Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~18
Jam dinding di kamar Zizan sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Karena malam itu tidak ada kegiatan mengaji dan aula sudah kosong, Zizan berniat untuk belajar lebih awal. Ia ingin memanfaatkan waktu agar bisa menyerap banyak pelajaran tanpa harus begadang terlalu larut.
Ia segera melangkah menuju aula. Kali ini ia sengaja datang lebih dulu agar tidak membuat Zia menunggu. Namun, bukannya membuka kitab untuk belajar, Zizan malah melamun.
Pikirannya melayang mengingat kejadian semalam yang terasa begitu mengerikan. Rasa bersalah terus menghantui dan mengusik ketenangannya. Pikirannya kalut dan mengembara terlalu jauh, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa Zia sudah datang sejak beberapa menit yang lalu.
Ketika kesadarannya kembali, Zizan tersentak mendapati Zia sudah duduk di sebelahnya, meski mengambil jarak agak jauh. "Eh, kapan datang?" tanya Zizan, terkejut.
"Dari kemarin! Dari tadi dipanggil-panggil telinganya pajangan doang, ya?" ketus Zia kesal, sambil membuka kitab yang dibawanya.
"Ya, maaf. Ayo, kita mulai belajarnya," ajak Zizan sambil meraih kitabnya sendiri.
Zia hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun.
Dengan posisi saling bersandar pada tembok dan tanpa saling tatap, mereka memulai belajar. Lambat laun, suasana tegang itu mencair. Proses belajar malam itu diselingi canda tawa agar tidak terasa kaku. Mereka saling beradu argumen dengan cara yang santai namun tetap damai.
Keduanya memang santri yang cerdas. Memecahkan soal-soal rumit yang sedang dipelajari bukanlah hal yang sulit bagi mereka.
Setelah hampir dua jam tenggelam dalam pelajaran, mereka memutuskan untuk menyudahinya dan melanjutkan besok malam. Keduanya segera merapikan kitab-kitab yang berserakan. Zizan, yang sejak tadi masih diselimuti rasa bersalah, akhirnya mencoba membuka suara.
"Zi," panggil Zizan lirih.
Zia, yang masih bergeming di bangkunya bersama tumpukan kitab dan sebuah buku diary biru setianya, menyahut dengan nada yang masih agak ketus.
"Apa?"
"Soal kejadian semalam, aku minta maaf ya, Zi. Aku benar-benar nggak tahu kalau barang itu bukan buat kamu. Tapi, aku juga nggak tahu kalau Salsa ternyata dapat barang yang sama, dan aku sama sekali nggak tahu apakah isinya sama atau berbeda. Aku nggak..." Kalimat Zizan terputus.
"Udah, nggak apa-apa. Terima kasih ya, udah kasih tahu aku."
"Iya, sama-sama. Tapi tolong ya, Zi. Kalau suatu saat kamu membahas soal martabak itu ke dia, jangan pernah bilang kalau aku yang kasih tahu kamu. Tolong banget. Aku nggak mau dicap sebagai perusak hubungan orang," pinta Zizan penuh harap.
Zia hanya tersenyum kecil mendengar kekhawatiran Zizan. "Iya, Zan. Aman, kok. Santai aja," ucap Zia, mencoba menenangkan.
"Oke, terima kasih, Zia. Kalau gitu Aku duluan, ya, nggak usah terlalau galau nanti perlombaannya ikut kacau lagi" pamit Zizan dengan sedikit candaan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, Zan aman kok. "
Jawab Zia sambil tersenyum akhirnya senyum manis itu tercipta lagi dari bibir wanita ini.
Zizan melangkah pergi meninggalkan Zia sendiri.
Sementara itu, Zia mengambil buku diary biru dan pulpen kesukaannya. Sambil menikmati dinginnya malam, ia sengaja tetap tinggal di sana. Aula santri putri malam itu begitu sunyi dan menenangkan, lagipula letaknya tidak jauh dari kamarnya.
Zia mulai menggerakkan pulpennya di atas lembar kertas putih diari kesayangannya.
"Malam ini begitu tenang, ya Allah. Apakah kesunyian ini adalah jawaban dari segala doa dan tanya yang selama ini mengurungku? Jika memang ini jawabannya, mengapa harus sahabat dekatku yang menjadi takdirnya? Dan mengapa mereka harus menyembunyikannya sekejam ini dariku?
Aku tidak pernah menyesal mengenalnya. Namun, andai waktu bisa kuputar kembali, aku memilih untuk tidak melangkah terlalu jauh. Aku tidak ingin jatuh sedalam ini. Maafkan hamba, ya Allah. Hamba terlalu rapuh, karena menaruh harapan setinggi langit pada makhluk-Mu yang hatinya masih dengan mudah terbolak-balik.
Bodohnya aku karena tidak berpikir panjang. Aku bahkan tidak pernah bertanya, apakah rasa yang dia tunjukkan itu benar-benar nyata atau hanya prasangkaku saja? Aku yang terlalu cepat menyimpulkan, dan pada akhirnya, aku pula yang hancur tertusuk oleh harapan yang kubuat sendiri.
Terima kasih karena malam ini Engkau menyadarkanku. Sekeras apa pun aku menjaga hati untuk seseorang yang bahkan tidak kuketahui bagaimana perasaannya sebenarnya, jika takdir memilih orang lain untuk bersamanya, maka aku tidak punya pilihan selain ikhlas.
Ya Robb, beri hamba kekuatan. Jauhkan hati ini dari rasa benci atas takdir yang berjalan berlawanan dengan apa yang hamba inginkan.
Aku tidak membenci Mas Charis. Aku pun tidak membenci Mbak Salsa. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku begitu percaya diri mengira dia mencintaiku? Bagaimana bisa aku menuduh Mbak Salsa merebutnya dariku? Padahal, belum ada ikatan suci apa pun di antara kami. Semua ini baru sebatas perjodohan dan masa pengenalan. Hubungan kami tidak memberi hak kepadaku untuk menuntut hatinya.
Dan malam ini, waktu telah menjawab semuanya dengan sangat jelas. Dan jika kabar itu benar adanya maka kuatkan lah hati hamba ya allah, hamba tak ingin bertahan dalam hati yang tak pernah benar-benar menginginkan hamba.
Terima kasih, ya Robb, atas tamparan yang menyadarkanku malam ini."
Zia menutup diary birunya. Ia mendekap buku itu erat-erat di dadanya, memejamkan mata, lalu membiarkan air mata yang sejak tadi membendung di kelopak matanya runtuh begitu saja. “Kuat, Zia. Kamu harus kuat,” bisik hatinya, mencoba memeluk dirinya sendiri di tengah dinginnya malam.
***
Di sisi lain, Sinta ternyata diam-diam menemui Charis. Ia butuh ketegasan demi memperjelas kelanjutan hubungan pria itu dengan Zia. Sebagai sahabat yang tumbuh bersama, Sinta bersumpah tidak akan membiarkan Zia terluka sendirian.
Sinta menunggu di sudut aula yang sepi, jauh dari tempat Zia berada. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh amarah yang dari tadi ditahannya setengah mati.
Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Charis akhirnya muncul. "Assalamualaikum, Mbak."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Duduk," sahut Sinta. Dingin, datar, bahkan tanpa sudi menatap wajah lelaki di hadapannya.
Ketika Charis duduk, emosi Sinta yang sudah di ubun-ubun mendadak luruh, berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Suaranya bergetar saat menuntut penjelasan.
"Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, Mas?"
Charis mengembuskan napas berat. "Saya tahu semua orang, terutama sahabat-sahabat dekat Zia, pasti marah dan kecewa kepada saya. Saya minta maaf. Tapi, saya tidak bisa terus-menerus membohongi perasaan saya sendiri."
"Jadi..." Sinta menggantung kalimatnya, tak sanggup membayangkan kelanjutannya.
"Maaf... seiring berjalannya waktu, setelah memikirkan ini matang-matang, saya sadar bahwa saya mencintai Salsa. Bukan Zia," ucap Charis runtut, namun terasa seperti hantaman keras bagi Sinta.
"Jujur, jauh sebelum dijodohkan dengan Zia, saya sudah mengagumi Salsa. Sekuat apa pun saya memaksa diri untuk mencintai Zia, hati saya tetap kukuh menginginkan Salsa. Saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri. Maaf."
Air mata Sinta nyaris tumpah, perih sekali mendengarnya. "Lalu kenapa kamu membiarkan Zia menunggu? Kenapa kamu gantung harapannya?"
"Dari awal, saya memang tidak pernah mencintainya," Charis jujur, tanpa tahu betapa kejamnya kalimat itu terdengar.
"Saya hanya mencoba membuka hati, tapi kenyataannya hati saya tidak bisa berpaling dari Salsa. Sekali lagi, saya minta maaf."
Sinta mengepalkan tangannya di balik jilbabnya, mencoba menguatkan hati demi sahabatnya. "Lalu bagaimana dengan perjodohan kalian?"
"Sejak awal kami dijodohkan, Abah tidak menuntut jawaban instan karena takut mengganggu fokus belajar kami. Abah pernah berpesan, jika waktu bisa menumbuhkan cinta di antara kami, silakan dilanjutkan. Namun, jika tidak, Abah tidak akan pernah memaksa."
Charis menatap lurus ke depan, menegaskan posisinya. "Abah menjodohkan kami hanya karena merasa kami cocok dan berharap bisa melahirkan keturunan yang baik. Tapi Abah menggarisbawahi, tidak ada paksaan. Jadi, ini mutlak pilihan saya, Mbak. Saya tidak menentang Abah, karena kelonggaran ini sudah diberikan sejak awal. Saya akan segera menemui Abah untuk membatalkan perjodohan ini.
"Kalimat terakhir Charis terdengar begitu telak, meruntuhkan segala harapan yang selama ini dipupuk Zia.
"Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Zia."
Sinta bangkit berdiri. Dadanya naik turun menahan tangis yang siap pecah. "Sampaikan sendiri. Saya tidak punya hak untuk menyampaikan luka sedalam ini. Jelaskan sedetail mungkin kepadanya."
"Saya permisi. Terima kasih. Assalamualaikum," ucap Sinta bergegas pergi dengan langkah tergesa-gesa dengan tangan yang mengepal.
Ia melangkah meninggalkan aula dengan perasaan yang hancur berkeping-keping, membayangkan bagaimana hancurnya Zia jika mendengar kenyataan pahit ini langsung dari mulut lelaki yang dinantinya.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca