NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pria itu menaiki tangga menuju lantai tiga tanpa terburu-buru. Setiap pijakan dan langkahnya teratur dan presisi. Udara di dalam bangunan terasa sejuk dan hening,

Begitu sampai di lantai tiga, Darius melangkah menyusuri lorong hingga berhenti persis di depan sebuah pintu kayu berwarna coklat bertuliskan angka 304 di bagian tengahnya.

Tok... Tok... Tok...

Bunyi beruntun itu memecah keheningan lorong saat Darius mengetuk pintu kayu tebal di hadapannya tiga kali dengan ketukan yang teratur.

Hanya butuh waktu beberapa detik hingga terdengar bunyi klik halus, disusul celah pintu apartemen yang perlahan terbuka sedikit

Sesosok wanita berdiri di balik celah pintu. Wanita itu mengenakan pakaian santai rumah dengan rambut pirang keemasan yang terurai bebas di bahunya. Wanita itu adalah Karina Volodina.

Saat pandangan mereka saling bertaut, waktu seolah berhenti. Karina membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar, memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya dan juga kaget.

"D-Darius...?" bisik Karina dengan suara bergetar, nyaris tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.

Darius menatap Karina dengan dalam Sorot matanya yang biasanya dingin kini melunak, memancarkan kedalaman rasa yang tersembunyi di balik raut wajahnya yang tenang.

"Lama tidak bertemu, Karina," ucap Darius dengan suara rendah, berat, dan dipenuhi kehangatan yang hangat.

Air mata Karina akhirnya tumpah tak tertahankan. Tanpa memedulikan apa pun lagi, wanita itu seketika membuka pintu apartemennya lebar-lebar dan langsung menghambur ke dalam pelukan Darius.

"Darius... kau benar-benar Darius..." isak Karina dengan suara tertahan, air matanya membasahi kemeja putih kasual yang dikenakan pria tersebut.

Darius sempat terkesiap sejenak, namun sedetik kemudian, kedua lengannya yang kokoh terangkat dan membalas pelukan Karina tak kalah erat.

Ia memejamkan mata, membiarkan aroma yang lembut dari rambut Karina menyusup ke indra penciumannya, membawanya kembali pada kehangatan malam bersalju di Ruskavia lima tahun yang lalu.

Namun, tepat ketika mereka berdua sedang tenggelam dalam momen kerinduan yang begitu mendalam, sebuah suara menyela dari arah dalam apartemen.

"Mama...? Siapa yang datang, Ma?"

Suara itu terdengar sangat jernih, polos, dan menggemaskan, menggema ringan memecah keheningan yang menyelimuti mereka berdua.

Mendengar suara tersebut, tubuh Karina seketika menegang kaku. Ia buru-buru melepaskan pelukannya, melangkah mundur satu tindak, dan menundukkan wajahnya.

Darius ikut terdiam. Jantung pria yang biasanya berdetak itu kini berdegup lebih cepat. Dengan kening berkerut halus, ia mengalihkan pandangannya, menatap ke arah ruang tengah apartemen.

Di sana, berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun, mengenakan piyama bermotif bunga. Kedua matanya memancarkan kepolosan, sementara rambutnya pirang keemasan persis seperti milik Karina.

Anak kecil itu memegang sebuah boneka beruang lusuh di tangannya, menatap sosok Darius yang berdiri di ambang pintu dengan rasa ingin tahu yang polos.

"Mama...? Siapa paman itu?" tanya anak kecil itu lagi, langkah kaki kecilnya bergerak perlahan mendekati posisi Karina.

Darius membeku sepenuhnya. Pria yang tak pernah gentar menghadapi ratusan senjata api di medan perang paling berdarah sekalipun, kini merasakan napasnya tertahan di tenggorokan.

Garis wajah anak perempuan itu, bentuk bibir, dagu, hingga sorot matanya bagaikan cermin dari dirinya sendiri dalam wujud yang sangat kecil.

Darius perlahan mengalihkan pandangannya kembali kepada Karina. Matanya yang tajam menuntut sebuah jawaban atas kebenaran yang mulai meledak di dalam dadanya.

"Karina..." suara Darius mengalun sangat rendah, berat, dan dipenuhi getaran emosi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Siapa... anak ini?"

Karina menunduk dalam-dalam, mengusap air matanya dengan jemari yang gemetar sebelum akhirnya menatap lurus ke dalam mata Darius dengan kejujuran yang membuncah.

"Namanya... Maria," bisik Karina dengan suara serak menahan isak. "Dia lahir sembilan bulan setelah malam terakhirmu di Ruskavia, Darius."

Kalimat singkat itu menghantam dada Darius bagai dentuman meriam. Jantungnya bergemuruh hebat. Sosok pria dingin tanpa cela itu seketika melunak sepenuhnya.

Darius menatap anak perempuan bernama Maria itu. Perlahan, Darius berlutut, menyejajarkan tingginya dengan anak kecil tersebut.

"Maria...?" panggil Darius dengan nada pelan, menahan nafasnya agar tidak menakuti anak itu.

Maria bersembunyi sedikit di balik kaki ibunya, namun matanya yang bulat terus memperhatikan Darius. "Paman kenal sama Mama?"

Karina kemudian berlutut di samping Maria, mengusap lembut kepala putri kecilnya itu, lalu menatap Darius dengan mata yang penuh keharuan.

"Maria sayang..." ucap Karina dengan suara bergetar lembut. "Dia... dia bukan paman. Dia adalah Papa yang selama ini sering Mama ceritakan padamu."

Anak perempuan itu tersentak pelan. Matanya membelalak lebar, lalu menatap sosok Darius yang kini mengulurkan tangan kanannya dengan amat hati-hati.

"Papa...?" gumam Maria dengan polos, memiringkan kepalanya sedikit dengan mata bulatnya yang berkedip bingung.

Darius tersenyum tipis, sebuah senyuman paling tulus dan hangat yang tidak pernah disaksikan oleh siapa pun di dunia ini. "Ya, Maria... ini Papa."

Tanpa keraguan yang berarti, anak kecil itu tiba-tiba melepaskan boneka beruangnya dan maju satu langkah, lalu menjatuhkan tubuh kecilnya ke dalam dekapan Darius.

Darius merengkuh tubuh mungil putri kandungnya itu dengan erat namun penuh kehati-hatian, seolah-olah ia sedang memeluk barang paling berharga di seluruh dunia.

Ia memejamkan matanya, membiarkan air mata perlahan menyusup di sudut matanya. Sementara Karina melangkah mendekat dan memeluk mereka berdua dari samping.

Darius mendekap Maria dengan begitu lembut, sementara lengan kokohnya yang lain merengkuh punggung Karina. Detak jantung pria itu yang biasanya dingin dan konstan kini berdegup kencang.

"Maafkan aku, Karina... Maafkan aku karena membuatmu dan Maria berjuang sendirian selama ini," bisik Darius dengan suara berat dan serak di dekat telinga Karina.

Karina menggeleng pelan di bahu Darius, air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya. "Kamu... kamu tidak perlu minta maaf. Yang terpenting... kamu sudah ada di sini sekarang, Darius."

Setelah beberapa saat tenggelam dalam pelukan hangat itu, Darius perlahan mengurai dekapannya. Ia menatap wajah polos Maria yang berada di hadapannya.

"Papa..." panggil Maria polos, kedua tangan kecilnya memegangi kemeja putih Darius. "Papa beneran Papanya Maria? Papa nggak akan pergi lagi?"

Pertanyaan sederhana dan polos itu membuat dada Darius berdesir hebat. Senyuman hangat yang jarang sekali terpancar di wajahnya kini terukir begitu tulus.

"Ya, Maria. Papa tidak akan pergi ke mana-mana lagi," janji Darius tegas namun lembut. "Papa akan selalu ada untuk menjaga Maria dan Mama."

Maria tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi, lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Darius dengan penuh rasa aman.

Karina mengusap air matanya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman paling indah. "Mari masuk ke dalam, Darius. Tidak baik bicara di ambang pintu."

Darius mengangguk pelan. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, ia menggendong Maria dan melangkah masuk ke dalam ruang tengah apartemen yang sederhana itu.

Karina segera menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya, lalu membalikkan badan menatap pria yang kini mengisi penuh ruang hidupnya kembali.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!