NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

008

Bau antiseptik di ruang PICU Private Medical Center menusuk hidung, berbaur dengan bunyi ritmis alat pemantau tanda vital yang berdetik konstan di sudut ruangan.

Di atas ranjang kecil berbahan porselen putih, Draco terlelap. Selang infus tipis menempel di punggung tangan mungilnya, mengalirkan cairan penurun panas yang perlahan-lahan meredakan demam tinggi yang semalam membakar tubuhnya.

Di samping ranjang itu, Braxley Valerio-Desmon berdiri mematung.

Pria itu menundukkan tubuh tegapnya, jemari panjangnya yang tegas mengusap lembut jemari mungil Draco yang terkulai lelah. Tidak ada lagi keangkuhan sang taipan dingin di wajah itu; yang tersisa hanyalah sorot mata seorang ayah yang hatinya teriris melihat darah dagingnya terbaring tak berdaya.

Namun, beberapa langkah di belakangnya, Aurora Borealis berdiri tegak.

Meskipun matanya sembap, meskipun tubuhnya letih setelah melewati neraka di Mansion Carser, Aurora sama sekali tidak menunjukkan gestur wanita lemah yang siap hancur.

Dinding pertahanan dalam dirinya terbangun kokoh, memagari harga diri yang selama ini diinjak-injak. Ia menatap punggung tegap Braxley dengan pandangan tajam, menusuk, dan penuh perhitungan. Kepala dan pikirannya berputar hebat, berusaha mencerna rentetan kegilaan yang baru saja dihantamkan padanya.

"Jadi..." suara Aurora memecah keheningan ruangan. Suaranya tidak gemetar. Nada itu meluncur datar, namun sarat akan racun yang pekat. "Kau tahu aku hamil anakmu... dan kau membiarkan semua ini terjadi padaku? Begitu, Axley?"

Gerakan tangan Braxley membeku di atas jemari Draco. Pria itu diam sejenak sebelum perlahan menegakkan tubuhnya. Ia berbalik, memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Aurora. Manik mata cokelat gelapnya menatap Aurora, tak kalah dingin, tak kalah keras.

"Hm," sahut Braxley singkat, sebuah jawaban yang dingin dan tanpa penyesalan.

Aurora melempar tawa sinis pendek. Matanya menatap pria di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.

"Lalu kau kembali ke Eropa dan membiarkanku terlunta-lunta?" Aurora melangkah maju satu tindak, memangkas jarak di antara mereka tanpa sedikit pun rasa takut. "Apa kau pikir aku ini sampah? Kau menginjak-injak harga diriku, Axley. Kau Menyetir hidupku, membiusku di kegelapan, dan kau mengatur semua skenario gila ini?!"

Braxley menyilangkan dadanya, menatap Aurora lurus-lurus dengan pandangan penuh dominasi yang dingin. "Ya, aku mengatur semuanya. Mengapa? Apa kau sedang menyesal karena terlanjur melahirkan putraku? Begitu?"

"Tutup mulutmu, Axley!" potong Aurora tegas, matanya berkilat murka. "Kau meniduriku tanpa izin. Kau membiusku seperti kriminal! Kau benar-benar seorang monster!"

"Izin?" Braxley menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat egois. "Aku tidak perlu izin untuk meniduri milikku sendiri, Aurora."

"Milikmu?!" Aurora terkekeh sinis, menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan jalan pikiran pria berdarah dingin di depannya. "Aku mengaku salah... Aku mengaku salah karena sebelumnya membuatmu kecewa atas pil-pil itu! Aku minta maaf jika keputusan masa lalu melukaimu! Tapi melakukan skenario gila, membiusku di malam hari hingga menghasilkan Draco... itu benar-benar—"

"Hingga hari ini kau masih tidak ingin hamil anakku, rupanya!"

Kalimat Braxley memotong ucapan Aurora bagaikan sabetan pedang.

Suara pria itu mendadak meninggi, bergetar hebat. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Aurora melihat manik mata elang yang biasanya dingin itu kini melapiskan kaca-kaca bening yang siap pecah.

Braxley menatapnya dengan rasa sakit yang teramat pekat, luka lama yang tertutup rapat kini terkuak lebar di hadapan mereka.

"Harusnya aku yang kecewa karena kau melangkah pergi dan menikah dengan bajingan lain!" ucap Braxley dengan napas memburu, suaranya parau menahan badai emosi. "Dan sekarang kau datang mengacungkan jari, mengataiku egois? Kau yang egois di sini, Aurora! Kau yang memulai kehancuran hubungan kita sejak awal!"

Dada Aurora naik turun memburu. Kilatan kekecewaan di mata Braxley menghantamnya tepat di dada, namun ia menolak untuk tunduk. Aurora menegakkan dagunya, menatap Braxley dengan keberanian yang menyala-nyala.

"Tapi kau meninggalkanku, Axley!" teriak Aurora melengking, tidak peduli lagi pada ruang medis yang sepi itu. "Kau pergi begitu saja! Kau bahkan tidak pernah mau duduk dan mendengarkan penjelasanku! Mahasiswi beasiswa sepertiku... bisa apa jika aku hamil di saat aku masih berjuang di universitas?!"

Ruangan itu mendadak hening. Kata-kata Aurora bergema di udara, menyisakan gema kepedihan dari masa lalu yang terendam rapat.

Braxley membeku. Matanya membelalak tipis, memandang Aurora dengan raut wajah yang mendadak goyah. "Ada aku..." bisik Braxley, suaranya mendadak melunak, penuh keputusasaan yang tertahan. "Ada aku, Aurora... Aku akan membiayai semuanya. Aku akan menanggung seluruh hidupmu, studi-mu, anak kita... Kenapa kau menutup mata dari hal itu? Kenapa kau justru memilih lari?!"

Aurora terdiam.

Seluruh energi amarah yang baru saja membakar tubuhnya mendadak menguap, menyisakan rasa lelah yang teramat sangat. Lututnya terasa lemas. Kata-kata Braxley memukul kesadarannya, menyingkap tabir kesalahpahaman raksasa yang selama bertahun-tahun ini mengurung mereka berdua dalam kegelapan.

Aurora perlahan terduduk di atas kursi kayu di samping ranjang Draco. Ia menundukkan kepalanya, menatap jemarinya yang saling bertaut gemetar. Sebuah tawa kecil yang pahit dan lirih lolos dari tenggorokannya.

"Pria kaya sepertimu..." bisik Aurora dengan suara yang teramat lirih, hampir tenggelam dalam keheningan. "Apa keluargamu akan menerima gadis yatim piatu sepertiku, Axley? Apa keluarga berdarah bangsawan bisnis seperti Desmon akan membiarkan pewarisnya menikahi seorang wanita panti asuhan tanpa latar belakang?"

Pertanyaan polos namun tragis itu melayang di udara.

Braxley menatap wanita yang terduduk lemah di depannya. Emosi murkanya mendadak runtuh, berganti menjadi rasa guncangan hebat di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa alasan di balik pil penunda kehamilan dan pelarian Aurora bukanlah karena wanita itu tidak mencintainya, melainkan karena rasa minder dan ketakutan mendalam akan ketidaklayakan dirinya.

Braxley mendesah berat, memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Saat ia membuka mata, tatapannya memancar lembut, bercampur rasa gemas dan penyesalan yang mendalam.

"Bodoh..." bisik Braxley pelan.

Ia melangkah mendekati Aurora, berlutut di hadapan wanita itu hingga posisi mata mereka sejajar. Braxley meraih kedua tangan Aurora yang gemetar, menggenggamnya erat-erat dalam kehangatan tangannya yang kokoh.

"Kau selalu saja seperti itu," lanjut Braxley, menatap manik mata Aurora lurus-lurus. "Kau selalu menyimpulkan semuanya sendiri di dalam kepalamu yang keras itu. Aku sudah pernah mengatakannya padamu... Kak Baxeena, bahkan kembaranku, kami semua bebas memilih siapa pun yang ingin kami jadikan rumah."

Braxley mengepalkan genggamannya pada tangan Aurora, seolah menegaskan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Keluarga Desmon tidak pernah peduli dari panti mana kau berasal, Aurora. Aku tidak butuh wanita dari keluarga atas untuk mendampingiku. Yang kubutuhkan hanya kau," suara Braxley bergetar tipis, sarat akan kejujuran yang telanjang.

"Kau sangat bodoh memikirkan hal semacam itu sampai harus mengorbankan dirimu dan masuk ke dalam neraka bersama bajingan Carser itu."

Aurora menatap wajah Braxley yang berada hanya beberapa senti di depannya. Genggaman tangan pria itu begitu hangat—kehangatan yang sama yang pernah menjadi tempatnya berlindung dua tahun lalu sebelum prasangka dan ketakutan menghancurkan semuanya.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi Aurora. Namun kali ini, itu bukan air mata ketakutan atas hinaan Jonathan, melainkan air mata penyesalan atas takdir ganjil yang telah mereka ukir sendiri.

"Lalu sekarang..." suara Aurora bergetar, menatap Braxley dengan tatapan rumit. "Bagaimana dengan semua ini, Axley? Kau membiusku... kau menciptakan Draco di dalam kegelapan..."

Braxley tidak mengalihkan pandangannya. Ia mengusap air mata di pipi Aurora dengan ibu jarinya, lembut namun protektif.

"Aku melakukan apa yang harus kukirimkan untuk mengikatmu kembali padaku," bisik Braxley dengan nada villain-nya yang pekat, tak terbantahkan.

"Aku tidak akan membiarkanmu lari untuk kedua kalinya. Sekarang, hapus air matamu. Mulai hari ini, tidak akan ada satu orang pun—termasuk Jonathan Carser—yang bisa menyentuh atau merendahkanmu lagi."

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!