Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Nikah Kilat
"Deal."
Begitu kata itu keluar, Eve ingin menariknya kembali.
Edric Kho tidak langsung tersenyum. Ia hanya menatapnya seolah kata itu sudah menjadi tanda tangan di atas kertas. Di luar kaca area kafe bandara, lampu landasan memanjang seperti garis api. Orang-orang masih berlalu-lalang dengan koper, tetapi bagi Eve, dunia mendadak terlalu sunyi.
"Maksudku," Eve cepat-cepat memperbaiki, "deal untuk sandiwara tadi. Terima kasih sudah membantu. Bukan deal untuk..."
"Menikah?"
Wajah Eve panas. "Jangan ucapkan itu dengan santai."
Edric menarik kursi di depannya. "Duduk dulu. Kakimu masih gemetar."
Eve hampir membantah, tetapi lututnya memang terasa lemah. Ia duduk, meletakkan koper di samping kursi, lalu memeluk tasnya seperti tameng. Bibirnya masih terasa asing setelah ciuman di depan Rangga dan Jess. Malu, marah, dan sesuatu yang tidak mau ia namai bercampur jadi satu.
Edric duduk di seberangnya. Ia mengambil ponsel dari saku seragam, mengetuk layar beberapa kali, lalu suara Eve sendiri terdengar dari speaker kecil.
"Ini tunanganku."
Eve membeku.
Di rekaman itu terdengar juga suara Jess yang mengejek, suara Rangga yang berusaha membela diri, lalu suara Edric yang tenang. Semua ada. Bahkan bunyi tamparan tadi ikut terekam jelas.
"Kamu rekam dari tadi?!"
"Kebiasaan tentara." Edric mematikan rekaman. "Selalu siap bukti."
"Itu bukan bukti. Itu jebakan."
"Kalau saya mau menjebakmu, saya sudah kirim video tadi ke Rangga."
Eve menggigit bibir. Ia tahu Edric benar. Video dari orang-orang sekitar mungkin sudah menyebar ke grup WhatsApp entah milik siapa. Namun rekaman suara lengkap dari awal sampai akhir, dengan ia sendiri mengaku punya tunangan, akan membuatnya terdengar seperti perempuan nekat yang menyeret orang asing dalam drama pribadi.
"Apa maumu?" tanyanya pelan.
Edric tidak menjawab cepat. Ia memandang gantungan boneka kecil di ranselnya, lalu kembali menatap Eve.
"Saya serius tadi. Kalau kamu juga serius, besok pagi jam sembilan, Kantor Catatan Sipil Jakarta Pusat."
Eve menatapnya seperti menatap orang gila. "Kita baru bertemu."
"Benar."
"Aku bahkan tidak tahu kamu punya keluarga atau tidak."
"Punya."
"Pekerjaan?"
"Tentara."
"Utang?"
"Tidak."
"Penyakit menular?"
Kali ini sudut bibir Edric bergerak. "Tidak. Kalau perlu, saya bawa hasil medical check-up."
Eve menutup mata sebentar. "Ini tidak lucu."
"Saya juga tidak sedang melucu."
Kalimat itu membuat napas Eve tertahan. Ada banyak laki-laki yang pernah bicara manis padanya. Rangga paling ahli melakukannya. Namun Edric berbeda. Ia tidak memberi janji berbunga. Ia seperti membuka pintu, berdiri di sana, lalu membiarkan Eve memilih masuk atau pergi.
"Kenapa aku?" Eve bertanya. "Kamu bisa cari perempuan lain."
Tatapan Edric menuruni wajahnya sejenak. Tidak kurang ajar. Justru terlalu tenang, seperti ia sedang memastikan sesuatu yang hanya ia sendiri tahu.
"Mungkin karena kamu tidak menangis di depan mereka."
Eve tercekat.
Ia memang belum menangis. Bukan karena kuat. Air matanya seperti tertahan di tempat yang lebih dalam.
"Pulanglah," kata Edric akhirnya. "Tidur. Besok kalau kamu tidak datang, saya anggap malam ini selesai di sini."
"Lalu rekamannya?"
"Tetap di ponsel saya."
"Kamu tidak akan sebar?"
"Tidak."
"Aku harus percaya begitu saja?"
"Tidak harus." Edric berdiri. "Tapi kamu sudah percaya cukup jauh saat memegang lengan saya tadi."
Eve tidak punya jawaban.
Malam itu ia pulang ke kos kecilnya dengan taksi online. Kamar berukuran sempit di lantai dua itu biasanya terasa aman. Ada meja kerja, rak buku, lemari kecil, dan kasur yang seprai pink-nya sudah mulai pudar. Namun begitu pintu terkunci, tubuh Eve meluncur ke lantai.
Air mata akhirnya jatuh.
Bukan hanya untuk Rangga. Bukan hanya untuk Jess. Ia menangisi tiga tahun yang ia rawat sendirian, uang satu miliar yang ia kumpulkan seperti menyusun batu, dan dirinya sendiri yang terlalu percaya pada kata nanti.
Pukul dua pagi, matanya masih terbuka.
Di layar ponsel ada foto Oma Ong yang dikirim dari Cirebon minggu lalu. Wajah tua itu tersenyum di depan altar kecil, dengan pesan suara pendek, "Lina, Oma cuma ingin lihat kamu ada yang jagain."
Eve menekan dadanya. Oma selalu takut ia sendirian. Papa punya keluarga baru. Mama Lili sudah tidak ada. Dan Rangga, laki-laki yang dulu ia kira rumah, ternyata cuma pintu yang sengaja dibiarkan terbuka untuk perempuan lain.
Ia membuka kontak baru yang baru saja disimpan.
Pak Kolonel.
Jarinya berhenti lama di atas layar.
"Aku gila ya?" bisiknya pada kamar kosong.
Lalu ia mengetik.
Jam 9 ya. Jangan telat.
Balasan datang dalam beberapa detik.
Siap.
Eve menatap satu kata itu sampai matanya perih. Orang itu belum tidur. Entah kenapa, kenyataan kecil itu membuat dadanya lebih kacau daripada semua rayuan Rangga dulu.
Pagi harinya, ia memakai gaun putih sederhana. Bukan gaun pengantin. Hanya gaun kantor yang jarang dipakai karena terlalu rapi untuk proyek lapangan. Namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, Eve hampir tertawa.
"Selamat, Evelina. Kamu benar-benar kehilangan akal."
Kantor Catatan Sipil Jakarta Pusat sudah ramai ketika ia tiba. Edric berdiri di dekat pintu, tidak lagi memakai seragam. Kemeja putih, celana gelap, jam tangan sederhana. Ia tampak seperti orang yang punya segalanya dalam kendali.
Di tangannya ada map cokelat.
"Kamu datang," katanya.
"Aku bilang jangan telat. Bukan berarti kamu boleh datang terlalu cepat."
"Saya sudah di sini sejak jam delapan."
Eve terdiam. "Kenapa?"
"Agar kalau kamu berubah pikiran, kamu tidak menunggu sendirian."
Jawaban itu terlalu tidak adil. Eve ingin marah, tetapi dadanya malah melemah.
Mereka masuk. Dua saksi sudah menunggu, Fajar yang hanya mengangguk sopan, dan seorang staf senior yang Edric sebut sebagai kenalan lama keluarga. Eve tidak sempat mempertanyakan terlalu jauh karena map cokelat sudah dibuka di depannya.
Formulir. Fotokopi KTP. Surat pernyataan. Berkas yang seharusnya butuh waktu.
"Formulirnya kok sudah diisi?"
"Data kamu ada di sistem militer. Nama lengkap, NIK, alamat, sudah saya verifikasi semalam."
Punggung Eve dingin. "Itu terdengar sangat tidak legal."
"Legal kalau ada alasan keamanan."
"Aku alasan keamanan?"
"Mulai hari ini, iya."
Ia mengatakan itu dengan datar. Eve tidak tahu harus tertawa atau takut.
Prosesnya cepat, terlalu cepat. Petugas perempuan di balik meja menanyakan beberapa hal dengan suara formal. Eve menjawab, tetapi suaranya beberapa kali bergetar. Saat pena diberikan, tangannya berhenti di atas kertas.
Edric tidak mendesak.
Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Eve, hangat dan stabil. Bukan genggaman romantis. Lebih seperti seseorang yang berkata tanpa suara, kalau kamu jatuh, saya tahan.
Eve menandatangani.
Cap basah turun di atas kertas.
Akta Perkawinan keluar dalam dua rangkap. Eve menatap nama itu lama.
Edric Kho.
Nama pria yang bahkan semalam belum ia kenal sekarang berdiri di sebelah namanya.
Di luar kantor, matahari Jakarta sudah menyengat. Eve memegang akta itu seperti memegang sesuatu yang bisa meledak.
"Jadi sekarang kita..."
Ponsel Edric berdering.
Ia melihat layar. Wajahnya berubah tipis, tetapi Eve menangkapnya. Keseriusan yang datang mendadak, seperti pintu baja turun di balik matanya.
"Saya harus pergi."
"Sekarang?"
"Nanti malam saya hubungi kamu."
"Edric."
Ia berhenti. Untuk pertama kalinya Eve memanggil namanya tanpa gelar.
"Aku baru saja menikah denganmu."
Edric menatapnya. "Saya tahu."
"Kamu tahu, tapi kamu pergi?"
Ada jeda pendek. Lalu ia mengambil ponsel Eve, mengetik sesuatu, dan mengembalikannya.
Di kontaknya, nama Edric sudah berubah menjadi Pak Kolonel. Di ponsel Edric, ia melihat sekilas namanya tersimpan sebagai Nyonya Kho.
"Saya kembali," katanya. "Hari ini juga."
Lalu ia pergi.
Eve berdiri di depan Kantor Catatan Sipil, sendirian, dengan akta di tangan dan matahari di wajah. Kemarin ia masih punya pacar. Hari ini ia punya suami yang pergi sebelum mereka sempat membicarakan tempat tinggal.
Ia menatap kertas itu sekali lagi.
Lalu memasukkannya ke bagian terdalam tas, seolah menyembunyikan rahasia yang terlalu besar untuk dunia.