Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 17
Pesan dari Shela terus bermunculan di layar ponsel Vino, berderet tanpa henti.
'Mas Vin, kok cuma di read aja?'
'Kapan Mas jemput aku? Dokter udah izinin aku pulang dari tadi.'
'Mas Vin, tolong dong... Aku nggak tau lagi harus minta tolong sama siapa...'
'Mas Vino, siapa yang akan membayar sisa tagihan rumah sakit?'
Melihat nama Shela terpampang di layar, bukan lagi rasa kasihan yang merayapi dada Vino, melainkan rasa muak dan benci yang teramat sangat. Benci pada ketidaktegasannya sendiri, dan muak karena wanita itu menjadi pemicu keretakan hubungannya dengan Kiara kembali. Dan kesal karena dia tak bisa mengatakan tidak kepada Shela. Niatnya memberikan pertolongan terakhir kepada Shela tapi malah membuat hubungan dia dan Kiara semakin jauh.
Tanpa ragu, Vino memblokir nomor Shela secara permanen. Dia melempar ponselnya ke atas meja rapat, lalu mencengkeram rambutnya frustrasi. Apalagi melihat bagaimana sikap Kiara yang mulai dingin dan menjauh. Dari semalam saat dia menelepon, suara Kiara berbeda.
Jangan-jangan... Kiara sebenarnya tidak tahu, tapi firasatnya yang membuat dia menjauh? Pesan Kiara tadi pagi hanya menyebut kata "berkas pekerjaan" kalimat yang persis Vino ucapkan semalam. Apakah Kiara sengaja menyindirnya, atau hanya kebetulan yang luar biasa mengejutkan? Rasa curiga dan ketakutan itu menggerogoti akal sehat Vino.
Dia tidak bisa terus-terusan dibutakan oleh rasa panik. Vino bertekad harus menemui Kiara secara langsung untuk memastikan keadaan. Sore harinya, tepat pukul lima lewat sedikit, Vino sudah memarkirkan mobilnya di seberang gedung kantor Kiara. Pria itu berdiri menyandar di kap mobilnya, tak peduli pada gerimis tipis yang mulai membasahi pakaian kerja dan rambutnya. Matanya menatap lurus ke arah pintu keluar utama lobi.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul. Kiara berjalan anggun mengenakan blus krem, berdampingan dengan dua rekan kerjanya. Wajahnya tampak tenang, tersenyum tipis mendengarkan obrolan temannya, seolah tidak ada beban ataupun kecurigaan sama sekali.
Jantung Vino melonjak drastis. Dia langsung menyeberangi jalanan tanpa peduli klakson kendaraan yang menyalak marah padanya.
"Ra! Kiara!" panggil Vino dengan nada tergesa.
Langkah Kiara terhenti. Ketika melihat Vino berjalan mendekat dengan pakaian yang sedikit basah dan wajah pucat panik, Kiara tidak menunjukkan ekspresi terkejut apalagi marah. Dia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum sopan yang terasa sangat formal dan berjarak. Dan hal itu malah membuat hati Vino nyeri. Ada yang berbeda dari tatapan Kiara. Tak ada lagi tatapan cinta seperti kemarin. Ada apa? Apa mungkin benar Kiara tahu? Tapi dari mana? Dari siapa? Apa mungkin dari Shela?
"Kalian duluan saja ke parkiran, nanti aku susul," ucap Kiara pelan pada kedua rekannya.
Setelah teman-temannya pergi, Kiara menatap Vino dengan binar mata yang jernih. Tak ada tuduhan, tak ada amarah, bahkan tak ada bahasan soal Shela. Kiara bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja.
"Mas Vino? Kenapa hujan-hujanan begini? Kan bisa tunggu di dalam atau di mobil," ujar Kiara santai, suaranya terdengar lembut namun begitu datar.
Vino menelan ludah kasar. Sikap manis dan tenang Kiara justru membuat dadanya semakin sesak dan bingung.
"Ra... Mas minta maaf soal pesan tadi pagi. Mas panik banget pas kamu nggak angkat telepon Mas dan bilang soal berkas pekerjaan..." Vino menatap mata Kiara erat-erat, mencari celah amarah di sana.
"Kamu... kamu nggak marah kan sama Mas?"
Kiara mengernyitkan dahi pelan, lalu tertawa kecil, sebuah tawa singkat yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Marah? Kenapa aku harus marah, Mas?" tanya Kiara polos, memiringkan kepalanya sedikit.
"Aku kan cuma bilang kamu fokus saja sama pekerjaanmu. Memangnya ada yang salah? Aku tahu Mas Vin akhir-akhir ini sibuk banget sama 'urusan penting', makanya aku nggak mau mengganggu. Lagian aku bisa berangkat dan pulang kerja sendiri kok. Mas selesaikan saja urusan penting mas itu, dulu..."
Vino membeku. Kata 'urusan penting' diposisikan Kiara dengan begitu rapi, seolah-olah itu hanya percakapan biasa tentang pekerjaan. Namun tatapan mata Kiara yang dingin seakan menembus langsung ke dalam rasa bersalah Vino. Kiara berpura-pura tidak tahu, tetapi dia dengan sengaja memberi batas yang sangat tebal di antara mereka. Baras dan dinding yang bahkan belum sepenuhnya hancur kini malah bertambah tebal dan menjulang tinggi.
"Kiara, bukan begitu maksud, Mas. Urusan penting itu juga nggak penting-penting amat dan semuanya sudah selesai. Jangan bilang kamu mau pulang dan pergi sendiri. Mas nggak akan membiarkan kebodohan yang Mas lakukan padamu seperti dulu..." Ucapan Vino menggantung, tenggorokannya tercekat. Dia tak bisa jujur karena akan membuat Kiara tambah marah.
"Aku bisa sendiri kok. Mas. Lagi pula beberapa hari ke depan aku akan sibuk dengan proyek baruku bersama divisi di kantor. Jadi Mas nggak perlu khawatirkan dan repot untuk antar jemput aku. Mas bisa melakukan pekerjaan lain,"
"Lagi pula..." Kiara menatap cincin lamaran yang melingkar di jarinya cukup lama, Vino juga melihat hal itu. Dia benar-benar panik dan takut.
"Kalau pun kamu melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya kamu sudah tahu kan konsekuensinya... Bahkan kepercayaan aku padamu saja belum sepenuhnya aku berikan. Atau mungkin lebih baik kita memikirkan ulang hubungan kita kalau hal ini membuat kamu tertekan sampai kamu mengabaikan urusan penting kamu, Mas!"
"Tidak.. tidak, Kiara! Mas sangat cinta dan sayang sama kamu. Mas nggak akan pernah menyerah sampai kapanpun untuk bisa mengembalikan cinta dan kepercayaan kamu. Tolong jangan bicara seperti itu, maaf semalam mas benar-benar..."
"Mas, maaf teman-teman aku sudah menunggu terlalu lama, aku pergi dulu. Tidak usah jemput aku, karena aku nggak tahu pulangnya jam berapa. Selesaikan dulu urusan penting kamu ya, Mas..." Kiara memotong ucapan Vino dan pergi.
"Kiara..."
Panggilan Vino mengudara di pelataran parkir yang mulai pekat oleh guyuran gerimis, namun Kiara terus melangkah tanpa sekali pun menoleh. Punggung wanita itu tegap, bergerak makin jauh dan akhirnya menghilang di balik pintu kaca lobi.
"Bang-sat! Vino Baji-ngan bo-doh" umpat Vino pada dirinya sendiri. Dia memukul kap mobilnya kuat-kuat hingga telapak tangannya memerah.
Ancaman Kiara tadi tidak main-main. Tatapan wanita itu saat memperhatikan cincin di jarinya adalah sinyal bahaya terbesar. Kiara memang tidak menuduh, tidak menyebut nama Shela, bahkan tidak berteriak. Tapi di situlah letak kengeriannya. Kiara sedang memasang jarak, secara perlahan melucuti kehadiran Vino dalam hidupnya sampai pria itu tak punya pijakan lagi.
Sedangkan Kiara berada bersama teman-temannya untuk makan malam terakhir sebelum lusa dia akan pergi ke luar kota. Hanya ornag tuanya yang tahu kalau dia akan segera pergi. Untuk Vino dan keluarganya akan ada waktunya nanti.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,