
Emma memperhatikan keduanya berjalan menuju pintu depan.
Begitu mereka menghilang dari ruang makan...
Mr. Howard mulai mengarahkan para pelayan membereskan meja.
Emma hendak membantu mengangkat gelasnya sendiri.
Namun seorang pelayan buru-buru mencegah.
"Biar kami saja, Nyonya."
Emma berhenti.
"Lalu aku harus apa?"
Pelayan itu tampak bingung.
"Nyonya... tidak perlu melakukan apa pun."
Emma mengerutkan kening.
"Kalau begitu aku merasa tidak berguna."
Ucapan itu membuat beberapa pelayan saling berpandangan.
Selama ini...
Nyonya Alexander memang tidak pernah membantu.
Bukan karena sombong.
Melainkan karena itulah aturan keluarga bangsawan.
Namun malam ini...
Untuk pertama kalinya mereka mendengar sang nyonya berkata bahwa dirinya ingin melakukan sesuatu sendiri.
Di halaman depan mansion...
Mobil Lusiana telah menunggu.
Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menatap Ralph beberapa detik.
"Aku senang melihatmu."
Ralph mengangguk singkat.
"Semoga kau segera melewati masa sulitmu."
"Terima kasih."
Lusiana tersenyum.
Lalu berkata pelan,
"Dan..."
Tatapannya kembali mengarah ke jendela ruang makan.
"Aku juga senang melihat Ella."
Ralph mengikuti arah pandangnya.
"Ada yang aneh?"
Lusiana terdiam sesaat.
"Kurasa..."
Ia tersenyum tipis.
"Istrimu banyak berubah."
Ralph memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku juga menyadarinya."
"Bagaimana menurutmu?"
Ralph memandang ke arah mansion.
Lampu kamar istrinya mulai menyala di lantai dua.
Beberapa detik kemudian ia menjawab dengan suara tenang.
"Aku belum tahu."
"Tapi..."
Ia berhenti sejenak.
"...perubahan itu membuat rumah ini terasa jauh lebih hidup."
Kalimat itu membuat senyum Lusiana perlahan memudar.
Untuk pertama kalinya...
Ia mendengar Ralph memberikan penilaian terhadap perubahan istrinya.
Dan entah mengapa...
Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh di dalam hatinya.
mulai ngikuti sepertinya menarik